Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Ki Wangsa Menggala Turun Gunung II


__ADS_3

Pukulan pertama Ki Rekso ditangkis oleh Ki Penahun, sedangkan untuk pukulan kedua, Ki Penahun memilih mengadu kepalan.


Dalam adu kepalan tangan itu, Ki Rekso terjajar ke belakang beberapa langkah dengan seluruh tubuh bergetar sedangkan Ki Penahun tidak bergeming dengan kuda kudanya.


Merasa tidak akan menang jika melawan Ki Penahun sendirian, Ki Rekso memberi kode pada Ki Brata untuk maju bersama sama menghadapi Ki Penahun.


Mereka berdua melompat bersamaan ke arah Ki Penahun dan melancarkan serangannya langsung dengan tenaga penuh.


Ki Penahun yang sudah menduga kalau mereka akan maju mengeroyok, segera menyalurkan energinya ke seluruh tubuhnya terutama kedua tangannya yang kemudian berubah menjadi berwarna ungu.


Ki Rekso dan Ki Brata sebenarnya terkejut dengan peningkatan energi dari Ki Penahun.


Terakhir mereka bentrok dengan Ki Penahun, energi Ki Penahun tidak sekuat ini. Dulu hanya sedikit di atas Ki Rekso dan Ki Brata.


Mereka berdua mencoba beradu pukulan dengan menyerang bersamaan. Ki Rekso yang tangannya sudah berwarna merah kehitaman melenting tinggi dan turun meluncur ke arah Ki Penahun dengan sebelumnya melemparkan beberapa senjata rahasianya, jarum jarum beracun.


Ki Brata pun demikian. Tubuhnya melesat ke arah Ki Penahun dengan tangan kanan siap menyerang.


Dengan agak merendahkan tubuhnya dan dengan posisi kuda kuda kaki kiri agak ke depan, Ki Penahun mengadu pukulan tangan kanannya dengan pukulan tangan kanan Ki Rekso.


Kemudian, tangan kirinya yang sejak awal ditarik ke belakang sedikit, saat pukulan Ki Brata datang, diadu dengan pukulan tangan kanan Ki Brata.


Blarrr !!!


Bluummm !!!


Benturan energi dengan Ki Rekso menimbulkan suara seperti suara ledakan. Ki Rekso yang tubuhnya melayang, terlempar ke belakang dan mendarat dengan masih terhuyung huyung. Wajahnya tampak memucat dan nafasnya terasa berat.


Disusul dengan Ki Brata yang kembali terdorong ke belakang. Tangan kanannya agak keunguan dan nafasnya memburu.

__ADS_1


Sementara, Ki Penahun kakinya terseret sedikit ke belakang dan amblas sampai dengan mata kaki. Jubahnya sobek kecil kecil di bagian depannya, terutama bagian lengan bajunya yang tinggal separo panjangnya.


Ki Wangsa Menggala terkejut melihat kondisi kedua teman perjalanannya. Dia juga terkejut melihat perkembangan ilmu silat Ki Penahun..


Melihat akibat yang ditimbulkan dari ilmu silat Ki Penahun sangat hebat, membuat Ki Wangsa Menggala menganggap, ilmu silat Ki Penahun sangat ganas. Ki Wangsa Menggala juga menganggap Ki Penahun kejam dan tega pada temannya.


Hal itu membuat Ki Wangsa Menggala turun tangan terjun dalam pertarungan.


"Ki Penahun, jangan berlaku kejam pada teman," kata Ki Wangsa Menggala sambil melompat ke gelanggang pertarungan.


"Ki Wangsa, aku tidak pernah berbuat kejam pada siapapun, apalagi pada teman. Mereka berdua yang selalu mencari permasalahan denganku," jawab Ki Penahun.


"Kamu sudah melukai Ki Rekso dan Ki Brata. Begitukah sikap seorang teman ?" tanya Ki Wangsa.


"Sekali lagi aku tekankan Ki Wangsa, mereka berdua yang selalu memulai lebih dulu, mereka yang selalu memancing mancing permasalahan denganku," jawab Ki Penahun.


"Cukup Ki Penahun," kata Ki Wangsa Menggala lagi, "terpaksa aku harus menghentikanmu !"


