Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 159


__ADS_3

" Kamu." Fadil begitu sangat terkejut, saat melihat kalau orang yang datang menemuinya ternyata Fina.


Fina berbalik menghadap kearah Fadil yang sudah duduk di depannya, kini keduanya hanya di pisahkan oleh Meja panjang di tengah-tengah mereka.


Sedangkan Liando langsung meninggalkan keduanya, memberikan waktu untuk kedua orang itu. Liando berpikir kalau gadis itu adalah pacarnya Fadil. Jadi ia ingin memberikan waktu untuk keduanya sebagai pasangan kekasih.


" Kenapa kamu bisa berada disini, siapa yang memberitahumu kalau aku ada disini." Tanya Fadil penasaran. Karena Fadil bingung kenapa Fina bisa berada di kantor polisi, dimana dia ditahan. Padahal ia tidak memberitahukan Fina, kalau ia ditangkap polisi. Karena Fadil ingin menyembunyikan kabar penangkapan nya dari Fina, agar Fina tidak khawatir dengannya.


Fadil juga takut kalau orang suruhan ayahnya Agus akan menangkap Fina dan lebih parahnya lagi, akan menyakitinya.


Apalagi Fadil tahu seperti apa ayahnya Agus jika sudah bertindak, pasti akan menyakiti orang yang sudah mengusiknya.


" Kak Fadil tidak perlu tahu siapa yang memberitahuku. Karena aku datang kesini untuk bertanya kepada kak Fadil. Kenapa kak Fadil menyembunyikan hal ini dan tidak memberitahuku kalau kak Fadil ditangkap polisi."


" Karena ini, adalah urusanku dengan polisi Fin, bukan kamu. Jadi untuk apa aku memberitahukannya kepada mu."


" Tapi kak, karena akulah kak Fadil sampai berada disini. Andai kak Fadil tidak menolongku kemarin, mungkin kak Fadil tidak akan berada disini."


" Ini bukan salahmu Fin, ataupun kesalahan ku. Karena kemarin dialah yang bersalah.


Aku hanya ingin menolong mu dari dia, dengan memberikan nya sedikit pelajaran. agar dia bisa menghargai wanita, dan tidak berbuat semena-mena."


" Tapi karena fisiknya yang lema membuat dia masuk kedalam rumah sakit, sampai membuat dia kritis sekarang. Karena itulah, ayahnya sampai marah, dan menuntut ku, karena aku sudah memukul putranya itu." Jelas Fadil jujur, tanpa menunjukkan wajah takut nya sama sekali.


Fina yang mendengar pengakuan dari Fadil, langsung menutup mulutnya mengunakan kedua tangannya. Karena Fina tidak percaya dengan pengakuan yang Fadil berikan, kalau ternyata Agus kritis setelah Fadil memukulnya kemarin.


Bahkan Fina bisa merasakan, kalau Fadil mengatakan hal itu dengan jujur, tanpa rasa takut sama sekali.


" Benarkah itu kak Fadil, kalau Agus kritis setelah kakak memukulnya kemarin."


" Ya, karena dia pantas mendapatkan nya. Itu hukuman untuknya, karena dia telah berani menyakiti mu bahkan hampir melecehkan mu.


Pria yang seperti itu, pantas untuk di hilangkan."


" Karena berani menyentuh yang bukan memilikinya. Apalagi gadis yang mulai aku sukai." Sambung Fadil didalam hatinya, karena ia belum berani mengatakan sejujurnya, kepada Fina kalau ia menyukai nya.


" Tapi kak__"


" Kamu tenang saja, Fin, karena semuanya akan baik-baik saja. Masalah ini akan selesai. Yang perlu kamu lakukan sekarang, adalah bersembunyi. Karena ayahnya Agus pasti sudah mencari mu. Apalagi kamu akan menjadi korban dari kejatahan Agus, yang hampir saja melecehkan mu. Aku takut, Kalau ayahnya Agus akan menyakiti mu, agar kamu tidak mengaku. Maka bersembunyilah, karena aku tidak mau terjadi sesuatu dengan mu."


