
Begitu Lintang Rahina mendekat, Sekar Ayu Ningrum segera menjerit histeris sambil menyorongkan tubuh Seruni anaknya.
"Kakang, ... anak kita ... bagaimana " teriak Sekar Ayu Ningrum.
Tanpa menjawab, Lintang Rahina segera mengambil Seruni kemudian membawanya ke pinggir halaman kuil dekat dengan dinding kuil dan memeriksa keadaan anaknya.
Setelah memeriksa seluruh keadaan tubuh Seruni, Lintang Rahina menemukan ada sesuatu yang aneh pada diri anaknya. Sepertinya Seruni sempat menjalani proses penarikan secara paksa kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Namun untungnya proses pengambilan energi itu tidak berhasil, sehingga membuat nyawa Seruni masih selamat. Namun kondisi Seruni menjadi tidak stabil. Peredaran darahnya sangat kacau di beberapa bagian tubuhnya. Detak jantungnya tidak stabil dan syaraf syarafnya banyak yang tersumbat. Di titik titik tertentu tubuhnya, muncul warna merah kehitaman pada permukaan kulitnya.
Dengan tidak.membuang buang waktu lagi, dengan cepat Lintang Rahina mengambil posisi duduk bersila dan meletakkan Seruni di atas pahanya. Kemudian telapak tangan kanannya diletakkan di dada Seruni sambil mengeluarkan energinya.
Dengan menggunakan tehnik Puspa Nagari yang digabungkan dengan tehnik Nafas Raja, Lintang Rahina mencoba untuk menyelamatkan Seruni anaknya.
Begitu mengalirkan energinya, perlahan lahan pendaran sinar putih seperti asap keluar dari telapak tangan kanan Lintang Rahina.
Sesaat kemudian, butiran sinar kuning keemasan juga keluar dan menyelimuti pendaran sinar putih. Kemudian, kedua sinar yang keluar dari telapak tangan Lintang Rahina itu perlahan masuk ke dada Seruni dan memudian menyebar keseluruh tubuh Seruni.
Gabungan kedua energi Lintang Rahina itu perlahan lahan semakin meningkat dan bertambah besar.
Tampak tubuh Seruni mengeluarkan titik titik air di seluruh permukaan kulitnya. Disusul dengan keluarnya asap yang mengepul dari seluruh pori pori kulitnya.Tubuhnya mulai bergetar.
Setelah beberapa saat, Lintang Rahina merasakan, energi yang dia salurkan ke dalam tubuh anaknya seperti mendapatkan penolakan dan perlawanan. Seperti ada energi yang menghalangi masuknya energinya. Namun, mengingat usia anaknya yang masih sangat kecil, Lintang Rahina tidak berani memaksakan diri. Karena menyalurkan tenaga dalam yang terlalu banyak dan melebihi batas kemampuan penerimanya, juga sangat berbahaya.
Sehingga Lintang Rahina hanya bisa bersabar sambil terus mengalirkan energinya, sekaligus menahan agar energinya tidak membanjir keluar dan membahayakan anaknya.
----- * -----
Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan. Setelah anaknya diambil dan diobati oleh Lintang Rahina suaminya, terjadi lonjakan energi pada diri Sekar Ayu Ningrum.
Perasaan marah, menyesal dan kesedihan yang bercampur aduk di dalam hatinya, membuat energi Sekar Ayu Ningrum melonjak dan membanjir keluar memenuhi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Kedua bola matanya yang kembali berubah warna menjadi putih seluruhnya memendarkan sinar putih keperakan, menatap tajam ke arah semua lawannya.
Dilihatnya, Nona Kim serta Tuan Besar Kim dan Nyonya Besar Kim sudah berdiri lagi. Sebagian anggota Klan Kemala Hijau yang tidak pingsan, juga sudah berdiri di belakang Keluarga Kim.
Namun, hati Sekar Ayu Ningrum sudah terlanjur dingin. Dia tidak melihat lawan yang sudah terluka. Yang terlihat olehnya adalah musuh yang harus dimusnahkan.
Suhu udara di sekitar Sekar Ayu Ningrum menurun drastis berubah menjadi dingin. Dari kedua telapak tangannya perlahan keluar pendaran sinar putih keperakan yang semakin pekat dan akhirnya membentuk wujud pedang di kedua tangannya.
