
Laki laki paruh baya itu untuk beberapa saat memeriksa luka luka yang terdapat pada tubuh Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim serta tubuh Nona Kim.
Dengan sikap dingin dan tanpa ekspresi, laki laki paruh baya itu membalikkan badan dan berjalan pelan mendekat ke arah ketua biksuni.
"Ketua biksuni, kenapa ini terjadi dan siapa yang melakukannya ?" kata laki laki paruh baya pelan.
"Siapa kau dan ada hubungan apa kau dengan Klan Kemala Hijau ?" kata ketua biksuni balik bertanya.
"Aku kakak kandung Nona Kim !" jawab laki laki paruh baya itu, "Atas nama keluarga Klan Kemala Hijau, aku minta maaf atas semua yang telah kami lakukan yang telah membuat kerusakan di kuil ini."
"Tolong katakan yang sebenar benarnya, ketua biksuni, apa yang telah terjadi pada Klan Kemala Hijau dan apa yang telah kami lakukan.
Akhirnya ketua biksuni menceritakan semua yang terjadi pada laki laki paruh baya, yang ternyata kakak kandung Nona Kim, yang dulu dipanggil dengan julukan Tuan Muda Kim.
Setelah mendengar semua cerita ketua biksuni, Tuan Muda Kim segera berdiri dan mengulang lagi permintaan maafnya.
Kemudian, Tuan Muda Kim meminta tolong pada ketua biksuni untuk menguruskan pembakaran jenasah kedua orangtuanya, adiknya dan semua anggota Klan Kemala Hijau.
Setelah mendengar ketua biksuni bersedia, dan menanyakan semua hal yang dia butuhkan, Tuan Muda Kim segera berpamitan pada ketua biksuni dan para biksuni yang lainnya.
Tuan Muda Kim segera pergi meninggalkan kuil. Kemudian tubuhnya melesat melayang ke atas sangat tinggi.
"Ayah, ibu dan adikku, aku tahu, apa yang telah kalian lakukan, sebenarnya tidak benar. Tetapi, aku akan tetap membalaskan kematian kalian !" kata Tuan Muda Kim saat berhenti melayang dan melihat ke bawah, ke arah kuil yang terlihat kecil dilihat dari tempatnya melayang.
Untuk beberapa saat, Tuan Muda Kim termenung, pandangannya terpaku pada halaman depan kuil yang mulai ada api yang menyala, pertanda ketua biksuni sudah mulai melakukan pembakaran mayat korban pertarungan.
Kemudian, perlahan pandangan Ruan Muda Kim terarah jauh ke depan ke arah tenggara. Perlahan, lonjakan energi yang sangat besar, keluar dari seluruh tubuh Tuan Muda Kim.
__ADS_1
Blaaammm !!!
"Aaarrrccchhhhh ...... ! Siapapun kalian, tunggulah kedatanganku ! Aku akan mendatangi kalian untuk membalas dendam !" teriak Tuan Muda Kim.
Kemudian, tiba tiba tubuhnya kembali melesat dengan sangat cepat, ke arah tadi pandangan matanya melihat.
----- * -----
Walaupun melakukan perjalanan pulang dengan terbang melayang, namun Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melakukan perjalanan dengan pelan.
Hal itu, selain untuk melindungi Seruni anaknya, juga untuk menikmati setiap tempat yang dia lewati. Bahkan, untuk memenuhi rasa penasaran Sekar Ayu Ningrum, terkadang perjalanan mereka melenceng dari jalur yang mereka tempuh.
Seperti pada pagi ini, setelah beberapa hari mereka mengarungi udara dan tiba di tepi pantai, mereka turun setelah mereka menemukan pelabuhan yang cukup besar ditepi suatu kota. Pelabuhan itu kebetulan merupakan pelabuhan niaga, tempat keluar masuknya kapal kapal yang membawa barang barang yang diperdagangkan. Sehingga yang berada di pelabuhan itu kebanyakan para saudagar dan para pedagang.
Di pelabuhan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum ingin menumpang kapal yang hendak menuju ke negeri pulau pulau. Atau mungkin menyewa kapal yang bisa disewa.
