Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Masuk Ke Dalam Kawah Gunung Api II


__ADS_3

Bersamaan dengan itu, di luar kawah gunung api, Sekar Ayu Ningrum berdiri di tepi kawah, menunggu Lintang Rahina. Ketika perhatiannya tertuju pada permukaan kawah, telinganya mendengar suara cemetar cambuk.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


Dengan cepat Sekar Ayu Ningrum melihat ke arah datangnya suara cambuk.


Terlihat seorang manusia kerdil berjalan dengan tangan kanannya memegang cemeti yang ujungnya menyala merah membara berbentuk seperti mata anak panah.


Sedangkan tangan kirinya memegang tali yang berwarna hitam legam yang ujung satunya lagi terikat di leher seorang manusia kerdil yang sudah sangat tua dan badannya sangat kurus dan kotor.


"Ayo cepat ! Segera balikkan semua bangunan itu !" teriak manusia kerdil yang membawa cambuk.


Manusia yang diikat lehernya itu hanya diam dan menatap manusia kerdil yang membawa cambuk.


Kemudian, manusia kerdil yang dirantai lehernya itu menggerakkan kedua tangannya dengan pola gerakan tertentu. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangannya, keluar serabut serabut benang yang menyebar ke seluruh daratan Pulau Liliputan dan kemudian menghujam masuk ke dalam tanah.


Beberapa saat kemudian, seluruh permukaan tanah pulau itu bergetar hebat. Kemudian, semua bangunan yang tadi membalik masuk ke tanah, kembali membalik dan muncul lagi ke permukaan.


Setelah semuanya kembali muncul ke permukaan, manusia kerdil yang memegang cambuk kembali memberi perintah sambil membunyikan cambuknya.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


"Sekarang semuanya keluar dan bersihkan tempat itu. Kalau ada yang membangkang, dia akan aku bunuh !" teriak manusia yang memegang cambuk sambil menunjuk ke manusia kerdil yang dirantai lehernya.


Kemudian, dari dalam bangunan bangunan itu, keluar banyak sekali manusia kerdil yang dengan cepat membersihkan semua tempat yang kotor dan rusak.


Seperti halnya manusia kerdil yang dirantai lehernya, manusia kerdil yang keluar dari bangunan bangunan yang muncul lagi itu semua kurus dan kotor badannya. Namun yang terlihat agak aneh adalah, manusia kerdil yang lehernya dirantai serta semua manusia kerdil yang keluar dari bangunan yang muncul kembali, walaupun badannya kurus dan kotor, namun kulitnya terlihat putih.


Sekar Ayu Ningrum yang melihat itu semua, segera mendekati mereka.


"Kenapa kau menyiksa sesama bangsamu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum pada manusia kerdil yang membawa cambuk.


"Bukan urusanmu ! Karena mereka adalah tawanan kami !" hardik manusia kerdil yang membawa cambuk.


"Menyingkirlah dari sini !" bentaknya lagi sambil mengarahkan cambuknya ke tubuh Sekar Ayu Ningrum.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


"Manusia telengas !" teriak Sekar Ayu Ningrum sambil menghindar dari ujung cambuk yang mengarah ke tubuhnya.


Sekar Ayu Ningrum memang sengaja mengelak dari serangan untuk mempelajari dulu kekuatan cambuk yang ujungnya merah membara itu.


Sesaat Sekar Ayu Ningrum melihat, ujung cambuk itu juga mengeluarkan percikan kecil kecil seperti petir.


"Cambuk itu sepertinya menyerap energi !" kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.


"Akan kucoba dengan memberi energi yang sedikit," gumam Sekar Ayu Ningrum sambil tubuhnya melesat ke arah tangan kanan manusia kerdil yang memegang cambuk.

__ADS_1


Ketika manusia kerdil itu menghentakkan cambuknya ke arahnya, Sekar Ayu Ningrum segera menghadang ujung cambuk itu dengan telapak tangan kanannya.


Benturan telapak tangan dan ujung cambuk yang mengandung energi itu menimbulkan ledakan yang cukup keras.


Duaaarrr !


Karena hanya menggunakan energi sedikit, Sekar Ayu Ningrum merasakan telapak tangan kanannya kebas dan energinya seperti terserap oleh ujung cambuk itu.


"Akan aku coba dengan memberikan energi yang cukup besar !" gumam Sekar Ayu Ningrum sambil bergerak lagi. Tubuhnya kembali melesat ke arah manusia kerdil yang memegang cambuk itu. Aliran energi ke seluruh tubuhnya, terutama ke tangan kanannya melonjak drastis.


