Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Mendapat Tugas Terakhir


__ADS_3

Lintang Rahina segera melesat kearah puncak dengan menggandeng Sekar Ayu Ningrum.


Sekitar dua puluh tarikan nafas kemudian, mereka sampai di puncak.


Mereka berdua melihat, senjata trisula itu bergetar dan mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan dan melayang layang setinggi pinggang orang dewasa. Sedangkan suara dengungannya sudah terdengar menjadi sangat pelan.


Lintang Rahina segera meraih gagang senjata trisula itu, kemudian menancapkan gagangnya di tempat senjata itu berhenti.


Suasana yang tadinya tenang, secara perlahan mulai terdengar desir angin. Semakin lama hembusan angin itu semakin kencang. Bersamaan dengan itu, senjata trisula itu kembali bergetar.


Kemudian, dari tanah di sekitar gagang senjata trisula itu keluar garis garis menyala merah kekuningan yang semuanya mengarah ke gagang yang tertancap.


Disusul kemudian dari arah langit, meluncur turun bola bola bersinar berwarna kuning sebesar kepalan tangan orang dewasa.


Bola bola sinar itu semuanya menuju senjata trisula yang tertancap di tanah.


Ribuan bola bola sinar itu, begitu sampai di ketiga ujung senjata trisula, lenyap dan masuk ke dalam senjata trisula. Sehingga bila di lihat seperti bintang bintang yang jatuh dari langit.


Semua itu berlangsung lama. Sampai kemudian senjata trisula itu berhenti bergetar dan kemudian suasana kembali menjadi hening seolah tidak pernah terjadi sesuatu.


Melihat itu semua, kemudian Lintang Rahina segera mencabut lagi senjata trisula dari tanah.


Saat itulah, Lintang Rahina seperti kembali masuk ke suatu tempat yang serba putih. Sejauh mata memandang, ke segala arah, Lintang Rahina hanya melihat warna putih.


Tiba tiba terdengar ada yang berkata dengan suara yang tidak asing bagi Lintang Rahina.

__ADS_1


"Ngger Lintang, tugas mengembalikan energi yang ada dalam senjata pusaka trisula itu memang sudah selesai. Bahkan energimu yang ikut berkurang, sudah pulih lagi. Hal ini terjadi, karena energi dalam senjata pusaka trisula itu sudah menyatu dengan energimu. Itu artinya, tubuhmulah rumah yang sejatinya bagi senjata pusaka trisula itu."


"Dengan ataupun tanpa wujud fisik senjata pusaka trisula itu, sekarang kamu akan tetap bisa memainkan ilmu yang menggunakan energi dari pusaka itu. Kamu tetap bisa menggunakan senjata pusaka itu walau dalam bentuk energi yang berwujud senjata trisula."


"Tetapi, sekarang yang berada di dalam senjata pusaka itu, selain energi pusaka itu yang sudah menyatu dengan energimu, juga ada energi alam dari bumi Jawa Dwipa dan bumi Pulau Dewata ini."


"Sekarang ada satu tugas terakhir. Tergantung padamu, kamu akan memilih yang mana, karena hal yang akan kamu pilih, menentukan akan bagaimana jalan hidupmu."


"Bawalah senjata pusaka itu berjalan terus ke arah matahari terbit. Sampai kamu merasakan senjata pusaka itu menjadi berat dan jatuh dari tanganmu."


"Di tempat senjata pusaka itu terlepas dari tanganmu, disitulah ada dua pilihan bagimu."


"Yang pertama, kamu ambil senjata pusaka itu, lalu kamu acungkan ke atas sambil kamu aliri dengan energimu. Di situ, senjata pusaka itu sekali lagi akan menyerap energi alam di tempat itu. Energi alam dari ketiga tempat yang terserap ke dalam senjata pusaka itu akan menyatu dengan tubuhmu. Dan itu berarti, kamu harus tinggal di pulau itu. Karena kamu akan menjadi pelindung bagi keberlanjutan 'ruh' kehidupan kerajaan Majapahit, yang dibawa oleh sisa sisa rakyat, tokoh spiritual ataupun nayakapraja yang memilih meneruskan kehidupannya di sepanjang pulau pulau sebrang wetan ini."


