Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Getaran Energi Yang Sangat Kuat


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai di kaki sebuah gunung, setelah melakukan perjalanan melewati padang rumput yang sangat luas dengan hampir tidak ada gangguan.


Gunung itu nampak sangat tinggi. Dari kaki gunung saja sudah menyajikan pemandangan yang indah.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sejenak menikmati suasana alam di sekitar mereka dengan berjalan kaki biasa.


"Adik Sekar, tempat ini mempunyai energi alami yang tinggi," kata Lintang Rahina, "sambil berjalan kaki, kita bisa sekalian menyerap energi alam ini."


"Jadi teringat dan kangen pada Tanah Jawa, kakang," kata Sekar Ayu Ningrum, "Di rumah, di Parangtritis juga mempunyai energi alam dan energi spiritual yang sangat tinggi."


Lintang Rahina berhenti melangkah dan tangannya meraih telapak tangan Sekar Ayu Ningrum.


"Setelah urusan di sini selesai, kita segera pulang adik," kata Lintang Rahina, "Kakang antar kamu pulang. Sekalian ada yang hendak kakang sampaikan pada Ki Ageng Arisboyo."


Sekar Ayu Ningrum hanya tersenyum dan tidak menjawab. Kemudian melangkah kembali sambil tangannya menarik tangan Lintang Rahina. Hingga akhirnya mereka berdua berjalan kaki sambil bergandengan tangan.


Sambil berjalan kaki, mereka berdua berusaha semaksimal mungkin menyerap energi alam melalui pernafasan mereka dan juga melalui pori pori seluruh permukaan kulit mereka.


Tanpa terasa, pikiran mereka melayang pada saat mereka masih di Parangtritis. Pada saat mereka pertama kali bertemu. Saat mereka bertarung hingga akhirnya timbul keakraban dalam hubungan mereka. Hingga akhirnya mereka ditakdirkan melakukan perjalanan bersama.


Ingatan tentang Tanah Jawa dan tentang kebersamaan mereka, membuat mereka tanpa sadar mengencangkan pegangan mereka masing masing, seolah takut kehilangan.


Saat pikiran mereka dipenuhi oleh kenangan kenangan indah mereka, tiba tiba Lintang Rahina menghentikan langkah dan menarik tangan Sekar Ayu Ningrum, sehingga membuat Sekar Ayu Ningrum ikut berhenti.


Lintang Rahina melihat ke sekeliling. Dia merasakan adanya beberapa getaran energi yang sangat kuat, tersebar di beberapa titik. Di setiap titik, getarannya menunjukkan tingkat energinya. Hampir semua titik, getarannya mengisyaratkan, energinya seimbang dengan energi Hima Ledo.


"Adik Sekar, ada banyak orang berenergi tinggi di sekeliling kita," kata Lintang Rahina.


"Iya kakang. Ada beberapa yang energinya bersifat panas. Semoga mereka bukan termasuk golongan jahat," jawab Sekar Ayu Ningrum.


"Mereka sepertinya menjaga jarak dengan kita. Tidak mendekati kita tetapi posisinya seperti mengepung kita," kata Lintang Rahina.


"Apa kita menunggu dulu, apa yang akan mereka lakukan, kakang ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Kita terus saja naik ke puncak gunung itu, seperti arah yang ditunjuk oleh senjata trisula," jawab Lintang Rahina, "Yang penting, kita sampai dulu di puncak."


Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan ke arah puncak dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.

__ADS_1


Menjelang sore, mereka berdua sampai di suatu dataran luas di punggung gunung. Sepanjang mata memandang, hanya rerumputan yang tumbuh di sana. Udara terasa lebih dingin dari padang rumput yang pertama.


Sejak mereka berdua berlari dari kaki gunung sampai ke dataran tinggi itu, beberapa getaran energi yang mereka berdua rasakan, ikut naik walau tetap dalam jarak yang berjauhan.


Tetapi begitu Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sampai di padang rumput itu, tiba tiba getaran getaran energi itu menghilang dan hanya ada dua titik yang bisa mereka berdua rasakan getarannya.


Berdasarkan kejadian di kaki gunung sebelumnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sangat mewaspadai tempat tempat yang seperti ini.


