Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Berita Tentang Tamu Dari Seberang


__ADS_3

Mendengar cerita guru gurunya yang cukup banyak, Lintang Rahina berniat untuk membawa anak mereka, Seruni, melakukan perjalanan bersama sama dengan istrinya, Sekar Ayu Ningrum.


"Jangan dulu ngger, selain anakmu masih kecil, juga, biar anakmu menguasai dulu beberapa tehnik yang kami ajarkan," kata Ki Penahun.


"Kalian baru sehari di sini. Lihat dulu selama beberapa hari. Kalian akan terkejut dengan kecerdasan anak kalian. Walaupun usianya baru tiga tahun lebih, namun daya ingatnya sangat luar biasa Sehingga diajari sekali saja atau diberi contoh sekali saja, anak kalian itu sudah bisa menirukannya," sambung Ki Jagad Dahana.


"Dan yang paling penting ngger Lintang. Energi yang tersimpan di dalam tubuh anakmu hampir terbentuk sempurna. Kami semua juga terkejut, kenapa bisa begitu cepat. Awalnya perkiraan kami, saat anakmu menginjak usia delapan belas tahun, energi itu baru akan terbentuk sempurna. Namun, apakah mungkin hal ini ada hubungannya dengan tanda tanda yang sempat kami tangkap dan kami baca, yaitu akan munculnya batu langit, yang menjadi perebutan para pendekar di seluruh dunia, karena batu langit itu dipercaya bisa dibuat menjadi senjata yang sangat ampuh," kata Ki Dipa Menggala.


"Dan dari wisik yang kami terima, batu langit itu akan muncul atau jatuh di bumi Jawadwipa. Makanya banyak tokoh persilatan dari berbagai negeri, muncul di tempat kita ini," tambah Ki Wangsa Menggala.


"Terus, apa yang harus kita lakukan,guru ?" tanya Lintang Rahina.


"Yang terpenting, kita tunggu dan kita jaga, agar saat energi di dalam tubuh anakmu itu bangkit secara sempurna, kita pastikan tidak akan membahayakan tubuh anakmu, dan anakmu bisa menguasainya, bukan sebaliknya, anakmu yang dikuasai energi itu. Caranya dengan secepat mungkin melatih anakmu berbagai tehnik yang nantinya bisa dipergunakan untuk mengendalikan energi itu," Ki Pradah menambahkan.


"Mulai sekarang, sambil menunggu anakmu berlatih, kita bisa memulai mencari tahu dan memastikan, siapa saja tokoh persilatan yang datang dan seberapa tingkat kekuatan mereka. Kalau bisa, kita berusaha mengurangi mereka satu per satu," kata Ki Penahun.


----- * -----


Memang, sejak mulai ditinggal oleh ayah dan ibunya, Seruni yang saat itu berusia satu tahun lebih, mulai memperlihatkan kecerdasannya. Dari dia melihat saja, dia sudah bisa menirukan dengan persis urutan dan gerakannya.


Berawal dari situ, Ki Penahun mencoba mengajari Seruni suatu gerakan sederhana. Sesuai dengan perkiraan Ki Penahun, Seruni bisa menirukan semua gerakan itu dengan tepat.


Kemudian Ki Penahun mencoba mengajarkan gerakan yang lebih sulit. Tetap saja Seruni bisa menirukan semua gerakan itu dengan baik dan sempurna.

__ADS_1


Maka, setelah tokoh tokoh tua dunia persilatan itu berembug, mereka sepakat untuk mengajarkan tehnik tehnik mereka pada Seruni.


Bersamaan dengan hal itu, Ki Pradah dan yang lainnya mulai merasakan adanya getaran energi yang mulai bangkit dan terbentuk di tubuh Seruni.


Ki Penahun, Ki Prasah dan semua yang mengajari Seruni bisa merasakan dan mengetahui dari getaran yang mereka rasakan, walaupun belum terbentuk secara sempurna, namun energi yang berada di dalam tubuh Seruni adalah energi yang sangat besar.


Karena itu, mereka mencoba mengimbanginya dengan memberikan tehnik tehnik latihan pada Seruni untuk menyalurkan energi yang ada di dalam tubuhnya.


