Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 239


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


" Hihihi, kaget ya Rum. Maaf ya." Ucap Abidzar sambil terkekeh. Apalagi merasa lucu saat melihat wajah itu terlihat kesal, karena ulah nya.


" Mikirin apa sih, sampai serius benget mikirnya Rum." Tanya Abidzar sambil duduk disebelah Harum.


" Lagi mikirin pertanyaan Rafa sama Rafi tadi om. Harum jadi ikutan bingung jadinya."


" Emangnya Rafa sama Rafi tanyakan apa sih, sampai kamu ikutan bingung."


" Rafa sama Rafi tanya ke Harum, apa itu adopsi om. Soalnya tadi mereka dengar, kalau Harum di adopsi sama om tampan dan juga kak Wiyah. Terus mereka tanya sama Harum, apa itu adopsi." Jelas Harum." Emangnya om tau apa itu adopsi."


Abidzar tersenyum mendengar pertanyaan gadis kecil itu. Dia tau, kalau anak-anak seumuran nya pasti banyak bertanya dengan pertanyaan yang mereka belum mengerti, seperti ini." Emangnya kalau om jelaskan, Harum bakalan ngerti." Tanya Abidzar sambil tersenyum.


" Iya dong om, Harum bakalan ngerti. Kan Harum pintar." Jawab Harum dengan polosnya, membuat Abidzar jadi gemas sendiri.


" Gemas benget sih." Abidzar mengacak-acak jilbab Harum dengan gemas." Adopsi itu, artinya. Dimana anak-anak yang tidak memiliki orang tua akan di angkat oleh orang lain untuk menjadi anak mereka. Sama seperti yang dilakukan oleh om tampan, dan juga kak Wiyah, yang mengadopsi Harum untuk menjadi anak mereka."


Terlihat kalau gadis itu tampak berpikir." Apa Harum akan menjadi anak kak Wiyah, bukan adiknya lagi om." Abidzar hanya mengangguk." Artinya Harum sudah menjadi anak om tampan dan juga kak Wiyah, Karena Harum sudah diadopsi." Terlihat kalau Harum terkejut, saat dia sudah mengerti apa yang Abidzar maksud." Bukannya kak Wiyah dan om tampan akan memiliki dedek bayi, terus untuk apa kak Wiyah mengadopsi Harum."


Abidzar kembali tersenyum. Dia tau kalau Harum adalah gadis yang pintar, makanya setiap perkataan orang, dia akan cepat memahaminya. Seperti yang mereka bahas ini.


" Walaupun kak Wiyah sudah memiliki dedek bayi, tapi Harum akan tetap menjadi anak pertama mereka. Karena kak Wiyah dan om tampan sudah sepakat mengadopsi Harum menjadi anak mereka, dan putri dari keluarga ini."


" Om, apa karena Harum tidak memiliki orang tua, makanya kak Wiyah adopsi Harum karena kasihan." Tanya Harum dengan mata yang berkaca-kaca.


" Bukan seperti itu Rum. kak Wiyah dan om tampan mengadopsi Harum karena mereka sangat menyayangi Harum, bahkan mereka sudah mengagab Harum seperti anak mereka sendiri. Makanya kak Wiyah dan om tampan mengadopsi Harum." Jelas Abidzar dengan lembut, agar Harum mengerti dan juga tidak salah paham, dengan niat baik Fazar yang mengadopsi gadis kecil itu." Mereka mengadopsi Harum, agar Harum memiliki keluarga yang lengkap. Jadi bukan karena mereka kasihan sama Harum. Tapi mereka begitu sangat menyanggi Harum. Dengan Harum berada di keluarga ini maka tidak ada orang jahat yang akan menyakiti Harum seperti waktu itu, karena Harum sudah menjadi bagian dari keluarga ini."


" Ya Allah terimakasih, karena ngkau telah mengirim orang-orang baik, yang akan selalu menjaga ku." Batin Harum yang merasa terharu mendengar penjelasan Abidzar. Harum tidak menyangka kalau orang-orang di rumah ini sangat menyayanginya, padahal dia bukan siapa-siapanya mereka. Berbeda dengan bibi nya yang tega menjualnya kepada Nadila, hanya karena bibi nya tidak ingin terbebani karena nya." Tapi om, Apakah setelah Harum di adopsi, harum tidak akan bisa bertemu dengan papa lagi, om." Walaupun Harum bahagia bersama dengan keluarga barunya, tapi dia masih menginginkan papa nya. Karena bagaimanapun Ardian tetaplah papa nya, walaupun Ardian tidak akan menerimanya.


" Tentu masih bisa Rum. Tapi mereka tidak bisa mengambil Harum dari keluarga baru Harum, selain atas ijin om tampan atau kakak Wiyah."

__ADS_1


" Benarkah itu om, artinya Harum tetap bisa ketemu sama papa nantinya." Abidzar hanya mengangguk saja. Ardian sangat menyukai gadis kecil didepannya itu, Karena setiap perkataannya, pasti Harum dengan cepat mengerti.


" Om, jika Harum sudah di adopsi sama om tampan dan juga kak Wiyah. Apakah Harum harus memanggil kak Wiyah dengan panggilan lain, bukan kakak lagi."


