
Fazri melihat bangunan yang kemarin dia datangi bersama dengan Abidzar.
Jika kemarin ia datang bersama dengan Abidzar. Maka berbeda dengan hari ini. Karena Fazri datang sendiri, bersama dengan satu bodyguardnya.
Sedangkan Abidzar, dia sedang menghadiri pengadilan kakak keduanya. Yaitu Fadil.
Fazri melangkah masuk kedalam rumah sakit. Saat Fazri melangkah kearah resepsionis banyak orang-orang yang memperhatikannya. Karena pemuda itu membuat orang-orang disana banyak yang menyukainya, apalagi remaja yang seusianya.
Fazri melangkah kearah resepsionis. Untuk menanyakan, keberadaan keluarga Naila,
Hanya saja ia lupa. Kalau ia belum menanyakan ruangan dimana keluarga Naila dirawat. Jadi bagaimana dia akan bertemu dengan Naila, sedangkan dirinya saja tidak tau tepatnya dimana.
" Astaghfirullahaladzim, bodoh sekali kamu Zri. Masa kamu sampai lupa untuk menanyakan ruang rawat keluarga Naila." Gerutu Fazri kesal pada dirinya sendiri." Jadi untuk apa aku datang kesini sedangkan ruangan dimana keluarga Naila sendiri, kamu lupa untuk menanyakannya."
Sedangkan bodyguard yang mengikuti Fazri, tampak bingung saat melihat tuan mudanya itu berbicara sendiri." Ada apa tuan."
" Tidak ada apa-apa, pak."
Bodyguard itu hanya mengangguk, mendengar jawaban dari Fazri. Bodyguard itu kembali diam, dan tidak bertanya lagi.
Fazri sedang memikirkan, bagaimana ia akan bertemu dengan Naila. Sedangkan ia lupa meminta, nama atau alamat dimana keluarga Naila dirawat.
Lama terdiam, Sampai satu ide muncul di kepalanya.
" Pak, tolong ambilkan ponsel saya." Suruh Fazri menatap kearah bodyguard itu.
" Baik tuan." Bodyguard itu mengangguk, lalu mengambil barang yang Fazri minta.
" Terimakasih pak." Fazar meraih ponselnya mengunakan tangan kirinya. Lalu mencari sesuatu yang berguna.
" Ketemu. Untung saja belum terhapus." Gumam Fazri saat menemukan apa yang dia cari." Semoga saja mereka mengenalmu Naila."
Fazri melangkah mendekati resepsionis.
" Ada yang bisa di bantu, mas." Tanya penjaga resepsionis dengan ramah.
" Maaf Mbak, apa mbak mengenal gadis yang berada di foto ini. Kata gadis kecil itu, keluarganya sedang di rawat di rumah sakit sini." Tanya Fazri sambil memperlihatkan foto Harum. Karena cuman jalan ini satu-satunya cara, agar dia bisa menemukan sahabat kecilnya itu.
Wanita penjaga resepsionis itu tampak berpikir, sambil menatap foto yang Fazri perlihatkan.
__ADS_1
" Saya pernah melihat mas. Tapi saya lupa dimana." Jawab wanita itu. Wanita itu kembali berpikir, sampai dia tersenyum.
" Saya baru ingat mas, kalau keluarganya di rawat disini. Kalau ngga salah gadis kecil ini memiliki paman atau sepupu yang memang dirawat di rumah sakit sini, mas. Dan saya beberapa kali melihat gadis kecil ini bersama dengan seorang wanita cantik, setiap kali masuk kedalam rumah sakit."
Fazri mengangguk mengerti, mendengar penjelasan dari wanita itu
" Mbak, tau tidak, keluarga dari gadis kecil itu, sakit apa."
" Kalau itu saya kurang tau mas, mas bisa menanyakan langsung dengan keluarganya."
" Mbak, saya boleh tau keluarga gadis kecil ini dirawat ruangan mana. Soalnya saya ingin menemui mereka, tapi saya lupa ruang rawatnya dimana."
" Tapi mas, keluarga dari gadis kecil ini, sudah tidak dirawat disini lagi mas, karena sudah dipindahkan kerumah sakit lain."
" Rumah sakit lain, Dimana itu mbak."
" Kalau itu, kami kurang tau, mas. Tapi mas bisa menanyakan langsung kepada keluarganya."
Fazri merasa begitu sangat kecewa, saat mendengar penjelasan dari wanita itu.
" Kalau gitu makasih ya mbak. Permisi."
" Bagaimana caranya Naila, agar aku bisa mengetahui kamu dimana sekarang. apa keluarga yang sekarang merawat mu adalah orang baik atau tidak. Sedangkan kamu sering sekali menghilang seperti sekarang." Batin Fazri merasa kecewa, karena dia belum menemukan sesuatu bukti, kalau keluarga yang merawat Harum adalah orang baik. Sedangkan perasaan selalu menghawatirkan gadis kecil itu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Kini Fadil sudah sampai di kantor pengadilan. Ia langsung di bawah masuk oleh para polisi.
