Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Seruni Diculik


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tidak bisa berlama lama berbincang dengan Sindu Amarajati dan yang lainnya, karena, mereka berdua merasakan banyak getaran energi dari arah atas.


Sebenarnya getaran getaran energi itu sudah mereka berdua rasakan sejak tadi, hanya saja tidak terasa bergolak seperti sekarang ini.


Maka setelah berpamitan pada Sindu Amarajati dan yang lainnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke arah puncak gunung.


Dengan melesat di udara hingga bagaikan terbang, hanya dalam beberapa saat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai di puncak gunung tempat tinggal Ki Dipo Menggala.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sangat terkejut, di tempat itu terjadi pertarungan dengan menggunakan energi tingkat tinggi.


Terlihat, Ki Penahun bersama sama dengan Ki Dipo Menggala sedang menghadapi seorang pendekar muda berpakaian serba hijau yang seusia dengan Lintang Rahina. Menilik dari bentuk pakaian yang digunakannya, sepertinya pendekar dari negeri daratan besar. Dan melihat sampai harus dihadapi Ki Penahun bersama sama dengan Ki Dipo Menggala, menggambarkan betapa tinggi tingkat ilmu dan tingkat energi orang itu. Dan terlihat pula, orang itu tidak kerepotan menghadapi dua lawan sekaligus.


Pertarungan Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala melawan pendekar berbaju hijau dari daratan besar itu berjalan dalam tempo yang tinggi. Gerakan mereka yang sangat cepat, membuat hanya terlihat kelebatan tubuh yang saling berbenturan dan menimbulkan suara yang sangat keras.


Tidak jauh dari tempat pertarungan Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala melawan pendekar dari daratan besar itu, terjadi pertarungan yang tidak kalah sengitnya.


Ki Pradah, Ki Wongso Menggala dan Ki Jagad Dahana serta Ki Jagad Anila, membentuk formasi empat sudut, menghadapi keroyokan puluhan pendekar.


Tampak jelas sekali, keempat pendekar tua itu kewalahan menghadapi keroyokan puluhan pendekar dengan tingkat ilmu dan energi yang tinggi, yang hanya sedikit di bawah mereka berempat.


----- o -----


Sebelumnya, saat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bertarung melawan Rekta Aruna dan anak buahnya, di kaki gunung lawu. Sekelompok orang asing yang berasal dari negeri seberang, sudah berada di puncak gunung Lawu dan sudah berada di dekat tempat tinggal Ki Dipo Menggala.


Mereka menyebar di beberapa tempat dan dengan sabar menunggu dibukanya tabir pelindung yang dibuat oleh Ki Dipo Menggala.


Hingga pada suatu ketika, tabir pelindung itu terbuka dan terlihat keluar Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala.


Begitu kedua tokoh tua dunia persilatan itu muncul, langsung diserang oleh dua orang laki laki dan dua orang perempuan berpakaian berpakaian warna hijau dengan model pakaian seperti pendekar dari daratan besar. Mereka berempat langsung mencecar Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala dengan serangan beruntun. Beberapa jurus kemudian, sejumlah pukulan sudah bersarang di tubuh Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala karena mereka berdua belum siap dan karena penyerangnya mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dari Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala. Hingga pada suatu serangan, sebuah tendangan dari si perempuan dan satu pukulan laki laki berbaju hijau itu membuat tubuh Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala terlempar ke belakang. Untungnya mereka berdua sudah mengaliri seluruh tubuh mereka dengan energi, sehingga serangan itu tidak menimbulkan luka luka.

__ADS_1


Melihat Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala keteter, Ki Pradah, Ki Wongso Menggala dan Ki Jagad Dahana serta Ki Jagad Anila segera ikut keluar untuk memberikan bantuan pada mereka berdua.


Kemudian mereka berenam bahu membahu menghadapi empat orang pendekar berpakaian hijau. Namun, walaupun sudah mereka hadapi berenam , Ki Penahun dan lainnya masih kesulitan untuk melakukan serangan. Hingga akhirnya, ketika mereka melihat, dalam pertempuran itu mereka berempat tetap unggul, salah satu dari laki laki berbaju hijau itu segera memisahkan diri dan segera masuk ke sekat pelindung yang belum sempat ditutup oleh Ki Dipo Menggala.


