Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Padang Rumput


__ADS_3

Begitu itu tidak terhubung lagi dengan telapak tangan Ugra Asipatra, belut itu menjadi liar dan menyerang Lintang Rahina karena dia pada posisi yang terdekat dengan belut itu.


Lintang Rahina menghindari serangan belut itu dengan melesat ke atas. Kemudian Lintang Rahina dengan cepat mengarahkan serangan ke arah Ugra Asipatra.


Ugra Asipatra yang terkejut, tidak siap dengan kecepatan serangan Ugra Asipatra. Dadanya terkena pukulan tangan kanan Lintang Rahina, sehingga membuat tubuhnya melayang semakin ke atas.


Belum percaya dengan yang terjadi pada dirinya, kembali Ugra Asipatra mendapatkan serangan pukulan ke arah dadanya. Tubuhnya terdorong lagi ke atas sehingga semakin jauh dari Lintang Rahina.


Begitu mendapat jarak yang cukup, Ugra Asipatra segera memanfaatkan kesempatan itu.


Kedua tangannya berputar membentuk gerakan melingkar.


Setelah gerakan putaran tangan Ugra Asipatra sudah cukup kencang, tiba tiba kubah air yang dibuat oleh Ugra Asipatra bergetar keras.


Beberapa saat kemudian kubah itu terangkat dan bergerak cepat ke arah Lintang Rahina.


Mengetahui kubah yang penuh dengan energi listrik melesat ke arahnya, Lintang Rahina segera melesat ke atas ke arsh permukaan laut. Selanjutnya terjadi seperti yang Sekar Ayu Ningrum lihat.


--- 0 ---


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tiba di sebuah pulau dan memutuskan turun di suatu padang rumput, setelah melayang di atas lautan selama setengah hari.


Begitu sampai di daratan, di suatu padang rumput yang luas, dengan rerumputan yang tumbuh setinggi lutut sampai sepinggang, mereka berdua merasakan hawa yang sedikit kering dan angin berhempus agak kencang dari arah selatan.


Mereka berdua mencari tempat yang layak untuk tempat istirahat sejenak, suatu tempat rerumputan tumbuh tidak terlalu tinggi, hanya setinggi sekitar mata kaki, sekedar untuk memulihkan energi mereka.


Setelah beberapa saat mereka beristirahat, Lintang Rahina mencoba mengeluarkan senjata trisula dari dalam buntalan. Kemudian mengalirkan sedikit energinya ke dalam senjata trisula itu.


Tiba tiba senjata trisula itu mengeluarkan sedikit getaran dan kemudian melayang di depan Lintang Rahina. Senjata trisula itu sedikit berputar dan berhenti saat tiga ujung senjata itu mengarah ke suatu tempat.


Kemudian Lintang Rahina menghentikan aliran energinya pada senjata trisula itu, lalu berdiri menghadap arah yang ditunjuk ujung senjata trisula itu.


Di arah itu, walau masih dalam jarak yang cukup jauh, terlihat sebuah gunung yang terlihat kecil.


"Kita sepertinya akan menuju sana dik," kata Lintang Rahina sambil telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah gunung kecil itu, "Seperti kita sudah semakin dekat dengan tempat yang kita cari."


"Iya kakang. Dengan kondisi tempat yang hampir sebagian besar daerah padang rumput, sebaiknya kita lewat darat saja, kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


Ketika hendak mengucap sesuatu, tiba tiba Lintang Rahina memegang tangan Sekar Ayu Ningrum sambil berbisik pelan, "adik Sekar mendengar itu ?"


Kemudian mereka berdua berkonsentrasi memfokuskan pendengarannya.


Sring ! Sring ! Sring ! Sring !


Akhirnya mereka berdua mendengar suara seperti suara benda terpotong cepat, walau suara itu sangat pelan dan masih cukup jauh.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mencoba menyebarkan pandangannya ke sekeliling.


Dari arah utara, mereka sempat melihat adanya kilatan walaupun hanya sesaat dari gerakan yang sangat cepat menuju ke arah mereka.


"Baru saja tiba di tempat ini, sudah ada yang menyambut kita !" kata Sekar Ayu Ningrum.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bergerak cepat bergeser ke arah yang saling menjauh, saat tiba tiba ada sesuatu yang mengkilat lewat dengan cepat tepat di tengah tengah mereka.


