
"Apa yang menjadi dasar sehingga kalian berani mengatakan pohon yang bersinar itu milik kalian ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar pertanyaan Sekar Ayu Ningrum, Gulizar tidak menjawabnya, namun malah menoleh ke kanan dan bertanya.
"Ratu siluman, apakah perempuan ini yang kau maksud dalam ceritamu ?" tanya Gulizar.
Tiba tiba dari arah kanan, dari pintu sebelah kanan singgasana, muncul tiga sosok tubuh. Berjalan di depan, ratu kerajaan gaib Putri Kalistra dengan di sebelah kirinya berjalan Putri Dyah Pawatu.
Di belakang mereka berdua, berjalan seorang laki laki tinggi kurus berkulit hitam dengan kepala pelontos dan mengenakan jubah biksu berwarna jingga kecoklatan. Kedua mata orang berpakaian biksu itu berwarna hitam seluruhnya. Tangan kanannya memegang tongkat kayu sebesar ibu jari dan panjangnya hanya setengah lengan. Sedangkan tangan kirinya memegang lonceng kecil yang pegangannya terbuat dari kayu juga. Saat berbicara, suaranya terdengar jauh.
"Ayo maju, dan jawab dengan benar pertanyaan Gulizar !" bentak orang tinggi kurus hitam berpakaian pendeta itu.
"Ratu siluman! Cepat katakan, atau ku suruh Nigul Dedan untuk membakarmu hingga musnah !" kata Gulizar lagi.
"Silahkan bakar kami semua ! Karena memang tugas kami menjaga dan melindungi pohon itu !" jawab Putri Kalistra.
"Dan kamu ratu hutan Panjalu, apakah kamu juga tidak mau mengatakan pada kami ? Apakah kamu tidak menginginkan kakek dan ibumu bangkit kembali ?" tanya Gulizar pada Putri Dyah Pawatu.
"Sampai mati pun, aku tidak akan mengatakan kepadamu !" jawab Putri Dyah Pawatu lantang.
"Haaahhh ..... dua ratu beda alam yang sama sama bodoh !" teriak Gulizar.
"Heeiii kamu, aku ingin membuktikan, apakah kamu benar benar titisan Dewi Tara !" kata Gulizar kembali sambil bersiap menyerang Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang Lintang, biar aku hadapi dia. Saat dia mulai menyerang, aku minta kakang Lintang segera membebaskan Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu," bisik Sekar Ayu Ningrum pada Lintang Rahina.
"Hati hati adik Sekar. Sepertinya dia menyimpan sesuatu yang berbahaya," jawab Lintang Rahina sambil memberi pesan.
__ADS_1
Gulizar, seorang pemimpin spiritual di kawasan Nepal yang masih terlihat cantik walau usianya sudah memasuki empat puluh tahun.
Dia diangkat menjadi pemimpin spiritual menggantikan gurunya yang sekaligus neneknya, setelah neneknya mengundurkan diri dan memilih untuk bertapa mencari kesucian hati.
Dalam bertapanya, nenek Gulizar yang bernama Gulya Gamze mendapatkan petunjuk. Petunjuk itu mengatakan kalau pohon keabadian yang mengeluarkan sinar keperakan, yang dipercaya oleh penduduk di negeri negeri di sekitar pegunungan Himalaya, sebagai reinkarnasi dari Dewi Tara, akan muncul di negeri yang terdiri dari banyak sekali pulau yang mana matahari bersinar tepat di atas kepala.
Sebenarnya Gulya Gamze tidak menyuruh Gulizar untuk merebut atau membawa pohon keabadian itu. Hanya memintanya untuk datang dan menyaksikan kemunculan pohon itu dan siapa tahu negeri mereka bisa ikut mendapatkan berkahnya.
Mendapatkan perintah dari neneknya, Gulizar menemui pemimpin spiritual dari negeri Tibet, biksu yang bernama Nigul Dedan dan pemimpin spiritual negeri India yang bernama biksu Chanddara untuk meminta pendapatnya.
Dalam pembicaraan mereka itu, mereka justru memutuskan untuk mencari dan mengambil kembali pohon keabadian untuk dibawa dan diletakkan di puncak pegunungan Himalaya.
