
Fina yang sedang berkerja, harus menghentikan kegiatannya. Saat teman kerjanya memanggilnya.
" Kenapa Siska." Tanya Fina.
" Ada yang mencari mu didepan." Jawab teman kerja Fina.
" Siapa." Tanya Fina bingung karena ada yang mencarinya.
" Ngga tahu juga Fin, soalnya yang mencari kamu itu seorang laki-laki." Jawab Siska.
Fina yang mendengar jawaban dari teman kerjanya itu mengerutkan keningnya. Karena Fina bingung siapakah yang mencarinya dan itu adalah seorang pria.
" Lebih baik kamu tinggal sebentar, temuin orang itu, nanti perkejaan mu biarkan aku saja yang kerjakan."
" Terimakasih Sis. kalau gitu aku temuin orang dulu." Ucap Fina. Fina meninggalkan perkejaan untuk menemui orang yang mencari nya.
Fina bingung saat melihat punggung seseorang yang sedang membelakangi nya dan Fina merasa seperti mengenal nya.
Fina tidak bisa melihat wajahnya, karena pria itu sedang membelakanginya.
" Apa anda mencari saya mas." Tanya Fina sopan.
Orang itu yang mendengar pertanyaan Fina membalikkan tubuhnya." Iya saya mencari mu." Jawab pria itu.
" Kak Fadil." Ucap Fina terkejut saat melihat Fadil. Pria yang beberapa hari yang lalu mengakuinya sebagai calon istrinya. Tapi setelah kejadian itu, Fadil tidak pernah lagi menemuinya selama beberapa hari ini, sampai membuat galau karena perasaannya sedang di permainkan oleh perkataan pria didepannya.
" Apa aku mengganggu perkejaan mu." Tanya Fadil, menyadarkan Fina yang sedang terdiam sambil menatap kearah Fadil.
" Hmm, bisa di bilang sih iya." Jawab Fina jujur.
" Maaf, aku menganggu perkejaan mu. Tapi kamu bisa melanjutkan nya." Ucap Fadil merasa tidak enak karena menggangu perkejaannya gadis didepannya itu, karena kedatangannya.
" Tidak apa-apa kak." Jawab Fina." Emangnya kenapa kakak mencari ku, apakah ada urusan." Tanya Fina balik.
" Iya, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan, tapi kalau kamu sedang sibuk, tidak apa-apa bisa lain kali aku membicarakannya." Jawab Fadil.
" Ngga apa-apa kalau kakak mau ngomong, kakak bisa beritahu aku sekarang." Jawab Fina." Emangnya kak Fadil mau bicarakan apa."
" Aku ingin meminta maaf kepadamu, soal kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana aku mengakui mu sebagai calon istri. Sungguh aku tidak sengaja melakukannya saat itu. dan maaf aku baru bisa meminta maaf sekarang, karena kemarin aku takut untuk menemui mu, aku takut kalau kamu marah kepadaku." Jelas Fadil kembali.
Mendengar kata maaf yang Fadil ucapakan membuat Fina tersenyum." Ngga apa-apa kak. Aku sudah memaafkan kak Fadil. Karena aku tahu kalau kak Fadil tidak sengaja melakukannya." Jawab Fina.
Sebenarnya Fina merasa kecewa saat Fadil meminta maaf, karena Fina menginginkan perkataan kemarin menjadi nyata.
Apa ia terlalu bodoh mengharapkan cinta seseorang yang belum tentu mencitai nya.
" Terimakasih Fin, karena kamu sudah mau memaafkan ku. Dan sekali lagi maaf soal beberapa hari yang lalu." Ucap Fadil kembali.
" Sudahlah kak tidak usah meminta maaf lagi, karena aku sudah memaafkan mu." Jawab Fina." Karena kak Fadil sudah berada di restoran ini, bagaimana kalau kak Fadil pesan makanan saja bagaimana." Ucap Fina mengalihkan perbincangan mereka, agar Fadil tidak membahas soal waktu itu.
" Boleh, aku mau pesan nasi goreng sama jus jeruk, sekalian sama pudingnya." Jawab Fadil yang menyetujui saran Fina.
