Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Keluar Dari Kerajaan Gaib


__ADS_3

Ratu kerajaan gaib itu mengatakan, kalau dia dan kerajaannya akan mendukung jika Panembahan Senopati menjadi raja Jawadwipa dan berniat menyatukan kerajaan kerajaan kecil di Jawadwipa dalam panji panji Mataram. Sebagai gantinya, dia meminta bantuan untuk menghadapi Putri Dyah Pawatu dan pasukannya.


Mendengar ucapan ratu kerajaan siluman, Ki Ageng Arisboyo mengucapkan terima kasih pada ratu kerajaan gaib yang telah bertekad mendukung Panembahan Senopati. Untuk masalah bantuan menghadapi Putri Dyah Pawatu, Ki Ageng Arisboyo menyarankan bukan kerajaan Mataram yang membantu, namun supaya dibantu oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Karena di pasukan Putri Dyah Pawatu kebanyakan dari kaum pendekar.


Dari saran dan arahan Ki Ageng Adisboyo itu, semua yang hadir pada pertemuan itu menyatakan setuju.


----- o -----


Setelah keluar dari kerajaan gaib selepas mengadakan pertemuan dengan ratu kerajaan gaib, Ki Ageng Arisboyo menemani Panembahan Senopati untuk melanjutkan bertapa di hutan Panjalu. Sedangkan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum diminta untuk membereskan kelompok Putri Dyah Pawatu.


Apalagi setelah beberapa orang yang menemani perjalanan spiritual Panembahan Senopati, yang menunggu di tepi danau Panjalu hilang.


Menurut informasi dari prajurit siluman, orang orang dari tlatah wetan itu berjalan bersama anak buah Putri Dyah Pawatu.


Bahkan menurut berita yang dibawa oleh prajurit siluman yang menjaga perbatasan, ada beberapa orang tua yang berjalan bersama anak buah Putri Dyah Pawatu. Orang orang tua itu diperkirakan berasal dari tlatah wetan menilik dari cara berpakaiannya.


Setelah sampai di tepi danau Panjalu, kemudian mereka berpisah. Ki Ageng Arisboyo dan Panembahan Senopati melanjutkan masuk ke hutan yang lebih dalam, sedangkan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum akan keluar hutan mencari Putri Dyah Pawatu dan anak buahnya.


Dalam perjalanan keluar hutan, mereka berdua sudah tidak merasakan getaran energi siluman lagi. Mereka diperintah oleh sang ratu mereka untuk tidak mengganggu perjalanan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Sesampai di pinggir hutan Panjalu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah dihadang oleh tiga orang. Salah seorang dari mereka, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah pernah bertemu yaitu Ki Rowangbala. Sedangkan dua orang yang lainnya adalah Nyi Lanjar Wangi dan Ki Aswa Komara. Dua orang itu belum sempat bertemu dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


"Heeiii kakek tua ! Kalian hendak menghadang perjalanan kami lagi ?" Sekar Ayu Ningrum langsung berteriak begitu melihat Ki Rawangbala yang kemaren sudah membuatnya jengkel.


"Ohhh tidak ! Tidak ! Jangan salah paham. Kami hanya diutus untuk menunggu dan menanyakan pada kalian, bagaimana hasilnya kalian masuk ke hutan Panjalu," jawab Ki Rowangbala.


"Maksudnya ?" tanya Sekar Ayu Ningrum lagi.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah bertemu dengan ratu siluman dan sudah membunuhnya ?" Ki Rowangbala balik bertanya, "Melihat di hutan itu sudah tidak terasa ada getaran energi siluman, kami berharap, kalian sudah membasmi semua siluman yang ada di hutan ini. Dan kami diperintah untuk memberikan hadiah pada kalian berdua."


"Kalau kami memang sudah membasmi semua siluman, apa hadiah yang kalian berikan pada kami ?" sahut Lintang Rahina.


"Ha ha ha ha .... Benar kan. Apa yang diperkirakan oleh Putri Dyah Pawatu selalu tepat ! Mereka pasti berhasil menghabisi bangsa siluman itu !" sahut Ki Aswa Komara, "Kalau begitu, tidak perlu berlama lama, kami akan berikan hadiah buat kalian !"


Tiba tiba, Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi bergerak ke arah samping. Menjadikan mereka membuat formasi mengepung.


