
Hari berikutnya di puncak gunung Lawu tempat Ki Dipa Menggala tinggal, tampak tiga orang tua sedang memeriksa pinggiran tempat ledakan dua bola energi tadi malam.
Ki Dipa Menggala mencoba mencari tahu dari bekas bekas ledakan. Sudah hampir semua sisi mereka periksa. Tetapi belum ditemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.
Akhirnya mereka hanya bisa berjaga jaga menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hingga menjelang malam tidak terjadi hal hal yang di khawatirkan.
Begitu hari memasuki malam, Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun serta Ki Wangsa Menggala semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Saat mereka bertiga berkeliling berjaga jaga, tiba tiba tampak langit sebelah utara seperti membara. Pendaran cahaya merah yang mengeluarkan energi muncul kembali.
Kali ini dengan warna merah yang lebih terang. Kilatan kilatan petir dari seluruh permukaannya tampak lebih bercahaya. Hawa panas yang dikeluarkan pun lebih panas dari yang kemaren.
Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun serta Ki Wangsa Menggala baru saja tiba. Mereka bertiga belum sempat memutuskan hendak melakukan apa ketika tiba tiba terdengar suara tertawa yang sangat nyaring dari arah munculnya pendaran sinar merah.
"Ha ha ha ha ... " sambil tertawa, Arga Manika muncul dari tengah tengah pendaran sinar berwarna merah itu.
Tubuhnya melayang bagaikan terbang dan masih berwujud tubuh aslinya.
Di belakangnya tampak Galuh Pramusita yang diam saja. Raut mukanya menampakkan seperti orang yang kosong pikirannya.
Mereka berdua melayang turun dan mendarat sekitar sepuluh meter di depan Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala.
Ki Dipa Menggala merasakan getaran energi yang luar biasa besar dari tubuh Arga Manika.
Sementara Ki Penahun, begitu merasakan getaran energi dari Arga Manika, jadi teringat Lintang Rahina yang energinya juga sangat besar. Bedanya, getaran energi yang di depannya ini menekan dan menakutkan. Sedangkan getaran energi dari Lintang Rahina muridnya mendominasi dan menenteramkan.
"Kakek bertiga, perkenalkan, saya Arga Manika," kata Arga Manika tanpa basa basi, "saya keturunan raja Majapahit Prabu Brawijaya. Saya ke sini hendak mengambil peninggalan leluhur saya Prabu Brawijaya yang beliau titipkan di sini. Peninggalan itu adalah sebuah senjata pusaka bernama 'Trisula Nagari'. Diantara kakek bertiga, siapa yang mendapat titah dari beliau Prabu Brawijaya untuk menjaga senjata pusaka itu ?"
Begitu selesai berkata, Arga Manika langsung menatap tajam ke arah Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala secara bergantian.
"Anak muda, siapa yang mengatakan kepadamu kalau dirimu adalah anak keturunan Prabu Brawijaya ?" Ki Dipa Menggala balik bertanya.
Blaarrr !!!
Tiba tiba terdengar ledakan dan tanah di sebelah kanan Ki Dipa Menggala berlobang selebar dua meter dengan kedalaman setengah meter, ketika Arga Manika mengayunkan tangan kirinya. Dari tangan kiri Arga Manika keluar energi berwujud bola api berwarna merah dan meluncur ke arah samping kanan Ki Dipa Menggala.
__ADS_1
"Aku tidak butuh pertanyaan ! Aku hanya butuh jawaban !" bentak Arga Manika.
"Demi arwah guruku yang mengatakannya kepadaku, aku adalah keturunan Prabu Brawijaya," Arga Manika berteriak, "siapa yang meragukan yang ku katakan tadi berarti meragukan ucapan guru pertamaku Ki Jiwo."
"Owhh ... kamu murid mendiang Ki Jiwo. Demi arwah Ki Jiwo, kami bertiga percaya kepadamu anak muda,"Kata Ki Dipa Menggala lagi, "lalu untuk apa kamu mencari senjata pusaka itu ?"
Blaarrr !!!
Blaarrr !!!
Kembali terdengar suara ledakan seperti tadi di sebelah kanan dan kiri mereka bertiga, saat Arga Manika mengayunkan kedua tangannya yang kembali mengeluarkan energi berbentuk bola api.
