Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Melawan Sepasang Suami Istri Kim


__ADS_3

Lintang Rahina melihat, yang tadi menghadang dan menghadapi semua serangannya adalah kakek yang duduk di sebelah Nona Kim.


"Inikah ayah dari Nona Kim ? Kekuatannya sangat tinggi," kata Lintang Rahina dalam hati.


Sementara itu, Tuan Besar Kim, kakek yang menghadang semua serangan Lintang Rahina, juga terkejut dengan energi yang dimiliki Lintang Rahina.


"Anak ini, .... Semuda ini sudah memiliki energi yang sangat tinggi. Sungguh sangat membahayakan, bila menjadi lawan," gumam Tuan Besar Kim.


Sementara itu, Lintang Rahina bersiap untuk melakukan serangan lagi. Energi yang menyelimuti seluruh tubuhnya, meningkat dengan drastis. Kedua tangannya berubah warna menjadi ungu kehitaman.


Tiba tiba, seperti bayangan, tubuh Lintang Rahina berkelebat dengan sangat cepat mengarah ke tempat Tuan Besar Kim berdiri. Serangkaian pukulan diarahkan ke berbagai titik tubuh Tuan Besar Kim.


Tuan Besar Kim, yang sudah bersiap, tetap saja dibuat terkejut dengan kecepatan yang dimiliki oleh lawannya yang masih muda ini. Dengan segudang pengalaman bertarungnya, Tuan Besar Kim mencoba menangkis semua serangan pukulan Lintang Rahina.


Plak plak ! Plak plak plak !


Buggh buggh buggh !


Namun kali ini, yang dihadapi oleh Tuan Besar Kim adalah Lintang Rahina, seorang pendekar dengan tingkat energi yang sangat tinggi, serta yang sedang dalam keadaan sangat serius. Dalam setiap serangan pukulannya, energi yang keluar semakin meningkat dalam kecepatan yang semakin bertambah.


Dengan memainkan jurus Tapak Wulung yang dikombinasi dengan teknik Puspa Nagari, membuat kedua tangan Lintang Rahina yang berwarna ungu kehitaman diselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan. Apalagi dimainkan oleh Lintang Rahina dengan tingkat energi yang sekarang dimiliki, membuat kecepatan pukulannya sangat sulit untuk diikuti dengan mata serta besarnya kekuatan yang seperti tak terbendung.


Hingga pada suatu rangkaian serangan pukulan yang dikeluarkan oleh Lintang Rahina, satu pukulan tangan kanan Lintang Rahina mendarat tepat di dada Tuan Besar Kim, setelah sebelumnya dalam setiap menangkis, tubuh Tuan Besar Kim selalu terdorong mundur.


Plak plak plak !


Buggghhh !


Deeesss !!!


Tubuh Tuan Besar Kim tersurut mundur hingga beberapa langkah dalam posisi jatuh terduduk.


Dadanya terlihat berwarna sedikit keunguan yang membuat nafasnya agak berat.


Namun, dengan sekuat tenaganya, Tuan Besar Kim berusaha bangkit berdiri.

__ADS_1


Sementara itu, melihat suaminya terjatuh, Nyonya Besar Kim melesat cepat menghampiri dan melakukan totokan di beberapa titik di dada Tuan Besar Kim.


Setelah mendapatkan totokan dari istrinya, nafas Tuan Besar Kim tidak lagi terasa sesak.


"Anak muda dengan tingkat energi yang sangat tinggi. Aku harus membantu suamiku untuk bisa mengalahkannya," kata Nyonya Besar Kim dalam hati.


Sesaat keduanya saling memandang. Kemudian, sepasang suami istri yang sudah kakek kakek nenek nenek itu, bergerak bersamaan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata, melesat ke arah Lintang Rahina berada.


Melihat lawannya, Tuan Besar Kim seolah tidak merasakan akibat dari pukulannya, apalagi sekarang dibantu oleh Nyonya Besar Kim istrinya, Lintang Rahina menambah aliran energinya hingga kedua tangannya seperti mengeluarkan kabut berwarna ungu.


Hanya dalam sekejap mata, sepasang kakek nenek lawannya telah sampai didepannya dan melesatkan serangkaian serangan.


Dengan jurus Tapak Wulung, Lintang Rahina menahan derasnya serangan mereka berdua. Sangat tampak sekali jika mereka berdua sudah sangat terlatih dalam bergerak berpasangan sehingga serangan mereka deras menunjukkan keganasannya serta rapat pertahanannya.


