Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Keanehan Dalam Tubuh Lintang Rahina


__ADS_3

Jalu Samodra sesaat melihat, yang melesat ke arahnya sambil mendongakkan kepalanya adalah Jenar Samodra.


Baru saja Jalu Samodra merasa lega dengan kemunculan Jenar Samodra, dia dibuat terkejut, tubuh Jenar Samodra yang melesat dari bawah itu, menabrak dirinya.


Bruuuggghhh !!!


Dengan cepat, Jalu Samodra menahan laju tubuh Jenar Samodra hingga kemudian berhenti.


Jalu Samodra melihat ke arah Jenar Samodra yang masih sadar namun terlihat lemah dan seperti menahan sakit.


Jalu Samodra melayang mendekat ke arah Jenar Samodra, berniat membantu Jenar Samodra. Belum sempat Jalu Samodra memeriksa kondisi Jenar Samodra, sesosok tubuh lain meluncur ke arah mereka, yang muncul dari dalam laut.


Sekilas melihat, Jalu Samodra tahu, Lintang Rahina yang baru saja keluar dari dalam laut. Jaku Samodra segera bersiap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.


Begitu melihat Jalu Samodra dan Jenar Samodra berada tepat di atasnya, Lintang Rahina segera bersiap melepaskan pukulan ke arah mereka berdua. Dari telapak tangan kanannya keluar pendaran sinar putih pekat yang bergulung gulung hingga membentuk bola sebesar kepalan tangan berwarna putih pekat. Bola sinar putih pekat itu berputar dengan sangat cepat dan semakin bertambah pekat.


Sedangkan dari telapak tangan kirinya, keluar gulungan butiran sinar kuning keemasan berbentuk bola sebesar kepalan tangan, dan mengeluarkan letupan letupan kecil seperti petir. Gulungan butiran sinar kuning keemasan itu semakin memadat. Terlihat, pada bola sinar kuning keemasan itu terdapat guratan guratan lembut seperti serabut benang yang berwarna hitam.


Segera saja, Lintang Rahina mengayunkan kedua tangannya ke atas, ke arah Jalu Samodra dan Jenar Samodra yang melayang di atas.


Seketika kedua bola sinar itu melesat dengan sangat cepat dan tanpa bisa dihindari lagi, kedua bola sinar itu dengan telak menghantam tubuh Jalu Samodra dan Jenar Samodra.


Jenar Samodra yang selama beberapa belas jurus bertarung melawan Lintang Rahina di dalam laut, sudah terkena beberapa kali bola sinar yang berwarna kuning keemasan yang ternyata juga mengandung letupan letupan petir yang apabila tubuhnya terkena, membuat dia lemas seolah hilang energinya. Kali ini Jenar Samodra harus kembali terkena bola sinar kuning keemasan itu, yang membuat tubuhnya terhempas dan kembali terdorong ke atas.


Sementara Jalu Samodra, dengan senjatanya, kedua roda besi bergerigi, menangkis datangnya bola sinar putih pekat yang melesat cepat ke arahnya dengan energi penuh.


Baaannnggg !!!


Terjadi ledakan yang sangat keras saat kedua roda besi bergerigi di tangan Jalu Samodra berbenturan dengan bola sinar putih pekat.


Dalam benturan itu, seketika tubuh Jalu Samodra terpental dan terdorong ke atas. Kedua tangannya terasa bergetar hebat dan kesemutan.

__ADS_1


Sementara itu, sesaat setelah ledakan keras karena benturan dua roda besi dengan bola sinar putih pekat, Lintang Rahina sudah menyusul ke atas ke arah tubuh Jenar Samodra dan Jalu Samodra. Dengan cepat, Lintang Rahina melepaskan pukulan bertubi tubi ke tubuh Jalu Samodra dan Jenar Samodra.


Paaack ! Paaack ! Paaack !


Buuugggh ! Buuugggh !


Lintang Rahina seperti orang kalap, melakukan pukulan berkali kali tanpa henti.


Dari pukulan energi yang berulang ulang itu, menimbulkan hembusan angin kencang yang membuat air laut bergejolak dan menimbulkan ombak yang sangat tinggi.


Tubuh Jalu Samodra berkali kali terlempar kembali ke atas. Kedua senjatanya akhirnya terlepas dari tangannya dan terlempar jauh. Pandangannya kabur. Dadanya terasa sesak. Mulutnya berkali kali memuntahkan darah segar. Tetapi Jalu Samodra tetap berusaha tetap sadar.


Sedangkan Jenar Samodra yang masih terkena dampak hantaman bola sinar kuning keemasan, hanya bisa diam, terkena pukulan bertubi tubi yang Lintang Rahina lepaskan.


Sementara itu mereka yang di bawah, Ki Ageng Arisboyo dan Ki Pradah serta Ki Penahun dan Sekar Ayu Ningrum, menyaksikan apa yang dilakukan Lintang Rahina. Mereka baru saja hendak melesat ke tempat pertarungan Lintang Rahina. Tetapi Lintang Rahina lebih dulu meraih tubuh kedua lawannya, membawanya turun ke pantai dan melemparkan keduanya di depan ketiga gurunya.