Tetapi pernah beredar rumor yang mengatakan, ilmu silat 'Banteng Majapahit' hanya Prabu Brawijaya yang bisa mengalahkannya, karena beliau sendiri yang menciptakannya.


Karena masuk dalam jajaran ilmu silat tingkat tinggi tetapi sangat ganas, maka saat prajurit elite 'Adhyasta Bhumi' dibubarkan, para mantan anggota prajurit elite disumpah dan dilarang menggunakan ilmu 'Banteng Majapahit' di luar kepentingan raja dan kerajaan Majapahit.


Ki Penahun sangat tahu sifat ilmu silat 'Banteng Majapahit', karena juga menguasai dan pernah menggunakannya.


Maka dari itu Ki Penahun langsung menyalurkan energinya sampai delapan puluh persen hingga kedua tangannya berwarna ungu terang.


Sebentar saja terjadi saling tukar serangan antara Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun.


Dengan memainkan ilmu silat 'Banteng Majapahit', Ki Wangsa Menggala menggunakan tangan kosong, walaupun yang paling hebat hasilnya bila dimainkan dengan dua senjata kembar.

__ADS_1


Walau Ki Wangsa Menggala memainkan ilmu 'Banteng Majapahit dengan tangan kosong, tetapi setiap serangan Ki Wangsa Manggala tetap membuat Ki Penahun tidak pernah bisa mengendorkan kewaspadaannya.


"Jurus jurus dalam ilmu 'Banteng Majapahit' memang luar biasa," kata Ki Penahun dalam hati.


Sementara Ki Wangsa Menggala diam diam mengagumi perkembangan ilmu silat dan energi Ki Penahun.


Belum ada pendekar yang bisa bertahan dalam waktu yang lama. Baru Ki Penahun yang bisa menahan serangan serangan jurus 'Banteng Majapahit' lebih dari setengah jam.


Bahkan Ki Penahun juga bisa membalas menyerang. Beberapa pukulannya sudah beberapa kali bersarang di tubuh Ki Wangsa Menggala.


Tetapi semua itu tidak mudah bagi Ki Penahun. Semua serangan Ki Penahun yang berhasil mengenai Ki Wangsa Menggala harus dibayar mahal dengan luka luka akibat terkena serangan Ki Wangsa Menggala.


Pertarungan berlangsung sudah hampir satu jam. Hasilnya, keduanya sama sama mengalami luka luka dan nafasnya mulai tidak teratur.


Tingkat energi yang sudah tinggi dan kemurnian energi yang terjaga, yang membuat Ki Penahun masih bisa bertahan.


Ki Rekso dan Ki Brata sejak tadi menonton jalannya pertarungan, setelah mengobati dan mengurangi luka dalamnya. Mereka berdua melihat peluang yang sangat baik untuk mengeroyok Ki Penahun.


Ketika benturan pukulan dan tendangan yang disertai benturan energi yang ke sekian kalinya dari Ki Wangsa dan Ki Penahun membuat mereka berdua terjajar ke belakang.


Saat Ki Penahun baru saja terdorong ke belakang dan belum juga mengembalikan posisi kuda kudanya, tiba tiba Ki Rekso dan Ki Brata melepaskan serangan pukulan mereka ke arah Ki Penahun. Bahkan Ki Rekso menyertai dengan melesatkan jarum jarum beracunnya.


Dengan posisi tubuh seadanya, Ki Penahun berusaha menangkis datangnya serangan pukulan dari Ki Rekso dan Ki Brata.


Blaarrr !!! Blaammm !!!


Deesssshh !!! Deessshh !!!


Sreettt !!!

__ADS_1


Menangkis dua pukulan beruntun dari Ki Rekso dan Ki Brata dan terkena pukulan dari dua orang secara bersamaan, membuat tubuh Ki Penahun terhuyung huyung ke belakang dan kemudian jatuh bertumpu lututnya. Sudut bibir Ki Penahun tampak mengeluarkan darah, kemudian memuntahkan darah segar, pertanda Ki Penahun mengalami luka dalam.


Melihat Ki Rekso dan Ki Brata ikut campur dalam pertarungannya, Ki Wangsa Menggala berteriak dan melompat di depan Ki Penahun yang masih terduduk, "Ki Rekso, Ki Brata, hentikan ! Apa yang kalian lakukan itu sungguh mengecewakan !"


__ADS_2