
Setelah beberapa waktu mendapatkan penyaluran energi dari Arga Manika, perlahan Galuh Pramusita mulai sadar. Walau masih lemas, Galuh Pramusita memaksakan diri untuk duduk. Melihat Arga Manika berdiri di depan pintu, Galuh Pramusita memanggilnya dengan suara yang masih pelan, "Kakang."
Mendengar suara Galuh Pramusita, Arga Manika membalikkan badan.
"Ternyata adik sudah siuman," kata Arga Manika sambil mendekat ke arah Galuh Pramusita.
"Kakang terlihat bingung," kata Galuh Pramusita setengah bertanya.
"Sambil menunggu adik Galuh siuman, kakang menggeledah seluruh tempat ini. Bahkan sampai di luar rumah. Tetapi tidak kakang temukan apa yang menjadi pesan guru," kata Arga Manika.
"Kakang, ketiga orang tua yang menjadi lawan kita, kemana ?" tanya Galuh Pramusita, "kenapa kakang tidak mencoba bertanya pada mereka ?
"Mereka kutinggal di sana," jawab Arga Manika sambil tangannya menunjuk arah tempat pertempuran tadi.
"Kenapa mereka tidak dibawa kesini saja ? Kita bisa menanyai mereka," kata Galuh Pramusita lagi.
"Adik Galuh bisa saya tinggal sebentar ?" tanya Arga Manika.
"Saya sudah tidak apa apa kakang," jawab Galuh Pramusita, "kakang pergilah."
Mendengar jawaban Galuh Pramusita, Arga Manika mengangguk dan kemudian keluar ruangan.
Begitu sampai di luar rumah, Arga Manika langsung melesat menuju tempat pertempuran tadi.
Sebentar saja Arga Manika sampai di tempat pertempuran tadi.
Terlihat Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun yang masih terikat oleh tali yang terbentuk dari energi. Mereka berdua terlihat sangat lemah dengan luka luka yang mereka derita.
Agak jauh dari posisi Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun, Ki Wangsa Menggala baru saja tersadar dari pingsannya. Dan saat ini Ki Wangsa Menggala sedang duduk bersila mengatur pernafasan dan energinya untuk memulihkan kondisinya.
Melihat semua itu, Arga Manika langsung mengayunkan tangan kirinya ke arah Ki Wangsa Menggala. Dari telapak tangan kiri Arga Manika keluar tali energi yang meluncur ke arah Ki Wangsa Menggala.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Ki Wangsa Menggala terikat oleh tali energi.
Begitu tali energi dari tangan kirinya sudah berhasil mengikat Ki Wangsa Menggala, Arga Manika segera mengayunkan tangan kanannya ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
Dari tangan kanan Arga Manika keluar tali energi yang langsung menyambung ke tali energi yang mengikat Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.
Setelah mereka bertiga terikat tali energi, Arga Manika menggerakkan tangan kanannya agak ke atas dan membentuk pola pola tertentu, setelah sebelumnya memindahkan tali energi yang di tangan kanan, dipindah dan dijadi satukan di tangan kiri.
Tiba tiba di depan Arga Manika muncul pendaran cahaya yang membentuk sebuah portal.
Setelah portal dari cahaya itu terbentuk sempurna,
Arga Manika segera melesat ke arah tengah tengah portal cahaya dengan membawa Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala yang terikat tali energi yang ketiga ujung tali tersebut terhubung dengan tangan kirinya.
Sesaat saja Arga Manika yang membawa Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala keluar dari portal cahaya yang tepat di halaman depan rumah Ki Dipa Menggala tempat Galuh Pramusita berada.
Setelah Arga Manika melepaskan tali energi yang mengikatnya, mereka bertiga segera berdiri dan berjalan menuju teras rumah dan kemudian duduk.
Tanpa menghiraukan tiga orang yang tadinya dia bawa, Arga Manika langsung masuk rumah dan menuju ke tempat Galuh Pramusita untuk memastikan dan menanyakan keadaan Galuh Pramusita. Ternyata Galuh Pramusita telah bisa berdiri dan berjalan.
