Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 224


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Disisi lain. Tepatnya di sebuah kamar, yang terlihat gelap dan sunyi, padahal kamar itu terdapat seorang gadis disana yang sedang duduk di atas ranjang, dengan memeluk kedua lututnya, sedangkan wajahnya dia sembunyikan dikedua lututnya.


Selama beberapa hari ini, senyum nya sekaan hilang bersama dengan kepergian orang yang dia rindukan beberapa hari ini. Apalagi orang itu sudah sah menjadi suaminya.


Tapi keluarganya sekaan tidak perduli dengannya, bahkan tidak memikirkan kebahagiaannya, makanya mereka memisahkan gadis itu dengan pria yang dia cintai, agar bisa bertunangan dengan pria lain.


" Kak." Panggil seorang gadis muda, yang baru saja masuk kedalam kamar itu, sambil membawa makanan di tangannya." Kak kenapa gelap seperti ini. Apakah kak Fina tidak membuka gordennya lagi." Gumam Anita, yang merasakan kalau kamar itu terlihat gelap. Anita melangkahkan kakinya mendekati meja yang berada di kamar itu, lalu menaruh makanan yang tadi dia bawah.


Setelah menaruh makanan yang dia bawah, Anita membuka gorden itu dengan sangat lebar, sehingga ruangan yang tadi gelap, berubah menjadi terang berkat matahari pagi ini.


" Kenapa dibuka gordennya, Nit." Tanya Fina mengangkat kepalanya sambil menatap adiknya itu.


" Biar kamar ini ngga gelap kak." Jawab Anita." Kak Fina sarapan dulu yuk, soalnya dari kemarin kakak belum ada makan." Ajak Anita, yang tau kalau Fina belum ada makan dari kemarin siang.


" Kakak ngga nafsu makan Fin, lebih baik makanannya kamu kembalikan ke belakang."


Anita menatap kakaknya itu sambil menghembuskan nafasnya. Anita tidak heran saat mendengar Fina menolak untuk makan. Karena selama dua minggu terakhir, Fina jarang sekali untuk makan. Bahkan dalam satu hari penuh, Fina tidak akan menyentuh makanan, jika tidak dibujuk.


Bahkan Fina lebih memilih mengurung diri didalam kamar ketimbang berkumpul dengan keluarganya. Padahal sekarang dia berada di rumah neneknya.


" Kak, kalau kakak ngga makan nanti kakak sakit. Apalagi selama dua minggu ini, kak Fina jarang sekali untuk makan." Ucap Anita menatap kakaknya itu." Jangan menyiksa diri kak, hanya karena keputusan keluarga, yang menolak pernikahan kak Fina dengan pria itu."


Mendengar ucapan adiknya itu, membuat Fina menatap kelangit-langit kamarnya." Kamu tidak tau, Nit. Bagaimana bahagianya ketika pria yang kamu cintai selama ini, tiba-tiba saja mengungkapkan perasaannya padamu. Padahal saat itu kamu berpikir, kalau kamu tidak akan mungkin untuk bersama dengannya. Tapi di hari itu pikiran mu salah, ketika takdir menakdirkanmu untuk bersamanya. Karena dihari itu juga, pria yang kamu sukai mengungkapkan perasaannya kepadamu."


" Dulu aku berpikir Nit, kalau cintaku akan bertepuk sebelah tangan. Tapi setelah melihat pria itu mengungkapkan perasaannya, membuat pikiranku dulu seakan hilang. Kamu tidak tau seperti apa rasanya, bahagia ketika orang yang kamu cintai ternyata membalas perasaan mu." Jelas Fina mengungkapkan isi hatinya selama ini.


Fina yang tadi menatap kearah kelangit-langit kamarnya, beralih menatap kearah Anita yang sama-sama menatap kearahnya." Aku tidak menyangka, malam dimana aku mengetahui kalau pria yang diam-diam aku sukai, ternyata menyukaiku juga."


