
Sekarang Lian menjumpai orang yang dia rasa tepat untuk menjadi pasangannya.
Tetapi, Lian tetap saja terkejut mendengar jawaban Sekar Ayu Ningrum.
"Karena aku adalah calon istrinya !" jawab Sekar Ayu Ningrum pelan.
Walaupun suara Sekar Ayu Ningrum hanya pelan, tetapi terdengar seperti suara petir yang menyambar di hati dan telinga Lian. Sehingga secara reflek Lian mengeluarkan energinya sambil berteriak.
"Kau ... kau berbohong !" ucap Lian juga pelan. Namun dengan cepat energi yang besar segera meluap menyelimuti tubuhnya.
"Kau tidak terima kata kataku ? Kau ingin menggunakan kekerasan ? Akan ku ladeni sampai di manapun !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya. Terlihat seperti ada kabut tipis yang menyelimuti tubuhnya.
Tepat di bawah puncak Lawu, dua perempuan cantik yang sama sama terbakar hatinya dan tertutup matanya oleh api cemburu, saling melepaskan energi yang luar biasa dan siap sedia untuk saling menghancurkan.
Dalam beberapa saat, Sekar Ayu Ningrum dan Lian saling menatap. Terlihat kilatan tajam dari mata mereka.
Kemudian entah siapa yang mengawalinya, tubuh mereka sudah melesat di udara dan terdengar berkali kali suara benturan saat mereka berdua sama sama mendaratkan pukulan.
Pack ! Pack ! Pack !
Mereka berdua seolah tidak menghiraukan rasa sakit dan luka luka yang telah mereka dapatkan. Karena dalam pikiran dan hati mereka hanya ada tujuan pukulan dibayar dengan pukulan dan tendangan ditukar dengan tendangan.
Saat Lian menambah aliran energi pada kepalan tangan kanannya, Sekar Ayu Ningrum juga seketika meningkatkan energinya pada telapak tangan kanannya. Dan benturan energi pun tidak terhindarkan lagi.
Blarrr !!!
Mereka berdua sama sama terdorong ke belakang hingga berjungkir balik sesaat setelah terdengar suara ledakan.
Lian dan Sekar Ayu Ningrum dengan segera menstabilkan kuda kudanya kembali.
Sraaattt !!! Sriiing !!!
Dengan cepat Lian mencabut seruling yang terselip dipinggangnya. Telihat seruling itu agak berbeda dari yang dia punya sebelumnya. Seruling itu terbuat dari kayu yang berwarna hitam legam dan mengkilat. Selain lubang lubang pada badan seruling, ada satu lubang lagi pada ujung atasnya. Seruling itu pemberian Resi Nirartha Pradnya. Saat sang Resi melihat, Lian punya tehnik meniup seruling yang bagus, sang Resi pun membuatkan Lian seruling dari kayu yang dia dapatkan saat masih di Pulau Jawa Dwipa.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Sekar Ayu Ningrum juga mencabut pedangnya sambil mengalirkan energinya. Seketika bilah pedangnya mengeluarkan sinar putih pekat hingga tidak terlihat lagi wujud bilah pedangnya. Begitu pekatnya sinar putih yang dikeluarkan pedang itu, sampai terlihat seperti mengeluarkan kepulan asap tipis. Karena hal itulah, Sekar Ayu Ningrum terkenal dengan julukan Pendekar Pedang Berkabut.
"Oooo .... kudengar di negeri Jawa Dwipa ada pendekar yang berjuluk Pendekar Pedang Berkabut !" ucap Lian, "Jadi kamu orangnya ! Akan kulihat apakah benar benar sehebat namanya !"
"Sayangnya, hanya kabar kematianmu di tangan Pendekar Pedang Berkabut yang akan tiba di negerimu !" sahut Sekar Ayu Ningrum.
"Itu tidak akan terjadi !" teriak Lian sambil melesat cepat ke arah Sekar Ayu Ningrum. Ujung seruling yang penuh dengan lapisan energi segera mengancam wajah dan leher Sekar Ayu Ningrum.
Sekar Ayu Ningrum pun memapaki dengan dengan ayunan pedangnya.
Kembali, diantara kelebatan tubuh mereka, terdengar suara dentingan beradunya senjata seruling dengan pedang.
