
Kesabaran membawa cinta.
" Kenapa sayang? Tanya Fazar, saat melihat tangan Wiyah yang terangkat kearahnya.
" Salim Abi, seperti biasanya." Jawab Wiyah, yang baru ingat, kalau ia melupakan kebiasaannya, yaitu salim saat suaminya pergi kerja dan pulang kerja. Kebiasaannya itu hampir tidak terlupakan sama sekali, saat suaminya itu pergi keluar.
Fazar tersenyum saat mendengar jawaban istrinya itu. Dia tau kalau ini adalah kebiasaan istrinya, yang hampir tidak terlewatkan setiap harinya.
" Masya Allah, memang istri yang solehah istriku ini, selalu mengingat kebiasaan baiknya." Ucap Fazar tersenyum sambil menciumi kening Wiyah dengan lembut.
" Seorang istri harus, tau kewajibannya bi, apalagi itu adalah hal positif, yang bisa mengharmoniskan hubungan antara suami istri." Jelas Wiyah.
" Masya Allah, kalau gitu, tiap hari Abi buat hal-hal kecil menjadi kunci keharmonisan keluarga kita sayang. Agar keluarga kita bisa sakinah, mawadah dan warahmah." Ucap Fazar.
" Insyaallah kak, kita sama-sama berdoa agar keluarga kita selalu bahagia." Fazar mengangguk membenarkan ucapan istrinya itu. Bagaimanapun keluarga yang harmonis, itu semua terletak pada kebahagiaan keluarganya. Walaupun banyak badai yang datang insyaallah rumah tangga mereka akan selalu kuat, jika mereka selalu bersama.
Kini Fazar tertuju pada kamar anak-anaknya yang terlihat kotor. Membuat Fazar menyusuri kamar anaknya itu dan melihat kalau ada pupur yang berhamburan dilantai. Fazar tau, kalau kotorannya kamar itu, karena ulah dari kedua anaknya.
" Beby Fauzan dan Beby Fazran berulah lagi, sayang?" Fazar melangkah mengambil tisu untuk membersihkan pupur yang masih berhamburan.
" Seperti biasa Abi. Keduanya akan selalu membuat kekacauan kalau sudah ditaruh dilantai." Jawab Wiyah." Abi, taruh aja. Nanti biar aku yang bersihkan!" Ucap Wiyah mencegah Fazar, yang mau membersihkan pupur dilantai.
" Ngga apa-apa sayang, biar Abi saja. Sayang fokus aja sama Beby Faeyza yang masih menyusu. Kasian dia kalau Sayang tinggal." Jawab Fazar yang mengabaikan ucapan istrinya, dan tetap melanjutkan tangannya untuk membersihkan lantai yang kotor, mengunakan tisu basah.
" Tapi Abi baru saja pulang dari kantor. Pasti Abi lagi cepek. Masa datang-datang langsung bantu aku bersih-bersih sih." Ucap Wiyah merasa bersalah. Walaupun ini bukan pertama kalinya Wiyah melihat suaminya itu membantunya seperti sekarang. Karena setiap Fazar pulang dari kantor, pasti Fazar akan membantunya seperti ini. Tapi Wiyah merasa tidak enak dengan suaminya itu. Karena setiap suaminya itu pulang, Wiyah tidak menyambutnya dan malah mengabaikannya.
" Ngga apa-apa sayang. Sayang pasti lebih capek dari pada Abi. Karena sayang mengurus tiga bayi sekaligus, tanpa bantuan siapapun, apalagi bunda lagi di rumahnya Fadil." Jawab Fazar yang mengerti bagaimana repot nya istrinya sekarang. Apalagi selama anak-anaknya mereka bisa merangkak dan mulai aktif, Wiyah sudah mulai kesusahan menjaga ketiganya.
Sebenarnya Fazar ingin mencari baby sister untuk membantu Wiyah, tapi istrinya itu malah melarangnya. Karena Wiyah ingin merawat anak-anaknya sendiri tanpa bantuan baby sister. Kerena Wiyah ingin melihat pertumbuhan anak-anaknya tanpa terlewatkan sama sekali. Bahkan sekarang Wiyah kuliah dirumah, dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Tapi masih menyempatkan waktunya untuk kuliah lewat online.
__ADS_1
Fazar begitu sangat kasihan melihat istrinya itu, tapi mau bagaimana lagi. Itu semua permintaan Wiyah, mau tidak mau Fazar hanya menurut dan membantu istrinya itu setiap makan siang, kerena itu adalah jam istirahatnya.
Sebenarnya Wiyah tidak menjaga sih kembar sendiri kerena ada bunda Sisi, serta ibu Widya. Hanya saja bunda Sisi sedang menemani Fina yang baru melahirkan satu bulan yang lalu. Sedangkan ibu Widya. Dia mengikuti suaminya di Turki, kerena ada urusan kantor.
Tepatnya sekarang ibu Widya sudah menikah tiga bulan yang lalu, dan kini ibu Widya sudah masuk ke dalam keluarga Roshan seperti bunda Sisi.
" Sekarang Sayang istirahat dulu, nanti yang berhamburan biar Abi yang bersihkan."
" Terimakasih Abi. Maaf aku malah merepotkan Abi." Lirih Wiyah sedih.
