Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kurungan Dari Benang Jiwa


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan eyangnya, Lintang Rahina fokus pada bagaimana mengalahkan sosok hitam yang bernama Mahagni. Karena tadinya dia masih sedikit menahan energinya, karena khawatirnya, Mahagni akan melarikan diri lagi pada saat saat terakhir.


Aaarrrccchhh !!!


Mahagni berteriak sambil mengangkat kedua tangannya. Letupan letupan api merah membara pada tubuhnya semakin bertambah banyak. Kemudian badannya bertambah tinggi dan besar hingga menjadi dua kali dari tinggi manusia biasa. Mulut dan matanya berubah warnanya menjadi merah dan mengeluarkan api.


Sambil menurunkan kembali kedua tangannya, kaki kanannya menghentak ke tanah hingga menimbulkan getaran dan suara yang keras.


Baaammm !!!


Seketika tubuhnya melesat cepat ke arah Lintang Rahina. Kemudian tendangan dan injakan kakinya dilayangkan berkali kali ķe arah Lintang Rahina.


Buuummm ! Buuummm ! Buuummm !


Suara debuman berkali kali dan kepulan debu seketika memenuhi tempat pertarungan.


Tetapi debu yang memenuhi tempat pertarungan itu seketika terbang menjauh saat Lintang Rahina melakukan perubahan energi angin dengan mengibaskan kedua tangannya ke depan.


Wuuussshhh !!!


Mahagni yang memanfaatkan tertutupnya pandangan karena kepulan debu, tiba tiba sudah berada tepat di depan Lintang Rahina sambil kedua tangannya melakukan serangan cakaran.


Lintang Rahina yang sudah bersiap dengan tehnik 'Puspa Nagari" menyambut datangnya serangan cakaran Mahagni.


Tubuh Lintang Rahina yang mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan perlahan melayang hingga setinggi pinggang. Kemudian pendaran sinar kuning keemasan di bawah kakinya membentuk kelopak kelopak bunga teratai sehingga seolah olah Lintang Rahina berdiri di atas bunga teratai raksasa berwarna kuning keemasan.


Serangan cakaran dari Mahagni yang menimbulkan suara menderu di sambut dengan pukulan tapak dengan gerakan yang terlihat pelan.


Bertemunya dua pukulan itu hanya menimbulkan suara yang pelan saja.


Blaaappp !!!


Tetapi akibatnya, telapak tangan Mahagni yang membentuk cakar, terpental dan tubuh Mahagni terdorong ke belakang dua langkah.


Tidak berhenti sampai disitu, Lintang Rahina melanjutkan dengan serangan telapak tangan kanannya ke arah dada Mahagni.


Gerakan telapak tangan Lintang Rahina terlihat pelan, tetapi mengandung energi yang sangat kuat. Sehingga ketika telapak tangan kanan Lintang Rahina mengenai dada Mahagni, tubuh Mahagni yang hitam dengan diselingi letupan letupan merah membara di sekujur tubuhnya, terlempar ke belakang hingga lima langkah lebih. Terlihat lubang di bagian dada yang terkena telapak tangan Lintang Rahina.

__ADS_1


Tiba tiba, lubang di dada Mahagni itu keluar api merah membara. Bersamaan dengan itu, Mahagni menggeram keras seperti berteriak sambil mendongakkan kepalanya.


"Hhhrrrggghhhh !!!


Kemudian tubuh Mahagni berubah menjadi merah menyala seluruhnya dan terlihat jilatan jilatan api di sekujur tubuhnya. Mulut di masing masing kepalanya mengeluarkan api.


Dengan berteriak, masing masing mulut itu mengeluarkan bola api sebesar kepala manusia yang melesat cepat ke arah Lintang Rahina.


"Aaarrrggghhh !!!


Wuuussshhh ! Wuuussshhh !


---------- o ----------


Sementara itu, setelah selesai berbicara pada Lintang Rahina, saat Lintang Rahina sedang bertarung dengan Mahagni, ketiga kakek tua yaitu Ki Penahun dan Ki Pradah serta Resi Nirartha Pradnya melompat berpencar mengepung pertarungan Lintang Rahina melawan Mahagni dari jarak masing masing sekitar dua puluh depa.


Kemudian ketiga orang tua itu membuat gerakan gerakan tertentu dengan kedua tangannya. Lalu dari kedua telapak tangan mereka keluar benang jiwa berwarna putih yang kemudian benang jiwa mereka saling terhubung sehingga membentuk segitiga.