" Kalau itu terserah Harum, yang mana menurut Harum nyaman dengan panggilannya. Mau panggilan lain, atau kakak itu menurut kak Wiyah sama saja, yang penting Harum bahagia." Sambung seseorang yang membalas pertanyaan Harum barusan.


Abidzar dan Harum sama-sama menoleh kearah sumber suara, untuk melihat siapakah orang yang sudah menjawab pertanyaan gadis kecil itu tadi.


" Papi." Ucap keduanya saat mengetahui kalau ternyata yang menjawab pertanyaan tadi adalah tuan Aslan.


" Kayaknya asik benget ya ngobrol nya." Ucap tuan Aslan sambil duduk di sofa didepan keduanya.


" Iya papi, seru benget. Soalnya Harum banyak bertanya tadi." Ucap Abidzar sambil terkekeh.


" Tanyakan apa sih, papi jadi ikut penasaran." Sambung tuan Aslan yang memasang wajah penasaran nya.


" Ade deh, papi. Iya ngga Rum" Jawab Abidzar sambil menoleh kearah Harum.


Sedangkan Harum hanya mengangguk. Walaupun dia sudah dekat dengan tuan Aslan, tapi Harum masih merasa ragu untuk berbicara banyak dengan tuan Aslan. Sedangkan Abidzar, Harum sudah jauh lebih akrab, karena Abidzar sering mengajaknya bermain dan mengobrol, bahkan banyak lagi yang Abidzar lakukan untuk berdekatan dengan Harum.


" Sepertinya kedatangan Harum, banyak memberikan perubahan untukmu Abidzar." Batin tuan Aslan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Kamar dilantai atas.


Fadil semakin meneruskan permainannya. Dia mengikuti insting sebagai seorang laki-laki. Bahkan sekarang jilbab istrinya sudah terlepas sehingga rambut panjang sampai di bawah bahu tergerai indah. Sepertinya Fadil sudah lihai bermain, padahal baru kali ini dia melakukannya.


Tok


Tok

__ADS_1


Suara ketekunan pintu, menghentikan Fadil, yang ingin meneruskan permainannya. Padahal Fadil baru saja ingin membuka gaun pengantin itu.


Sedangkan Fina membuang wajahnya, karena dia merasa malu atas kejadian tadi. Sungguh Fadil sangat agresif barusan. Jika saja tidak ada yang mengetuk pintu, mungkin habislah Fina siang ini.


" Siall. Siapa sih yang mengagguku." Umpat Fadil kesal. Fadil juga belum mengeser tubuh dari atas tubuh kecil Fina. Fadil kesal karena ada yang mengganggu kegiatan yang baru kali dia rasakan.


" Kak." Cicit Fina yang masih berada di bawah kungkungan Fadil. Fadil yang mendengar namanya di panggil melihat kearah istrinya, dan Fadil tersenyum saat melihat wajah itu memerah bagaikan tomat yang baru akan matang.


Sungguh istrinya sangat cantik saat seperti ini, dan kejadian tadi membuat Fadil jadi tersenyum sendiri. Padahal niatnya tadi hanya ingin mengerjai istrinya itu, tapi dia malah masuk kedalam permainannya sendiri.


" Permen jelly ini sangat manis." Bisik Fadil tepat dikuping istrinya itu." Permen jelly saja sudah manis apalagi yang lain." Sungguh bisikan Fadil, membuat tubuh Fina menegang.


Baru saja ber***uman, dan men****bunya seperti tadi, Fina sudah merasakan hal yang aneh, apalagi yang lain. Sungguh Fina tidak bisa memikirkan hal itu.


" Kak, bergeser lah, sepertinya ada yang mau bertemu dengan kita." Ucap Fina mencoba keluar dari dekapan Fadil.


" Nanti saja Beby, aku masih mau melanjutkannya."


" Tapi kak, pasti orang itu sudah menunggu kita." Fina mencoba untuk membujuk suaminya itu, agar mau melepaskannya.


" Biarkan saja Beby, aku masih ingin seperti ini." Fadil ingin kembali melakukannya, hal seperti tadi. Tapi kegiatannya harus terhenti, saat pintu itu kembali diketuk.


" Siaalll, siapa sih yang berani menggangguku. Apa dia tidak memiliki kerjaan lain." Umpat Fadil yang terlihat dari wajahnya kalau Fadil semakin kesal.


" Kakak sebaiknya, kakak periksa siapa yang datang. Jangan sampai ada hal penting."


Walaupun dalam tidak mau, tapi Fadil tetap bergeser dari posisinya sekarang, untuk mengecek siapakah yang berani mengganggunya.


Fadil berjalan kearah pintu. Sedangkan Fina cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan berlari mengambil baju ganti nya didalam koper, lalu dia masuk kedalam kamar.


" Alhamdulillah aku aman hari ini, tapi tidak untuk nanti malam." Gumam Fina sambil bersandar pada pintu.

__ADS_1


Dia masih bersyukur masih aman hari ini, tapi tidak untuk nanti malam.


...----------------...


__ADS_2