
Akibat pertemuan tongkat Ni Sriti yang meluncur sambil berputar dengan energi yang dilesatkan Lintang Rahina, selain menimbulkan ledakan, juga membuat tongkat Ni Sriti terpental jauh dan patah jadi dua.
Ni Sriti juga terdorong mundur beberapa langkah kemudian jatuh terduduk dan langsung memuntahkan darah segar.
Nyi Wilis pun ikut terpental ke belakang terkena imbas dari ledakan itu.
Lintang Rahina mendekati Ni Sriti yang masih terduduk dengan nafas tersengal.
Sebelum Lintang Rahina bertanya kepada Ni Sriti, Sekar Ayu Ningrum mendahuluinya dengan berkata, "Kakang, tolong bebaskan Ni Sriti."
"Kenapa adik Sekar minta dia dibebaskan ?" tanya Lintang Rahina heran.
"Nanti aku ceritakan," jawab Sekar Ayu Ningrum, "yang penting kita pergi saja dulu dari sini."
"Ni Sriti, masih ada kesempatan bagimu untuk menggunakan ilmumu untuk hal hal yang lebih baik. Manfaatkan sebaik baiknya," kata Lintang Rahina.
"Hih hi ...huk uhuk ..... anak muda, si ... siapa namamu ?" tanya Ni Sriti sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Lintang Rahina.
"Aku Lintang," jawab Lintang Rahina lagi.
"Uhuk uhuk uhuk," sambil terbatuk batuk Ni Sriti berkata, "kita se ... secepatnya akan ber .. bertemu lagi."
Lintang Rahina tidak menjawab. Dia menghampiri Sekar Ayu Ningrum dan Nyi Wilis. Lintang mengatakan kepada Sekar Ayu Ningrum dan Nyi Wilis, mereka akan kembali ke Lawu untuk menyusul kakek mereka yang akan mengadakan pertemuan di tempat Ki Pradah.
Tidak lama kemudian mereka bertiga pergi dari tempat itu, meninggalkan Ni Sriti yang sedang bersemedi untuk mengobati luka dalamnya.
__ADS_1
Sudah beberapa hari Ki Ageng Arisboyo berdiam di tempat tinggalnya. Ki Ageng Arisboyo masih menunggu petunjuk selanjutnya dari wangsit yang dia terima selama ini.
Setiap pagi sebelum matahari terbit dan malamnya setelah matahari tenggelam, Ki Ageng Arisboyo selalu datang tebing yang menghadap ke Pantai Parangtritis.
Entah kenapa, Ki Ageng Arisboyo seperti mendapat bisikan untuk menunggu akan hadirnya sessorang.
Hingga pada suatu malam, saat langit cerah penuh bintang, Ki Ageng Arisboyo merasakan akan hadirnya seseorang yang mempunyai energi yang sangat besar.
Sebenarnya energi seseorang yang dirasakan oleh Ki Ageng Arisboyo tidak hanya satu. Tetapi hanya satu energi yang tetap mendekat ke arah Ki Ageng Arisboyo, sementara yang lainnya berhenti sebelum memasuki area tebing.
Hingga tak berapa lama terdengar oleh Ki Ageng Arisboyo suara yang sangat berwibawa dan seperti sangat dia kenal.
"Maaf membuat paman menunggu lama," kata orang yang baru datang itu.
"Tidak apa apa ngger," jawab Ki Ageng Arisboyo, "itu sudah menjadi kewajiban saya dari janji saya. Semua sudah diwangsitkan. Semua sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Saya diwangsitkan untuk membantu angger Sutowijoyo yang ditakdirkan untuk menyatukan seluruh pulau Jawa di bawah panji panji Mataram. Semua akan saya lakukan."
Kemudian Ki Ageng Arisboyo menyampaikan semua yang didengarnya kepada Sutowijoyo berkaitan tentang adanya sekelompok orang dari dunia persilatan, sisa sisa prajurit Kerajaan Majalahit yang bekerjasama dengan beberapa adipati dan petinggi prajurit dari kadipaten kadipaten tlatah wetan yang dipelopori oleh senopati Rangga Kaniten, ingin memanfaatkan kekacauan dari perebutan kekuasaan di Kasultanan Pajang untuk memisahkan diri dari Kasultanan Pajang.
Selain itu, Ki Ageng Arisboyo juga menyampaikan kalau ada sekelompok sisa sisa petinggi prajurit Majapahit bersama sama beberapa pendekar yang mendukungnya, berusaha mendirikan lagi kerajaan meneruskan kerajaan Majapahit.