Setelah hampir setengah hari mereka mencari kapal niaga yang bisa disewa atau ditumpangi, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mendapatkan tumpangan dari sebuah kapal yang cukup besar, yang kebetulan siang itu juga akan berangkat berlayar ke negeri pulau pulau untuk mencari rempah rempah. Kapal niaga itu milik seorang saudagar bernama Cheng Hok yang biasa dipanggil Saudagar Cheng.
Saudagar pemilik kapal itu hanya memberi syarat, jika terjadi penghadangan oleh para perompak atau bajak laut, mereka berdua diharapkan membantu.
Hingga akhirnya, waktu siang menjelang sore, kapal niaga besar milik Saudagar Cheng mulai meninggalkan pelabuhan, berangkat ke laut lepas, mengarungi lautan sebelah timur negeri daratan besar.
Kapal besar itu dengan gagahnya menerjang ombak lautan yang cukup ganas. Layar layarnya yang kokoh mampu menghadapi angin di atas lautan yang berhembus cukup kuat.
Di dalam kapal, selain tenaga tenaga yang mengendalikan kapal, Saudagar Cheng juga membawa buruh buruh untuk mengangkut barang barang dagangannya. Dan untuk keamanannya selama melakukan perjalanan perniagaan, Saudagar Cheng membawa sekitar tiga puluh pendekar yang dia jadikan sebagai tenaga keamanan.
Sampai dengan matahari tenggelam di ufuk barat, kapal niaga itu berlayar dengan tenang, membelah lautan yang mulai tenang ombaknya. Ditemani jutaan bintang dilangit yang terlihat kecil seperti kunang kunang.
__ADS_1
Semua itu terasa sangat indah dirasakan. Bahkan membuai angan angan. Menyeret alam pikiran. Membuat semua orang yang berada di dalam kapal itu tenggelam dalam diam.
Walaupun juga ikut terdiam dan menikmati suasana malam di kapal, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tetap tidak menghilangkan mewaspadaannya.
Pada suatu saat, mereka saling pandang, seolah ingin bertanya atau mengabarkan.
Telinga mereka berdua menangkap getaran energi, yang masih cukup jauh dari banyak gerakan di permukaan laut yang semuanya arahnya ke kapal niaga yang mereka tumpangi.
Dari getaran energi yang mereka tangkap, ada lima orang yang energinya sangat tinggi.
Setelah getaran energi yang mereka rasakan semakin dekat, Lintang Rahina kembali menatap Sekar Ayu Ningrum sambil mengangguk.
Kemudian, dengan berjalan agak cepat, Lintang menghampiri seorang pendekar yang berposisi sebagai komandan.
"Komandan, kenapa engkau tidak menyuruh anak buahmu untuk meronda memastikan keamanan penumpang dan kapal ini ?" tanya Lintang Rahina.
"Haaa ha ha ha ... ini suasana tenang aman. Saatnya kita bersantai dan bersenang senang !" jawab komandan pengawal.
"Sebaiknya kau pastikan dulu keadaan seluruh penumpang dan kapal keseluruhan, dengan memeriksa setiap sudut kapal !" kata Lintang Rahina sambil indera pendengarannya tetap waspada.
Lintang Rahina merasakan banyak getaran energi yang mengepung dari segala arah, kapal niaga yang dia tumpangi. Namun Lintang Rahina masih diam saja, belum berbuat apapun. Dia masih menunggu, apa yang akan dilakukan oleh komandan pengawal, jika para penyerbu sudah naik ke atas geladak kapal.
Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina merasakan, banyak gerakan merayap di dinding kapal.
Saat tiba tiba saja ada beberapa orang bersenjata yang berdiri di depan komandan pengawal dengan sikap tubuh siap bertarung.
"Ada penyusup ! Ada penyusup masuk ke dalam kapal ! " teriak Komandan pengawal.
__ADS_1
Kemudian komandan keamanan dan anak buahnya sibuk menghalau para penyusup. Terjadilah pertarungan di atas geladak kapal.
__________ 0 __________