" Dan Kamu juga tidak perlu takut, kalau orang-orang akan memandangi sebagai wanita yang tidak baik, Karena bukti yang memperlihatkan kalau wanita itu adalah kamu. Semuanya sudah aku hapus dan kamu juga tidak akan di pandang rendah oleh orang-orang. Karena kasus ini tidak akan menyangkutkan namamu."


Ya, setelah memukul Agus. Fadil menyuruh Fiki untuk menghapus terekam cctv dimana kejadian dimana Agus hampir saja melecehkan Fina dan menyisakan dimana dirinya memukul Agus dengan brutal.


Bahkan dengan keahlian Fadil. Fadil berhasil membuyarkan wajah Fina yang sempat terlihat agar tidak terlihat kalau wanita itu adalah Fina.


Fadil sengaja menyembunyikan wajah Fina, agar orang-orang tidak memandang Fina dengan rendah. Makanya dia melakukan hal itu. Fadil juga dengan sengaja menghapus setengah dari cctv agar, memperlihatkan setengah dari rekaman cctv tanpa melibatkan Fina sama sekali.


Tapi Fadil tetap menyimpan rekaman yang aslinya, jaga-jaga kalau Agus akan melakukan kejahatannya kembali.

__ADS_1


Fina semakin di buat terkejut dengan pengakuan Fadil." Begitu baik nya dirimu kak. Sampai menutupi apa yang terjadi padaku, agar aku tidak terlibat. Bahkan dengan sengaja kamu menyembunyikan bukti itu, agar orang-orang tidak memandang ku dengan rendah." Batin Fina yang dibuat terharu dengan oleh Fadil. Yang ingin melindunginya.


Mungkin tidak akan ada pria yang sebaik Fadil, yang mengorbankan dirinya, hanya untuk melindungi orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengannya.


" Tapi kenapa kak Fadil melakukan itu, bukannya dengan bukti itu kak Fadil bisa bebas dan Agus akan tetap dijadikan tersangka karena, terbukti ingin melecehkan ku dan kak Fadil tidak akan terbukti bersalah dengan kejadian kemarin."


Mendengar ucapan dari Fina membuat Fadil langsung terkekeh." Hukum di negara ini berbeda Fin, apalagi kalau sudah bermain dengan kekuasaan. Yang salah akan dinyatakan tidak bersalah sedangkan yang tidak bersalah akan di nyatakan bersalah. Hukum disini bisa di beli Fin."


Fina yang mendengar ucapan Fadil hanya bisa membenarkan, karena apa yang Fadil ucapakan semua nya memang benar.


" Tapi, kamu tidak perlu khawatir, karena Abang ku akan bukti kejahatan Agus agar aku bisa keluar dari tempat ini. Mungkin setelah persidangan nanti, aku bisa bebas." Jelas Fadil kembali.


Fina menghembuskan nafasnya." Maaf kak, karena aku kak Fadil harus berada disini."


" Sudah jangan meminta maaf lagi, karena ini bukan kesalahan mu." Jawab Fadil." Sebaiknya kamu pulang, takut kalau orang-orang suruhan ayahnya Agus akan mencurigai kamu. karena kamu baru saja menemui ku."


" Baik kak Fadil."


.


.


Setelah mendengar jawaban dari Fadil. Fina memutuskan untuk pulang, tapi besok Fina akan datang kembali untuk menemui Fadil.


Bagaimanapun ini semua karenanya, maka dari itu Fina akan selalu bersama dengan Fadil, selama Fadil berada di kantor polisi. Tanda tangung jawab Fina.


.


.


Hawa dingin begitu sangat terasa sampai di permukaan kulit, walaupun mereka mengunakan baju yang begitu sangat tebal, tapi hawa dingin masih bisa mereka rasakan.


Fina ingin pulang kerumahnya, memutuskan untuk menerobos hujan yang masih turun dengan derasnya, agar dia bisa kembali pulang kerumahnya. Walaupun Fina harus sabar menunggu kendaraan yang lumayan mencet karena didepan sedang banjir.


" Apakah ayahnya Agus memiliki kekuasaan yang begitu sangat besar sampai kak Fadil mengatakan, kalau aku harus berhati-hati dan juga harus bersembunyi, agar tidak tertangkap oleh ayahnya Agus." Batin Fina.