"Nah anak muda ! Terimalah hadiah ini !" teriak Ki Aswa Komara sambil memberikan isyarat pada Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi untuk menyerang.


Tanpa berkata kata lagi, mereka bertiga langsung menyerang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Ki Rowangbala langsung menyerang Sekar Ayu Ningrum. Sepertinya dia ada perasaan dendam pada Sekar Ayu Ningrum.


Mengetahui lawannya memiliki energi yang sangat tinggi, Ki Rowangbala langsung mengeluarkan kedua kain hitamnya.


Dengan gerakan berpindah pindah yang sangat cepat, Ki Rowangbala menyerang dari tiga arah sekaligus.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


Kain hitam yang lemah itu, di tangan Ki Rowangbala menjadi senjata yang sangat membahayakan.


Kadang bergerak menusuk ke arah leher ataupun wajahnya, seolah seperti tombak yang sangat tajam.


Kadang melecut lecut mematuk mengarah ke wajah, ubun ubun ataupun dada.


Namun, saat lawannya menyerang, senjata kain hitamnya bisa melilit senjata lawan ataupun tangan, kaki dan bagian tubuh lawan yang lainnya.

__ADS_1


Namun kali ini Ki Rowangbala menjumpai lawan yang jauh lebih kuat dari lawan lawan yang sudah pernah dia hadapi.


Sekar Ayu Ningrum seakan tidak terpengaruh oleh racun yang ada di senjata kain hitam Ki Rowangbala. Yang terkadang oleh Ki Rowangbala dikebutkan di dekat wajah Sekar Ayu Ningrum.


Sudah dua puluh jurus lebih Ki Rowangbala menyerang. Namun belum bisa menyarangkan sekalipun serangannya. Karena selalu bisa dihindari Sekar Ayu Ningrum dan terkadang ditangkis dengan pedangnya.


Pada satu kesempatan Ki Rowangbala melompat dengan sangat cepat mengarahkan kain hitam di tangan kirinya ke arah mata Sekar Ayu Ningrum. Sedangkan tangan kanannya sudah bersiap dengan kain hitam untuk membelit leher lawannya.


Melihat serangan yang sangat keji itu, Sekar Ayu Ningrum segera meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya. Bilah pedangnya dengan cepat berubah seutuhnya menjadi sinar putih pekat dan ada sedikit pendaran di sekelilingnya menyerupai kabut. Seketika udara tempat mereka berdua bertarung menjadi bertambah dingin.


Saat ujung kain hitam semakin dekat mengarah ke matanya, Sekar Ayu Ningrum segera menangkisnya dengan pedangnya. Bukannya terpental, kain hitam itu langsung membelit pedang Sekar Ayu Ningrum.


Begitu serangannya berhasil membelit pedang lawan, Ki Rowangbala menyusulinya dengan serangan kain hitam di tangan kanannya untuk membelit leher Sekar Ayu Ningrum.


Sejak pertama bertemu, Sekar Ayu Ningrum sudah tidak suka dengan kekejaman Ki Rowangbala. Maka dia membiarkan lehernya terjerat senjata kain hitam lawannya.


Ki Rowangbala hampir saja berteriak kegirangan melihat rencana serangannya berhasil. Namun kegembiraannya itu hanya sesaat.


Ketika Ki Rowangbala hendak menyusuli serangannya dengan tendangan lutut kirinya ke arah perut Sekar Ayu Ningrum, tiba tiba Sekar Ayu Ningrum melepaskan pedangnya dari genggaman tangan kanannya.


Dalam posisi pertarungan cukup dekat, telapak tangan kiri Sekar Ayu Ningrum yang sudah terselimuti sinar putih pekat seperti warna bilah pedangnya, langsung melesat dan mendarat dengan telak di dada Ki Rowangbala dengan kecepatan yang tidak diduga oleh Ki Rowangbala.


Duuuaaakkk !!!


Seketika tubuh Ki Rowangbala terlempar ke belakang sambil membelalakkan matanya, seakan tidak percaya kalau lawannya memiliki kecepatan dan energi yang sangat tinggi.


Ki Rowangbala terbanting dalam posisi terlentang.

__ADS_1


Belum sempat Ki Rowangbala bangkit, Sekar Ayu Ningrum sudah melayang di atasnya dan melepaskan pukulan telapak tangan kanannya ke kepala Ki Rowangbala hingga pecah berhamburan. Ki Rowangbala tewas dengan kepala hancur.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2