Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Gadis Dengan Pedang Berkabut


__ADS_3

Resi Kapigotra berlari cepat menuju Padepokannya. Sesampai di Padepokan Macan Putih, lagi lagi dia dibuat terkejut. Hampir semua anak murid Padepokan duduk berlutut dengan muka tertunduk. Banyak sekaki yang mengalami luka luka. Ada beberapa yang tewas, yaitu beberapa murid tingkat atas.


Sambil uring uringan karena perasaan yang campur aduk, Resi Kapigotra menanyai murid murid padepokan.


"Apa yang terjadi di sini selama aku tinggal keluar sebentar ? Kenapa kalian semua terluka ?" tanya Resi Kapigotra.


"Am ... ampun guru, .... ta ... tadi setelah guru keluar, datang seorang gadis muda. Menyuruh kami semua keluar. Kemudian menghajar kami semua," seorang murid utama yang tersisa menjawab.


"Kalian semuanya kalah ? Tidak bisa menangkap gadis itu ? Siapa dia ?" Resi Kapigotra semakin jengkel dan memberondong pertanyaan pada murid utama itu.


"Gadis itu sangat cepat gerakannya, guru. Kami semua sudah mengeroyoknya, tetapi tahu tahu golok kami semua terlepas dari pegangan dan kami semua mendapatkan luka luka," jawab murid itu lagi.


Resi Kapigotra mendekat ke arah murid muridnya yang terluka, kemudian memeriksa lukanya.


"Senjata apa yang dipakai gadis itu ?" tanya Resi Kapigotra lagi.


"Sepertinya pedang, guru. Kami tidak tahu persis, karena senjatanya seperti dibalut kabut," jawab si murid utama.


"Gadis pedang berkabut ?" kata Resi Kapigotra pelan sambil mengingat ingat, siapa tokoh dunia persilatan yang bersenjatakan pedang berkabut. Tetapi Resi Kapigotra tetap tidak bisa menyimpulkan siapa yang telah mengobrak abrik padepokannya.


"Siapa saja murid murid yang tewas ?" tanya Resi Kapigotra.


"Kakang Simo Ranu dan tiga lainnya, guru," jawab murid utama yang seangkatan dengan Simo Ranu.


Sesaat kemudian, Parastra dan Parastri menyusul tiba di Padepokan. Mereka berdua juga sempat heran dengan keadaan padepokan. Tetapi kemudian Resi Kapigotra menceritakan apa yang baru saja terjadi di Padepokan Macan Putih itu.


Setelah menanyakan beberapa hal lagi dan memeriksa kondisi padepokan, Resi Kapigotra dan parastra serta Parastri sepakat berpencar untuk mencari gadis yang telah mengobrak abrik padepokan.


Beberapa saat setelah Resi Kapigotra dan Parastra serta Parastri keluar mencari gadis yang memakai senjata pedang berkabut, Lintang Rahina bersama pasangan suami istri Sindunata dan Puruhita tiba di Padepokan Macan Putih. Mereka bertiga tidak kesulitan mencari letak padepokan itu karena sangat terkenal walaupun terbilang masih baru berdiri di kota itu.


Mereka bertiga hanya bisa bertemu dengan murid murid padepokan yang sebagian besar sedang terluka yang dipimpin oleh murid utama yang masih tersisa.

__ADS_1


Sebelum pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, Sindunata menyampaikan peringatan pada murid murid padepokan.


"Kalian semua, sampaikan pada guru kalian. Jika Padepokan Macan Putih masih melakukan hal yang merugikan rakyat jelata, seperti menarik pajak atau upeti, maka kami akan datang lagi dan menghancurkan padepokan ini !" kata Sindunata.


Murid murid Padepokan Macan Putih hanya bisa terdiam dan tertunduk sambil menahan amarah, karena mereka menyadari mereka tidak bisa berbuat apa apa.


Dalam perjalanan kembali ke warung dagingnya, Sindunata berpikir dan mencoba mengingat ingat, siapa kiranya tokoh dunia persilatan yang mempunyai ciri seperti gadis dengan pedang berkabut yang berani menyatroni Paguyuban Macan Putih.


 


Sekar Ayu Ningrum yang mencoba mengejar Lintang Rahina, akhirnya mengikuti Lintang Rahina secara diam diam.