__ADS_1
" Oke, kalau gitu kak Fadil tunggu sebentar. Setelah semuanya siap, kami akan mengantarkannya." Ucap Fina.
Setelah menuliskan pesan Fadil. Fina melangkah kearah belakang untuk menyiapkan pesan dari Fadil.
" Kamu gadis yang baik Fin, aku tidak salah menyukaimu." Batin Fadil tersenyum, menatap punggung Fina yang sudah pergi menjauh.
.
.
Fazar yang baru pulang dari kantor kebetulan lewat didepan penjual martabak. Karena mengingat istrinya, membuat Fazar menepikan mobilnya untuk membeli terang bulan atau martabak manis, Kesukaan Wiyah.
" Pak, pesan terang bulan nya tiga. Rasa coklat, kacang. Dan terang bulan yang sepesial satu." Ucap Fazar.
" Siap mas, di tunggu ya, saya buatkan pesanan yang lain terlebih dahulu." Jawab penjual martabak itu.
" Baik pak." Jawab Fazar. yang ikut mengantri di penjual martabak yang berjualan di pinggir jalan, karena tempat jualan disitu adalah tempat kesukaan istrinya.
Saat sedang berdiri mengantri, Fazar melihat dua pria muda yang sedang mengantri sepertinya.
" Istriku akhir-akhir begitu sangat sensitif, bukan saja sikapnya tapi perasaannya juga kadang cepat sekali berubah-ubah." Cerita pria itu ke temannya. Sedangkan Fazar hanya bisa menjadi pendengar, karena kebetulan jarak mereka yang tidak terlalu berjauhan.
" Maklum lah, istrimu sedang hamil, makanya perasaannya sering sekali berubah. kadang senang, dan sedih itu bisa berubah dengan cepat, sesuai dengan sikap yang kamu tunjukkan kepadanya. Sikap nya seperti itu, karena dia sedang mencari perhatian dari mu." Jelas pria satunya." Apalagi dia sedang ngidam, pasti dia menginginkan makanan yang begitu sangat aneh menurut kita tapi menurutnya begitu sangat enak." Jelas pria itu kembali.
" Kamu benar sekali, dia sering sekali meminta makanan yang aneh saat malam hari, bahkan dia menyuruhku untuk memasak, padahal aku tidak bisa memasak. Dan kamu harus tahu, kalau dia begitu sangat menyukai makanan yang aku mesak, padahal rasanya begitu sangat tidak enak." Ucap pria itu kembali.
Sedangkan Fazar yang mendengar cerita kedua pria itu, teringat dengan tingkah istrinya yang beberapa hari berbeda. Cerita yang pria itu ceritakan dengan yang dialami oleh istrinya sama persis.
Fazar yang tadi terdiam langsung tersadar dari keterdiamnya." Eh, makasih pak. Beberapa semuanya." Tanya Fazar menerima sekeresek terang bulan itu.
" Enam puluh ribu mas."
Fazar mengeluarkan uang seratus ribu, lalu memberikannya kepada penjual martabak itu.
" Kembaliannya untuk bapak saja." Ucap Fazar sebelum meninggalkan penjual itu.
" Terimakasih mas." Ucap penjual itu tersenyum senang.
" Iya pak, sama-sama." Jawab Fazar setelah itu melangkah kearah mobilnya.
.
.
Didalam mobil, Fazar teringat dengan ucapan pria tadi, dan menyamakan dengan tingkah Wiyah.
" Apa istriku benar-benar sedang mengandung sampai membuat sikap nya berubah." Gumam Fazar. Sebenarnya Fazar curiga dengan tingkah Wiyah akhir-akhir ini yang sedikit berbeda dari biasanya.
Fazar curiga kalau istrinya itu sedang mengandung. Karena Fazar melihat gejala yang Wiyah rasakan sama seperti bundanya dulu saat sedang mengandung adiknya Fazri.
" Aku harus memeriksakan nya ke dokter, untuk mengetahui kalau istriku sekarang sedang mengandung." Gumam Fazar tersenyum.
__ADS_1
Fazar berdoa, agar apa yang dia pikirkan memang benar kalau istrinya sekarang benar-benar sedang mengandung. Karena Fazar begitu sangat mengharapkan kehadiran malaikat kecil di tengah-tengah keluarga kecil mereka.
