
Saat pertempuran kembali terjadi antara Arga Manika melawan Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sedang dalam perjalanan menuju gunung Lawu. Karena mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai, mereka baru sampai di kaki gunung Lawu.
Ketika mereka hendak menuju ke sisi gunung Lawu tempat Ki Pradah tinggal, Lintang Rahina merasakan ada getaran energi yang sangat luar biasa besar dari arah puncak.
Begitu melihat ada kerlapan kerlapan cahaya berwarna merah, ditambah lagi Lintang Rahina merasakan ada getaran energi lainnya, Lintang Rahina merasakan seperti ada suatu pertempuran di atas sana.
Lintang Rahina yang penasaran dan heran adanya kerlapan cahaya merah di puncak gunung Lawu, mengajak Sekar Ayu Ningrum menuju ke puncak gunung tempat kerlapan cahaya merah terlihat.
Begitu sampai di puncak gunung, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menyaksikan sedang terjadi pertempuran. Kedatangannya tepat saat gurunya dan kedua temannya terancam jiwanya.
Lintang Rahina langsung mengeluarkan energi pemberian Prabu Brawijaya untuk menetralisir dan melawan energi Arga Manika yang menggunakan kekuatan iblis.
Arga Manika geram mengetahui iblis iblis apinya musnah. Apalagi setelah mengetahui yang telah memusnahkan iblis iblis apinya adalah pemuda yang hampir seumuran dengannya.
"Keparat kau !" teriak Arga Manika sambil melepaskan energi yang lebih besar lagi dari tubuhnya. Tubuh apinya menghilang berganti dengan tubuh manusia biasa. Kedua telapak tangannya mengeluarkan api yang membara.
Kemudian Arga Manika melesat ke arah Lintang Rahina. Arga Manika melepaskan pukulan api secara beruntun ke arah Lintang Rahina.
Dengan tenang, Lintang Rahina menghindari datangnya pukulan Arga Manika dan beberapa kali menangkis dan membalasnya dengan pukulan tapaknya.
Sebentar saja terjadi saling serang antara Arga Manika dan Lintang Rahina. Tidak jarang terjadi benturan benturan energi yang menimbulkan suara ledakan sangat meras.
Plakk !!!
Blaammm !!! Blaammm !!!
Blaarrr !!!
Kilatan kilatan cahaya terlihat setiap terjadi benturan energi.
Setiap terjadi benturan serangan energi, Arga Manika selalu terjajar dua langkah kebelakang dan tangannya bergetar. Diam diam Arga Manika terkejut, Lintang Rahina bisa mengimbangi kekuatannya.
Pada suatu kesempatan, Lintang Rahina melakukan serangan dengan 'Tapak Wulung'nya yang masih bisa ditangkis oleh Arga Manika.
Buummm !!!
__ADS_1
Terjadi lagi ledakan yang sangat besar akibat dari benturan energi keduanya. Dari benturan energi itu, Arga Manika lagi lagi terdorong mundur hingga tiga langkah.
Arga Manika kembali memasang kuda kuda. Jurus 'Raga Geni' kembali digunakannya. Seluruh tubuh Arga Manika berubah kembali menjadi api yang menyala nyala.
Tubuh Arga Manika yang sudah berwujud api, semakin membara dan semakin membesar hingga tubuhnya menjadi setinggi lima meter. Udara di sekitar halaman tempat tinggal Ki Dipa Menggala terasa panas. Bahkan rerumputan langsung layu terkena hawa panasnya.
Bahkan Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala yang sudah bisa bergerak dan sudah pulih kondisinya, menjauh dari Arga Manika.
Arga Manika mengangkat tangan kanannya. Dari telapak tangan kanannya terbentuk bola bola api besar yang mengeluarkan letupan letupan seperti listrik di sekelilingnya.
Kemudian Arga Manika melayang lebih tinggi lagi sambil mendekat ke arah Lintang Rahina.
"Kuhancurkan kau !" teriak Arga Manika sambil melancarkan pukulan dengan melemparkan bola api yang berada di tangannya.
Saat melihat seluruh tubuh lawannya berubah menjadi api, Lintang Rahina menggunakan jurus dari 'Puspa Nagari' menyelimuti seluruh tubuhnya dengan pendaran sinar berwujud butiran butiran sangat kecil berwarna kuning keemasan. Tubuhnya sedikit melayang di atas tanah. Kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada.
