Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 102


__ADS_3

Kesabaran ku membawa cinta


" Assalamualaikum." Salam Wiyah dan Fazar melangkah masuk kedalam ruangan Fadil, sambil membawa paper bag ditangan Fazar.


Bunda Sisi yang sedang asyik mengobrol bersama dengan Fadil, menoleh kearah pintu." Waalaikumsalam." Jawab bunda Sisi dan juga Fadil bersamaan.


Keduanya melangkah mendekati bunda Sisi lalu mencium punggung tangan bunda Sisi. Sedangkan Fadil mencium tangan Fazar. Fadil hanya menatap kakak iparnya itu dengan tersenyum, sama halnya dengan Wiyah yang membalas senyuman Fadil.


" Maaf ya bun, aku baru datang. Soalnya aku kesiagaan bangunannya, habis sholat subuh aku tidur lagi" Ucap Wiyah jujur, karena mana mungkin ia berbohong.


Bunda Sisi yang mendengar ucapan dari menantunya hanya tersenyum, karena rencananya untuk menyatukan keduanya telah berhasil, dan mungkin sebulan atau dua bulan lagi dia akan mendapatkan kabar baik dari keduanya.


Apalagi Bunda Sisi yang melihat jalan Wiyah yang sedikit aneh, hanya Bisa tersenyum kecil.


Sama halnya dengan Fadil, yang melihat jalan Wiyah, yang sedikit aneh. Membuat ia bingung, apa yang sudah terjadi dengan Wiyah, sampai membuat jalan nya aneh seperti itu.


" Iya ngga apa-apa sayang, bunda tahu, kalau kamu pasti cepek habis kerjakan tugas kuliah mu. Apalagi dengan online seperti sekarang." Jawab bunda Sisi mengerti akan keadaan menantu nya itu, walaupun tidak seperti bunda ucapakan, karena bunda Sisi punya pikiran lain.


Wiyah yang mendengar jawaban dari mertuanya, bisa bernafas lega. Karena Wiyah berpikir kalau mertuanya itu akan marah kalau dia terlambat datang, apalagi terlambat bangun.


Tapi Alhamdulillah, mertuanya itu tidak marah, malahan mertuanya itu mengerti akan keadaannya.


" Makasih bunda, sudah mau mengerti aku." Ucap Wiyah tulus.


" Tidak apa-apa sayang, bunda tahu kalau kamu pasti butuh istirahat setelah mengerjakan tugas mu." Jawab bunda Sisi mengusap lembut punggung Wiyah.

__ADS_1


Bunda Sisi beralih menatap kearah Fazar yang sedang memegang paper bag." Kamu bawah apa Zar." Tanya bunda Sisi melihat kearah paper bag yang di pegang oleh Fazar.


" Bawah makan siang untuk bunda." Jawab Fazar sambil memperlihatkan paper bag yang dia bawah.


" Maaf bun, tadi aku ngga sempet masak. Makanya belinya diluar." Ucap Wiyah merasa bersalah.


" Ngga apa-apa sayang, ini aja bunda sudah senang, kalau kamu bawakan bunda makan siang. Yang artinya kamu begitu sangat perhatian kepada bunda." Jelas bunda Sisi." Lebih baik, sekarang menantu bunda temani bunda makan dulu." Ucap bunda Sisi kembali.


" Boleh bun." Jawab Wiyah, Wiyah mengambil paper bag dari tangan Fazar.


Keduanya melangkah ke arah sofa, karena Wiyah akan menemani bunda Sisi makan siang.


" Bagaimana sekarang keadaan mu Dil." Tanya Fazar yang duduk di kursi yang bersebelahan dengan ranjang Fadil.


" Alhamdulillah bang, jauh lebih baik dari sebelumnya." Jawab Fadil sambil tersenyum.


" Iya bang, aku juga begitu sangat merindukan suasana rumah. Rasanya sangat membosankan jika berada di dalam ruangan terus." Sambung Fadil.