Mereka berani memberikan latihan dengan tehnik tinggi, karena mereka sudah memeriksa tubuh Seruni.


Saat memeriksa tubuh Seruni, mereka menemukan banyak keunikan yang menjadikan tubuh Seruni sangat istimewa.


Selain sudah tersimpan bakal energi yang sangat besar, struktur tulang dan syaraf syaraf tubuh Seruni sudah terbuka. Seolah tubuhnya memang sudah dipersiapkan untuk mendapatkan energi yang sangat besar itu.


Mereka berdua sangat senang sekaligus khawatir, anaknya mendapatkan energi yang sangat besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan.


Akhirnya setelah beberapa hari menemani Seruni berlatih, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menyelingi dengan pergi keluar, turun gunung untuk melihat perkembangan dunia luar. Sekaligus untuk menyelidiki, siapa saja.


Seperti pagi ini, LIntang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah berada di kaki gunung Lawu. Mereka berdua berkali kali berpapasan dengan pendekar yang lewat di kaki gunung Lawu. Karena kaki gunung Lawu merupakan jalur lalu lintas perjalanan yang cukup ramai, karena jalur perjalanannya yang mudah, walaupun lebih jauh karena memutar.


Namun sampai saat ini, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum belum bertemu atau melihat pendekar dari negeri asing.


Mereka berdua terus saja berjalan ke arah barat dengan berjalan kaki biasa. Mereka berdua sampai di pinggir suatu kampung yang cukup ramai.

__ADS_1


Kampung itu berada di pinggir jalan lalu lintas para pejalan kaki, baik pedagang ataupun para ahli beladiri. Di kiri kanan jalan itu, berdiri banyak sekali warung makan warung makan, dan.pembelinya pun dari berbagai macam golongan. Ada pelancong, pedagang ataupun para pendekar dan ahli bela diri. Ada yang datang sendirian ataupun berkelompok. Dan di warung makan warung makan seperti itulah, beredar berbagai macam kabar berita.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sengaja masuk ke suatu warung yang sangat ramai. Mereka berdua mencari tempat duduk pinggir, namun bisa melihat ke semua arah. Setelah memesan makanan yang mereka berdua inginkan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera memperhatikan sekitarnya dan mencoba mendengarkan setiap omongan pengunjung.


Selain memang karena saatnya makan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memang ingin mencari berita apapun tentang perkembangan dunia persilatan. Siapa tahu mereka mendapatkan kabar berita tentang tamu atau pendekar dari negeri seberang, atau yang ada hubungannya dengan itu.


Sampai dengan pesanan makanan mereka datang, mereka belum mendapatkan kabar berita yang menarik.


Hingga akhirnya, saat mereka berdua tengah menyantap makanan mereka, mereka berdua mendengar berita yang cukup menarik bagi mereka.


Yaitu berita tentang akan turunnya batu langit, seperti yang diceritakan oleh Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala. Dikabarkan, batu langit itu akan turun ke bumi, di daerah yang dikelilingi oleh gunung.


Selain tentang batu langit, mereka mendengar juga berita tentang banyaknya tamu dari negeri seberang yang datang ke tanah Jawadwipa.


Kedatangan tamu dari negeri seberang itu sudah berlangsung sekitar dua tahun. Para pendekar dari negeri seberang itu, selain mereka menunggu turunnya batu langit, mereka diam diam juga mencari adanya anak yang lahir dengan membawa energi yang sangat besar.


Para tamu dari negeri seberang itu kebanyakan datang dalam rombongan besar. Mereka membangun tempat tinggal sendiri hingga layaknya seperti sebuah perkampungan.


Karena mereka datang dari berbagai negara, setiap rombongan besar itu saling bersaing.


Dan berita yang sangat mengagetkan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum adalah, sudah ada beberapa tokoh dari para tamu dari negeri seberang itu yang mulai bisa merasakan getaran energi anak yang mereka cari. Dan mereka berencana hendak menyerbu ke tempat di mana dirasakan adanya getaran energi yang sangat besar itu.


__________ 0 __________

__ADS_1


__ADS_2