
Ketika benang jiwa iblis sepenuhnya terbakar, terjadi ledakan yang berasal dari luapan energi yang sangat besar yang terlepas dari benang jiwa iblis, yang dengan cepat merambat ke seluruh cairan lava pijar.
Baaammm !!!
Ledakan itu membuat cairan lava pijar di atasnya terdorong naik hingga melewati permukaan, membuat terbentuknya semburan lava pijar yang sangat tinggi dan luas. Ledakan itu juga menimbulkan guncangan yang yang getarannya bisa dirasakan sejak dari puncak gunung hingga ke kaki gunung.
Sementara Lintang Rahina yang berada di samping pusat ledakan agak ke bawah, juga terkena luapan energi yang membuatnya terhempas hingga meluncur lebih ke bawah lagi.
Walaupun tubuhnya tertekan ke bawah seperti tertindih batu besar dari atas, tapi luapan energi yang terlepas dari benang jiwa iblis yang telah musnah terbakar, terserap masuk ketubuh Lintang Rahina berkat tehnik 'Sindhung Alit' dan tehnik 'Bramaseta'.
Tubuh Lintang Rahina sampai bergetar hebat menahan derasnya luapan energi yang masuk ke tubuhnya.
Hal itu berlangsung cukup lama. Dan tanpa Lintang Rahina sadari, proses terserapnya luapan energi yang menyebar ke seluruh lapisan cairan lava pijar itu menyebabkan energi panas dari lava pijar juga ikut terserap. Sehingga permukaan lava pijar yang awalnya berwarna jingga membara, untuk beberapa saat meredup dan berubah warna menjadi kelabu.
Selain itu, hawa udara area kawah pun berubah menjadi dingin.
Setelah beberapa waktu, getaran yang merambat di permukaan tanah berhenti. Cairan lava pijar muncul kembali dari dalam perut bumi hingga sampai ke permukaan. Membuat suhu udara di sekitar kawah kembali panas.
Tubuh Lintang Rahina yang penuh dengan energi panas, perlahan naik ke permukaan, kemudian melayang naik hingga melewati bibir kawah.
Kemudian, tubuh yang berwujud sinar putih itu turun daerah puncak tempat sebelumnya Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila menunggu. Sesaat kemudian, sinar putih itu meredup dengan cepat dan menampakkan wujud tubuh Lintang Rahina yang utuh, tidak terbakar sedikitpun kulit dan ujung bajunya.
Lintang Rahina merasakan, energi di dalam tubuhnya meningkat luar biasa.
Setelah semua kembali normal, Lintang Rahina memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Dia tidak melihat kedua gurunya yang menunggunya di bibir kawah.
Kemudian, dengan tingkat energi yang dimilikinya sekarang ini, dengan sedikit mengalirkan energi ke semua inderanya, Lintang Rahina mencoba merasakan getaran energi Sekar Ayu Ningrum dan guru gurunya.
Agak jauh di bawah, di punggung gunung, Lintang Rahina merasakan adanya beberapa titik getaran energi.
__ADS_1
Dengan cepat Lintang Rahina melesat menuju ke tempat adanya getaran energi yang dia rasakan.
Setelah sampai di punggung gunung Lintang Rahina melihat, Sekar Ayu Ningrum dan keempat gurunya sedang duduk berhadapan dengan seseorang berjubah putih. Orang itu terlihat sudah sangat tua dengan rambut yang panjang sebahu dan sudah putih semua.
Lintang Rahina pun segera mendekat ke tampat mereka.
Melihat Lintang Rahina sudah turun dan salam keadaan selamat, Sekar Ayu Ningrum segera menyambut dan memeluknya.
"Adik sekar baik baik saja ?" tanya Lintang sambil mengusap belakang kepala Sekar Ayu Ningrum.
Sekar Ayu Ningrum mengangguk dalam pelukan Lintang Rahina.
"Siapa dia adik Sekar ?" tanya Lintang Rahina mengetahui ada orang asing di antara guru gurunya.
Lintang Rahina terus memperhatikan orang itu, karena orang itu tidak berusaha menutupi tingkat energinya, bahkan seolah olah hendak memamerkan energinya di hadapan guru gurunya.