Setelah bertahan terus selama sekitar sepuluh jurus dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata, satu pukulan Nyonya Besar Kim mendarat di perut Lintang Rahina.


Buuugggh !!!


Tubuh Lintang Rahina tersurut mundur hingga dua langkah. Untungnya lapisan energi yang menyelimuti tubuhnya sudah cukup besar, sehingga pukulan itu tidak berakibat apa apa pada tubuh Lintang Rahina.


Tubuh mereka berdua seperti menghilang dan tiba tiba sampai di depan Lintang Rahina, dan menghujani Lintang Rahina dengan serangkaian pukulan dan tendangan.


Bersamaan dengan itu, begitu tubuhnya terdorong mundur, Lintang Rahina segera mengganti jurusnya dengan tehnik gabungan Sindhung Alit dengan Bajraseta. Serta tetap digabungkan dengan tehnik Puspa Nagari.


Terlihat kesiuran angin mengelilingi seluruh tubuhnya. Kedua tangannya tidak lagi berwarna ungu kehitaman, namun mengeluarkan pendaran sinar berwarna putih mengkilat yang diselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan.


Begitu kedua lawannya tiba di depannya dengan rangkaian serangan keduanya, Lintang Rahina menghadapinya dan menangkisnya dengan pukulan dari tehnik Bajraseta, yang mengeluarkan hawa panas.


Terjadi berkali kali benturan pukulan ataupun tendangan yang menimbulkan suara yang sangat keras.


Plak ! Plak ! Plak !


Desss ! Desss !


Saling serang dalam tingkat kecepatan yang sangat tinggi itu membuat tuhuh mereka bertiga hanya terlihat seperti gerakan tiga kelebatan bayangan yang terkadang saling mendekat dan berbenturan, terkadang saling menjauh menghindar.

__ADS_1


Ditambah lagi dengan desiran angin yang mengelilingi tuhuh Lintang Rahina, membuat tempat sekitar pertarungan mereka sering terhempas angin.


Hingga pada suatu rangkaian serangan, satu tendangan kaki kanan Lintang Rahina berhasil mendarat di pinggang Nyonya Besar Kim.


Buuuggghhh !


Namun pada saat yang bersamaan, satu pukulan tangan kanan Tuan Besar Kim akhirnya berhasil mendarat di bahu kiri Lintang Rahina.


Paaaccckkk !


Hal itu membuat tubuh Nyonya Besar Kim terpelanting dan terdorong jatuh ke belakang. Yang kemudian disusul dengan terdorongnya tubuh Lintang Rahina ke samping kanan.


Tuan Besar Kim langsung melesat ke arah istrinya untuk melihat keadaannya dan memastikan keselamatannya.


Dalam hati masing masing, Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim sangat kagum pada Lintang Rahina yang mampu menahan keroyokan mereka berdua.


Baru kali ini mereka menemui lawan, yang bisa mengimbangi energi dan kecepatan mereka serta yang mampu menahan serangan bersama mereka. Apalagi lawannya itu masih sangat muda.


Begitu bisa menguasai tubuhnya lagi, Lintang Rahina segera membentuk kuda kudanya lagi.


Semakin besar energi yang dia keluarkan termasuk yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Kesiuran angin yang mengelilinginya bertambah cepat, hingga membuat pusaran angin yang mengitari tubuhnya.


Selain itu, sekarang tidak hanya kedua lengannya yang mengeluarkan pendaran sinar putih mengkilat. Seluruh tubuhnya pun mulai mengeluarkan pendaran sinar putih mengkilat, dilapisi dengan butiran sinar kuning keemasan yang semakin tebal.


Dan yang membuat lebih mengagumkan lagi, kedua mata Lintang Rahina .


Perlahan tubuh Lintang Rahina terangkat dari tanah yang diinjaknya.


Setelah tubuhnya terangkat hingga mencapai sepinggang orang dewasa, tubuh Lintang Rahina berkelebat cepat, melesat ke arah Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim.


Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim meningkatkan aliran energinya. Tubuh mereka berdua pun melayang hingga ketinggian yang sama dengan ketinggian melayangnya Lintang Rahina. Kemudian, mereka menyambut datangnya serangan Lintang Rahina dengan memainkan jurus berpasangan.


Jurus berpasangan ini merupakan jurus andalan mereka berdua, yang membuat mereka sangat dikagumi dan disegani oleh lawan ataupun kawannya.


Kemudian, kembali terjadi pertemuan pukulan dan tendangan yang kali ini mereka lakukan dalam keadaan melayang.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2