Bersamaan dengan itu, manusia yang memegang cambuk itu merasa serangannya berhasil.


Kemudian dengan sedikit melenting, manusia kerdil itu kembali melepaskan lecutan ke arah Sekar Ayu Ningrum dengan penuh percaya diri.


Sekar Ayu Ningrum tidak langsung menangkis serangan cambuk itu, namun beberapa kali menghindar untuk mempelajari situasinya. Hal itu membuat manusia kerdil harus melepaskan lecutan cambuknya berkali kali.


Ctaaarrr ! Ctaaarrr ! Ctaaarrr !


"Begitu rupanya tehnik dia memanfaatkan kekuatannya !" gumam Sekar Ayu Ningrum lagi, setelah bisa menemukan tehnik yang digunakan oleh manusia kerdil itu.


Kemudian, saat manusia kerdil itu kembali melancarkan serangan cambuknya, Sekar Ayu Ningrum segera melesat dengan kecepatan yang tidak pernah dilihat sebelumnya oleh manusia kerdil itu. Dengan kecepatannya yang tinggi, Sekar Ayu Ningrum bergerak memutar ke arah kanan manusia kerdil itu, untuk kemudian dengan cepat membalikkan badannya, melayang mengikuti arah gerakan ujung cambuk.


Hanya dalam beberapa saat, Sekar Ayu Ningrum sudah sangat dekat dengan ujung cambuk yang mengeluarkan nyala merah membara.


Kemudian, dengan menyalurkan energi dalam jumlah yang cukup besar, Sekar Ayu Ningrum menangkap ujung cambuk dengan tangan kanannya.


Blaaannnggg !!!


Dalam ledakan karena benturan energi itu, tubuh manusia kerdil yang membawa cambuk itu terlempar jauh karena energi yang berbalik ke tubuhnya.


Tubuh manusia kerdil itu terbanting di tanah hingga beberapa kali. Sesaat manusia kerdil itu hanya tergeletak. Cambuknya terlepas dari pegangannya.


Kemudian perlahan, manusia kerdil itu bergerak gerak, lalu bangun terduduk dengan nafas yang tersengal sengal. Sesaat dirasakan isi dadanya terasa sesak dan sangat dingin. Sebentar kemudian, manusia itu memuntahkan darah segar hingga beberapa kali.


Setelah berhenti memuntahkan darah segar, diusapnya darah yang masih mengalir membasahi bajunya dengan lengan kanannya. Namun, betapa terkejutnya manusia kerdil itu, saat melihat telapak tangannya hancur dan membiru. Begitu terkejutnya hingga akhirnya manusia kerdil itu pingsan.


Hal itu disebabkan oleh sifat dingin dari energi Sekar Ayu Ningrum.


Melihat lawannya pingsan, Sekar Ayu Ningrum beranjak mengambil cambuk yang tadi dipakai sebagai senjata oleh manusia kerdil itu.


Diamatinya senjata itu. Sebuah senjata yang sangat unik. Terbuat dari sulur hewan laut yang hidup di dasar samudra.


Saat Sekar Ayu Ningrum menatap cambuk itu, tiba tiba terdengar suara di belakangnya.


"Gadis muda, tolong kau simpan dulu senjata itu. Dan mohon kau bebaskan orang orang yang dipenjara di bawah tanah di dalam bangunan bangunan itu," kata manusia kerdil yang lehernya diikat dengan rantai besar.


Dengan manusia kerdil yang dirantai lehernya sebagai penunjuk tempat, Sekar Ayu Ningrum membuka pintu pintu bangunan yang dipakai untuk memenjarakan mereka.

__ADS_1


Setelah semua yang dipenjara dibebaskan, manusia kerdil yang lehernya dirantai meminta tolong pada Sekar Ayu Ningrum untuk membukakan rantai yang mengikat lehernya.


Dengan mengalirkan energinya ke rantai yang mengikat leher manusia kerdil itu, hingga menjadi sangat dingin, Sekar Ayu Ningrum menghancurkan rantai yang mengikat leher manusia kerdil itu.


Setelah lehernya terbebas dari rantai, manusia kerdil itu mengajak berbincang Sekar Ayu Ningrum di dalam salah satu bangunan mirip bangunan candi di negeri Jawadwipa.


Kepada Sekar Ayu Ningrum, manusia kerdil yang tadi dirantai lehernya menceritakan, jika dia sebenarnya adalah raja di Kerajaan Liliputan.


