
Pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan yang keluar dari tubuh Lintang Rahina itu terus bertambah tebal dan luas, dan juga berjalan merembet di benang energi hingga mencapai setengahnya.
Namun, pendaran sinar putih pekat bercampur butiran sinar kuning keemasan itu belum bisa merambati kelima batang cambuk yang menjerat leher serta kaki dan tangannya.
Bahkan, saat melihat pendaran sinar yang keluar dari tubuh Lintang Rahina semakin bertambah luas dan tebal, raja Kerajaan Liliputan itu meningkatkan aliran energinya ke kelima bilah cambuknya.
Beberapa saat kemudian, ujung ujung cambuk itu perlahan mulai mengeluarkan nyala merah membara.
Kemudian, ujung ujung cambuk yang berwarna merah membara itu mulai bergerak menusuk permukaan kulit leher, tangan dan kaki Lintang Rahina.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Ayo keluarkan seluruh energimu ! Aku ingin tahu, seberapa tinggi energi orang orang dari Negeri Jawadwipa yang telah mengusir leluhur leluhur kami !" teriak raja Kerajaan Liliputan itu, sambil meningkatkan aliran energinya ke cambuk bertangkai lima itu.
Mendengar perkataan raja Kerajaan Liliputan itu, serta merasakan lima ujung cambuk yang mulai menusuk kulit tubuhnya, secara reflek Lintang Rahina membentengi seluruh tubuhnya dengan mengalirkan energi dalam jumlah yang besar.
Pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan semakin menebal menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebagian pendaran sinar itu, menyebar meliputi seluruh wilayah istana Kerajaan Liliputan. Bahkan sebagian mulai menyelimuti dan merembet di kelima ujung cambuk itu. Bahkan benang benang energi yang menjeratnya sudah hampir seluruhnya diselimuti pendaran sinar hingga hampir mencapai kedua tangan wakil raja Kerajaan Liliputan itu.
Sesaat kemudian, tubuh Lintang Rahina mulai terangkat naik dan kembali melayang.
Bersamaan dengan itu, Lintang Rahina mulai merasakan kesakitan yang sangat luar biasa, saat di dalam tubuhnya terjadi bentrokan energinya dengan energi yang terkandung dalam kelima batang cambuk itu. Hingga Lintang Rahina pun berteriak sangat keras.
Arrrccchhh !!!
Saat berteriak itu, terjadi luapan energi yang sangat besar dari dalam tubuh Lintang Rahina. Membuat pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan itu bergerak dengan cepat, hingga menjangkau tubuh kedua wakil raja Kerajaan Liliputan yang kedua tangannya masih terhubung dengan benang energi. Seluruh tubuh kedua wakil raja Kerajaan Liliputan itu dengan cepat terselimuti pendaran sinar. Bahkan kemudian, tubuh kedua wakil raja itu ikut terangkat mendekat ke tubuh Lintang Rahina.
Saat tubuh Lintang Rahina berhenti bergerak melayang, tiba tiba dari dalam dada Lintang Rahina keluar cahaya putih yang sangat terang. Cahaya putih terang yang hanya sepanjang lengan itu melayang dan berhenti di depan Lintang Rahina.
Kemudian, cahaya putih terang itu semakin meredup dan menghilang, menampakkan wujud senjata trisula bergagang pendek. Bilah trisula itu juga memancarkan cahaya putih terang walau tidak seterang tadi.
Melihat keluarnya senjata trisula itu, raja Kerajaan Liliputan sangat terkejut dan gemetar seluruh tubuhnya. Di dalam pikiran dan pandangan matanya, dia seperti diperlihatkan serangkaian kejadian kejadian yang seakan akan dia mengalami sendiri.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, pendaran sinar yang keluar dari tubuh Lintang Rahina mulai merembet dan menyelimuti tangkai tangkai cambuk yang pangkal batangnya dipegang oleh raja Kerajaan Liliputan itu.
Raja kerajaan Liliputan itu meresakan tangan kanannya yang memegang cambuk panas dan sangat nyeri. Hal itu terjadi karena energinya mulai membalik.
Raja Kerajaan Liliputan itu berniat melepaskan pegangannya pada cambuknya, namun tangan kanannya seperti tidak mau lepas dari batang cambuk itu.
Sesaat kemudian, pendaran sinar yang keluar dari tubuh Lintang Rahina menerpa seluruh tubuhnya. Membuat tubuh raja manusia kerdil itu terhempas kemudian terangkat dan mendekat ke arah Lintang Rahina.
Dengan mata yang menyalang putih pekat Lintang Rahina menatap ke arah raja manusia kerdil dan kedua wakilnya. Tangan kanan Lintang Rahina meraih senjata trisula yang melayang di depannya.
Kemudian tubuh Lintang Rahina melayang perlahan ke arah dua wakil raja Kerajaan Liliputan. Jeratan benang energi yang melilit disekujur tubuhnya sudah tidak berpengaruh lagi pada tubuh Lintang Rahina.