Tapi aku tidak tau kalau malam itu juga, takdir mengikat kami dalam pernikahan hanya karena kesalahpahaman. Tapi jujur, kami benar-benar tidak melakukan apapun malam itu, walaupun malam kami sama-sama dilanda kebahagiaan. Tapi Pernikahan kemarin murni karena kesalahpahaman."

__ADS_1


Anita yang mendengar cerita kakaknya itu bisa merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh Fina. Walaupun Anita tidak tau seperti apa rasanya mencintai, dan seperti apa sakitnya ketika di pisahkan dari orang yang kita cintai.


Tapi melihat seberapa hancurnya Fina, beberapa hari ini. Membuat Anita yakin. Kalau mencintai seseorang itu bukan saja membahagiakan. Tapi mencintai seseorang itu, bisa juga menyakitkan seperti yang dirasakan oleh Fina sekarang. Fina di suruh untuk meninggalkan pria yang dia cintai, untuk menerima orang yang jelas-jelas belum pernah Fina kenal.


" Kenapa kak Fina tidak menolak saja, saat kakak di jodohkan dengan pria yang kakak sendiri tidak kenal."


" Aku tidak bisa menolak, Nit. Karena dihari dimana kak Yusuf menelfoku, untuk memberitahukan ku soal perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita. Di hari itu aku masih syok karena pernikahan tiba-tiba yang terjadi semalam. Hari itu aku begitu sangat bingung, antara memberitahukan soal pernikahanku atau tidak."


Ya, hari dimana Fina dan Fadil menikah, dan Fina saat itu masih syok karena pernikahan tiba-tiba mereka. Pagi itu juga, Yusuf menelfon nya, untuk memberitahukan soal perjodohan yang dilakukan oleh orang tua mereka dengan orang yang melamar Fina beberapa hari yang lalu.


Sebenarnya Fina ingin menolak, saat Yusuf memberitahukan perjodohan itu. Dengan beralasan sudah menikah. Tapi Fina tidak bisa melakukan itu, karena tidak berani untuk memberitahukan keluarganya lewat telfon.


Fina juga sudah mencoba untuk memberitahukan Fadil soal perjodohan yang keluarganya rencanakan, dengan cara meminta Fadil untuk memutuskan hubungan ini. Tapi Fadil tidak terlalu menanggapi ucapannya, dengan cara mempertahankan hubungan mereka. Jika saja Fadil melepaskannya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


." Jadi apa yang akan kak Fina lakukan. Sedangkan pertunangan kak Fina tinggal besok malam."


" Aku tidak tau Nit. Soalnya mau menolak juga tidak akan mungkin. Karena keluarga kita tidak ada yang mendengarkan penjelasan ku, ataupun mengaggalkan pertunangan ini, walaupun mereka sudah mendengar kebenaran yang sebenarnya."


" Kenapa ngomong kayak gitu, Anita." Ucap Fina terkejut mendengar ucapan adiknya itu.


" Harusnya keluarga kita sadar kak, kalau pertunangan ini salah. Apalagi kak Fina sudah memiliki suami. Walaupun tidak terdaftar di hukum, tapi, tidak seharusnya mereka melakukan ini. Karena sama aja mereka menipu keluarga yang melamar kak Fina." Jawab Anita." Apakah kakak tidak berpikir kalau keluarga kita egois."


Jujur sebenarnya Fina ingin mengatakan kalau keluarganya, sangatlah egois. Tapi Fina tidak bisa melakukan itu, karena bagaimanapun mereka tetap keluarga nya.


" Walaupun aku berkata seperti itu Nit, belum tentu keluarga kita akan melepaskanku kepada orang lain yang sudah berstatus suamiku. Apalagi mereka sudah memiliki pilihan yang menurut mereka baik untukku." Jawab Fina.