"Aku tidak butuh pertanyaan ! Siapapun yang mempertanyakan lagi perkataanku, akan ku bakar tubuhnya !" kata Arga Manika lagi, "aku adalah anak keturunan raja Majapahit. Aku punya hak atas senjata pusaka itu !"
"Sayang sekali, senjata pusaka yang kamu maksudkan itu tidak ada di sini anak muda," jawab Ki Dipa Menggala.
Mendengar jawaban Ki Dipa, telapak kedua tangan Arga Manika yang menggantung di samping tubuhnya mengeluarkan bola api.
"Sekali lagi, kakek bertiga, siapa yang mendapat titah menjaga senjata pusaka trisula Prabu Brawijaya ?" tanya Arga Manika dengan nada dingin.
"Kalau begitu, aku akan memaksa agar ada yang mengaku," Arga Manika berkata sambil bersiap menyerang.
Kemudian Arga Manika mengayunkan tangan kanannya. Dari telapak tangan kanannya melesat energi berbentuk bola api dengan sangat cepat menuju ke arah Ki Dipa Menggala.
Blaarrr !!!
Ki Dipa Menggala yang terkejut dengan kecepatan serangan Arga Manika, cepat cepat menggulingkan badannya ke kanan. Demikian juga Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala. Dengan susah payah mereka menghindari datangnya bola api.
Sambil bangun kembali, Ki Dipa Menggala memberi tanda pada Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala untuk menyerang bersama.
,
Ketiganya pun melenting ke arah Arga Manika berdiri, setelah sebelumnya mereka bertiga melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam.
Tiba tiba dari belakang Arga Manika melesat sebuah bayangan memapaki datangnya serangan dari Ki Wangsa Menggala.
Dengan kedua telapak tangannya mengeluarkan energi berbentuk bola api kecil, Galuh Pramusita menghadang serangan Ki Wangsa Menggala.
__ADS_1
Bummm !!!
Terdengar suara ledakan dari bertemunya serangan energi Ki Wangsa Menggala dengan energi berbentuk bola api milik Galuh Pramusita.
Keduanya sama sama terdorong ke belakang.
Tanpa memberi jeda, Galuh Pramusita kembali melesat ke arah Ki Wangsa Menggala untuk melayangkan serangan. Dalam sekejap, Galuh Pramusita dan Ki Wangsa Menggala sudah saling bertukar serangan.
Pada waktu yang bersamaan, Ki Dipa Menggala bersama sama dengan Ki Penahun bergerak menyerang ke arah Arga Manika.
Ki Dipa Menggala dengan jurus 'Banteng Majapahit' yang dilakukan dengan tangan kosong melesat cepat hingga tiba tiba sudah berada di depan Arga Manika.
Arga Manika yang terkejut dengan kecepatan Ki Dipa Menggala tidak sempat menghindar. Pukulan tangan kanan Ki Dipa Menggala berhasil ditangkisnya.
Plaakkk !!!
Tetapi serangan tangan kiri Ki Dipa yang bergerak sangat cepat tidak sempat dihindarinya.
Plaakkk !!!
Telapak tangan kiri Ki Dipa Menggala tepat mengenai dada kanan Arga Manika. Keduanya sama sama terdorong ke belakang dua langkah.
"Anak ini punya energi yang sangat besar, pukulanku hanya bisa membuatnya terdorong," kata Ki Dipa Menggala dalam hati.
Tidak berjarak lama disusul dengan datangnya serangan Ki Penahun yang kedua tangannya berubah menjadi merah.
Buugghhh !!!
Pukulan tangan kanan Ki Penahun tepat mengenai perut Arga Manika. Arga Manika terdorong mundur tiga langkah, sedangkan Ki Penahun hanya goyah sedikit kuda kudanya.
Ki Penahun diam diam terkejut. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat pukulan tangan kanannya mengenai perut Arga Manika dan hanya berhasil membuatnya terdorong ke belakang.
"Anak muda dengan energi yang sangat besar, sayang sekali tersesat," Ki Penahun membatin.
Arga Manika yang hanya terdorong ke belakang, melenting kembali ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
\_\_\_0\_\_\_
__ADS_1