Mereka dengan cepat mengulang ulang gerakan itu berkali kali sehingga tercipta benang benang jiwa yang saling terhubung membentuk segitiga. Benang energi berbentuk segitiga raksasa itu menumpuk ke atas dengan masing masing berjarak satu jengkal, hingga membuat tumpukan ke atas sampai setinggi dua kali tinggi pohon kelapa.


Sehingga benang benang jiwa itu membentuk kurungan yang mengurung pertarungan Lintang Rahina melawan Mahagni.


Setelah selesai membuat kurungan dari benang jiwa, Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya menjaga di masing masing sudut dengan sedikit mengalirkan energinya lewat telapak tangannya.


---------- o ----------


Lintang Rahina menyambut datangnya dua bola api yang melesat dari kedua mulut Mahagni. Dalam posisi melayang, Lintang Rahina menggeser sedikit kakinya ke arah kanan. Memudian dua bola api yang sudah dekat dengan tubuhnya, satu di sapok dengan pukulan telapak tangan kanannya sedangkan yang satu ditendang dari arah samping.


Dua bola api itu terpental dan menghujam ke tanah dan meledak.


Blaaarrr ! Blaaarrr !


Begitu suara ledakan berhenti, Mahagni sudah kembali melesat dan melayangkan serangan cakaran dan tendangan.


Karena melihat kurungan dari benang jiwa yang dibuat oleh eyang dan gurunya sudah jadi, Lintang Rahina pun tidak terlalu menahan energinya.


Sehingga sebentar saja terdengar ledakan berkali kali yang timbul karena benturan energi Lintang Rahina dan Mahagni.

__ADS_1


Berkali kali pula tubuh Mahagni terlempar ke belakang, bahkan sampai membentur benang jiwa yang di belakangnya.


Melihat kurungan dari benang jiwa itu, Mahagni sangat terkejut.


Ketika tubuhnya yang penuh luka menabrak dinding kurungan dari benang jiwa, Mahagni mencoba berkali kali untuk menerobosnya, tetapi tubuhnya selalu merasa seperti tersayat.


Akhirnya Mahagni menjadi kalap. Diterjangnya Lintang Rahina dengan serangan bertubi tubi.


Lintang Rahina pun membalas setiap serangan Mahagni dengan tangkisan dan pukulan tapaknya.


Tetapi, berkali kali pula terjadi, setiap tubuh Mahagni terluka, patah, hancur bagian tubuhnya, akan pulih dengan cepat.


Hal itu pula yang membuat Lintang Rahina masih memikirkan bagaimana cara mengakhiri perlawanan Mahagni.


Tiba tiba terdengar suara eyangnya seperti dekat di telinganya.


"Le ngger, pergunakan senjata pedangmu. Dengan tingkat energimu yang sudah sangat tinggi, potonglah lehernya dengan pedangmu. Kemudian secepatnya bakar kepalanya dengan energimu sampai menjadi abu. Kemudian tubuhnya bisa kamu bakar juga sampai keluar jiwa Mahagni. Tangkap dan bakar jiwa Mahagni dengan 'Puspa Nagari' yang kau kuasai."


Mendengar hal itu, Lintang Rahina merubah cara bertarungnya.


Lintang Rahina mendahului menyerang dengan pukulan yang tetap bisa membuat Mahagni terluka namun tidak sampai terdorong ke belakang. Sambil terus dipepet hingga sampai di dinding kurungan benang energi.


Hàl itu membuat Mahagni mundur dan terus mundur sambil berusaha menangkis dan membalas serangan.


Tetapi banyak juga pukulan Lintang Rahina yang mengenai dagu, dada, bahu ataupun perut Mahagni.


Hingga pada suatu saat, Mahagni sudah sangat terdesak dan punggungnya sudah sangat dekat dengan kurungan benang jiwa sehingga hanya bisa menerima setiap pukulan Lintang Rahina dengan pasrah dan hanya mengandalkan kemampuan memulihkan luka luka dengan cepat.


Saat tubuh Mahagni sudah menyentuh dinding kurungan benang jiwa dan hanya diam saja tidak berusaha mengelak ataupun membalas saat Lintang Rahina menghujani dengan pukulan, Lintang Rahina berencana mencabut pedangnya untuk memotong leher Mahagni dengan cepat.


Sreeettt !


Tetapi tiba tiba hal yang tidak diperkirakan sebelumnya, terjadi.


Cakar kiri Mahagni tiba tiba bergerak cepat menjepit lengan kanan Lintang Rahina yang sedang mengayunkan pedang. Sedangkan cakar kanan Mahagni menjepit leher Lintang Rahina.


__________ 0 __________

__ADS_1


__ADS_2