Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Galuh Liliputan


__ADS_3

"Lepaskan orangtua itu !" teriak Sekar Ayu Ningrum sambil perlahan mendekat ke arah raja manusia kerdil yang memegang cambuk hitam bertangkai lima.


Raja manusia kerdil yang memegang cambuk hitam bertangkai lima itu belum menyadari siapa Sekar Ayu Ningrum, sehingga membiarkan saja Sekar Ayu Ningrum mendekat.


Begitu Sekar Ayu Ningrum masuk dalam jarak serangan cambuk, raja manusia kerdil itu tiba tiba menarik cambuknya dengan keras, sehingga kakaknya, yang sebenarnya merupakan raja Kerajaan Liliputan yang asli, tersentak ke belakang.


Tubuh raja asli Kerajaan Liliputan yang tersentak itu segera diterima raja manusia kerdil dengan tendangan yang tepat mengenai punggungnya.


Duuaaakkk !


Saat tubuh kakaknya terjerembab ke tanah akibat terkena tendangan, raja manusia kerdil itu segera mengayunkan cambuk bertangkai lima di tangan kanannya, ke arah Sekar Ayu Ningrum yang mendekat.


Sekar Ayu Ningrum yang menahan amarah, melihat semua yang dilakukan oleh raja manusia kerdil itu, segera mengalirkan energinya dalam jumlah yang cukup besar, kemudian menyambut lima ujung cambuk yang melesat ke arahnya dengan kedua tangannya yang telah menggenggam dua pedang yang terbentuk dari pendaran energi.


Traaakkk ! Taaakkk !Taaakkk !


Traaakkk ! Traaakkk !


Bukannya terpental, ujung ujung cambuk raja manusia kerdil itu justru melilit kedua pedang yang menangkisnya.


Namun, hal ini lah yang ditunggu tunggu oleh Sekar Ayu Ningrum. Begitu kedua bilah pedangnya dililit oleh lima ujung cambuk, seketika terjadi lonjakan energi pada seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum.


Pendaran sinar putih keperakan keluar dengan cepat dari seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum, dan segera menyebar ke sekelilingnya hingga menjangkau tubuh raja manusia kerdil itu.


Seketika, raja manusia kerdil itu merasakan dingin yang sangat luar biasa. Begitu dinginnya, hingga raja manusia kerdil itu kesulitan bernafas dan menggerakkan tubuhnya.


Sementara itu, dengan pelan, Sekar Ayu Ningrum menarik ke lima ujung cambuk yang melilit bilah pedangnya.


Kemudian Sekar Ayu Ningrum melemparkan senjata cambuk itu ke arah raja Kerajaan Liliputan yang asli.


Dengan tubuh yang masih lemah dan sakit di beberapa tempat, raja asli Kerajaan Liliputan itu berusaha meraih senjata cambuk hitam.

__ADS_1


Setelah berhasil mendapatkan senjata cambuk itu, raja asli Kerajaan Liliputan itu melayangkan lecutan cambuk ke udara dua kali.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


Kemudian, raja asli Kerajaan Liliputan itu, mengarahkan lecutan cambuknya ke tanah hingga ke lima ujung cambuk itu amblas menancap ke tanah.


Clap ! Clap ! Clap !


Claaappp ! Claaappp !


Sesaat kemudian, kelima tangkai cambuk itu terlihat bergetar. Bahkan tangan kanan raja asli Kerajaan Liliputan itu juga ikut bergetar, disusul kemudian seluruh tubuhnya.


Tampaknya, kelima ujung cambuk itu menyerap energi bumi dan menyalurkannya ke tubuh raja asli Kerajaan Liliputan.


Setelah beberapa saat, cambuk dan seluruh tubuh raja asli Kerajaan Liliputan itu berhenti bergetar. Tubuhnya terlihat segar dan sehat seperti tidak pernah mengalami luka luka. Wajahnya yang penuh dengan keriput terlihat berseri, dihiasi rambut, jenggot dan kumis yang sudah memutih semua.


Kemudian, dengan gerakan yang cepat ditariknya cambuk itu. Seketika, cambuk itu bergulung di lengan kanannya.


Kemudian, terdengar suaranya yang perlahan namun mengandung energi yang sangat tinggi, sehingga semua yang berada di dekat pertarungan bisa mendengarnya.


Mendengar suara itu, sejenak Sekar Ayu Ningrum memandang ke bawah. Dilihatnya, raja asli Kerajaan Liliputan itu nampak sehat. Maka ditariknya kembali energinya. Hawa di sekitar pertarungannya kembali hangat.


