
Karena belum juga bisa mendesak lawannya, Putri Dyah Pawatu mulai mengeluarkan senjatanya. Entah disimpan di mana, tahu tahu tangan kanannya sudah memegang tongkat yang berwarna hitam kebiruan mengkilap yang terbuat dari akar pohon. Pada ujung tongkat itu terdapat sejenis batu permata berwarna putih yang juga mengkilap seperti menyala. Sedangkan pada pangkal tongkat terdapat sebuah cincin besar berwarna hitam.
Sementara itu, melihat lawannya sudah mulai mengeluarkan senjata tongkatnya, Sekar Ayu Ningrum segera meloloskan pedang dari sarungnya sambil menambah lagi aliran energinya. Tidak lama kemudian, bilah pedangnya berubah sepenuhnya menjadi sinar putih pekat yang berpendar putih menyerupai kabut.
Kemudian, tanpa ada yang berkata kata, keduanya sudah melesat ke depan dengan sangat cepatnya. Begitu cepatnya gerakan mereka berdua, membuat tubuh mereka hanya terlihat kelebatan bayangan saja.
Setiap dua kelebatan bayangan itu saling mendekat, terdengar suara benturan kedua senjata mereka yang juga hanya terlihat kelebatannya saja.
Traaang ! Traaang ! Traaang !
Traaakkk ! Traaakkk ! Traaakkk !
Pada benturan senjata yang terakhir, Putri Dyah Pawatu menggunakan energi pantulannya untuk melompat ke belakang.
Dengan cepat kedua tangannya memutar tongkatnya sehingga bagian ujung yang ada permatanya menghadap ke atas.
Kemudian sambil menambah aliran energinya terutama ke senjata tongkatnya, Putri Dyah Pawatu mulutnya komat kamit seperti membaca mantera.
Tiba tiba batu permata di ujung tongkatnya mengeluarkan nyala merah yang menyilaukan mata.
Tidak berapa lama, dari batu permata itu keluar asap merah yang langsung membumbung tinggi dan membentuk suatu makluk setengah badan yang wajahnya mengerikan.
Makluk siluman berwujud seperti manusia namun kepalanya mengeluarkan sepasang tanduk berwarna merah. Taring atas dan taring bawahnya sangat panjang. Tangannya kurus tapi sangat panjang dengan jari jari dan kuku kuku yang sangat panjang. Matanya merah menyala dan dari mulutnya keluar api yang bisa disemburkan.
Walaupun berwujud siluman, namun mempunyai daya serang yang nyata dan keluar pula hawa siluman yang sangat menekan.
Hiiiyyyaaa .... !!!
__ADS_1
Sambil berteriak keras, Putri Dyah Pawatu mengacungkan tongkatnya ke arah Sekar Ayu Ningrum. Seketika makluk siluman itu melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Siluman itu hanya setengah badan dan bagian bawahnya tetap terhubung dengan tongkat di tangan kanan Putri Dyah Pawatu.
Melihat datangnya serangan siluman, Sekar Ayu Ningrum menghentakkan pedangnya beberapa kali. Di sekitar bilah pedangnya yang sudah menjadi sinar putih pekat, muncul beberapa pendaran energi berbentuk ujung pedang.
Bersamaan dengan melesatnya siluman, Sekar Ayu Ningrum berteriak sambil mengacungkan pedangnya dua kali ke arah siluman yang datang. Seketika pendaran energi berbentuk ujung pedang itu melesat dengan sangat cepatnya dan membentur kepala dan dada siluman itu hingga menimbulkan ledakan yang keras.
Blaaarrr !!!
Siluman itu lenyap bersamaan dengan suara ledakan itu. Namun dengan cepat Putri Dyah Pawatu mengacungkan kembali tongkatnya. Dan kembali, dari ujung tongkatnya keluar asap merah yang membentuk wujud siluman lagi. Hal itu berulang ulang sampai beberapa kali.
Akhirnya Sekar Ayu Ningrum meningkatkan lagi aliran energinya. Terdengar suara letupan energi saat dari dalam tubuh Sekar Ayu Ningrum keluar pendaran energi yang membentuk wujud siluet harimau setinggi sekitar tiga depa.
Bersamaan dengan itu, Putri Dyah Pawatu mengeluarkan kembali siluman dari ujung tongkatnya. Dan kembali mengarahkan ke tempat Sekar Ayu Ningrum berdiri.
