Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Iblis Bumi Iblis Langit


__ADS_3

Sehari sebelum Lintang Rahina dan Galuh Pramusita sampai di hutan tempat tebibg 'Batu Cekung' berada, terjadi hal yang mengejutkan bagi Empu Bajang Geni.


Setelah beberapa hari Empu Bajang Geni berlatih dan juga melatih Arga Manika dan juga melakukan ritual pengorbanan di goa tempat tinggalnya, Empu Bajang Geni berencana untuk keluar hutan.


Saat itu mereka berlatih yang terakhir di atas 'Batu Cekung'. Sementara, Sekar Ayu Ningrum mereka baringkan di pinggir 'Batu Cekung'. Saat ditinggal latihan dalam waktu yang lumayan lama itu, totokan pada tubuh Sekar Ayu Ningrum berkurang kekuatannya, sehingga Sekar Ayu Ningrum dengan tangan yang masih lemas, memaksakan diri untuk melepas tusuk rambutnya dan berusaha melemparnya ke bawah.


"Kek kek kek kek ....muridku, semua latihan sudah kau jalani," kata Empu Bajang Geni, "kita tinggalkan tempat ini sekarang juga."


"Baik guru," jawab Arga Manika.


Dengan masih membawa Sekar Ayu Ningrum, Empu Bajang Geni dan Arga Manika keluar dari hutan.


Mereka baru saja melakukan perjalanan meninggalkan hutan sekitar satu jam, ketika di depan mereka tiba tiba berdiri dua orang yang tampak aneh.


Satu orang perempuan tua berbadan gemuk dan pendek kira kira setinggi Empu Bajang Geni. Rambutnya yang agak panjang sudah berwarna putih semua dan mekar ke segala arah. Raut wajahnya tampak ramah dan senyuman selalu tersungging di bibirnya.


Sementara orang yang satunya, seorang lelaki tua kurus kering berbadan tinggi sekitar dua meter. Kepalanya pelontos dan wajahnya datar tidak menunjukkan ekspresi apa apa.


Kedua orang itu berpakaian serba hijau tua dengan modek pakaian seperti seorang biksu.


Empu Bajang Geni tertawa untuk menghilangkan rasa kekagetannya.


"Kek kek kek kek .... sungguh suatu kehormatan bagiku, begitu kembali ke dunia luas, disambut oleh dua orang saudaraku," kata Empu Bajang Geni.


"Heemmmm ....Empu Bajang Geni, tidak usah pura pura akrab kepada kami," jawab nenek berbadan pendek itu, "berpuluh tahun kami mencarimu untuk meminta pertanggung jawabanmu. Hari ini ternyata keberuntungan kami tiba, bisa menemukanmu di sini."

__ADS_1


"Kek kek kek kek ... selalu saja Nyi Rikma Ore dan Ki Jangkung tidak mau beramah tamah dan tidak sabaran," jawab Empu Bandring Saloka lagi, "tetapi maaf, kami sedang ada urusan penting sehingga kami tidak bisa mengobrol lebih lama."


"Hah ha ha ha ha ....kamu boleh pergi, tapi tinggalkan nyawamu di sini !" kata Nyi Rikma Ore yang tiba tiba kedua tangannya masing masing telah memegang sebuah pengait berbentuk cakar berwarna hitam pekat yang tadinya diikatkan pinggang.


"Kalian berdua benar benar sepasang iblis !" kata Empu Bajang Geni dengan jengkel karena dihadang mereka berdua saat sedang terburu buru.


Empu Bajang Geni segera mengeluarkan energinya ke seluruh tubuhnya. Tidak berapa lama, tubuhnya berubah menjadi api semua dan tubuhnya melayang setinggi setengah meter dari tanah.


Empu Bajang Geni langsung mengeluarkan jurus 'Raga Geni'nya, karena dia sedang terburu buru.


Selain itu, Empu Raga Geni tahu seberapa kuat Nyi Rikma Ore dan Ki Jangkung, yang dijuluki 'Sepasang Iblis'. Nyi Rikma Ore dijuluki 'Iblis Bumi' dan Ki Jangkung dijuluki 'Iblis Langit'.


