Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Masuk Ke Hutan Panjalu


__ADS_3

Pagi hari, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah selesai berkemas. Sesaat kemudian, mereka berangkat menuju ke hutan Panjalu dengan berjalan biasa. Sebentar saja mereka sampai di pinggir hutan Panjalu, karena memang jaraknya yang sudah cukup dekat.


Mereka berdua terus saja masuk ke dalam hutan Panjalu. Sambil berjalan masuk, Lintang Rahina mulai mengaktifkan tehnik 'Puspa Nagari' miliknya.


Sejak mengalami peningkatan energi hasil dari melatih penggabungan tehnik 'Bramaseta' dan 'Sindhung Alit', Lintang Rahina bisa merasakan getaran energi tanpa harus mengeluarkan dan menyebarkan energi dari tehnik 'Puspa Nagari' ataupun ' Nafas Raja', Namun cukup mengaktifkan tehniknya saja, tubuh Lintang Rahina bisa merasakan getaran energi yang berada jauh darinya.


Baru saja memasuki pinggiran hutan, Lintang Rahina merasakan banyak sekali energi siluman. Namun mereka berdua tetap tidak bergeming dan tetap berjalan terus, masuk lebih dalam ke hutan. Karena mereka lebih fokus untuk merasakan dan mencari keberadaan getaran energi Ki Ageng Arisboyo.


Ketika sampai di bagian hutan yang pohon pohonnya cukup rapat dan besar tinggi menjulang, tiba tiba di depan mereka menghadang sekelompok siluman berwujud manusia raksasa.


Tubuh mereka tinggi besar hampir dua kali ukuran tubuh manusia dewasa. Kulit mereka hitam legam dengan ada yang beberapa hitam kemerahan.


Kepala mereka bertanduk dengan mata yang berwarna merah membara dan sepasang taring yang terlihat sangat tajam.


Siluman siluman itu berpakaian seperti prajurit.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berhenti di depan mereka.


"Sepertinya mereka berasal dari kerajaan gaib yang menguasai daerah ini," bisik Lintang Rahina pada Sekar Ayu Ningrum.


"Hrrrggghhh .... Heiii kalian manusia ! Ada urusan apa kalian masuk hutan ini !" tegur salah satu siluman yang nampaknya sebagai pemimpinnya.


"Kami hanya ingin lewat, mencari teman kami yang sedang bertapa di hutan ini," jawab Lintang Rahina.


"Hrrrggghhh ... tidak sembarang orang boleh masuk kerajaan ini ! Apa yang kalian miliki hingga berani masuknke wilayah kekuasaan kami !" tanya pemimpin prajurit siluman lagi.


"Bagaimana kalau kami punya ini !" jawab Lintang Rahina sambil mengebutkan tangan kanannya ke samping.


Seketika dari telapak tangan kanan Lintang Rahina diselimuti butiran sinar kuning keemasan.

__ADS_1


Melihat hal itu, pemimpin prajurit siluman segera memberi aba aba pada prajurit siluman lainnya.


"Tangkap dan bawa kedua orang ini ke hadapan ratu !" teriak pemimpin prajurit siluman.


Segera saja sepuluh prajurit siluman serentak maju dan menyerang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Mereka berdua dengan mudah menghindari serangan prajurit siluman. Setelah babarapa kali menghindar, tiba tiba kecepatan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bertambah. Kedua tangannya yang sudah terlapisi dengan energi, terayun ke depan beberapa kali dan tepat mengenai dada para prajurit siluman itu.


Buuuggg ! Buuuggg ! Buuuggg !


Seketika kesepuluh prajurit siluman itu terlempar ke belakang hingga jatuh bergulingan.


Kesepuluh prajurit siluman itu merasa tidak terluka segera bangkit kembali dan bersiap menyerang lagi.


"Kami tidak ingin melukai kalian. Biarkan kami lewat. Kami tidak akan mengganggu kerajaan kalian," kata Lintang Rahina.


"Kalian bangsa manusia selalu membuat kerusakan yang merugikan bangsa kami ! Kami akan mencegah kalian berdua masuk semakin dalam di hutan kami ini !" kata pemimpin prajurit siluman dengan keras, "Tangkap mereka !"


Sambil menangkis semua serangan mereka, Lintang Rahina berkata, "Kalian yang memaksa kami ! Terpaksa kami melakukan ini !"


