
Segera memakai bajunya, Wiyah melangkah keluar dari kamar mandi.
Wiyah bisa melihat kalau Fazar sedang duduk santai di sofa dengan ponsel di tangannya.
" Tuan, aku sudah menyiapkan air mandi untuk anda." Ucap Wiyah sambil menundukkan kepalanya, karena masih merasa canggung, karena kejadian tadi.
Fazar berdiri dari duduknya setelah mendengar ucapan dari istrinya itu.
" Kak Haidar tadi menelfon, dia menanyakan apa kita sudah sampai atau belum." Ucap Fazar memberitahukan siapa yang tadi menelfon nya tadi." Kak Haidar juga menyuruh mu, untuk menelfon nya kembali karena ketiga anak keponakan mu ingin berbicara dengan mu." Jelas Fazar kembali.
Setelah mengatakan hal itu, Fazar meninggalkan Wiyah untuk masuk kedalam kamar mandi, dan Wiyah hanya bisa melihat kepergian suaminya itu.
" Kenapa aku masih merasa canggung jika berada didekat tuan Fazar." Gumam Wiyah yang merasa begitu sangat aneh dengan dirinya yang tiba-tiba saja merasa canggung jika berhadapan dengan Fazar, setelah kejadian tadi.
Daripada memikirkan hal yang tidak penting, Wiyah menelfon Haidar untuk berbicara dengan ketiga ketiga anak keponakannya, yang ditambah dengan adik iparnya disana.
🌸🌸🌸🌸🌸
Fazar keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, yang membuat tubuh atletis nya itu terlihat begitu sangat menakjubkan. Apalagi tangan kekar yang di penuhi otot-otot kekr, dan perut yang memiliki roti sobek, membuat pemandangan indah itu jarang terlihat karena tertutup oleh kain.
Fazar menyusuri sudah ruangan, sampai Fazar melihat kalau istrinya itu sedang sholat.
Fazar beralih melihat ke sisi ranjang yang terdapat pekaian sholatnya yang sudah rapi di atas kasur. Fazar tahu siapa yang sudah menyiapkannya untuk nya.
" Dia selalu tahu, apa yang aku butuhkan." Batin Fazar menatap kembali kearah Wiyah.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸
Suara alarm membuat kedua manusia yang masih berada didalam mimpi harus terusik karena suara ribut dari ponsel mereka masing masing.
Wiyah berusaha untuk bangun. Tapi Wiyah tidak bisa melakukannya karena tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Wiyah menatap tangan kekar itu yang begitu sangat erat memeluknya.
" Bukannya semalam, aku dan juga tuan Fazar sudah membuat batasan dengan bantal guling agar jarak kami tidak saling dekat saat tidur, tapi kenapa sekarang kami tidur dengan jarak yang begitu sangat dekat." Batin Wiyah masih berpikir, kenapa bisa ia tidur begitu sangat dekat dengan Fazar. Padahal Wiyah maupun Fazar sudah membuat batasan mereka dengan bantal guling untuk memisahkan keduanya.
Ya, semalam Fazar maupun Wiyah membuat batasan dengan bantal guling agar kedua tidak saling dekat saat tidur. Tapi saat subuh seketika bantal guling itu menghilang yang membuat keduanya tidur dengan jarak yang dekat.
Padahal Wiyah bisa saja tidur di sofa. Tapi Fazar melarangnya, karena Fazar mengatakan kalau sofa itu tidak nyaman untuk di tiduri dan Fazar juga menyuruhnya untuk satu kasur dengan suaminya itu.
Wiyah berusaha untuk mengangkat tangan Fazar yang masih melingkar di perutnya.
" Mungkin aku tidak akan bisa bangun kalau kayak gini." Ucap Wiyah yang belum bisa menyingkirkan tangan Fazar dari atas pinggangnya." Tidak ada cara lain selain membangunkannya." Ucap Wiyah kembali yang memutuskan untuk membangunkan Fazar, karena tidak ada pilihan lain selain itu.
Wiyah berusaha berbalik menghadap Fazar.
" Tuan, bangun, sudah hampir waktunya subuh." Ucap Wiyah setelah menghadap kearah Fazar. Wiyah berusaha membangunkan Fazar yang masih tidur dengan begitu sangat nyenyaknya seperti tidak terusik sama sekali dengan panggilannya.
" Tuan Fazar, terlihat begitu sangat tampan saat sedang tidur, dan terlihat tenang tanpa wajah datarnya." Batin Wiyah yang begitu sangat kagum dengan ketampanan suaminya itu, yang masih terlihat tampan saat keadaan tidur, seakan wajah datar dan dinginnya itu seketika menghilang saat dia sedang tidur. Membuat Fazar datar suaminya itu, seperti wajah bayi yang begitu tenang dalam tidurnya.
Karena terlalu lama menatap suaminya itu, membuat Wiyah melupakan tujuannya yaitu membangunkan Fazar untuk melakukan sholat malam.
__ADS_1
" Apa kamu sudah selesai mengagumi ketampanan ku." Tanya Fazar yang sudah membuka matanya dengan lembar, membuat Wiyah seketika terkejut karena melihat Fazar yang sudah bangun dari tidurnya." Apakah seperti ini caramu, mengangumi ku secara diam-diam agar kamu bisa memandangku saat aku sedang tidur." Ucap Fazar kembali.
Sebenarnya Fazar sudah bangun dari tadi, saat jam alarm berbunyi, dan Fazar duluan mengetahui kalau ia tidur sambil memeluk tubuh ramping istrinya itu. Tapi sebelum Fazar menyingkirkan tangannya dari pinggang Wiyah. Fazar harus menghentikan nya saat menyadari kalau Wiyah akan bangun dari tidurnya yang membuat Fazar harus pura-pura tidur.
Wiyah yang mendengar ucapan dari Fazar, seketika ingin menjauh dari Fazar. Tapi suaminya itu mala semakin menariknya semakin dekat dengan suaminya itu.
" Tuan." Ucap Wiyah saat tubuhnya sudah merapat ditubuh Fazar.
" Kenapa kamu menatapku, hmm." Tanya Fazar lembut membuat Wiyah semakin merasa aneh karena mendengar suara lembut dari suaminya itu.
" Aku hanya ingin membangunkan tuan, karena tangan tuan melingkar di pinggangku." Jelas Wiyah.
" Tapi kenapa kamu bangun jam segini, bukannya subuh masih lama." Tanya Fazar. Walaupun dia sendiri tahu jawabannya, kalau istrinya itu ingin melakukan sholat malam.
" Aku hanya ingin melakukan sholat malam." Jawab Wiyah yang berusaha untuk tetap tenang." Makanya aku membangunkan tuan." Ucap Wiyah kembali.
" Sholat malam, atau kamu ingin mengulangi yang sempat tertunda semalam." Bisik Fazar membuat Wiyah semakin merinding." Tidak perlu takut, kita bisa mengulanginya jika kamu mau." Ucap Fazar kembali membuat Wiyah seketika menggeleng.
" Tidak, tuan. Aku hanya ingin sholat malam tidak lebih dari itu." Jelas Wiyah berusaha untuk menjelaskan kepada suaminya itu.
Karena kasian atau tidak tega, Fazar melepaskan istrinya itu setelah mendengarkan jawaban dari Wiyah, membuat Fazar tidak jadi untuk menganggu istrinya kembali, dan Fazar juga ikutan bangun untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umatnya muslim.
" Bantu aku berubah, menjadi Fazar yang dulu."
...----------------...
__ADS_1