Di tengah-tengah kemacetan, Fina masih memikirkan, sebenarnya siapa ayahnya Agus sampai, membuat Fadil mengatakan hal seperti tadi kepadanya.


Fina berpikir kalau Agus pasti bukan orang sembarangan sampai membuat nya terancam seperti yang di katakan oleh Fadil tadi.


Tapi siapakah Agus sebenarnya.


Saat sedang terhanyut dalam lamunan, Fina sampai tidak menyadari kalau didepannya sudah tidak ada kendaraan lagi. Karena tidak ada pergerakan dari Fina, membuat pengendara yang berada di belakang, langsung membunyikan klaksonnya, agar Fina cepat bergerak.


Fina yang sedang melamun, langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar klakson dari kendaraan yang berada di belakangnya.


Membuat Fina dengan cepat, menjalankan motornya untuk meneruskan perjalanannya di tengah kemacetan yang masih panjang.


" Aku harus mencari tahu, siapa Agus sebenarnya."

__ADS_1


.


.


Disisi lain.


Gadis muda yang sedang duduk di meja makan sambil menikmati makan hangat yang baru saja di buatkan oleh mertuanya, karena wanita muda itu sedang mengidam pengen makan makanan yang langsung di buatkan oleh sang bunda.


" Bagaimana sayang apakah masakan bunda enak."


Wiyah yang sedang mengunyah makanannya, melihat kearah mertuanya itu, sambil tersenyum.


" Sangat enak bunda, masakan bunda pokonya yang nomor satu." Jawab Wiyah dengan mulut masih di penuhi oleh makanan.


Sedangkan bunda Sisi yang melihat tingkah menantunya itu hanya bisa tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya kecil. Merasa lucu dengan tingkah Wiyah.


" Alhamdulillah, kalau Wiyah suka dengan masakan bunda."


Bunda Sisi ikut senang dengan kebahagiaan yang menantunya itu rasakan, apalagi ngidamnya menantunya itu membuat dirinya ikut serta, hal itu paling dinantikan oleh bunda Sisi. Apalagi ini cucu pertama untuknya.


" Kalau Wiyah suka besok bunda masakan lagi buat Wiyah."


" Boleh Bun."


Wiyah kembali menikmati makanannya, sampai di dalam piring itu habis tak tersisa.


" Alhamdulillah." Ucap Wiyah setelah menghabiskan makanannya. Bunda Sisi yang melihat menantunya sudah menghabiskan makanannya, langsung memberikan segelas air minum.


" Terimakasih bunda, maaf aku sudah merepotkan bunda." Lirih Wiyah merasa tidak enak.


" Tidak usah dipikirkan, karena bunda tau kalau ini bukan kemauan kamu. Tapi kemauan janin dalam kandungan kamu yang ingin bermanja-manja dengan nenek nya. Maka nikmatilah selama kehamilanmu, karena hal-hal yang seperti ini paling dinantikan oleh setiap ibu hamil, karena mereka ingin selalu di manjakan."


" Benarkah itu Bun."


" Iya sayang, bunda pernah ada di posisi kamu.". Jawab bunda Sisi, lalu mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh hijabnya.


" Tadi Fazar mengatakan kepada bunda, kalau besok bunda yang akan menemani kamu untuk memeriksakan kandunganmu di rumah sakit, karena Fazar ngga sempat untuk mengantarkan mu."


" Iya Bunda, soalnya kak Fazar pasti ngga sempat. Makanya aku meminta biar bunda saja yang mengantarkan ku kerumah sakit."


Sebenarnya Fazar bisa saja mengantarkan Wiyah untuk memeriksakan kandungannya, hanya saja Wiyah melarang suaminya itu.


Karena Wiyah menyuruh Fazar untuk fokus dengan kasus Fadil. Kalau urusan dengannya, ia bisa pergi bersama dengan bunda Sisi.


Nanti kalau kasus Fadil, sudah selesai maka Fazar bisa ikut menemaninya untuk memeriksakan kandungannya.


Sedangkan Fazar hanya menurut apa yang dikatakan oleh istrinya itu, ia tidak menolak ataupun protes. Karena Fazar tau kalau istrinya itu pasti tidak mau di bantah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2