Tetapi, Ki Ageng Arisboyo, Ki Pradah, Ki Penahun dan Sekar Ayu Ningrum justru terkejut melihat keadaan Lintang Rahina. Kedua lengannya terutama telapak tangannya masih mengeluarkan pendaran sinar. Lengan kirinya berselimut butiran kuning keemasan dengan serat serat halus berwarna hitam. Bahkan kedua mata, hidung dan mulutnya masih seperti memancarkan cahaya.


Sekar Ayu Ningrum mendekat hingga tepat di depan Lintang Rahina.


Lintang Rahina menatap Sekar Ayu Ningrum, kemudian memandang ketiga gurunya, dan kembali menatap Sekar Ayu Ningrum. Raut wajahnya terlihat asing dan mengeluarkan aura yang menakutkan.


"Kakang Lintang .... " kembali Sekar Ayu Ningrum memanggil.


"Pertarungan sudah selesai, kakang Lintang istirahat dulu, ayo kita pulang," sambung Sekar Ayu Ningrum sambil memegang dada Lintang Rahina.


"Pulang ... " kata Lintang Rahina sangat pelan.


Perlahan pancaran cahaya pada mata, hidung dan mulut Lintang Rahina meredup. Semakin meredup dan kemudian hilang.


Pendaran sinar pada kedua lengan dan telapak tangannya pun perlahan masuk kembali ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Akhirnya semua keadaan tubuh Lintang Rahina yang tadinya berubah, pulih kembali. Hanya menyisakan garis garis lembut berwarna hitam sebesar benang pada telapak tangannya hingga ke siku.


Saat itu, barulah Lintang Rahina merasa sangat lelah. Merasa energinya habis terkuras, hingga akhirnya jatuh terduduk. Wajahnya sedikit memucat, namun dengan raut yang biasa, tidak menakutkan.


Bersamaan dengan semua itu, keadaan air laut yang tadinya bergejolak, sudah kembali tenang. Hanya gerakan ombak laut selatan yang biasanya. Angin pun berhembus lembut. Langit kembali cerah dengan beberapa awan putih yang menghiasinya.


Sesaat kemudian, dengan dibantu Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina berjalan menuju ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo.


Sedangkan Ki Ageng Arisboyo dan Ki Pradah serta Ki Penahun, membereskan tempat sekitar pantai dulu, kemudian menyerahkan Jalu Samodra dan Jenar Samodra pada Lembu Suro dan Badak Suro yang masih cukup sehat dan tidak mendapatkan banyak luka, untuk mengurusnya.


Kemudian dengan segera ketiga orang tua itu bergegas kembali ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo.


Sampai dengan pagi hari berikutnya, mereka berlima menghabiskan waktu untuk beristirahat, bersemedi memulihkan energi dan menyembuhkan luka luka terutama luka dalam.


Dari kelima orang itu, yang paling cepat pulih dan sehat seperti sedia kala adalah Sekar Ayu Ningrum. Hal itu dikarenakan, Sekar Ayu Ningrum mengalami peningkatan tingkat energi saat memaksa tubuh dan energinya memainkan ilmu 'Kipas Lima Jari' yang diajarkan oleh Ki Pradah. Berkat ilmu itu, tingkat energi Sekar Ayu Ningrum hanya setingkat di bawah Lintang Rahina. Dengan tingkat energi yang sekarang ini, membuat Sekar Ayu Ningrum bisa melakukan pemulihan energi dan penyembuhan diri dengan cepat, seperti halnya Lintang Rahina.


Sedangkan keanehan justru terjadi pada Lintang Rahina. Dia seperti merasakan ada sesuatu yang sedikit menghambat bekerjanya energinya dalam tehnik 'Nafas Raja' ataupun tehnik 'Puspa Nagari'.


__________ 0 __________


Para pembaca yang budiman, novel berjudul 'Pendekar Elang Malam' sudah diupdate. Author berharap, para pembaca semuanya berkenan mampir dan menikmati serta mengikuti jalan ceritanya. Namun pembaca diharap bersabar, karena cerita berjalan lambat dan detil. Semoga bisa menghibur dan dinikmati jalan ceritanya.




Sore itu sudah memasuki 'wayah surup' sehingga keadaan sudah gelap gulita. Hujan lebat yang turun sejak siang tadi belum juga reda. Diselingi suara petir dan kilat yang menyambar nyambar, menambah suasana yang membuat siapapun akan lebih memilih untuk berada di dalam rumah dan menghangatkan badan dengan minuman hangat ataupun dengan 'gegeni' menghangatkan badan dengan tungku perapian.


Tetapi, semua itu seperti tidak menjadi masalah bagi sebuah 'andong' kereta kecil yang ditarik oleh seekor kuda.


Kereta itu berjalan pelan menerabas lebatnya hujan menyusuri jalan sempit yang gelap, agak jauh di belakang Kademangan. Hanya mengandalkan naluri dari kuda yang menariknya untuk mencari jalan ke arah yang dituju. Tampaknya kuda itu sudah sering melewati jalan itu, sehingga sang 'kusir' laki laki tua yang mengendalikan kereta tidak pernah menghela tali pengendali kuda dan hanya diikatkan seadanya pada ujung 'dingklik' tempat duduk yang berada tepat di belakang kuda.

__ADS_1


Laki laki tua itu memilih meringkuk berselimut 'klasa' tikar pandan, di dalam kereta yang samping kanan kiri dan depan belakangnya hanya ditutupi dengan anyaman bambu seadanya.


..... etc.


__ADS_2