
Seorang pria muda, sedang duduk di balkon kamarnya, sambil menatap kearah langit.
Pria itu masih mengingat, dimana pertemuan nya dengan gadis kecil yang begitu sangat dia rindukan selama berbulan-bulan ini.
" Aku merasa kalau kamu tidak baik-baik saja Naila." Gumam Fazri menatap hamparan bintang di langit.
Entah kenapa perasaan Fazri mengatakan kalau Harum sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya. Terlihat dari tatapan nya tadi. Bahkan Fazri merasa kalau apa yang Harum ceritakan tadi hanyalah kebohongan semata.
" Besok aku harus menemui Naila, untuk mengecek kalau dia benar-benar bahagia dengan keluarga barunya atau tidak."
Ya, Fazri berencana untuk mencari tau. Kalau gadis kecil itu bahagia dengan keluarga barunya yang atau tidak. Karena Fazri takut kalau sampai Harum berbohong padanya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Jika Fazri sedang memikirkan bagaimana kabar Harum sekarang. Maka berbeda dengan Fadil yang sedang memikirkan, bagaimana persidangannya besok. Yang menentukan apakah ia bersalah atau tidak.
Ya, besok adalah persidangan Fadil. Karena itulah Fadil merasa begitu sangat tidak tenang malam ini, karena besok adalah ketentuan dirinya, apakah bersalah atau tidak.
Tapi yang Fadil tidak tau, kalau Fazar sedang merencanakan sesuatu, dan besok adalah ketentuan nya.
" Apapun yang terjadi besok di pengadilan. Aku akan tetap menerimanya." Gumam Fadil. Setelah itu dia berdiri dari duduknya, untuk melakukan shalat isya, karena dia belum shalat tadi. Fadil juga tidak lupa mengajak teman-temannya yang memiliki keyakinan yang sama sepertinya. Karena teman satu ruangan dengannya ada dua orang yang memiliki keyakinan yang berbeda seperti Fadil.
.
.
Sama halnya dengan Fadil. Fina juga merasakan hal yang sama, seperti, Fadil. Karena perasaan yang berdebar-debar dari tadi. Dia begitu sangat tidak tenang, karena besok dia akan menjadi saksi akan kejahatan Aldrich dan menjadi pembela untuk Fadil.
Fina jadi tidak sabar, Fadil bisa bebas. Dan Fadil tidak akan dituduh lagi, sebagai pria yang melakukan kekerasan kepada orang.
" Ya Allah, semoga persidangan besok berjalan dengan lancar. Dan kak Fadil bisa bebas, Karena kak Fadil tidak bersalah ya Allah." Doa Fina.
🌹🌹🌹🌹🌹
Fazar yang melihat wajah keterkejutan istrinya yang terlihat sangat menggemaskan, hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Apalagi istrinya itu terlihat memejamkan matanya.
Fazar tau kalau istrinya itu belum percaya akan kedatangannya yang secara tiba-tiba dan mengira kalau dirinya hanya halusinasi nya saja.
Fazar berdiri dari duduknya, melangkah mendekati istrinya itu lalu menarik istrinya untuk masuk kedalam pelukannya.
Sedangkan Wiyah yang ditarik secara tiba-tiba, dan masuk kedalam pelukan seseorang. Membuat Wiyah terkejut, sontak membuat matanya langsung terbuka.
" Kakak benar-benar udah pulang." Tanya Wiyah mengangkat kepalanya untuk menatap Fazar yang masih memeluk nya." Ini bukan halusinasiku aja kan kak, karena begitu sangat merindukan kakak." Lirih Wiyah.
Fazar yang mendengar ucapan istrinya langsung melepaskan pelukannya, lalu mendorong tubuh istrinya itu dengan pelan, agar Fazar bisa menatap istrinya itu sambil tersenyum.