" Jika kamu ingin cepat pulih, kamu harus mematuhi semua aturan dokter Dil, melewati beberapa pengobatan setelah itu kamu bisa sembuh total. Dan jangan lari seperti dulu, jika kamu sedang melakukan pengobatan." Ucap Fazar mengingatkan. Membuat Fadil tersenyum.


" Abang sudah tahu." Tanya Fadil mendapatkan anggukan dari Abangnya itu.


" Ya Abang sudah tahu, karena Faris sudah cerita semuanya tentang kelakuan nakalmu kepada abang." Jawab Fazar." Dan ingat, jangan menyembunyikan sesuatu seperti kemarin lagi Dil." Ucap Fazar kembali.


" Iya bang." Jawab Fadil mengiyakan.

__ADS_1


Fadil menatap Fazar, karena Fadil ingin menanyakan sesuatu yang penting kepada abangnya itu." Bang, aku ingin menanyakan sesuatu." Tanya Fadil menatap serius kearah Fazar.


" Apa yang kamu ingin tanyakan." Tanya Fazar balik, kerena penasaran dengan pertanyaan adiknya itu.


" Apa abang bahagia dengan pernikahan abang yang sekarang." Tanya Fadil begitu sangat serius. Fadil ingin tahu, apakah abangnya itu bahagia dengan pernikahan yang sekarang abang dan kakak iparnya itu jalani, mengingat pernikahan itu hanya karena permintaan darinya, atau Fadil sendiri yang menjodohkan Fazar dan Wiyah.


Fazar yang mendengar pertanyaan dari Fadil menatap adiknya. Pertanyaan yang dulu mungkin akan sulit Fazar jawab, karena dia tidak bahagia dengan pernikahannya, karena Fazar hanya terpaksa menikahi istrinya. Tapi berbeda dengan sekarang pertanyaannya Fadil begitu sangat mudah untuk Fazar jawab, karena ia sudah bahagia dengan pernikahannya ditambah kalau dia sudah menerima istrinya sepenuhnya.


" Abang bahagia dengan pernikahan abang Dil, karena abang sudah menerima istri abang sepenuhnya." Jawab Fazar.


" Mendengar jawaban dari abangnya itu membuat Fadil begitu sangat kecewa tapi dia juga bahagia kalau abangnya sudah sepenuhnya menerima istrinya.


" Aku senang bang, kalau abang bahagia dengan pernikahan abang, itu artinya abang sudah bisa menerima seorang wanita yang masuk kembali dalam hidup abang." Batin Fadil. Jika saja abangnya tidak bahagia dengan pernikahannya, maka Fadil akan meminta Fazar untuk berpisah dengan Wiyah, dan dia sendirilah yang akan meminta Wiyah untuk kembali.


Fadil begitu sangat mencintai Wiyah sampai sekarang. Andai kata Fadil ingin kembali bersama gadis yang sekarang sudah berstatus sebagai istri abangnya dan juga sebagai kakak iparnya.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu Dil." Tanya Fazar ingin tahu.


" Tidak bang, aku hanya ingin tahu saja. Aku senang kalau abang bahagia dengan pernikahan abang, itu artinya aku tidak salah memilihkan abang seorang istri." Jawab Fadil berusaha untuk tersenyum walaupun itu terasa begitu sangat sakit didalam dadanya.


" Dil, kamu begitu sangat tepat memilihkan istri seperti istriku, yang begitu sangat sabar menghadapi kelakuan ku." Batin Fazar." Sangking tepatnya, abang jadi ngga kepingin pisah jauh-jauh dari istrinya Abang." Ucap Fazar sambil terkekeh.


Fadil tersenyum mendengar ucapan abangnya itu." Abang bisa saja." Sambung Fadil ikut terkekeh kecil.


Saat keduanya sedang mengobrol, pintu kembali terbuka. Menampilkan dua orang pria." Assalamualaikum."

__ADS_1


...----------------...


Maaf author kemarin ngga update, soalnya ketiduran pas lagi ngetiknya 😁


__ADS_2