Nyi Rikma Ore dan Ki Jangkung berasal dari Pegunungan Telomoyo. mereka berdua dulunya adalah saudara seperguruan. Karena mereka saling suka saling cinta, akhirnya mereka menjadi suami istri. Tetapi sampai sekarang mereka tidak punya anak. Mereka pernah mengangkat anak perempuan dan sekaligus menjadi murid mereka berdua. Tetapi, saat anak angkat mereka beranjak dewasa, anak mereka diculik oleh Empu Bajang Geni yang saat itu kenal dengan mereka berdua dan Empu Bajang Geni menjadi teman mereka berdua. Karena kejadian itu, mereka berdua memburu kemanapun berita keberadaan Empu Bajang Geni.


Empu Bajang Geni terkejut dengan kecepatan Nyi Rikma Ore segera mengempos energinya untuk menghindar dengan melayang lebih tinggi. Melayang dengan posisi mundur, Empu Bajang Geni melihat ke bawah dan menambah keterkejutannya, karena Nyi Rikma Ore jaraknya tidak berubah dan tetap di bawahnya dengan kedua pengaitnya masih mengancam kedua pergelangan kakinya.


Merasa kalau hanya menghindar dengan melayang, pergelangan kakinya akan tetap terkena serangan lawan, Empu Bajang Geni dengan cepat membuat bola api di tangan kanannya dan segera membenturkan bola apinya dengan pengait di tangan kanan Nyi Rikma Ore.


Blaarrr !!!


Terjadi benturan serangan energi yang mengakibatkan Empu Bajang Geni terlempar ke atas, sedangkan Nyi Rikma Ore meluncur ke bawah, amblas ke tanah.


Empu Bajang Geni belum menyiapkan serangannya ketika dari dalam tanah melesat dengan cepat dua pengait mengarah ke perut dan kepala Empu Bajang Geni yang tubuhnya masih berwujud api. Empu Bajang Geni menghidari dua pengait itu dengan bersalto di udara.


Kedua pengait yang tidak mengenai sasaran itu melesat cepat ke bawah dan kemudian ditangkap oleh Nyi Rikma Ore. Ternyata kedua pengait itu bisa dikendalikan dari jauh karena terhubung dengan tali hitam kecil yang kedua ujungnya dipegang oleh Nyi Rikma Ore.

__ADS_1


Buggghhh !!!


Tiba tiba Empu Bajang Geni terlempar keras ke bawah dan tubuhnya, menghantam tanah dengan keras, ketika baru saja menghentikan saltonya, sebuah tongkat dari kayu berwarna hitam menghantam pinggangnya.


Di udara, terlihat Ki Jangkung yang melayang sambil memandang ke bawah. Tangan kanannya memegang senjata yang aneh. Tongkat dari batang pohon hitam, yang pangkalnya berbentuk seperti gada dan ujungnya terdapat sejenis jaring berbentuk setengah bola.


"Nyi, biar bocah bajang ini aku yang urus," kata Ki Jangkung.


Empu Bajang Geni segera bangun dan mendekati Arga Manika.


Mendengar perkataan Ki Jangkung, Empu Bajang Geni berbisik pada Arga Manika, "Muridku, kita tidak punya waktu untuk meladeni mereka."


"Apa yang harus kita lakukan, guru ?" tanya Arga Manika.


"Ayo kita ke atas. Kamu siapkan untuk membuka pintu dimensi, berikan gadis itu pada guru," jawab Empu Bajang Geni, "saat guru melempar gadis ini ke arah Ki Jangkung, segera kamu buka pintu dimensinya.


Begitu mereka berdua melayang ke atas, segera disambut dengan serangan oleh Ki Jangkung.


"Cepat buka pintu dimensinya, muridku," bisik Empu Bajang Geni, "jangan hiraukan datangnya serangan, biarkan guru yang mengatasinya."


Saat Ki Jangkung mendekat dan hendak melepaskan pukulan dengan bagian pangkal tongkatnya, Empu Bajang Geni melemparkan Sekar Ayu Ningrum ke arah Ki Jangkung.


Tubuh Sekar Ayu Ningrum meluncur ke arah Ki Jangkung. Membuat Ki Jangkung membatalkan serangannya, sehingga dengan jaringnya, Ki Jangkung menangkap tubuh Sekar Ayu Ningrum.


\_\_\_0\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2