Sesampainya didepan rumah. Para satpam yang melihat mobil Fazar, langsung membuka pagar untuk menyambut kedatangannya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fazar melangkah masuk kedalam rumah yang terlihat sepi. Fazar menoleh kiri dan kanan, untuk mencari keberadaan istrinya, kerena biasanya Wiyah seiring menyambut kedatangannya jika ia baru pulang dari kantor.
Fazar menenteng keresek terang bulannya menunju kearah ruangan keluarga. Kebetulan bu Neneng lewat.
" Baru pulang tuan." Tanya bu Neneng sopan.
" Iya Bu, baru aja." Jawab Fazar." Apa bu Neneng melihat istriku berada dimana. Karena sore ini dia tidak menyambut kedatangan ku."
" Nona Wiyah berada dikamar nya tuan. Tadi sebelum tuan pulang nona Wiyah sudah naik kelantai." Jawab Bu Neneng.
" Hmm, Terimakasih bu. Ini ada terang bulan untuk ibu dan satpam didepan, tolong di bagikan bu, saya mau naik keatas dulu." Ucap Fazar sambil memberikan satu keresek terang bulan.
" Terimakasih tuan." Bu Neneng menerima keresek itu.
" Iya bu, sama-sama." Jawab Fazar. Setelah itu Fazar naik kelantai atas.
Fazar membuka pintu kamarnya, dan dari dalam kamar Fazar bisa melihat kalau kamarnya itu terlihat begitu sangat gelap.
" Apakah istriku sudah tidur, sampai lampu nya dia matikan. Tapikan ini masih sore, kenapa dia tidur secepat ini." Gumam Fazar merasa heran, saat melihat lampu didalam kamarnya gelap.
Fazar melangkah masuk kedalam, setelah itu ia menyalakan lampunya." Sayang." Panggil Fazar saat melihat kalau didalam kamarnya tidak terdapat keberadaan istrinya." Mungkin dia sedang berada didalam kamar mandi." Ucap Fazar kembali. Fazar menyimpan jas di atas kasur, tapi pandangan tertuju pada baju kecil yang berada di atas kasur
" Kenapa bisa ada baju Beby disini." Gumam Fazar bingung saat melihat baju beby yang berada di atas kasur, membuat Fazar langsung mengambil baju kecil itu. Saat baju kecil itu terangkat, Fazar kembali melihat kalau ada sebuah kado kecil yang ternyata di tutupi oleh baju kecil.
Fazar mengabil kado itu, dan bisa melihat kalau kado itu untuknya karena tertulis ' Untuk suamiku Fazar '
Fazar membuka kadonya, karena penasaran dengan isinya.
Dan didalamnya terdapat tiga testpack yang memiliki garis dua.
Fazar yang melihat ketiga testpack itu langsung terduduk di atas kasur. Karena belum percaya dengan kabar bahagia ini, kalau istrinya mengandung. Padahal tadi ia baru saja mencurigai kalau istrinya sedang mengandung, tapi ini dia malah mendapatkan kejutan langsung dari istrinya kalau Wiyah hamil.
" Ya Allah Terimakasih atas rejeki mu dan kepercayaan yang engkau berikan untukku dan juga istriku." Gumam Fazar menangis. Fazar menyimpan kotak kado itu, lalu duduk di atas lantai. Fazar bersujud syukur menghadap kearah kiblat, karena begitu sangat bersyukur dengan kabar bahagia ini.
Didalam sujud nya, Fazar menangis, karena begitu sangat terharu dengan kabar bahagia ini.
Sedangkan Wiyah yang melihat suaminya menangis, ikut merasa terharu, karena tahu kalau Fazar pasti bahagia dengan kabar ini.
" Kak." Fazar bangun dari sujud nya saat mendengar suara istrinya yang berada di sampingnya. Fazar yang melihat istrinya langsung berdiri, dan memeluk tubuh istrinya itu.
" Terimakasih, sayang. Terimakasih. Ini adalah kabar bahagia yang paling bahagia dalam hidupku." Fazar mencium kening istrinya itu begitu sangat lama, sampai Fazar merasa begitu sangat tenang.
...----------------...
__ADS_1