Raja manusia kerdil yang tadi menyerangnya terbebas kembali. Dengan energinya yang sudah sangat tinggi, membuatnya bisa memulihkan diri dengan cepat.


Kemudian, manusia kerdil yang mengaku menjadi raja itu, yang merupakan adik dari raja Kerajaan Liliputan yang sah, melesat dengan sangat cepat, menuju ke arah kakaknya sambil melancarkan serangkaian serangan.


Beberapa saat kemudian, terjadi pertarungan antara dua manusia kerdil yang sama sama mempunyai energi yang sangat tinggi.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menyaksikan pertarungan itu dari jarak yang cukup dekat.


Pertarungan antara dua manusia kerdil yang juga kakak beradik itu berjalan seimbang. Mereka sama sama mengeluarkan energi tingkat tinggi miliknya.

__ADS_1


Saat pertarungan memasuki jurus ke seratus, mulai terlihat, raja Kerajaan Liliputan itu sedikit demi sedikit terdesak.


Hal itu bukan karena ilmu dan energinya yang kalah tinggi dari adiknya. Namun karena perasaan tidak tega terhadap adiknya.


Sebaliknya, adiknya dengan membabi buta melayangkan serangan yang ganas dan selalu mematikan. Dan juga sifat energi yang dimiliki adiknya yang bersifat menghancurkan.


Pertarungan dua manusia kerdil itu terus berlanjut. Satu dua pukulan mulai mengenai tubuh raja Kerajaan Liliputan yang sah.


Melihat hal itu, Sekar Ayu Ningrum menatap ke arah Lintang Rahina.


"Kakang, jangan biarkan manusia kerdil yang keji itu merebut kembali cambuk bertangkai lima dari tangan kakaknya itu !" kata Sekar Ayu Ningrum.


Sementara itu, di dalam pertarungan, kedua manusia kerdil itu mulai mengeluarkan energinya hingga hingga puncaknya. Terlihat seluruh tubuh adik raja itu mulai diselimuti pendaran sinar merah. Kedua matanya menyalang merah sepenuhnya.


Di lain pihak, seluruh tubuh raja Kerajaan Liliputan itu mengeluarkan pendaran sinar kebiruan. Kedua bola matanya tetap putih dengan titik biru di tengahnya.


"Adikku ! Hentikan energimu ! Itu hanya akan menghancurkan rakyat kita !" kata raja Kerajaan Liliputan membujuk adiknya.


"Kakang ! Jangan halangi langkahku ! Aku hanya ingin menyeberangi samudra untuk membalaskan dendam leluhur kita !" teriak adik raja itu.


"Semua yang telah terjadi, memang kekeliruan leluhur kita. Sudah semestinya mendapatkan hukuman," kata raja Kerajaan Liliputan lagi.


"Dihukum ! Haaahhh ha ha ha ha .... ! Tapi tidak harus diusir seperti ini !" sahut adik raja itu.


Kedua saudara itu terus berdebat sambil terus saling menyerang. Mereka berdua tetap mempertahankan prinsip mereka tentang kelangsungan Kerajaan Liliputan. Pertentangan itu sebenar sudah berlangsung selama puluhan generasi. Hal itu tidak terlepas dari sejarah yang terjadi di masa lampau.


Dahulu kala, saat awal berdirinya, Negeri Jawadwipa dikuasai oleh trah Galuh. Mereka mendirikan pemerintahan di berbagai wilayah dan semua kekuasaan dipegang oleh trah Galuh, sehingga masing masing penguasa masih saling berkerabat.


Dari sekian banyak anggota trah Galuh yang memegang kekuasaan, ada seorang keturunan trah Galuh bernama Galuh Liliputan yang tidak diberi kekuasaan dengan alasan cacat. Walaupun sebenarnya tidak cacat, hanya tubuhnya yang sangat kecil, tidak sebesar anggota keluarganya yang lain. Sehingga dia sangat disia siakan oleh anggota trah Galuh yang lain.


Merasa sakit hati karena disingkirkan dan tidak dianggap oleh keluarga besarnya, Galuh Liliputan mencuri senjata pusaka Negeri Jawadwipa yang berwujud cambuk bertangkai lima dan cambuk yang ujungnya menyala merah. Kemudian dibawa lari bersembunyi di suatu hutan yang sangat angker.

__ADS_1


Di dalam hutan itu, Galuh Liliputan melatih ilmu cambuk, dilandasi oleh semangat dari cita citanya, kelak kalau ilmu cambuknya sudah sempurna, dia akan mendatangi saudara saudaranya yang berkuasa di berbagai tempat, untuk membalas dendam.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2