Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertempuran Di Puncak Lawu II


__ADS_3

Segera saja terjadi saling tukar serangan antara Arga Manika yang menghadapi Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.


Beberapa pukulan Ki Dipa Menggala ataupun telapak tangan Ki Penahun berhasil mengenai tubuh Arga Manika. Tetapi kedua orang tua itu diam diam heran, pukulan mereka berdua seakan akan tidak berdampak apa apa pada tubuh Arga Manika.


Suatu saat dalam serangan yang bersamaan, pukulan Ki Dipa Menggala dan telapak tangan Ki Penahun mengena dengan telak dada dan bahu Arga Manika.


Buggghhh !!!


Plaakkk !!!


Arga Manika terlempar ke belakang hingga lima meter.


Merasakan beberapa kali terkena serangan, Arga Manika berkata dalam hati, "Aku harus mengeluarkan ilmu 'Raga Geni' agar urusan ini cepat selesai."


Tiba tiba udara di tempat pertempuran dan sekitarnya menjadi hangat. Hal ini disebabkan karena Arga Manika mulai mengaktifkan energinya untuk menggunakan jurus ilmu 'Raga Geni'.


Seluruh tubuh Arga Manika seperti diselimuti api. Matanya berubah warna jadi merah seluruhnya.


Perlahan tubuhnya melayang dan mengarah ke Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun berada.


"Ha ha ha ha ....." Terdengar suara tertawa Arga Manika yang berubah menjadi berat.


Setelah tinggal berjarak lima meter dari mereka berdua, Arga Manika melesat cepat mengarah pada Ki Dipa Menggala.


Pukulan tangan kanannya mengarah ke dada Ki Dipa Menggala. Ki Dipa Menghindar dengan bersalto ke arah sebelah kanan. Arga Manika melanjutkan serangannya yang tidak mengenai sasaran dengan tendangan kaki kiri mengarah ke kepala Ki Dipa Menggala.


Saat Ki Dipa Menggala bergulingan menghindari tendangan Arga Manika, Ki Penahun datang dengan serangan tapak tangan kanannya yang sekarang berwarna ungu. Pertanda Ki Penahun sudah mengerahkan delapan pulih energinya.


Melihat datangnya pukulan Ki Penahun, Arga Manika menyambut pukulan itu dengan pukulan tangan kanan juga.

__ADS_1


Blaammm !!!


Terdengar ledakan keras dan kilatan cahaya berwarna merah akibat pertemuan energi pukulan tapak Ko Penahun dan energi Arga Manika.


Arga Manika tampak tubuhnya terdorong mundur dua langkah.


Sedangkan Ki Penahun terhuyung huyung sampai tiga langkah.


Tanpa memberi jeda, Arga manika menggerakkan kedua tangannya ke depan. Dari kedua tangannya keluar bola bola api sebesar buah kelapa. Bola api bola api itu dengan cepat berubah wujud menjadi beraneka makhluk yang semuanya terbuat dari api. Makhluk makhluk api itu melesat ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun.


Melihat hal itu, Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun meningkatkan energi mereka, terutama ke bagian tangan dan kaki mereka.


Makhluk makhluk api itu menyerang Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun dari berbagai arah.


Awalnya Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun bergerak sendiri sendiri untuk menangkis, menghindar, ataupun mengelak. Tidak jarang Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun membalas dengan melepaskan pukulan ke makhluk makhluk api itu.


Sudah puluhan bahkan ratusan kali Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala menghancurkan makhluk makhluk dari bola bola api itu.


Blaarrr blaarrr blaarrr !!!


Makhluk makhluk api itu seperti tidak ada habisnya. Sehingga Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun kewalahan. Belum lagi menghadapi hawa panas yang ditimbulkan dari tubuh makhluk makhluk api itu.


Merasakan hal itu, Ki Penahun segera berteriak pada Ki Dipa Menggala.


"Ki Dipa, kita beradu punggung," Ki Penahun berteriak, "kita harus bekerja sama menghadapinya !"


"Baik Ki," jawab Ki Dipa Menggala.


Mereka berdua segera bergerak saling mendekati disela sela mereka menyerang ataupun menghindari serangan makhluk makhluk api itu.