Setelah beberapa saat mereka terdiam, tiba tiba sayup sayup terdengar suara alunan nada yang sepertinya berasal dari dawai yang dipetik.


Ting ting ! Ting ting ting !


Dengan memegang erat tangan Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina memusatkan semua inderanya. Dia merasakan ada dua energi yang melesat ke arah mereka.


Teeeskkk !!!


Energi yang melesat itu memotong ujung ujung rumput di kanan dan kiri Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, hanya berjarak satu depa dari mereka berdiri.


"Perubahan energi getaran suara," kata Lintang Rahina, hati hati dengan datangnya suara alat musik adik !"


"Baik kakang !" kata Sekar Ayu Ningrum sambil menghunus pedangnya.


Ting !


Sekar Ayu Ningrum menangkis secarik energi yang melesat cepat ke arahnya dan membelokkannya ke samping kirinya.


Takkk !!!


Timbul sedikit getaran pada bilah pedangnya setelah menangkis datangnya serangan itu.


"Jangan sampai lengah adik Sekar !" kata Lintang Rahina mengingatkan Sekar Ayu Ningrum.


Mereka berdua segera meningkatkan aliran energinya ke seluruh tubuhnya.


Pedang Sekar Ayu Ningrum mengeluarkan pendaran putih pekat hingga tidak terlihat lagi bentuk bilahnya. Berganti wujud pendaran sinar putih pekat yang diselimuti pendaran energi, sehingga seperti berkabut.


Triiinggg !!!

__ADS_1


Melesat lagi beberapa perubahan energi suara yang mengarah ke posisi Sekar Ayu Ningrum.


Sekar Ayu Ningrum pun memutar pedangnya sedemikian rupa untuk menangkis energi suara yang melesat ke arahnya.


Tak ! Tak ! Tak ! Tak !


"Energinya sangat besar, kakang !" kata Sekar Ayu Ningrum," pedangku tergetar sampai telapak tanganku !"


Melihat hal itu, Lintang Rahina pun segera menarik keluar senjata pedangnya. Dan dengan cepat melapisinya dengan energi, sehingga pedangnya mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan.


Triiing !!! Triiing !!!


Dua larik energi suara yang masing masing larik berisi tiga perubahan energi suara, melesat dengan sangat cepat menuju ke arah Lintang Rahina.


Lintang Rahina memutar pedangnya sehingga enam perubahan energi suara yang melesat ke arahnya bisa ditangkis dengan sempurna.


Traaakkk !


Tak tak !!! Tak tak !!!


Sesaat setelah datangnya serangan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum merasakan ada dua energi yang melesat menuju tempat mereka berdua.


"Adik Sekar, yang menggunakan perubahan energi suara, biar kakang yang menghadapi !" kata Lintang Rahina.


"Baiklah kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum. Karena baginya keduanya sama sama mempunyai energi yang sangat besar.


Segera saja di hadapan mereka berdiri dua sosok yang berpakaian hampir sama dengan orang yang mengaku bernama Hima Ledo. Sama sama memakai caping lebar.


Yang satunya laki laki. Kemungkinan usianya sama dengan Hima Ledo. Badannya tinggi kurus. Berpakaian serba hitam. Kulitnya coklat kehitaman. Tangan kirinya memegang sejenis alat musik petik, berbentuk hampir setengah lingkaran, dengan gagang dawai yang panjangnya sekitar dua lengan.


Yang satu lagi perempuan dengan usia yang sama sama paruh baya. Juga bercaping lebar dan di lehernya berkalung selendang. Di punggungnya tergantung keranjang dari bambu berbentuk bulat panjang dengan ujung yang atas terbuka. Tangan kanannya memegang tongkat kecil sepanjang satu depa dengan salah satu ujungnya diberi logam baja lancip. Sepertinya sejenis senjata untuk menangkap ikan di sungai atau laut.


Sesaat mereka berempat berhadapan sambil terdiam, mereka mencoba mengukur kekuatan orang yang akan dihadapinya.


"Hih ... dua anak muda yang boleh juga Kei !" kata laki laki tinggi kurus.


"Biar aku yang mengujinya, Reo !" jawab Kei yang tubuhnya segera melesat cepat ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


\_\_\_ 0 \_\_\_


__ADS_2