Melihat ada yang memasuki sekat pelindung, Ki Dipo Menggala dan Ki Penahun segera mengejarnya.


Namun, belum sempat Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala melesat, mereka telah terlebih dahulu dihadang oleh laki laki berbaju hijau yang satunya.


Akhirnya terjadi pertarungan Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala melawan laki laki berbaju hijau itu. Namun walaupun mereka sudah menyerang berdua, mereka berdua tetap belum bisa mengungguli lawannya.


Saat Ki Penahun dan lainnya kerepotan menghadapi ketiga lawannya, tiba tiba muncul kembali laki laki berbaju hijau yang tadi memisahkan diri dan masuk ke sekat pelindung.


Saat keluar dari sekat pelindung, di punggungnya telah tergendong keranjang yang terbuat dari anyaman bambu.


"Kalian segera selesaikan mereka dan segera susul aku !" kata laki laki yang menggendong keranjang anyaman bambu.


"Baik kakak ke satu !" jawab ketiganya serentak.


Saat itulah, terlihat oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, keenam guru mereka terdesak hebat.


Segera saja Lintang Rahina melesat ke arah pertarungan Ki Penahun dan Ki Dipo Menggala melawan seorang laki laki berbaju hijau.


Dengan menggunakan ilmu 'Tapak Wulung', Lintang Rahina memapaki datangnya serangan laki laki berbaju hijau itu.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Laki laki berbaju hijau itu terkejut. Pemuda yang kira kira seusia dengannya di depannya, ternyata mempunyai energi yang jauh lebih tinggi dari lawan lawannya yang tadi. Dan kecepatannya pun tetap bisa mengimbangi keceoatannya walaupun laki laki berbaju hijau itu sudah menambah aliran energinya.


Tangkisan Lintang Rahina membuat tubuhnya terdorong mundur dua langkah dengan lengan yang bergetar, sedangkan Lintang Rahina hanya mundur satu langkah.

__ADS_1


"Ngger Lintang, Seruni telah dibawa oleh seorang dari mereka. Maafkan guru semua, belum bisa mengejarnya !" kata Ki Dipo Menggala cepat.


"Baik guru, tapi biar kuselesaikan dulu mereka !" jawab Lintang Rahina.


Kemudian, sambil bergerak cepat, Lintang Rahina menambah aliran tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya bergerak cepat melakukan serangkaian pukulan beruntun.


Plaaakkk ! Plaaakkk !


Plak plak !!!


Buuuggghhh !!!


Setelah pukulan mereka saling bertemu dan berbenturan berkali kali, satu pukulan telapak tangan kanan Lintang Rahina mendarat tepat di dada laki laki berbaju hijau itu.


Dbaaammm !!!


Laki laki berbaju hijau itu terlempar dan jatuh ke tanah dengan kerasnya.


Segera laki laki berbaju hijau itu berusaha bangkit lagi. Baru saja tubuhnya terangkat dalam posisi bersimpuh, darah segar menyembur dari mulutnya.


Huuuaaaccckkk !!!


Sambil berusaha bangun dan merangkak, laki laki berbaju hijau itu memegangi dadanya yang terkena pukulan Lintang Rahina. Nafasnya sesak dan dadanya terasa sangat panas. Matanya memerah karena menahan rasa sakit, bahkan sampai keluar air mata yang menggenangi pelupuk matanya.


Ki Penahun yang berada di dekatnya sudah bersiap untuk menyarangkan pukulan 'Tapak Wulung' ke kepala laki laki berbaju hijau itu. Namun segera dicegah oleh Lintang Rahina.


"Jangan Eyang ! Lintang akan menanyai, dibawa kemana seruni anakku dulu !" teriak Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina mendekatinya dan melakukan totokan pada tengkuknya yang membuat laki laki berbaju hijau itu pingsan seketika.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2