"Kalian terlalu keji sebagai seorang pejabat kerajaan. Kalau dibiarkan hidup, kalian hanya akan menyengsarakan rakyat !" kata Lintang Rahina, "Maka sudah sepantasnya kalian mati !"
Kemudian dengan sangat cepat, tangan kanan Lintang Rahina yang memegang senjata trisula bergerak dua kali, menusuk dada kedua wakil raja Kerajaan Liliputan. Gerakan tusukan yang sudah tidak bisa diikuti oleh mata. Bahkan kedua wakil raja itu, tidak menyadari jika dada mereka sudah berlubang terkena tusukan senjata trisula.
Claaappp ! Claaappp !
Sesaat tubuh kedua wakil raja Kerajaan Liputan itu menyala putih pekat. Kemudian sinar putih pekat menyilaukan itu menghilang dengan cepat. Bahkan tubuh keduanya pun lenyap tanpa meninggalkan bekas. Benang energi yang menjerat seluruh tubuh Lintang Rahina yang berasal dari kedua telapak tangan wakil raja Kerajaan Liliputan itu, juga turut lenyap.
Blaaappp ! Blaaappp !
Kedua wakil raja manusia kerdil itu, tidak hanya tewas, namun musnah tubuh dan jiwa mereka terbakar pendaran sinar dari bilah senjata trisula yang dipegang Lintang Rahina.
Setelah tubuh kedua wakil raja Kerajaan Liliputan itu lenyap, Lintang Rahina kembali menatap ke arah raja manusia Liliputan yang seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Kau juga raja yang sangat lalim. Kalau tidak kumusnahkan, kau hanya akan menyengsarakan rakyatmu !" kata Lintang Rahina sambil perlahan tubuhnya melayang mendekat ke arah raja Kerajaan Liliputan itu.
Tangan kanan Lintang Rahina terangkat, siap melesatkan senjata trisula ke tubuh raja manusia Liliputan itu.
__ADS_1
Namun tiba tiba, dari arah pintu pintu masuknyang berwarna hitam pekat, muncul beberapa sosok tubuh yang kemudian segara mendekat ke arah pertarungan Lintang Rahina melawan raja Kerajaan Liliputan.
"Gadis muda, tolong hentikan suamimu ! Jangan biarkan suamimu membakar dan memusnahkan semuanya ! Kalau sampai senjata cambuk bertangkai lima itu musnah terbakar, seluruh bangsa Liliputan akan kehilangan alat untuk menyerap energi !" teriak raja Kerajaan Liliputan yang asli, yang saat di luar kawah tadi ditolong oleh Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar permintaan raja manusia Liliputan yang diusir itu, Sekar Ayu Ningrum pun segera melesat melayang, mendekat ke arah Lintang Rahina.
Setelah berada didekat Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum segera mengeluarkan energinya dalam jumlah yang cukup besar.
Sesaat kemudian, seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan.
Pendaran sinar putih keperakan itu yang membawa hawa dingin itu segera menyelimuti tubuh Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina.
Saat dalam posisi begitulah, Sekar Ayu Ningrum bisa menyelaraskan diri dengan kondisi Lintang Rahina dan bisa berkomunikasi dengan Lintang Rahina.
"Kakang Lintang, hentikan energimu. Jangan kau musnahkan mereka semua. Itu akan membahayakan keberadaan Kerajaan Liliputan !" ucap Sekar Ayu Ningrum, "Dan juga, dia bukan raja yang asli. Raja yang sebenarnya baru saja datang bersamaku."
Mendengar ucapan Sekar Ayu Ningrum istrinya, Lintang Rahina sejenak menatap ke arah raja manusia Liliputan yang masih memegang gagang cambuk.
Kemudian berganti menatap wajah istrinya yang mengangguk meyakinkan dirinya dan sekilas menatap beberapa orang manusia kerdil yang berdiri di tanah.
Kemudian, perlahan Lintang Rahina mengurangi keluarnya energi dari dalam tubuhnya.
Pendaran sinar yang keluar dari tubuh mereka berdua pun perlahan menipis dan kemudian menghilang.
Saat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum masih dalam keadaan terbang melayang, situasi itu dimanfaatkan oleh raja manusia kerdil. Tubuhnya dengan sangat cepat melesat ke bawah menuju ke arah raja Kerajaan Liliputan yang asli.
Sesampai di tanah, raja manusia kerdil itu dengan cepat mengayunkan cambuk bertangkai lima ke arah tubuh raja Kerajaan Liliputan yang asli, hingga kelima ujung cambuk itu menjerat leher dan seluruh tubuh raja yang asli.
"Haaahhh ha ha ha ha .... ! Anak muda dari Negeri Jawadwipa ! Kembalilah ke negerimu, karena kalau kalian berani mendekatiku, dia akan mati di tanganku !" kata raja manusia kerdil itu.
__ADS_1
__________ 0 __________