Didalam Fadil bisa melihat, kalau Abang dan keluarganya sudah berada disana. Mereka menyemangati Fadil dengan bahasa isyarat, dan Fadil mengerti akan isyarat itu.
Fadil mengarahkan pandangannya kepada dua orang yang Fadil kenal. Yaitu tuan Aron dan seorang wanita, yaitu Nadila.
Pria paruh baya itu menatap Fadil dengan tatapan remeh, karena menganggap kalau mereka yang akan menang dalam kasus ini.
Tapi jangan bangga dulu pak. Karena kebenaran yang akan selalu menang.
Pengacara yang membelah Fadil dari tadi sudah berada disana. Ia menyuruh Fadil untuk duduk didepan, sedangkan keluarga nya berada di belakang. Mereka akan menyaksikan persidangan itu, yang entah akan berakhir seperti apa.
Tidak jauh dari tempat Fadil berada, terdapat tuan Aron dan Nadila yang dari tadi sibuk sendiri, padahal mereka, sebagai penuntut dalam kasus ini.
__ADS_1
Tidak berselang lama pengadilan di buka. Disana terdapat tiga orang pria paruh baya yang memiliki peran mereka masing-masing.
Pengacara dari tuan Aron berdiri dari duduknya, lalu mengutarakan argumen sebagai pihak penuntut.
Pengacara dari tuan Aron, terus menyudutkan dan menjelek-jelekkan Fadil, sebagai tersangka.
Sampai pengacara Fadil memotong argumen pengacara tuan Aron, dan menuturkan argumen nya.
Perdebatan kedua pengacara itu, yang saling membelah klien mereka masing-masing, membuat ruangan utama semakin panas.
" Saya memiliki bukti yang mulia, kalau tersangka bersalah dalam kasus ini. Karena tersangka melakukan pemukulan terhadap korban, tanpa alasan yang tentu. Tersangka sudah melakukan kekerasan terhadap korban yang mulia. Yang membuat korban mendapatkan luka-luka yang begitu sangat parah."
Pengacara itu memberikan hasil ronsen Aldrich kepada, ketiga pria itu.
Sedangkan ketiga pria itu meneliti dan membaca dengan teliti hasil ronsen, yang sudah dokter tuliskan, sebagai tanda bukti kekerasan yang didapat oleh Aldrich.
" Saya berpendapat, kalau tersangka sengaja melakukan kekerasan tersebut, karena luka-luka yang korban dapatkan, begitu sangat fatal, yang membuat tuan Aldrich kritis selama berapa hari. Saya berpendapat kalau tersangka sengaja menganiaya korban karena memiliki motif tersendiri."
" Maaf ya mulia. Saya keberatan dengan pendapatnya. Bukannya anda mengatakan kalau korban sengaja di aniaya oleh tersangka, karena memiliki motif tersendiri."
" Tapi bisa di lihat disini, dengan jelas. Kalau tersangka hanya ingin menolong gadis, yang hampir saja di perkosa oleh korban. Pelaku hanya ingin menolong gadis itu, dan tersangka memukul korban karena tidak sengaja yang mulia. tersangka hanya menolong gadis itu, tapi tidak berniat untuk menganiayanya."
Sekertaris yang membelah Fadil memberikan bukti setengah video, dimana Aldrich ingin memperkosa Fina, tapi Fadil datang dengan cepat dan menghentikan kelakuan buruk Aldrich dan Fadil tidak sengaja memukul Aldrich, karena refleks.
" Dari bukti itu, terlihat jelas kalau tuan Fadil hanya ingin menolong yang mulia, dan tidak bermaksud untuk memukul korban sampai segitunya. Bahkan tuan Fadil tidak ada rencana untuk menganiaya korban seperti yang di tuduhkan. Yang mulia bisa melihat sendiri, didalam video itu, Kalau jelas-jelas tuan Fadil tidak ada rencana sama sekali."
" Keberatan yang mulia. Jika benar pelaku tidak memiliki motif dalam kekerasan ini, kenapa korban bisa memiliki luka yang serius, jika pelaku tidak memiliki motif."
" Mungkin saja pelaku sudah merencanakan ini yang mulia, karena memiliki dendam tersendiri."
" Bagaimana anda tau kalau pelaku memiliki dendam tersendiri kepada korban, sedangkan pelaku saja tidak tau kalau korban akan melecehkan gadis itu."
" Saya memiliki bukti yang mulia, kalau tersangka memiliki motif dalam pemukulan ini."
pengacara tuan Aron memberikan sebuah bukti yang berupa foto, kepada tiga pria itu.
...----------------...
Author sebenarnya bingung mau nulis gimana. Jadi kalau salah, mohon di maklumi ya, soalnya author ngga terlalu paham kalau sudah masalah hu kum π.
__ADS_1