__ADS_1


Begitu jarak mereka sudah cukup dekat, Ki Dipa Menggala dengan kecepatannya segera melompat ke arah belakang Ki Penahun. Segera mereka berdua beradu punggung, hingga mereka cukup berkonsentrasi pada musuh yang menyerang dari depan mereka.


Melihat kedua lawannya beradu punggung untuk bekerja sama, Arga Manika tertawa keras.


"Ha ha ha ha ...... " sambil tertawa, Arga Manika meningkatkan energinya. Tubuhnya sudah sepenuhnya berubah menjadi api.


Kemudian, dari kedua telapak tangannya keluar bola bola api yang lebih besar dari tadi.


Bola bola api itu melesat menuju ke tempat Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala berada.


Bola bola api itu langsung berubah menjadi makhluk api yang lebih besar lagi dengan wujud yang lebih mengerikan dan dengan energi yang lebih besar lagi.


Makhluk makhluk api yang lebih besar ini tidak musnah hanya dalam satu serangan. Bahkan satu makhluk energinya bisa mengimbangi energi Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala. Sehingga Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi makhluk makhluk api yang oleh Empu Bajang Geni disebut makhluk dari neraka.


Ki Penahun dengan 'Tapak Wulung' nya berhasil membuat makhluk makhluk dari neraka tersebut hancur. Walaupun setiap makhluk api dari neraka itu membutuhkan dua sampai tiga kali pukulan 'Tapak Wulung' untuk menghancurkannya. Makhluk makhluk dari neraka yang terbuat dari api itu, selalu hancur dan meredup apinya setiap terkena telapak tangan Ki Penahun yang berubah warna menjadi ungu hingga mengeluarkan api yang berwarna ungu.


Demikian juga Ki Dipa Menggala. Dengan jurus jurus 'Banteng Majapahit' nya, sudah banyak makhluk makhluk api dari neraka itu yang musnah. Setiap sabetan telapak tangannya berhasil membuat makhluk api itu terbelah dua. Tidak jarang kedua telapak tangan Ki Dipa Menggala menghancurkan wajah ataupun leher makhluk makhluk api itu dengan mencakar atau mencengkeramnya.


Cara Ki Dipa Menggala memainkan jurus demi jurus 'Banteng Majapahit' menunjukkan betapa Ki Dipa Menggala sudah sangat sempurna dalam penguasaan ilmu 'Banteng Majapahit'.


Ilmu silat 'Banteng Majapahit' yang untuk dimainkan dengan kedua tangan memegang senjata, oleh Ki Dipa Menggala dimainkan dengan tangan kosong. Kedua tangan Ki Dipa Menggala sudah seperti senjata itu sendiri. Kedua tangan Ki Dipa Menggala bisa untuk menusuk seperti tombak, bisa untuk membabat seperti pedang bahkan bisa meremas dan menghancurkan seperti senjata bandulan.


Tetapi, walaupun mereka bekerja sama dengan saling beradu punggung untuk menghemat tenaga, karena makhluk makhluk api yang keluar dari kedua telapak tangan Arga Manika seperti tidak ada habisnya, maka Ki Penahun dan Ki Dipa Menggala lama kelamaan kehabisan energi. Mereka berdua tidak mungkin berada dalam kondisi puncak secara terus menerus. Lambat laun, kecepatan Ki Dipa Menggala menurun. Ketajaman kedua telapak tangan Ki Dipa Menggala mulai berkurang. Demikian juga warna ungu dari kedua tangan Ki Penahun sudah semakin berkurang dan berubah menjadi agak kemerahan, menandakan energi Ki Penahun yang sudah semakin menurun.


Sementara itu, pada pertempuran Ki Wangsa Menggala melawan Galuh Pramusita. Ki Wangsa Menggala sudah mendapatkan banyak luka luka.


Setelah Galuh Pramusita meningkatkan energinya sehingga kedua tangannya terlapisi api dan mengeluarkan bola bola api. Tetapi bola bola api yang keluar dari telapak tangan Galuh Pramusita tidak berubah menjadi makhluk makhluk api.


___0___

__ADS_1


__ADS_2