"Dia datang dari jauh, dari tlatah Sunda dan mengaku bernama Jalu Wisesa, kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum.
Begitu Lintang Rahina mendekat, Ki Buyut Jalu Wisesa segera mengatakan maksud kedatangannya.
"Anak muda ini, energinya sangat besar. Entah lebih tinggi siapa dibandingkan dengan Kanjeng Putri," kata Ki Buyut Wisesa dalam hati.
----- o -----
Saat Lintang Rahina masih berada di dalam kawah dan masuk ke dalam lava pijar, keadaan di punggung gunung masih bergetar hebat dan suhu udara ikut menjadi sangat panas.
Karena itulah, Ki Jagad Dahana segera meluncur turun menuju tempat Ki Penahun dan Ki Pradah. Begitu juga dengan Ki Jagad Anila yang segera melesat ke arah Ki Penahun berada.
Mereka berdua bisa merasakan, dalam keadaan permukaan tanah bergetar dan suhu udara yang panas, ada satu getaran energi asing yang bergerak cepat menuju ke arah Sekar Ayu Ningrum berada.
Ternyata, Ki Penahun dan Ki Pradah juga merasakan adanya energi asing yang mendekat, sehingga mereka berdua pun segera bersiaga.
__ADS_1
Setelah getaran di permukaan tanah berhenti dan udara yang tadinya panas, berubah menjadi sangat dingin, getaran energi asing itu tiba di tempat Sekar Ayu Ningrum dan menampakkan sesosok kakek tua, badannya kecil, berjubah putih dan rambutnya yang sebahu sudah memutih semua.
Segera saja keempat guru Lintang Rahina menghadang jalan kakek tua itu dan menanyainya.
"Berhenti kisanak ! Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu ke sini !" tanya Ki Jagad Anila.
"Kisanak semuanya, maafkan aku. Namaku Jalu Wisesa. Orang memanggilku Ki Buyut Jalu Wisesa," jawab orang tua itu, "Kedatanganku untuk mengabarkan, kalau Ki Ageng Arisboyo yang sedang menemani seorang raja Jawa sedang terjebak di Hutan Panjalu."
"Bagaimana kamu tahu, kalau kami ada hubungan dengan Ki Ageng Arisboyo ?" tanya Ki Penahun heran.
"Itu mudah saja. Kalian orang orang yang terkenal di dunia persilatan, pastinya saling berhubungan," jawab Ki Buyut Jalu Wisesa.
"Baiklah, terimakasih telah mengabarkan kepada kami," sekarang kami masih ada urusan yang harus kami selesaikan," kata Ki Penahun lagi.
"Biarlah orang tua ini duduk sebentar di sini. Perjalanan tadi sangat menguras tenaga tua ini," kata Ki Buyut Jalu Wisesa sambil langsung duduk di dekat mereka.
Melihat hal itu, Ki Penahun dan ketiga guru Lintang Rahina terdiam. Mereka akan mengusir jelas tidak mungkin. Akhirnya mereka biarkan duduk di dekat mereka, namun selalu diawasi setiap gerak geriknya. Hingga kemudian Lintang Rahina datang.
Mendengar kabar dari kakek tua itu, Lintang Rahina tidak langsung percaya. Ditatapnya kakek tua itu dengan tajam sambil melepaskan sedikit energinya untuk menekan energi kakek itu yang sengaja tidak disembunyikan.
Merasakan tekanan energi dari Lintang Rahina, kakek tua itu mencoba bertahan walaupun nafasnya menjadi berat dan tubuhnya seperti ditindih batu besar.
"A... anak mu ..da. Apakah kamu ingin mem ...bunuh orang tua i ...ni...," ucap Ki Buyut Jalu Wisesa.
"Baiklah, kakek. Kami akan segera ke Hutan Panjalu. Terimakasih atas kabarnya," jawab Lintang Rahina.
Ahhh ... baiklah. Kalau begitu, aku pamit," kata Ki Buyut Jalu Wisesa, "Sampai berjumpa di Hutan Panjalu, anak muda."
Ki Panjalu bangkit, dan kemudian segera pergi dari hadapan mereka semua, meninggalkan rasa penasaran di hati keenam orang yang ditinggalkan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1