__ADS_1
" Ngga sayang, Ini benar-benar kakak. Benar-benar suami yang sayang rindukan beberapa hari ini, dan sayang juga ngga lagi berhalusinasi." Jawab Fazar.
Agar istrinya mempercayai ucapannya, Fazar langsung menghujam istrinya dengan ciuman di seluruh wajahnya. Fazar ingin membuktikan kepada istrinya, kalau dirinya benar-benar nyata.
" Sayang udah percaya kan kalau kakak benar-benar nyata, bukan halusinasi sayang seperti yang sayang pikirkan."
Merasa kalau didepannya sekarang, adalah suaminya, membuat Wiyah langsung meluk tubuh Fazar." Kakak, aku sangat merindukanmu, selama beberapa hari ini." Lirih Wiyah didalam pelukan Fazar.
Entah kenapa dia begitu sangat merindukan suaminya itu, selama beberapa hari ini. Padahal mereka sering Video call.
Apa karena bawaan janin dalam kandungannya, membuat Wiyah sangat merindukan suaminya.
Fazar membalas pelukan istrinya itu, mengusap punggung Wiyah dengan lembut." Kakak juga merindukan sayang, Maaf kakak pergi terlalu lama." Ucap Fazar merasa bersalah, karena meninggalkan istrinya terlalu lama. Padahal Fazar hanya pergi empat hari. Tapi mereka merasa sudah berbulan-bulan, tidak bertemu.
Wiyah tidak menjawab ucapan suaminya, karena dia sedang menikmati aroma yang dia rindukan beberapa hari ini. Apalagi pelukan ini, rasanya Wiyah tidak ingin melepaskan nya.
" Sayang. Kakak, punya sesuatu buat sayang."
" Apa itu kak." Tanya Wiyah penasaran, saat Fazar sudah melepaskan pelukannya.
Fazar melangkah sambil memegang tangan istrinya, membawanya kearah kasur.
Sesampainya di samping kasur. Fazar mengambil buket bunga yang sudah di rangkai dengan cantik.
Satu buket bunga mawar merah dan mawar putih, kesuksesan istrinya dan juga dirinya.
Kata Fazri. Wiyah dan adiknya itu yang menanam bunga itu, sebelum mereka berangkat ke Jepang beberapa bulan yang lalu.
Sedangkan Wiyah yang melihat buket bunga yang Fazar pegang, langsung berbinar bahagia. Ia tidak menyangka kalau suaminya akan membawakan rangakaian bunga yang begitu sangat cantik untuknya
" Makasih kak, bunganya begitu sangat cantik." Dengan senang hati Wiyah menerima buket bunga itu. Tidak lupa senyumannya yang mengembang memperlihatkan dataran gigi rapih nya.
" Kakak, senang kalau, sayang suka dengan buket bungnya." Jawab Fazar ikut tersenyum." Tapi sayang, Ada satu lagi, hadiah untuk sayang, dan saya pasti suka dengan hadiah yang kedua ini."
Wiyah langsung menatap suaminya itu, saat Fazar mengatakan kalau masih ada hadiah untuknya.
Fazar mengambil paper bang yang berisi kalung yang tadi dia beli, lalu ia berikan kepada Wiyah.
" Apa ini kak." Tanya Wiyah saat paper bang itu sudah berada ditangannya.
" Buka sayang, nanti sayang tau isinya."
Karena penasaran, Wiyah mengambil isi dari dalam paper bag itu, yang ternyata berisi sebuah kota yang berukuran kecil, yang di bungkus dengan cantik.
" Coba sayang, buka apa apa isinya."
__ADS_1
Wiyah membuka kertas yang menutupi kotak itu. Setelah berhasil membukanya. terdapat sebuah kota kecil berwarna putih. Wiyah kembali membuka kotak itu. Dan menemukan sebuah kalung yang sangat indah, yang memiliki liontin bunga sakura.
Mata Wiyah langsung berkaca-kaca saat melihat kalung itu. Ia tidak menyangka suaminya memberikan hadiah yang begitu sangat indah untuk nya" Apakah ini untukku, kak."
