
Selesai makan malam dan membantu Bu Neneng membersihkan meja, kini Wiyah melangkah kearah ruangan tamu. Karena Wiyah ingin duduk di rungan tamu sambil menemani Fazri yang sedang mengerjakan tugasnya di depan televisi yang menyala tapi tidak ada yang menonton televisi itu karena Fazri lebih fokus pada tugas sekolahnya.
Padahal begitu sangat mubajir jika menyalahkan televisi tapi tidak di tonton karena orang yang menyalakannya lebih fokus pada tugas sekolahnya.
" Lagi ngerjain apa Fazri." Tanya Wiyah yang sudah duduk di sofa panjang. Wiyah bisa melihat kalau Fazri yang sedang duduk di atas sofa bersama dengan laptop di tangannya.
Fazri yang mendengar ada yang bertanya padanya membuat Fazri melihat kearah samping yang terdapat Wiyah yang sedang duduk di sofa panjang sambil menatap dirinya.
" Aku lagi kerjakan tugas sekolah kak." Jawab Fazri membuat Wiyah mengangguk mengerti." Apa kakak tahu, mengerjakan tugas sekolah itu sangat menyulitkan, apalagi pelajaran yang bikin otak menidih karena kelamaan berfikir gara-gara pelajaran." Cerita Fazri. Padahal Fazri baru saja mengenal Wiyah beberapa hari ini, tapi entah kenapa Fazri begitu sangat nyaman jika ia bercerita kepada kakak iparnya itu. Apalagi dari dulu Fazri menginginkan seorang kakak perempuan yang bisa memasak untuknya dan juga menemaninya mengerjakan tugas seperti malam ini.
Tapi permintaan Fazri tidak bisa di kabulkan karena kedua abangnya seorang pria. Tapi Fazri begitu sangat bersyukur karena memiliki kakak ipar seperti Wiyah. Bukan saja baik dan pintar masak. Tapi kakak iparnya itu pengertian dan penyayang, Fazri begitu sangat senang dengan sifat Kakak iparnya itu.
Sedangkan Wiyah yang mendengar curhatan dari Fazri hanya bisa tersenyum kecil." Itulah susah senangnya menjadi seorang pelajar. Jika kita mendapatkan tugas yang sulit, maka kita akan pusing mengerjakannya. Tapi jika tugas itu begitu sangat mudah, maka kita dengan senang hati bisa mengerjakan tugas itu." Jelas Wiyah yang pernah merasakan bagaimana sulitnya saat dirinya dulu menjadi seorang pelajar. Apalagi tugas dari guru membuatnya sakit kepala. Tapi Wiyah bisa mengerjakannya dengan sangat mudah dan bersyukur dengan jawabannya yang membuat dirinya bisa mendapatkan beasiswa di universitas hukum.
" Kakak benar sekali itulah susah senangnya jika menjadi seorang pelajar sepertiku." Ucap Fazri membenarkan ucapan dari Wiyah." Tapi kak, bagaikan dengan kuliah kakak apa sama sulitnya." Tanya Fazri yang begitu sangat penasaran.
__ADS_1
" Hmm, sebenarnya tugas kuliah lebih sulit. Tapi jika kita mengerjakan tugasnya dengan tenang, kita bisa mendapatkan hasil yang bagus." Jelas Wiyah." Tapi jika kamu menginginkan hal yang lebih cepat mungkin kamu bisa meminta teman mu untuk membantumu."
" Apa kakak pernah meminta bantuan kepada teman kakak untuk mengerjakan tugas kuliah kakak." Tanya Fazri membuat Wiyah menggeleng.
" Tidak pernah, karena kakak lebih senang mendapatkan nilai dari hasil kerja keras kakak sendiri walaupun tidak terlalu bagus. Daripada bagus tapi hasil meminta bantuan dari orang lain." Jawab Wiyah membuat Fazri mengangguk mengerti.
" Kalau gitu aku mau seperti kakak, mengerjakan tugas dari guru tanpa bantuan dari orang lain." Ucap Fazri menutup laptopnya.
Wiyah yang melihat itu mengerutkan keningnya bingung." Tapi kenapa laptopnya kamu tutup." Tanya Wiyah bingung.
selama ini Fazri lebih senang menyontek dengan teman-temannya daripada mengerjakan tugasnya sendiri
Wiyah yang mendengar ucapan dari Fazri hanya bisa tersenyum." Kalau gitu biar kakak bantu. Anggap saja kakak sebagai guru mu bukan sebagai kakak ipar mu." Ucap Wiyah menawarkan dirinya untuk membantu Fazri. Sedangkan Fazri dengan senang hati menerima tawaran dari Wiyah.
" Tidak apa kak, aku lebih senang seperti itu." Jawab Fazri sambil tersenyum.
__ADS_1
Kini Fazri mengambil laptop satunya bersama dengan beberapa buku di atas meja.
Sedangkan Wiyah mematikan televisi yang hanya menyala karena tidak mau mubazir akan listrik. Setelah itu Wiyah membantu Fazri mengerjakan tugasnya sambil.
Wiyah senang kalau Fazri dengan senang hati mau menerimanya sebagai kakak iparnya. Padahal Fazri baru mengenalnya, tapi Fazri sudah begitu sangat akrab dengannya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
" Tolonglah nak, bantu Fadil sebagai pendonor untuknya." Minta Bunda Sisi sambil menatap kearah pria muda itu yang mungkin usianya baru dua puluh tahun.
" Tidak bisa, aku sudah berjanji kepada papi kalau aku tidak ada hubungannya dengan keluarga anda tente Sisi. Jadi tolong jangan memaksaku untuk menjadi pendonor untuk Fadil." Tolak pria muda itu dengan wajah dinginnya, yang ingin segera meninggalkan rumah sakit.
" Tapi nak, kasian Fadil. Dia membutuhkan mu." Ucap bunda Sisi yang kini kembali memohon sambil menutupi rasa malunya karena bunda Sisi lebih memikirkan bagaimana dengan keadaan Fadil yang tidak bisa mendapatkan pendonor, padahal sang pendonor sudah ada.
" Aku tidak bisa. Tante Sisi, bisa mencari pendonor yang lain tapi bukan aku." Tolak pria itu kembali, setelah itu ia melangkah meninggalkan Bunda Sisi yang kini menatap pria muda itu dengan kesedihan.
__ADS_1
" Ya Allah bagaimana dengan keadaan putraku sekarang.