"Kalian harus membayar mahal atas semua yang telah kalian lakukan pada anak kami !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Melihat Sekar Ayu Ningrum bersiap menyerang, Nona Kim dan kedua orangtuanya serta anggota Klan Kemala Hijau yang lainnya juga bersiap menyerang.
Sesaat kemudian, kembali terjadi pertarungan, atau lebih tepatnya pembantaian. Sekar Ayu Ningrum yang dikepung oleh seluruh Klan Kemala Hijau yang tersisa, berkelebat di antara lawan lawannya. Setiap gerakan kedua pedangnya selalu memakan korban.
Baru sekitar sepuluh jurus pertarungan, sudah banyak anggota Klan Kemala Hijau yang tewas terkena kedua pedang Sekar Ayu Ningrum.
Sementara ketua biksuni dan para biksuni yang lainnya, hanya bisa terdiam dengan air mata menggenang di pelupuk mata mereka, melihat pembantaian yang dilakukan oleh Sekar Ayu Ningrum.
Nona Kim dan Tuan Besar Kim serta Nyonya besar Kim, karena sudah terluka dan karena energinya yang belum pulih kembali, hanya mampu melakukan perlawanan beberapa puluh jurus. Setelah itu, mereka tidak mampu lagi membendung serangan Sekar Ayu Ningrum.
Sehingga setelah lima puluh jurus, Sekar Ayu Ningrum selesai membantai mereka semua.
----- * -----
Sementara itu, proses penyembuhan yang dilakukan oleh Lintang Rahina sedang memasuki masa yang penting dan berbahaya.
Setelah hal hal yang berbahaya dikeluarkan dari tubuh Seruni dengan mengirimkan energi yang berwujud pendaran sinar.
Lintang Rahina mulai memperbaiki syaraf, pembuluh darah dan peredaran darah yang kacau di tubuh Seruni.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu, Lintang Rahina menghentikan penyaluran energinya. Seruni yang tertidur di atas pangkuannya, segera digendongnya dibawa berdiri.
Sekar Ayu Ningrum yang sejak selesai bertarung berdiri di dekatnya, langsung mendekatinya dan memeriksa anaknya. Diapun merasa lega setelah melihat anaknya tertidur dengan kondisi tubuh yang sehat walau terlihat masih lemah.
Lintang Rahina baru saja memperhatikan keadaan sekitarnya, saat tangannya ditarik oleh Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang, ayo kita bawa pulang anak kita," ucap Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar kata pulang yng diucapkan oleh Sekar Ayu Ningrum istrinya, Lintang Rahina lupa dengan semua yang hendak dia tanyakan tentang keadaan yang sempat dia lihat di halaman depan kuil.
Mereka berdua segera berpamitan pada ketua biksuni dan seluruh biksuni kuil itu.
Sesaat kemudian, tubuh mereka berdua sudah melesat ke atas. Mereka berdua melakukan perjalanan dengan melayang terbang di angkasa.
----- \* -----
Sementara itu, sepeninggal Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, ketua biksuni segera memerintahkan seluruh biksuni untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang beberapa saat tadi terhenti karena Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berpamitan.
Mereka mulai membersihkan tempat yang tadi dipergunakan untuk bertarung, memperbaiki semua yang mengalami kerusakan akibat peetarungan. Selain itu mereka memindahkan dan mengumpulkan mayat mayat yang bergeletakan di berbagai tempat.
Karena jumlahnya yang banyak, ketua biksuni memerintahkan untuk membakar semua mayat di halaman kuil.
Mayat mayat itu mereka tata dengan rapi agar pelaksanaan pembakaran mayat bisa berjalan dengan baik.
Saat ketua biksuni hendak menyalakan api pada tumpukan kayu yang sudah mereka persiapkan, tiba tiba ketua biksuni dan semua biksuni yang lain, merasakan datangnya getaran energi yang sangat besar dan sangat menekan mereka, yang berasal dari atas.
"Ketua biksuni, tolong jangan kau nyalakan dulu apinya," kata seorang laki laki paruh baya yang tiba tiba sudah berada di belakang mereka.
Ketika para biksuni membalikkan badan, mereka melihat seorang laki laki paruh baya, berwajah tampan dengan kulit yang putih pucat dan berpakaian serba putih.
__ADS_1
Laki laki paruh baya itulah yang melayang di angkasa dan melesat turun kemudian mendarat di belakang para biksuni.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_