Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Udara


__ADS_3

Setelah terjadi ledakan di atas akibat benturan energi dari kedua telapak tangan Lintang Rahina dengan energi kepakan sayap Sunu Magani, kelelawar kelelawar yang tadinya tercerai berai segera menyatu dan terbang berputaran lagi. Kali ini kelelawar kelelawar itu terbang lebih tinggi lagi dan cenderung berkumpul di tengah. Ternyata kelelawar kelelawar itu bergantian hinggap di tubuh Sunu Magani yang sayapnya terluka, untuk membantu proses penyembuhan luka luka Sunu Magani.


Dalam benturan energi melawan Lintang Rahina tadi, ternyata Sunu Magani mengalami luka dalam. Dadsnya terasa sesak dan kedua sayapnya mengalami sobek. Maka dari itulah, kemudian Sunu memanggil semua kelelawarnya. Sehingga akhirnya tidak ada lagi sekumpulan kelelawar yang turun menyerang.


Sesaat Lintang Rahina melihat ke atas ke arah ribuan kelelawar yang mengelilingi Sunu Magani.


Tetapi kemudian perhatian Lintang Rahina teralihkan oleh keadaan Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita. Akhirnya Lintang Rahina memilih memastikan dulu keadaan dan keselamatan kedua gadis itu.


Lintang Rahina menyalurkan energinya untuk membantu Sekar Ayu Ningrum memulihkan rasa sesak dalam pernafasannya. Kemudian Lintang Rahina juga menyalurkan energinya membantu Galuh Pramusita memulihkan staminanya.


Lintang Rahina juga memeriksa kondisi Ni Sriti yang ternyata tidak terluka sedikitpun.


Setelah keadaan Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti tidak ada yang mengkhawatirkan, Lintang Rahina kembali melihat ke arah Sunu Magani. Ribuan kelelawar itu masih terbang berputar putar di angkasa mengelilingi Sunu Magani yang berada di tengah tengahnya.


"Biar aku yang menghadapinya, kakang," kata Sekar Ayu Ningrum sambil bersiap hendak melesat ke atas lagi.


"Tidak usah adik," jawab Lintang Rahina sambil meraih lengan Sekar Ayi Ningrum," dia sudah terluka."


Lintang Rahina mengajak Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti untuk pergi dari tempat itu karena keadaan sudah semakin malam apalagi keadaan Ni Sriti yang energinya belum pulih sepenuhnya.


Walaupun sebenarnya Lintang Rahina curiga, kenapa dia tidak bisa merasakan energi Sunu Magani yang dikelilingi oleh ribuan kelelawar.


Mereka berempat baru beranjak dari tempat itu, ketika di angkasa di tempat ribuan kelelawar terbang mengelilingi Sunu Magani, muncul kilatan kilatan merah menyala di tengah tengah kelelawar kelelawar yang terbang melingkar itu.


Kilatan merah itu semakin sering dan semakin membesar.


Tiba tiba Lintang Rahina merasakan sebuah lonjakan energi yang sangat besar di angkasa. Sesaat kemudian, terjadi ledakan satu kali.


Bummm !!!


Langit terlihat terang benderang untuk beberapa waktu. Kelelawar kelelawar yang terbang mengelilingi Sunu Magani tersibak secara teratur hingga membuat lingkaran yang agak jauh.


Terlihat tubuh Sunu Magani yang diselimuti sinar merah dengan sayap kelelawar di punggungnya yang juga berwarna merah.

__ADS_1


Lintang Rahina segera meminta Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti untuk segera menjauh dari tempat itu.


Setelah mereka bertiga sudah berada agak jauh dan di tempat yang cukup aman, Lintang Rahina segera berdiri tegak dengan menghadap ke arah Sunu Magani yang melayang di udara.


Kemudian Lintang Rahina mengeluarkan energinya dengan melapiskan pada seluruh tubuhnya. Di sekitarnya pun juga terselimuti pendaran sinar kuning keemasan.


Merasakan ada energi yang muncul di bawahnya, Sunu Magani memandang ke bawah.


"Apakah kau yang bernama Lintang Rahina ?" kata Sunu Magani pelan, tetapi suara itu seperti di dekat telinga Lintang Rahina.