Saat Lintang Rahina sampai di warung makan dan sedang menikmati makanan yang dipesan, Sekar Ayu Ningrum juga sudah berada di lain tempat tetapi tetap bisa memantau bilamana Lintang Rahina beranjak pergi.


Kebetulan sedang terjadi keributan di seberang jalan warung makan tempat Lintang Rahina makan. Karena perhatian Lintang Rahina baru fokus pada keributan di warung daging, sehingga Lintang Rahina tidak bisa merasakan kehadiran energi Sekar Ayu Ningrum.


Dan karena Sekar Ayu Ningrum berada di situ sejak awal, maka bisa tahu persis terjadinya keributan di tempat itu.


Apalagi setelah sesaat menyaksikan pertarungan Lintang Rahina melawan Resi Kapigotra.


Akhirnya, saat Lintang Rahina masih menghadapi Resi Kapigotra, Sekar Ayu Ningrum mendahului menuju ke Padepokan Macan Putih.


Dengan mengikuti kelompok murid Padepokan Macan Putih yang tadinya ikut mengantarkan Simo Ranu, Sekar Ayu Ningrum bisa cepat menemukan lokasi Padepokan Macan Putih.


Sesampai di Padepokan itu, Sekar Ayu Ningrum segera menyuruh semua yang ada di padepokan untuk keluar.


"Heiii ... siapapun yang berada di padepokan ini, semua keluar !" teriak Sekar Ayu Ningrum.


"Siapa kau ! Berani berani datang ke padepokan ini !" bentak salah seorang murid padepokan.


Sring ! Sring ! Sring !

__ADS_1


Beberapa murid padepokan Macan Putih yang berjaga langsung menghunus goloknya.


Tetapi, belum sempat mereka semua mengayunkan goloknya, tiba tiba saja mereka semua jatuh terduduk. Golok mereka berjatuhan dan paha serta pangkal lengan mereka terluka dan mengeluarkan darah.


Akhirnya setiap setiap anak murid Padepokan Macan Putih yang keluar, langsung dijatuhkan oleh Sekar Ayu Ningrum tanpa mereka tahu, bagaimana mereka bisa terluka.


Saat murid utama padepokan, termasuk Simo Ranu yang sedang terluka mengetahui kejadian ini, mereka langsung melakukan perlawanan.


Simo Ranu dan ketiga teman seangkatannya melawan dengan membabi buta.


Sekar Ayu Ningrum yang sudah sejak awal merasa jengkel, berniat memberi pelajaran pada mereka.


Dengan menambah aliran energi ke pedangnya, sehingga membuat pedangnya dilapisi pendaran sinar putih yang pekat sehingga seolah olah seperti mengeluarkan asap kabut.


Simo Ranu dan ketiga temannya yang nekat terus melawan akhirnya mendapatkan luka yang cukup parah, hingga akhirnya mereka tewas.


Dengan tewasnya keempat murid utama itu, membuat murid murid lainnya yang tingkatannya masih di bawahnya, menjadi tidak berani melakukan perlawanan. Apalagi karena mereka semua juga sudah mendapatkan luka luka.


Akhirnya mereka semua menyerah dan duduk berlutut.


Dengan mengacungkan pedangnya yang masih di selimuti pendaran sinar putih pekat, Sekar Ayu Ningrum memberikan peringatan dan ancaman pada mereka semua.


"Ini sebagai peringatan bagi kalian semua, agar tidak berbuat semena mena kepada para pedagang dan rakyat jelata. Kalau masih ada yang berani melakukan penarikan pajak atau upeti pada pedagang dan rakyat jelata yang lain untuk kepentingan sendiri, akan aku hancurkan kalian semua !" kata Sekar Ayu Ningrum dengan suara keras.


Mereka semua tidak ada yang berani menjawab. Walaupun sebenarnya dalam hati mereka marah, mereka tidak bisa berbuat apa apa, sebab kalau nekad melawan seperti kakak seperguruannya, mereka hanya akan mengantarkan nyawa. Akhirnya mereka hanya bisa terdiam dan menunduk.


Setelah mengucapkan acamannya, Sekar Ayu Ningrum segera melesat kembali ke tempat Lintang Rahina yang masih bertarung.


Dalam beberapa saat, semua murid Padepokan Macan Putih yang duduk berlutut dan menunduk, tidak mengetahui kalau Sekar Ayu Ningrum sudah pergi, sampai dengan datangnya guru mereka, Resi Kapigotra.


\_\_\_◇\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2