" Susttt jangan ngomong gitu sayang. Sayang nggak pernah merepotkan Abi. Karena Abi, Melakukan ini dengan senang hati. abi tau kalau sayang pasti capek seharian jagain sih kembar, dan ngga ada yang bantuin. Sekarang Sayang istirahat, karena ada Abi disini." Ucap Fazar mengusap lembut rambut istrinya, karena Wiyah memang tidak menguntungkan hijab sekarang.
Wiyah yang mendengar ucapan suaminya itu hanya tersenyum." Baik Abi, terimakasih karena sudah menjadi suami yang begitu sangat siaga menjaga kami." Ucap Wiyah mengambil tangan suaminya itu, lalu menciumnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
" Apapun Abi lakukan, yang penting kalian bahagia sayang." Jawab Fazar.
.
.
" Masakan mu selalu enak sayang." Puji Fazar membuat Wiyah tersenyum malu-malu.
" Jadi selama ini ngga enak, Bi." Jawab Wiyah balik menggoda suaminya itu.
" Bukan begitu sayang. Hanya saja ini sangat enak seperti biasanya." Jelas Fazar tidak ingin istrinya itu salah paham.
Wiyah yang melihat wajah panik dari suaminya, hanya bisa terkekeh. Karena Fazar terlihat lucu saat menjelaskan seperti tadi. Sedangkan Bu Neneng serta Mbak Fika dan mbak Alia yang melihat kebahagiaan majikan mereka hanya tersenyum, karena bahagia melihat kebahagiaan keduanya. Apalagi ketiga pembantu itu pernah menjadi saksi, seperti apa hubungan keduanya saat baru pertama menikah.
Saat sedang menikmati makan siang bersama, suara dari raungan tamu, membuat mereka mengerutkan kening mereka.
__ADS_1
" Siapa yang datang, siang-siang kayak gini Abi?" Tanya Wiyah menatap suaminya, karena jarang, orang yang bertemu saat siang hari seperti ini.
" Mungkin saja adik-adik kita sayang (adik-adiknya Wiyah) yang datang bertemu." Jawab Fazar yang sudah selesai memakan makanannya.
" Tapi tumben Bi? biasanya mereka jarang datang jam segini. Karena lagi sekolah."
" Daripada penasaran, ayo kita lihat. Siapa tau tamu penting." Ucap Fazar menarik lembut tangan istrinya itu, untuk berdiri. Lalu keduanya melangkah mendekati kearah ruangan tamu.
" Masya Allah Fin." Wiyah langsung tersenyum senang melihat sahabatnya itu, yang datang kerumah mereka. Ya, yang datang bertemu siang-siang begini adalah Fina, Fadil, bunda Sisi dan anggota baru. Yaitu bayi kecil yang kini sedang berada didalam gendongan Fadil.
Entah kenapa, bayi berkelamin perempuan itu lebih dekat dengan ayahnya ketimbang bundanya. Apalagi wajah Fadil hampir sama dengan anak perempuannya itu.
Wiyah yang melihat sahabatnya, melangkah mendekati Fina lalu memeluknya. Padahal baru empat hari yang lalu mereka bertemu, tapi mereka sudah rindu saja.
" Aku kira kamu ngga bakalan datang berkunjung Fin." Ucap Wiyah melepaskan pelukannya." Kita keruangan keluarga aja Fin, kak Fadil, bunda, biar enak ngobrolnya." Mereka hanya mengangguk lalu melangkah kearah ruangan keluarga. Mereka duduk disana satu persatu di sofa.
" Sih kembar Udah tidur, sayang." Tanya bunda Sisi menatap menantunya itu.
" Sudah Bun, mereka baru saja tidur."
" Alhamdulillah, tapi ngga rewel kan. Maaf bunda ngga bisa bantuin jagain beberapa hari ini."
" iya ngga apa-apa Bun, Alhamdulillah beberapa hari ini mereka nggak ada rewel. Karena tau kalau Oma mereka lagi keluar, untuk nemanin adik mereka." Jawab Wiyah tersenyum, sambil menatap kearah bayi perempuan yang masih tidur, tanpa terusik dengan lingkungan sekitar." Masya Allah, anaknya umi tidur ya." Wiyah mengambil alih gendongan bayi perempuan yang terlihat sangat menggemaskan itu." Masya Allah, kalau besar pasti cantik. Tapi mukanya kayak ayahnya benget ya." Ucap Wiyah membuat mereka tersenyum.
Disini, Wiyah, Fazar, Fadil dan juga Fina sepakat. Kalau mereka sudah memiliki anak maka anak-anaknya Wiyah akan memanggil bunda dan ayah ke Fadil dan Fina. Sama halnya seperti Fina dan Fadil, maka anaknya akan memanggil Wiyah dan Fazar dengan panggilan umi dan Abi. Mereka sengaja memberikan panggilan itu ke anak-anaknya, agar ikatan keluarga mereka lebih dekat lagi.
" Cup-cup, jangan nangis anaknya umi. Falisha haus ya dek." Wiyah menyerahkan Beby Falisha ke Fina, karena bayi perempuan itu menangis. Sepertinya dia kehausan.
Falisha nur Fadillah Aldevaro Roshan. Ya, itulah nama anak Fadil. Fadil sengaja mengambil namanya dan juga nama istrinya, karena Fadil sangat menyukainya.
__ADS_1
...----------------...