Dari telapak tangan Lintang Rahina yang ditangkupkan itu keluar energi berwujud seperti butiran kecil kecil berwarna kuning keemasan.
Begitu pukulan energi dari Arga Manika telah dekat dengan tubuhnya, Lintang Rahina mengarahkan telapak tangan kanannya yang penuh dengan butiran energi kuning keemasan untuk memapaki datangnya pukulan Arga Manika.
Blaarrr !!!
Arga Manika yang dalam posisi melayang, terlihat terlempar kembali ke belakang, sedangkan Lintang Rahina tetap dalam posisinya.
Hal ini membuat Arga Manika berpikir keras mencari cara untuk bisa memenangkan pertarungan ini, minimal dia tidak kalah pada pertarungan kali ini.
Arga Manika teringat senjata pusaka Trisula yang sudah dibawanya.
Dengan energi iblis yang dia miliki, Arga Manika mencoba membangkitkan aura dalam senjata trisula itu dengan mengalirkan energinya. Hasilnya, trisula yang dia pegang berubah juga menjadi wujud api, hanya saja api yang ditimbulkan berwarna biru, bukan merah kekuningan seperti warna api tubuhnya.
Dengan senjata trisula di tangan kanan dan bola api besar di tangan kiri, Arga Manika bersiap menyerang lagi.
"Ha ha ha ha .... sekarang, rasakan senjata pusaka ini !" teriak Arga Manika dengan keras, sambil melompat melesat ke arah Lintang Rahina.
"Hiaattt !!!" Arga Manika melepaskan pukulan energi dengan tangan kirinya ke arah dada Lintang Rahina.
__ADS_1
Blaarrr !!!
Terjadi lagi seperti tadi, terdengar ledakan keras akibat benturan energi pukulan mereka.
Dan kali ini Arga Manika sudah mempersiapkan diri. Sehingga ketika efek benturan energi tadi membuat dia terdorong ke belakang.
Arga Manika mendarat dengan posisi kuda kuda seperti yang dia rencanakan.
Begitu mendarat, kakinya menotol hingga tubuh Arga Manika kembali meluncur cepat ke arah Lintang Rahina dan tangan kanannya menusukkan senjata trisula yang dia pegang.
Lintang Rahina yang baru saja memapaki pukulan Arga Manika dengan mendorongkan tangannya ke depan, hanya bisa menambah jumlah energi yang dia keluarkan terutama untuk melindungi area dada yang menjadi sasaran tusukan.
Belum juga Lintang Rahina menarik kembali tangan kanannya, senjata trisula yang ditusukkan oleh Arga Manika telah sampai di dadanya.
Ketika senjata trisula yang berubah menjadi api biru hanya berjarak satu centimeter dari dada Lintang Rahina, tiba tiba daya luncur senjata trisula itu hilang.
Senjata trisula itu berhenti di depan dada, seperti ada yang menahannya.
Peesstttt !!!
Begitu hampir mengenai dada Lintang Rahina, senjata trisula itu bergetar hebat. Sedikit demi sedikit, senjata trisuka itu berubah wujud menjadi wujud aslinya.
Setelah berwujud senjata trisula seutuhnya, tiba tiba senjata itu bergetar semakin hebat dan mengeluarkan suara dengungan seperti sekumpulan Lebah.
Arga Manika mencoba menahan getaran dari senjata trisula itu.
Tiba tiba pegangan Arga Manika terhadap senjata trisula itu terlepas. Senjata trisula itu tetap melayang dan mengeluarkan suara dengungan yang semakin keras.
Bersamaan dengan bergetarnya senjata trisula itu dan munculnya suara dengungan, tangan kanan Lintang Rahina ikut bergetar hebat.
Perlahan lahan dari tangan kanan Lintang Rahina muncul selarik sinar kuning keemasan sepanjang lengannya.
Sinar kuning keemasan itu semakin lama semakin pekat.
Tiba tiba dari sinar kuning keemasan itu keluar sinar keemasan yang membentuk wujud persis senjata trisula yang di depan dada Lintang Rahina.
__ADS_1
___0___