Terlihat butiran sinar kuning keemasan berkumpul di kedua telapak tangan Lintang Rahina.


Kemudian, dengan sedikit menambah kecepatan, tubuh Lintang Rahina lenyap dari pandangan para siluman itu.


Tiba tiba terdengar suara pukulan beberapa kali disusul dengan suara tubuh yang terlempar kemudian terdiam tidak bergerak lagi.


Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !


Sepuluh prajurit siluman itu pingsan semua setelah terkena pukulan yang mengandung energi 'Puspa Nagari' pada bagian tengkuk mereka. Sedangkan pemimpin prajurit siluman itu terlempar ke belakang dan jatuh tertelungkup setelah kepala, dada dan perutnya terkena pukulan Lintang Rahina.

__ADS_1


Pemimpin prajurit itu memaksakan diri untuk duduk dan baru saja akan berdiri lagi saat merasakan sesak di dadanya dan pandang matanya menjadi berputar. Ketika dia merasa akan pingsan, tiba tiba Lintang Rahina sudah berada di sampingnya dan menempelkan tangan kirinya ke tengkuk pemimpin prajurit.


Pemimpin prajurit itu merasakan ada aliran energi di tengkuknya. Energi yang membuat dadanya terasa longgar dan nyaman. Setelah itu, Lintang Rahina mengarahkan telapak kirinya ke arah para prajurit siluman.


Dari tangan kirinya melesat butiran sinar kuning keemasan yang dengan cepat menyebar dan menyelimuti tubuh seluruh prajurit. Sesaat kemudian, para prajurit siluman itu siuman dari pingsannya. Sedangkan dengan cepat Lintang Rahina kembali ke samping Sekar Ayu Ningrum.


Melihat semua anak buahnya siuman dan tidak terluka sedikit pun, pemimpin prajurit berusaha bangkit. Kemudian pemimpin prajurit itu berdiri perlahan lahan dan menatap ke arah Lintang Rahina.


"Bagaimana kami bisa mempercayaimu, jika kalian datang ke sini dengan membawa kekuatan itu !" kata sang pemimpin prajurit siluman pelan sambil menuding ke arah perut Sekar Ayu Ningrum.


Mendengar itu, Lintang Rahina menjadi teringat. Kekuatan energi hitam dari benang jiwa iblis yang menguasai segala jenis kekuatan kegelapan.


Maka dari itu banyak pendekar yang menginginkan kekuatan energi hitam. Karena dengan kekuatan energi hitam itu, salah satu keistimewaannya, bisa menaklukkan segala jenis siluman.


"Justru kami menjaga jangan sampai kekuatan energi hitam itu jatuh ketangan orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan kekuatan," jawab Lintang Rahina.


"Apa yang membuat kami bisa mempercayai kalian !" kata pemimpin prajurit siluman lagi.


Tanpa berkata kata lagi, Lintang Rahina segera mengeluarkan energi dengan tehnik 'Puspa Nagari' dan tehnik 'Nafas Raja' bersamaan, dari kedua tangannya. Gabungan butiran sinar kuning keemasan dengan pendaran sinar putih pekat segera keluar dari kedua telapak tangannya.


Energi gabungan dari sinar putih dan sinar kuning itu segera menyebar ke sekeliling tempat mereka berdiri.


Energi itu membuat para siluman itu seperti ada batu besar yang menindihnya, yang semakin lama semakin berat sehingga para siluman itu menjadi terduduk bahkan ada yang sampai tergeletak tidak mampu bergerak.


"Ba ... i ... ik ...lahhh. Kami ... percaya pada kalian. Tolong lepaskan beban ini pada kami," kata pemimpin prajurit siluman.


"Kalau mau, aku bisa membunuh kalian semua dengan mudah. Tetapi kami tidak melakukan itu, karena kami tidak ingin bermusuhan dengan kalian," kata Lintang Rahina lagi, "Kami hanya ingin memcari teman kami yang sedang bertapa, dan memastikan mereka dalam keadaan baik baik saja."


"Baiklah. Masuklah kalian ke hutan lebih dalam lagi, sampai kalian menemukan sebuah danau," kata pemimpin prajurit sambil memberikan jalan pada Lintang Rahina.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2