Saat dia menjadi raja Kerajaan Liliputan, kerajaan mereka tidak pernah berurusan dengan Kerajaan Gaib di perairan selatan, kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Naga Wilis Kencana.


Kedudukannya sebagai raja Kerajaan Liliputan direbut paksa oleh adiknya sendiri dengan cara membujuk pengawal pribadinya untuk mengambil senjata cambuknya. Dirinya dan seluruh pengikut setianya dijebloskan ke dalam penjara.


Setelah kekuasaan dipegang oleh adiknya, Kerajaan Liliputan mulai mengganggu Kerajaan Gaib yang diperintah oleh Ratu Naga Wilis Kencana. Selain itu, dalam memegang kekuasaan, adiknya bersikap kejam.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya gadis muda ?" tanya manusia kerdil itu.


"Sebenarnya aku dan suamiku datang ke pulau ini, untuk bertemu dengan raja Kerajaan Liliputan, untuk menanyakan, kenapa Kerajaan Liliputan mengganggu Kerajaan Gaib yang dipimpin oleh Ratu Naga Wilis Kencana.


Tadi itu aku sedang menunggu dan berjaga di dekat bibir kawah. Karena suamiku masuk ke dalam kawah untuk mengejar manusia kerdil yang menyerang kami. Sampai akhirnya aku mendengar suara cambuk bercemetaran beberapa kali," jawab Sekar Ayu Ningrum.


"Jadi, suamimu kemungkinan sudah masuk ke kota bawah tanah, tempat istana Kerajaan Liliputan berada," kata manusia kerdil itu lagi.


"Gadis muda, bagaimana kalau kita bekerja sama ?" tanya manusia kerdil itu lagi.


"Kerjasama yang bagaimana yang anda maksudkan ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Sebenarnya bukan kerjasama, tetapi lebih ke kami meminta tolong. Tolong bantu kami untuk mengalahkan mereka," jawab manusia kerdil itu sambil memohon.


"Dimana para senopatimu ? Apakah tidak ada dalam rombongan yang dibebaskan itu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Mereka hanyalah para anak dan keluarga pengikut setiaku. Sedangkan para Senopati dan prajurit yang setia padaku, dijadikan pekerja di ruangan bawah kawah dan dalam penjagaan yang ketat. Ada beberapa yang sudah mati terbunuh," jawab manusia kerdil yang dulunya raja di Kerajaan Liliputan itu, sambil matanya menatap jauh ke depan dan berkaca kaca.


Kemudian, manusia kerdil itu menceritakan, kalau cambuk bertangkai satu yang dia titipkan simpan oleh Sekar Ayu Ningrum, sebenarnya adalah benda pusaka yang dulunya diletakkan di puncak bangunan istana.


Saat berada di puncak bangunan istana, ujung cambuk yang bersifat menyerap energi itu, menyerap energi dari dalam kawah gunung api. Dari energi yang diserap itulah, pihak kerajaan bisa membagi dan memberikan energi dan kehidupan pada seluruh warga Kerajaan Liliputan.


Sedangkan cambuk bertangkai lima, yang dibawa oleh raja yang sekarang, bila tidak bisa cara menggunakannya, akan menjadi senjata yang sangat membahayakan. Karena harus orang yang memiliki tingkat energi yang sangat tinggi, yang mampu mengendalikan canbuk bertangkai itu.


Adiknya yang sekarang menduduki posisi raja hasil merebut dari dirinya, mencuri cambuk bertangkai lima dan menggunakannya sebagai senjata. Kalau tidak mampu menguasai energi di dalam cambuk bertangkai lima itu, akan terpengaruh oleh energi dari cambuk bertangkai lima yang akan membuat sifatnya berlipat ganda. Kalau yang memegang senjata cambuk bertangkai lima bersifat jahat, maka pemegang senjata cambuk itu akan semakin jahat.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Mari kita segera masuk ke kota bawah tanah yang menjadi tempat tinggal manusia Liliputan. Aku khawatir, suamimu akan mereka jebak, sehingga bisa mereka tangkap !" ajak manusia kerdil, raja asli Kerajaan Liliputan.


Kemudian, disertai Sekar Ayu Ningrum dan beberapa pengikutnya yang mempunyai ilmu dan energi yang cukup tinggi, raja asli Kerajaan Liliputan itu mulai beranjak masuk ke kota bawah tanah melalui pintu gerbang yang berada di dasar kawah.


__________ 0 __________

__ADS_1


__ADS_2