Kalau boleh jujur, perkataan Fina barusan, seperti sindiran halus untuk keluarganya. Hanya saja dia tidak bisa mengatakannya langsung, makanya dia berkata seperti tadi.


" Daripada kak Fina memikirkan ini, bagaimana kalau kalau kak Fina makan dulu." Ucap Anita mengalihkan pembicaraan.


" Tapi aku tidak ingin makan Nit."

__ADS_1


" Makanlah biar sedikit kak." Ucap Anita mencoba untuk membujuk kakaknya itu." Mungkin bukan untuk orang lain, tapi makanlah untuk kesehatan kak Fina sendiri. Karena kak Fina butuh tenaga untuk menagis."


Fina terlihat berpikir setelah mendengar ucapan Anita. Bagaimanapun, ucapan Anita ada benarnya. Karena bujukan Anita, akhirnya Fina mau makan. Walaupun Fina tidak nafsu untuk makan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Tidak terasa, hari ini adalah hari pertunangan Fina, bersama dengan pria yang tidak dia kenal. Bahkan namanya saja Fina tidak mengetahuinya.


Fina terlihat cantik mengunakan Kebaya gloss mint, dengan hijab berwarna senada, hanya saja warnanya sedikit lebih mudah. Wajahnya juga sudah didandani begitu sangat cantik, tapi tetap terlihat natural.


Fina menatap dirinya dari pantulan cermin rias. Dia sampai melupakan wajahnya sendiri, karena melihat wajah yang terlihat cantik.


" Kak Fadil. Apakah kamu benar-benar marah, sehingga sampai sekarang kamu tidak pernah menemuiku. Apakah kamu tau kak, kalau sebentar lagi aku akan bertunangan dengan orang lain." Lirih Fina sambil menatap dirinya di pantulan cermin." Apa, kak Fadil ngga marah. Saat istrinya kak Fadil akan pertunangan dengan pria lain." Entahlah, ada rasa kecewa, saat pria yang katanya sudah sah menjadi suaminya tidak memperjuangkan hubungan mereka. Padahal mereka sudah menikah.


" Jika kak Fadil, benar-benar ingin melepaskanku. Maka aku akan mengikutinya kak, aku ikhlas. Tapi aku ingin mendengar kata talak yang keluar dari mulut kak Fadil sendiri. Karena pernikahan ini, tidak akan putus. Jika kak Fadil tidak menjatuhkan talak kepalaku." Lirih Fina sambil menangis. Fina tidak bisa menahan kesedihannya untuk sekarang, karena rasa sakit dihatinya jauh lebih besar.


Saat Fina sedang menangis. Tiba-tiba saja pintu kamarnya di buka, dan orang yang membukanya adalah Cyra dan adiknya Anita.


Fina yang menyadari kedatangan dua orang itu, dengan cepat menghapus air matanya mengunakan tisu.


" Fina, apakah kamu sudah siap." Tanya Cyra sambil tersenyum menatap Fina lewat kaca." Masya Allah, kamu terlihat sangat cantik." Puji nya kembali.


Fina mencoba untuk memaksakan dirinya untuk tersenyum, agar keluarganya, dan calon mertuanya berpikir kalau dia baik-baik saja.


" Kak Fin, apakah kak Fina menangis." Tanya Anita yang menyadari, kalau kakaknya itu pasti baru saja menangis. Anita bisa merasakan itu, karena melihat mata Fina yang sedikit memerlukan.


" Tidak Nit, aku tidak mennagis." Jawab Fina. Yang lagi-lagi memaksakan senyumannya, demi keluarganya.


" Aku tau kak, kalau kakak pasti sedih dengan pertunangan ini. Apalagi laki-laki berstatus sebagai suami kakak tidak datang untuk mencegah pertunangan ini." Batin Anita." Seandainya kakak tau, kenapa laki-laki itu, mencari kakak. Tapi di halangi oleh papa dan kak Yusuf. Apa yang akan kakak rasakan nanti."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2