Hingga bertahun tahun mereka melakukan perjalanan dalam pencarian pohon keabadian.
Karena kedatangan mereka bertepatan dengan masa masa Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, mereka jadi kehilangan sumber informasi yang resmi dari pendeta dan biksu dari kerajaan Majapahit.
Maka dari itu, Putri Kalistra yang saat itu bersama Putri Dyah Pawatu, ikut keluar dan mereka menjumpai, yang datang kali ini adalah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Merasa mereka ada peluang untuk terbebas, akhirnya mereka berani melawan dan menentang permintaan Gulizar dan kawan kawannya.
Sementara itu, Putri Dyah Pawatu bisa bersama dengan Putri Kalistra, karena, saat dia disuruh melarikan diri dari pertarungan melawan Lintang Rahina, dia mengalami pingsan setelah berlari tiada henti.
Dalam larinya, tanpa sengaja Putri Dyah Pawatu memasuki hutan Panjalu dan kemudian pingsan di tengah hutan.
Walaupun mengetahui kalau Putri Dyah Pawatu pernah memusuhinya, namun melihat Putri Dyah Pawatu terluka sangat parah, Putri Kalistra tetap menolongnya setelah mendapat laporan dari para prajurit penjaga.
Putri Kalistra merawat Putri Dyah Pawatu hingga sembuh.
__ADS_1
Setelah sembuh, Putri Dyah Pawatu yang merasa diselamatkan oleh Putri Kalistra berjanji tidak akan bermusuhan lagi dan akhirnya, kedua kerajaan berbeda alam itu menjadi sahabat.
Saat Putri Dyah Pawatu mendengar kabar kerajaan gaib di Danau Panjalu yang dipompin oleh Putri Kalistra diserang oleh sekelompok biksu dan biksuni dari negeri asing, Putri Dyah Pawatu segera mengerahkan bantuannya.
Namun karena kekuatan mereka hanya tertumpu pada Putri Kalistra dan Putri Dyah Pawatu, mereka berdua dan pasukan mereka akhirnya kalah melawan sekelompok biksu yang sebagian berilmu silat sangat tinggi. Hingga kemudian Putri Dyah Pawatu ikut menjadi sandera sampai sekarang ini.
Sementara itu, Gulizar yang melihat kedua ratu itu kembali berani melawan mereka, menjadi penasaran dengan apa atau siapa yang membuat mereka berani berubah setelah kedatangan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Hingga akhirnya Gulizar menantang Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina.
Tubuh Gulizar berkelebat dengan sangat cepat. Dalam sekejap Gulizar sudah berada di dekat Sekar Ayu Ningrum dan melakukan serangan dengan pukulan beruntun.
Sekar Ayu Ningrum yang sudah bersiap sejak tadi, segera memapaki setiap pukulan Gulizar juga dengan pukulan.
Plaaakkk ! Plaaakkk ! plaaakkk !
Deeesss !!!
Diam diam Gulizar terkejut. Perempuan muda yang menjadi lawannya ternyata memiliki energi yang tidak di bawahnya.
"Ternyata benar ucapan nenek Gulya Gamze. Pendekar pendekar dari kepulauan yang jauh dari daratan besar memang ilmunya tinggi tinggi," kata Gulizar dalam hati.
Sambil meningkatkan aliran energinya, Gulizar kembali melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum. Kedua telapak tangan dan kakinya terlihat mengeluarkan uap tipis dan berhawa dingin.
Sekar Ayu Ningrum tidak mau ketinggalan. Aliran energi ke kedua tangannya ditingkatkan. Dari genggaman tangan kanannya muncul pendaran sinar putih pekat berbentuk pedang pendek. Bilah pedang pendek yang terbentuk dari pendaran sinar putih pekat itu memadat dan kekuatan serta ketajamannya tidak kalah dengan pedang asli.
Tehnik itu Sekar Ayu ciptakan saat tinggal di Parangtritis. Dengan bimbingan dari Lintang Rahina suaminya, ilmu yang memanfaatkan energi angin, yang diajarkan oleh kakeknya, Ki Ageng Arisboyo berhasil dia tingkatkan hingga ke taraf memadatkan.
__________ 0 __________
__ADS_1