"Atau yang kedua. Senjata pusaka itu kamu tancapkan gagangnya di tempat senjata pusaka terlepas dari tanganmu. Senjata pusaka itu akan menyerap energi alam di tempat itu. Kemudian senjata pusaka itu akan musnah menyatu dengan alam. Keberadaan fisik trisulanya sudah terwakilkan oleh tiga tempat tertinggi yang telah kamu datangi dengan menancapkan senjata itu. Tetapi energi senjata pusaka itu akan selalu melindungi dan membawa kedamaian pada keberlanjutan 'ruh' kehidupan sisa sisa kerajaan Majapahit di sepanjang pulau pulau sebrang wetan. Dengan begitu, kamu tidak harus tinggal di salah satu dari pulau pulau sebrang wetan."


"Ngger Lintang, untuk tugas yang terakhir ini, berhati hatilah dan pastikan, kamu yang menancapkan senjata pusaka itu di tempat yang telah dia pilih."


"Jangan khawatir, akan selalu ada yang menyertaimu. Yaitu orang orang yang terpilih untuk mendampingi senjata pusaka itu."


"Berangkatlah, dewa akan selalu melindungimu."


Begitu suara itu berhenti, semua yang tadinya oleh Lintang Rahina terlihat serba putih, tiba tiba menjadi gelap, hitam semuanya. Untuk beberapa saat, Lintang Rahina hilang kesadarannya.


Bersamaan dengan semua hal yang dialami Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum sedang bersiaga untuk menjaga dari segala sesuatu yang bisa membahayakan mereka berdua.

__ADS_1


Karena sesaat sesudah Lintang Rahina memegang senjata trisula, Sekar Ayu Ningrum merasakan ada energi tingkat tinggi yang melesat naik ke arah mereka berdua. Maka Sekar Ayu Ningrum pun meningkatkan kewaspadaannya dan menghunus pedangnya.


Tiba tiba di depan mereka berdua berdiri seorang perempuan tua berpakaian seperti putri keraton.


Sekar Ayu Ningrum terkejut, Ni Luh Pawitra bisa secepat itu menyusul naik.


"Apakah ketiga resi guru kalah ? Sehingga nenek tua itu bisa cepat menyusul ke puncak ?" kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati..


"Hih hi hi hi ............ cah ayu, kamu sendirian ya ?" tanya Ni Luh Pawitra, sambil matanya melirik ke arah Lintang Rahina.


"Ada maksud apa, nenek menyusul kami kemari ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Aku hanya ingin memastikan, tidak ada yang mendahuluiku untuk meminjam senjata pusaka yang dibawa temanmu itu !" kata Ni Luh Pawitra sambil menuding ke arah Lintang Rahina.


"Senjata itu bukan hak kamu dan bukan untuk dipinjamkan !" jawab Sekar Ayu Ningrum.


"Kamu nenek tua, ternyata sama saja dengan mereka !" sambung Sekar Ayu Ningrum sambil menuding ke arah bawah.


"Hih hi hi hi .... aku beda dengan mereka semua itu ! Mereka mengejar ngejar kalian untuk kepentingan pribadi ! Kalau aku, aku hanya pinjam dan itu untuk kepentingan kerajaan !" teriak Ni Luh Pawitra.


"Apapun yang menjadi dasar, tetap sama ! Ingin merebut milik orang lain !" jawab Sekar Ayu Ningrum Lagi.


"Sudahlah, tidak usah banyak teori ! Boleh atau tidak boleh, aku akan tetap mengambilnya !" kata Ni Luh Pawitra yang dengan cepat melesat ke arah Lintang Rahina.


Sekar Ayu Ningrum yang sejak tadi sudah bersiap, segera menghadang Ni Luh Pawitra.

__ADS_1


\_\_\_◇\_\_\_


__ADS_2