Setelah Ki Ageng Arisboyo terdiam beberapa saat dan sudah tidak menambah apa yang disampaikan, Sutowijoyo pun ganti menyampaikan kepada Ki Ageng Arisboyo perihal keinginannya memerdekakan Kadipaten Mataram dari Kasultanan Pajang yang sekarang dipegang oleh Arya Pangiri, penguasa yang sangat merugikan rakyat.
Sutowijoyo juga menceritakan keinginannya untuk melakukan perjalanan spiritual. Selain untuk mencari jawaban atas wangsit yang telah diterimanya juga untuk mencari kekuatan batiniah dan spiritual.
Mendengar hal itu, Ki Ageng Arisboyo mengatakan kalau dia akan membantu Sutowijoyo dalam melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat dengan menjadi penasehat spiritual Sutowijoyo.
Ki Ageng Arisboyo juga menyampaikan, dia dan beberapa teman temannya akan mengurus mantan petinggi petinggi prajurit Majapahit dan pendekar pendekar yang mendukungnya.
__ADS_1
Kemudian Ki Ageng Arisboyo meminta pada Sutowijoyo yang terkenal dengan julukan Panembahan Senopati, untuk mengurus bupati bupati dan senopati senopati yang berniat melepaskan diri dari Kasultanan Pajang.
Mendengar permintaan Ki Ageng Arisboyo, Sutowijoyo berkata, "Ki Ageng, perihal beberapa bupati dan senopati yang akan melepaskan diri dari Kasultanan Pajang, kami akan mengurusnya. Saya sebagai pribadi ataupun atas nama Kadipaten Mataram, mengucap banyak terimakasih atas kesediaan Ki Ageng Arisboyo mengurus orang orang sisa sisa Majapahit yang berencana mendirikan lagi kerajaan Majapahit. Saya selaku pribadi juga mengucapkan terimakasih karena Ki Ageng Arisboyo bersedia menemani perjalanan spiritual saya."
Setelah mereka berdua saling bercerita dan saling menyampaikan keinginan mereka, kemudian mereka bercakap cakap sambil berjalan menuju pantai Parangtritis.
DI pesisir pantai itulah Sutowijoyo akan memulai perjalanan spiritualnya.
Pada hari berikutnya, setelah Sutowijoyo atau Panembahan Senopati menyampaikan semua rencananya pada orang orang dekatnya, Sutowijoyo mulai bertapa di Pantai Parangtritis untuk menjalin komunikasi dengan Ratu siluman naga Naga Wilis Kencana.
Dengan didampingi oleh Ki Ageng Arisboyo, Sutowijoyo menjalani laku spiritual tidak hanya di Parangtritis, tetapi juga di beberapa tempat lainnya.
Dalam keadaan luka dalam, dengan susah payah sampailah Ki Brata di padepokan milik Ki Rekso yang juga sebagai markas kelompok mereka.
Beruntung bagi Ki Brata, saat itu Ki Rekso ada di padepokan setelah melakukan apa yang menjadi tugasnya. Sehingga Ki Brata segera mendapatkan perawatan.
Kepada Ki Rekso, Ki Brata menceritakan semau yang dialaminya termasuk tewasnya Ki Jiwo di tangan cucu Ki Penahun. Tetapi Ki Brata tidak menceritakan tentang kepergian mereka ke Gunung Semeru untuk membuat senjata dengan aura siluman, untuk kepentingan pribadi mereka. Padahal tewasnya Ki Jiwo tidak sedang berjuang untuk kepentingan kelompok mereka.
Mendengar semua yang diceritakan oleh Ki Brata, Ki Rekso di dalam hatinya semakin dendam pada Ki Penahun. Tetapi di depan Ki Brata, Ki Rekso menekan amarahnya.
"Ki Brata, kita semua sangat berduka atas gugurnya Ki Jiwo saat sedang menjalankan tugas demi tercapainya tujuan besar kelompok kita," kata Ki Rekso, "Ki Brata tidak usah khawatir, kita pasti akan membalaskan gugurnya Ki Jiwo. Kita aka minta Ki Penahun membayar apa yang telah dilakukannya pada kita semua."
Kemudian Ki Rekso menceritakan keberhasilan dalam membujuk Senopati Utama Majapahit, Senopati Dipa Menggala dan Senopati Wangsa Menggala, mendukung dan membantu kelompok mereka mewujudkan cita cita besar mereka.
__ADS_1
"Untuk Ki Penahun, kita akan segera meminta bantuan Ki Dipo dan Ki Wangsa," kata Ki Rekso.