----- o -----
Bersamaan dengan itu, di dalam kurungan benang jiwa. Tubuh Ki Pradah yang berubah menghitam bagian kirinya, melesat ke atas dengan telapak tangan kiri terbuka.
Baaammm !!!
"Ngger Lintang, usahakan jangan sampai dia terlalu sering membentur kurungan benang jiwa," kata Ki Penahun yang suaranya seperti dekat dengan telinganya, "Dengan energinya yang sekarang, lama lama kurungan ini bisa rusak."
"Baiklah eyang, Lintang akan berusaha menghadangnya," jawab Lintang Rahina.
Setelah lepas dari tanah, energi benang jiwa iblis melonjak dengan cepat. Apalagi setelah separuh tubuh Ki Pradah menghitam, energinya pun bertambah lagi, karena menyerap energi Ki Pradah.
Lintang segera mendekat ke arah tubuh Ki Pradah. Melihat ada energi yang mendekat, tubuh Ki Pradah melesat menyambutnya dengan serangan.
Lintang Rahina menghindari serangan tubuh Ki Pradah sambil terus menjaga agar tubuh Ki Pradah tidak mengarah ke kurungan benang jiwa.
Sambil terus menghindar, Lintang mengamati dan mempelajari situasinya.
"Saat pukulan atau tubuh guru mengenai kurungan benang jiwa, kurungan benang jiwa itu bergetar dan terdorong seperti dihempas ombak besar. Jadi terjadi dorongan atau perlawanan dari tubuh guru. Sehingga tubuh guru tidak akan menyedot energiku," kata Lintang Rahina dalam hati.
Berdasarkan pertimbangan itu, Lintang Rahina mencoba menyerang dengan serangan energi jarak jauh.
__ADS_1
Dengan menambah sedikit energi ke kedua telapak tangannya, dari telapak tangan Lintang Rahina keluar beberapa pendaran energi berbentuk telapak tangan.
Lintang Rahina mengarahkan telapak tangannya ke beberapa bagian tubuh Ki Pradah yang sebelah kiri.
Plasss ! Plasss ! Plasss !
Buggg ! Buggg ! Buggg !
Beberapa kali serangan Lintang Rahina mengenai sasaran. Membuat tubuh Ki Pradah terdorong ke belakang dan terjatuh walaupun tidak menjadikannya terluka.
Begitu bangkit dari jatuhnya, tubuh Ki Pradah kembali melesat ke arah Lintang Rahina.
Kali ini Lintang Rahina tidak lagi menghindar. Setiap serangan tubuh Ki Pradah ditangkis atau diadu dengan sama sama menyerang, walaupun masih dengan tenaga yang terukur, karena takutnya bila sampai mencederai Ki Pradah gurunya.
Karena berkali kali serangannya belum juga membuahkan hasil, membuat tubuh Ki Pradah secara bertahap meningkatkan aliran energinya.
Tetapi hal itu ternyata berdampak pada tubuh Ki Pradah. Bagian tubuh Ki Pradah yang berubah menjadi hitam semakin meluas.
Hingga akhirnya pada suatu saat hampir seluruh tubuh Ki Pradah kecuali kepalanya.
Pada situasi kritis itu, Ki Pradah berbicara pada Lintang Rahina sesaat sebelum seluruh tubuhnya berubah menjadi menghitam dan tubuh serta kesadarannya direbut oleh benang jiwa iblis.
"Ngger... gunakan energi dari tehnik 'Puspa Nagari' untuk masuk ke dalam tubuhku," kata Ki Pradah.
Sesaat kemudian, tubuh Ki Pradah sudah seluruhnya menghitam.
Tubuh hitam Ki Pradah melesat ke atas dengan sangat cepat dengan tangan kanan bersiap memukul. Begitu sampai di langit langit kurungan benang jiwa, pukulan tangan kanannya dilontarkan dengan sekuat tenaga.
Baaammm !!!
Terdengar suara ledakan energi yang sangat keras. Seluruh permukaan kurungan benang jiwa bergetar dengan keras. Bahkan begitu kerasnya getaran itu, sampai Ki Penahun, Ki Dipo Menggala, Ki Ageng Arisboyo dan Resi Nirartha Pradnya terguncang tubuhnya dan bergeser kuda kudanya satu langkah. Untungnya mereka berempat tidak kehilangan konsentrasi dan tetap fokus pada kurungan benang energi.
__________ 0 __________
__ADS_1