" Iya sayang, itu untukmu. Apakah sayang suka." Wiyah langsung berhambur didalam pelukan suaminya, karena begitu sangat terharu.
" Terimakasih kak, untuk hadiahnya. Ini sangat cantik, aku menyukainya."
" Iya sama-sama sayang. Kakak senang kalau sayang menyukainya." Fazar begitu sangat senang, karena istrinya juga, begitu sangat menyukai kalung itu.
" Sini, biar kakak yang pasangkan." Ucap Wiyah setelah Fazar melepaskan pelukannya.
Fazar membantu membuka mukena istrinya yang belum istrinya itu lepas. Lalu memasangkan nya di leher jenjang Wiyah.
" Sangat cantik, seperti orang yang pakai." Ucap Fazar saat melihat kalung itu tampak cantik, saat terpasang di leher istrinya.
" Terimakasih kak." Wiyah hanya bisa tersenyum malu-malu mendengar pujian dari suaminya itu. Padahal Fazar sudah sering memujinya.
Sedangkan Fazar merasa gemas sendiri saat melihat wajah malu-malu dari istrinya itu. Rasanya ia ingin membawa di ketempat yang sangat menyenangkan, karena beberapa hari ini mereka berpisah dan Fazar tidak merasakan itu.
" Kenapa sih, istriku ini terlihat begitu sangat menggemaskan saat sedang malu seperti ini. Kakak jadi kepingin sesuatu." Fazar kembali menghujam wajah istrinya dengan ciuman, karena begitu sangat menggemaskan, sedangkan Wiyah merasa geli, tapi dia hanya pasrah saat suaminya menciumi nya dengan begitu sangat lembut.
" Tapi kak, aku juga punya sesuatu untuk kakak." Ucap Wiyah setelah Fazar berhenti mencium seluruh wajahnya. Wiyah baru mengingat kalau ia ingin memberikan sesuatu untuk suaminya itu." Kakak, pasti senang dengan hadiah yang aku berikan."
" Apa itu sayang, Kakak jadi penasaran."
" Ada kak. Nanti aku akan berikan ke kakak. Tapi kakak mandi dulu, setelah itu shalat isya. Baru kakak mendapatkan hadiah."
" Kenapa ngga sekarang sayang, kan kakak penasaran."
" Nanti aja kak. Lebih baik kakak mandi dulu, Soalnya kakak udah bau asem."
" Masa sih sayang, perasaan kakak ngga bau, walaupun ngga mandi selama satu minggu, Kakak akan tetap wangi." Ucap Fazar sambil mencium kedua ketiak nya.
" Kakak... Cepat mandi sekarang, atau aku tidak akan memberikan kakak hadiahnya." Wiyah kesal mendapatkan jawaban dari suaminya itu, bukannya pergi mandi. Tapi Fazar malah memberikan dia jawaban yang membuatnya kesal.
" Iya sayang, maaf. Kakak pergi mandi nih." Jawab Fazar merasa takut melihat wajah istrinya yang terlihat lucu saat marah.
" kakak." Tegur Wiyah kembali saat melihat suaminya itu belum pergi kekamar mandi, malahan Fazar hanya diam sambil menatapnya.
Bukan nya menjawab, Fazar malah membukukan tubuhnya agar sejajar dengan perut sang istri itu.
" Dek, Abi takut. Soalnya ummi marah-marah, tapi terlihat semakin cantik. Abi jadi makin cinta sama ummi kamu, dek." Bisik Fazar, tapi masih bisa didengar oleh Wiyah. Setelah mengatakan itu, Fazar langsung melangkahkan kekamar mandi, Takut istrinya itu kembali mengomel.
Sedangkan Wiyah hanya bisa menggeleng melihat tingkah suaminya itu." Ummi juga mencintai abimu, sayang.
__ADS_1
...----------------...