Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 18


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Saat keduanya sedang gelisah, menunggu kabar dari dokter. Seorang perawat perempuan keluar dari ruangan IGD, tempat Fazar diperiksa, dengan terburu-buru.


"Dokter, bagaimana dengan kondisi pasien?" Perawat wanita itu mengabaikan pertanyaan nya, dan malah pergi kearah lain dengan langkah terburu-buru.


"Kak, bagaimana dengan kondisi abang? Apakah Abang akan baik-baik saja?" Ucap Fazri yang begitu sangat cemas dengan kondisi abangnya, yang berada didalam ruangan IGD."Aku takut terjadi sesuatu kepada Abang, kak."


"Tenanglah Zri, bang Fazar, akan baik-baik saja." Ucap Abidzar sambil memegang bahu adik sepupunya itu, untuk menenangkannya, padahal Abidzar sendiri merasa khawatir dengan kondisi Fazar sekarang."Bang Fazar, pasti akan baik-baik saja. Karena dia adalah pria yang kuat, Zri."


"Tapi aku takut, kalau Abang akan pergi seperti kak Fadil." Lirih Fazri, begitu sangat takut kehilangan kakaknya untuk yang kedua kalinya."Kenapa sih, Abang nekat betul menjadikan dirinya umpan. Sudah tau kalau musuhnya jauh lebih berbahaya." Lirih Fazri, yang mengingat ucapan Fazar yang akan menjadi umpan untuk menangkap Kevin sekertaris nya sendiri.


"Biar Abang, yang akan mengumpan Zain agar dia memberitahukan sebenarnya siapa dirinya. Walaupun kalian tau siapa dia, Jangan tunjukkan kecurigaan kalian kepada Zain, karena Abang ingin mendengar sendiri pengakuannya."


Fazri masih mengingat rencana Abang nya itu, yang ingin mengungkap siapa sebenarnya Zain. Walaupun begitu sangat berbahaya, tapi Abangnya Fazar begitu sangat nekat mencari tau. Hingga akhirnya berakhir seperti ini.

__ADS_1


Sebenarnya mereka sudah menaruh pelacak di mobil Fazar maupun jas yang Fazar pakai, untuk mengawasi Fazar. Takut-takut Zain menculik Fazar, sewaktu-waktu. Dan feeling Fazri seperti benar. Karena Zain benar-benar menculik Abangnya itu, Tapi untung saja, Fazri menyimpan pelacak di mobil maupun jas Fazar. Jadi Fazri dan Abidzar masih bisa menyelamatkan Fazar sebelum Fazar benar-benar dihabisi oleh Kevin. Walaupun mereka sedikit telat, tapi itu lebih baik daripada mereka melihat jasad Fazar.


Fazri, Fazar dan juga Abidzar. Sudah mengetahui kalau pelakunya adalah Zain. Karena sebelum Fadil meninggal, Fadil sempat membisikan nama Zain, Aldrich di kuping Fazar waktu itu.


"Sus, bagaimana kondisi Abang saya didalam?" Tanya Abidzar saat melihat perawat perempuan bersama perawat laki-laki ikut masuk kedalam ruangan IGD sambil mendorong Acare Emergency( Troli). Tapi lagi-lagi kedua perawat itu mengabaikan mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi kak, kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan kita?" Ucap Fazri sangat marah, saat melihat para perawat tadi mengabaikan mereka, dan tidak menjawab satupun pertanyaan dari mereka.


"Tenanglah Zri. Mereka bukan bermaksud mengabaikan kita, hanya saja mereka sedang berkerja untuk menolong nyawa didalam." Jawab Abidzar menenangkan Fazri, yang kini emosinya sedang tidak stabil.


"Tenanglah Zri, bang Fazar pasti akan baik-baik saja!" Tekan Abidzar, walaupun dirinya tidak yakin dengan ucapannya tersebut.


"Kak Abidzar tau dari mana, sedangkan kak Abidzar berada diluar bukan didalam!" Kini Fazri mulai terpancing emosinya. Sedangkan Abidzar membenarkan ucapan Fazri. Untuk apa dia mengatakan hal itu, sedangkan dirinya tidak tau kondisi Fazar sekarang, karena dirinya tidak berada diluar melainkan didalam."Jangan pernah memberikan harapan kak, jika anda sendiri, ragu dengan harapan yang anda ucapkan." Ucap Fazri kembali, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Fazri menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya, karena Fazri sedang menahan emosinya sekarang. Rasanya dia ingin membunuh Kevin, karena telah melukai kakaknya.


Tapi Fazri tidak ingin melihat Kevin mati begitu saja, karena dia ingin menyiksa pria itu. Sampai Kevin sendirilah yang memintanya, untuk membunuhnya.

__ADS_1


"Tunggu Kevin, aku akan membuat hidup mu serasa seperti didalam neraka." Batin Fazri.


Saat Fazri sedang melamun menunggu kondisi Fazar. Tiba-tiba saja ponsel Fazar, berbunyi. Fazri melihat kearah Abidzar, karena Abidzar lah yang memegang ponsel Fazar. Suasana yang tadi tegang, kini berubah menjadi sunyi karena keduanya sama-sama saling menatap.


"Siapa yang menelepon?"


"Wiyah." Fazri dan Abidzar sama-sama tegang saat melihat dilayar persegi panjang itu. Kalau yang menelpon ternyata Wiyah, kakak ipar mereka.


"Apa kita harus mengangkatnya? Tapi, bagaimana caranya kita menjelaskan ke kak Wiyah, tentang kondisi kak Fazar sekarang." Wajah yang tadi penuh dengan amarah, langsung berubah menjadi panik, saat melihat kalau kakak iparnya yang menelfon."Tapi, kalau kita tidak memberitahukan kondisi Abang, pasti kak Wiyah akan semakin khawatir, dan akan berfikir yang tidak-tidak tentang kak Fazar." Ucap Fazri kebingungan. Sedangkan Abidzar, hanya menatap wajah adiknya itu yang kembali berubah, yang tadi merah karena menahan emosinya, kini berubah menjadi panik.


"Kita harus memberitahukan nya, karena Wiyah perlu tau kondisi bang Fazar sekarang."


"Tapi kak, pasti kak Wiyah akan terpukul saat mendengar kondisi Abang."


"Itu lebih baik, daripada Wiyah tidak mengetahuinya sama sekali." Jawab Abidzar." Sekarang kita angkat telfon dari Wiyah, dan beritahukan, sebenarnya apa yang telah terjadi."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2