"Kakek bertiga, kuberi kesempatan untuk memulihkan diri malam ini. Besok pagi ada yang akan kutanyakan pada kalian !" kata Arga Manika, "ingat ! Jangan sekali kali ada yang berani pergi dari sini."
...Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala diam saja. Sedangkan Arga Manika, setelah mengatakan itu langsung kembali masuk dan menyuruh Galuh Pramusita untuk istirahat....
Keesokan harinya, Arga Manika segera menuju ke tempat tiga orang kakek yang dia kalahkan berada. Arga Manika mendapati ketiganya masih tetap dalam posisi duduk mereka.
Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala tetap bertahan duduk dalam istirahatnya. Mereka bertiga sebenarnya bisa dengan mudah pergi dari tempat itu. Mereka bukannya takut pada ancaman Arga Manika. Tetapi karena mereka akan menghadapi apapun yang akan menimpa mereka. Apalagi itu adalah tempat tinggal mereka. Dan mereka juga ingin tahu, apa yang akan dilakukan Arga Manika selanjutnya.
Dengan istirahat dalam posisi duduk bersemedi, lima puluh persen energi dan kesehatan mereka telah pulih. Sehingga mereka bertiga merasa siap untuk segala kemungkinan.
__ADS_1
Begitu Arga Manika melihat kalau ketiga kakek di depannya sudah bangun dari semedinya, langsung menanyakan apa yang dia cari.
"Kakek bertiga, sekarang katakan, dimana senjata pusaka 'Trisula Nagari' milik Prabu Brawijaya yang dititipkan disimpan !" tanya Arga Manika.
"Katakan, kenapa kamu menginginkan senjata pusaka itu ?" tanya Ki Dipa Menggala.
"Karena aku adalah anak keturunan Prabu Brawijaya," jawab Arga Manika, "maka aku berhak atas senjata pusaka warisan Prabu Brawijaya."
"Ketahuilah, bukan berarti setiap anam keturunan Prabu Brawijaya berhak atas senjata pusaka 'Trisula Nagari' peninggalan beliau. Karena, yang berhak memegang dan memiliki senjata pusaka 'Trisula Nagari' hanyalah orang yang 'terpilih'," kata Ki Dipa Menggala menjelaskan.
"Aku tidak butuh penjelasan itu kek. Yang kubutuhkan adalah, sekarang dimana senjata pusaka 'Trisula Nagari' itu kalian simpan !" kata Arga Manika lagi, "katakan padaku. Atau kalian akan aku bunuh satu per satu dan tempat ini aku hancurkan !"
"Jagad Dewa Bathara," Ki Penahun ikut berkata, "kamu telah dibutakan oleh nafsu angkara."
"Baiklah, kalau tidak mau mengatakan dimana senjata pusaka itu disimpan," kata Arga Manika sambil berdiri.
Kemudian Arga Manika menggerakkan tangan kanannya. Secarik sinar merah, seperti yang kemaren dipakai sebagai tali pengikat tubuh ketiganya, meluncur cepat ke arah Ki Penahun.
Ki Penahun yang mengetahui ada bahaya, segera menepis menangkis serangan energi Arga Manika.
Plaasss !!!
Terdengar suara benturan dua energi, ketika Ki Penahun menangkis datangnya serangan energi berwujud sinar merah.
Dari benturan energi itu, Ki Penahun terdorong mundur tiga langkah.
Tetapi tidak sampai di situ saja. Arga Manika melanjutkan menyerang dengan mengeluarkan iblis apinya. Seketika dari kedua telapak tangannya melesat banyak sekali bola bola api yang langsung berubah wujud menjadi iblis iblis api.
Dalam sesaat saja Ki Penahun telah dikerubuti oleh banyak iblis api yang menyerangnya dari segala arah.
"Ha ha ha ha ...," dengan tertawa lantang, Arga Manika mengancam, "kalau tidak ada yang mengatakan di mana senjata pusaka itu disimpan, akan kubunuh kalian semua ! Dimulai dari kamu !"
__ADS_1
Kemudian dari telapak tangan Arga Manika keluar bola api sebesar kepala manusia. Bola api yang berwarna merah membara itu semakin membesar hingga mencapai diameter sekitar satu meter. Dari bola api itu keluar letupan letupan seperti listrik ke segala arah.
___0___