Clap !!!


Sring ! Sring !


Mereka berdua sesaat merasakan datangnya energi yang sangat besar ke arah mereka dan kemudian menghilang lagi bersamaan dengan menjauhnya sesuatu yang melewati mereka itu.


Belum sempat mereka berdua menilai keadaan, mereka merasakan sebuah energi yang sangat besar mendekat ke arah mereka.


Walau masih agak jauh dan masih agak samar samar, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bisa melihat, ada sesosok laki laki paruh baya melayang cepat ke arah mereka.


Sosoknya yang tinggi kurus dengan penutup kepala yang lebar seperti caping. Memakai baju dengan bagian dada terbuka. Di pinggangnya terlilit kain yang dibebatkan.


Laki laki paruh baya itu berhenti ketika tinggal berjarak sekitar sepuluh depa. Untuk beberapa saat, dia terdiam. Hanya tatapan matanya yang terlihat sangat serius mengarah pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Kemudian, laki laki paruh baya itu menggerakkan tangan kanannya.


Sring ! Sring ! Sring ! Sring !


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum kembali mendengar suara seperti rumput yang terpotong. Dengan menoleh sedikit ke belakang, mereka berdua melihat sekelebat gerakan di belakang mereka. Gerakan yang menuju ke arah mereka berdua.


Plasss !!!

__ADS_1


Benda yang bergerak sangat cepat itu melewati mereka saat mereka menghindar terjangannya dengan menggeser tubuh mereka selangkah ke samping.


Tappp !!!


Benda yang melesat cepat itu seketika sudah berada dalam pegangan tangan kanan laki laki paruh baya itu.


Golok ! Benda yang melesat dengan sangat cepat dan nyaris tanpa menimbulkan suara itu ternyata senjata golok milik laki laki paruh baya itu. Golok berwarna hitam dengan bilah yang lurus dan hanya selebar dua jari, tapi memiliki panjang satu lengan lebih sedikit. Dengan sisi tajam hanya satu.


Lintang Rahina meningkatkan kewaspadaannya melihat laki laki itu. Dengan bilah yang panjang dan mata tajam sesisi bisa dikendalikan dengan stabil baik dari jarak dekat maupun jarak jauh dan bisa memotong batang ataupun daun daun rerumputan tanpa membuat batang rerumputan yang lain bergerak, menunjukkan betapa ahlinya dia dengan senjata golok dan betapa tinggi tingkat energi miliknya.


Laki laki paruh baya itu kemudian melesat ke arah mereka berdua sambil mengayunkan goloknya.


Dari ayunan goloknya, tercipta lesatan energi angin yang dipadatkan dan setipis dan setajam golok.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Sekar Ayu Ningrum sudah lebih dahulu melangkah maju untuk menangkis serangan energi yang datang ke arah mereka dengan pedangnya.


Begitu serangan energi tertangkis semua, laki laki paruh baya itu sudah berada didekatnya dan mengayunkan goloknya.


Kembali terdengar benturan pedang dan golok berkali kali.


Diam diam laki laki paruh baya itu terkejut.


Gadis di depannya itu bisa mengimbangi kecepatan dan tingkat energinya.


Laki laki paruh baya itu kemudian menggerakkan telapak tangan kanan yang memegang golok.


Klak !!!


Tiba tiba goloknya menjadi dua buah yang kemudian yang satunya dipegang dengan tangan kiri dalam posisi terbalik, gagang golok yang menghadap ke arah atas dan bilah goloknya mengarah ke bawah.


___ ◇ ___


Pembaca yang budiman


Maaf kalau beberapa hari ini update tidak menentu. Karena author disela sela waktu kerja, author gunakan untuk mengurus persiapan pernikahan keponakan author, dan kebetulan author mendapat tugas sebagai penerima tamu, sekaligus yang maju 'nompo' saat acara pasrah tompo besok'. Tetapi author tetap berusaha untuk bisa mengetik di sela sela waktu luang.

__ADS_1


Terimakasih atas kesabaran dan kesediaan pembaca semua menunggu.


Salam.


__ADS_2