Di saat itulah, Sekar Ayu Ningrum melesat maju dengan kecepatan yang sulit untuk dilihat dengan mata orang biasa, dengan siluet harimau yang melayang cepat di atasnya.
Bersamaan waktunya dengan saat tubuh Sekar Ayu Ningrum melesat ke arah Putri Dyah Pawatu, siluet harimau yang sebenarnya merupakan jelmaan dari siluman harimau Nyi Wilis yang energinya sudah menyatu dengan energi Sekar Ayu Ningrum, segera berbenturan dengan energi siluman yang keluar dari tongkat Putri Dyah Pawatu.
Sesama energi siluman itu bertarung dengan hebatnya. Bahkan benturan benturan energi mereka menimbulkan ledakan ledakan yang terkadang disertai dengan percikan api.
Sejak energi Nyi Wilis menyatu dengan energi Sekar Ayu Ningrum, energi Nyi Wilis meningkat dengan pesat dan uniknya, walaupun berada agak jauh dengan Sekad Ayu Ningrum, energi siluman Nyi Wilis bisa ditambah atau dibantu oleh Sekar Ayu Ningrum, begitu pula sebaliknya.
Pertarungan sesama energi siluman itu tidak berjalan lama. Dengan tingkat energinya yang sudah begitu tinggi, Nyi Wilis dengan cepat bisa mendesak lawannya yang berwujud manusia bertaring dengan dua tanduk di kepalanya.
Setelah bebedapa kali terjadi benturan energi, Nyi Wilis berhasil menerkam dan menggigit tengkuk siluman berwujud manusia itu hingga meledak dan kemudian menjadi pendaran energi yang kemudian lenyap terserap oleh udara.
__ADS_1
Bersamaan dengan musnahnya siluman berwujud manusia itu, Sekar Ayu Ningrum sudah melesat cepat ke arah Putri Dyah Pawatu dengan melakukan tebasan pedang. Tebasan pedang itu ditangkis Putri Dyah Pawatu dengan tongkatnya hingga menimbulkan suara yang keras.
Traaannnggg !!!
Dalam benturan senjata yang mengandung energi tingkat tinggi itu, Putri Dyah Pawatu tersurut ke belakang hingga lima langkah. Sedangkan Sekar Ayu Ningrum tetap melesat mengejar ke arah Putri Dyah Pawatu.
Putri Dyah Pawatu terkejut, perasaannya setengah tidak percaya, dirinya bisa terdorong oleh perempuan muda yang menjadi lawannya. Bahkan sampai kedua tangannya yang memegang tongkat, terasa sangat ngilu dan tergetar hebat.
Baru saja Putri Dyah Pawatu menata kembali pegangan tongkatnya, ujung pedang Sekar Ayu Ningrum sudah mengancam dada dan lehernya.
Dengan terpontang panting dan terus menerus terdorong mundur, Putri Dyah Pawatu berusaha menangkis dan menghindar dari serangan lawannya. Namun setelah berhasil menghindari beberapa serangan dan menangkis beberapa kali sabetan dan tusukan pedang Sekar Ayu Ningrum, sebuah tebasan pedang ke bahu kanannya tidak bisa terhindarkan lagi.
Walaupun Putri Dyah Pawatu sudah menghindar sekuat tenaga, ujung pedang Sekar Ayu Ningrum tetap menggores dan meninggalkan luka di bahu kanannya.
Sraaattt !!!
Tongkat kayu Putri Dyah Pawatu terlepas dari genggaman tangan kanannya, karena bahu kanannya terluka.
Disusul kemudian tusukan pedang Sekar Ayu Ningrum yang mengarah ke lehernya tak terbendung lagi.
Traaannnggg !!!
Tiba tiba pedang Lintang Rahina menangkis tusukan pedangnya yang sudah hampir mengenai leher lawannya.
"Adik Sekar, hentikan seranganmu, ada yang lebih penting dari sekedar kematian Putri Dyah Pawatu," kata Lintang Rahina.
Lintang Rahina melihat, Sekar Ayu Ningrum akan protes, maka segera dilanjut menjelaskan.
__ADS_1
"Mereka menahan dan mengurung guru semua di suatu tempat," lanjut Lintang Rahina.
__________ 0 __________