"Benar, aku Lintang Rahina," jawab Lintang Rahina juga dengan suara pelan namun terdengar dekat di telinga Sunu Magani.


"Aku hanya ingin menagih hutang nyawa atas kematian guruku," kata Sunu Magani lagi.


Kemudian Sunu Magani mengepakkan kedua sayapnya. Dari kedua sayap itu melesat serangan energi berwarna merah menyala yang dengan cepat mengarah ke arah Lintang Rahina berdiri.


Plasss ! Plasss !


Bummm ! Bummm !


Melihat Sunu Magani menaikkan tingkat energinya, Lintang Rahina melayang menjauhi tempat itu menuju ke arah atas hutan di bukit sebelah tempat dia berdiri tadi.


"Kamu tidak lari saat berurusan denganku !" kata Sunu Magani sambil mengepakkan lagi sayapnya ke arah Lintang Rahina melesat.


Plasss !


Bummm !


Sunu Magani melesat mengejar Lintang Rahina sambil melepaskan serangan energi.


Lintang Rahina dalam posisi melayang menghindari serangan energi itu dengan tanpa melihatnya. Serangan energi itu jatuh di hutan di depan Lintang Rahina yang membuat pepohonan banyak yang terbakar dan tumbang.


Lintang Rahina melayang ke arah hutan bertujuan untuk menjauhkan pertarungan dengan pintu gerbang jalan ke arah kota maupun dengan tempat Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita serta Ni Sriti menunggu.

__ADS_1


Sesampai di atas hutan, Lintang Rahina berhenti dan membalikkan badannya sambil menambah aliran energinya sehingga pendaran sinar kuning keemasan di sekelilingnya bertambah luas.


Sunu Magani yang telah berhasil menyusul, segera melepaskan serangan energinya dari kedua sayapnya. Kemudian disusul dengan serangan tendangan dan pukulan energi berwujud kelelawar hitam.


Karena tidak ingin pertarungannya berakibat merusak hutan di bawahnya, Lintang Rahina memapaki serangan energi dari sayap Sunu Magani dengan gerakan dari jurus 'Puspa Nagari'.


Lintang Rahina mengibaskan kedua lengannya ke arah depan yang kemudian muncul energi berbentuk angin dari kedua tangan Lintang Rahina.


Blarrr ! Blarrr !


Terdengar lagi dua ledakan akibat benturan dari dua energi.


Disusul kemudian saling serang dengan pukulan maupun tendangan.


Dilihat dari bawah, gerakan pertarungan mereka hanya terlihat seperti kilatan kilatan petir.


Dalam setiap benturan energi, diam diam Sunu Magani merasakan sayapnya tergetar hebat. Sementara setiap beradu kepalan tangan ataupun tendangan, Sunu Magani merasakan lengan dan kakinya seperti membentur dinding baja.


Karena semua serangannya tidak menimbulkan hasil, Sunu Magani meningkatkan lagi aliran energinya. Tiba tiba seluruh sayapnya menyala merah seperti terbakar.


Kemudian Sunu Magani melesat mendekat ke arah Lintang Rahina. Sambil terbang setengah memutari Lintang Rahina, sayapnya bergerak menebas ke arah leher Lintang Rahina.


Melihat lawannya menambah ailran energinya, Lintang Rahina juga menambah aliran energinya. Pendaran sinar kuning keemasan yang keluar dari tubuhnya pun bertambah meluas.


Bersamaan dengan pendaran sinar kuning keemasan meluas hingga menjangkau tubuh Sunu Magani, sebagian pendaran sinar kuning keemasan itu membentuk siluet transparan berwujud harimau setinggi lebih dari lima meter.


Segera Lintang Rahina memapaki tebasan dari sayap Sunu Magani dengan sapokan kaki depan siluet berwujud harimau.


Brakkk !!!


Sayap Sunu Magani berbenturan dengan siluet cakar harimau menimbulkan suara yang keras disertai percikan api merah bercampur kuning.


Setelah benturan itu, terlihat sayap Sunu Magani terpental kembali. Hal ini terjadi beberapa kali.

__ADS_1


Bahkan serangan yang dilakukan Sunu Magani dengan kedua tangan maupun kakinya selalu saja bisa ditangkis oleh Lintang Rahina.


___◇___


__ADS_2