Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 212


__ADS_3

" Dokter." Panggil Wiyah saat melihat kalau dokter Melisenda hanya terdiam sambil menatap Harum.


Dokter Melisenda yang dipanggil, tersadar dari lamunannya." Iya nona Wiyah, maaf tadi saya malah melamun."


". Tidak apa dokt, tadi saya melihat dokter sedang terdiam makanya saya memanggil dokter." Jawab Wiyah." Apakah ada masalah dengan kondisi Harum dokter."


" Alhamdulillah kondisi Harum baik-baik saja nona Wiyah, tidak ada masalah lain, selain mental nya, tapi setelah melakukan beberapa terapi lagi insyaallah Harum bisa sembuh kembali." Jawab dokter Melisenda. Dokter Melisenda kembali menatap kearah Harum." Harum, apakah Harum tau kalau bola mata Harum begitu sangat cantik, seperti bola mata almarhum adiknya dokter dan juga bola mata ayahnya dokter, yang memiliki bola mata ember." Ucap dokter Melisenda, menatap gadis kecil itu.


" Apakah ayah dan juga adiknya dokter memliki bola mata yang sama seperti Harum."


" Iya Rum, bola matanya cantik seperti bola mata Harum. Kalau Harum siapa yang memiliki bola mata indah ini selain Harum sendiri." Tanya dokter Melisenda penasaran, siapa sih orang yang memiliki bola mata ini selain Harum. Apakah dari mama Harum, ataukah dari ayah Harum, yang sampai sekarang belum diketahui siapakah ayah Harum sebenarnya.


" Mama memiliki bola mata yang sama seperti Harum dokter, bola mata mama sangat mirip dengan Harum." Jawab Harum dengan Lirih karena gadis kecil itu mengingat mama nya, yang membuat dia begitu sangat merindukan mama nya itu setiap kali Harum menyebut nama mama nya.


" Maafkan dokter, yang sudah membuat Harum sedih, karena mengingat mama Harum." Ucap dokter Melisenda, yang merasa bersalah, karena perkataannya tadi membuat gadis kecil itu bersedih karena mengingat mama nya yang sudah pergi jauh darinya.


" Tidak apa dok, Harum hanya rindu saja dengan mama, makanya Harum jadi sedih setiap kali Harum mengingat mama."


Wiyah dan dokter Melisenda yang mendengar ucapan Harum, bisa merasakan kesedihan gadis kecil itu yang begitu sangat merindukan mamanya, karena di usianya sekarang mama nya sudah pergi meninggalkannya dari di dunia yang penuh dengan kekejaman, tanpa peran siapapun.


" Harum tidak boleh bersedih jika Harum mengingat mama, karena mama akan ikut bersedih disana, jika melihat anaknya ini menangis karena merindukannya." Ucap dokter Melisenda menenangkan gadis kecil itu." Harum harus berjanji kalau Harum tidak akan bersedih lagi setiap Harum mengingat mama." Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan dokter Melisenda, tanda kalau ia mengerti." Dokter jadi senang lihatnya, kalau Harum tersenyum seperti ini." Ucap dokter Melisenda yang ikut bahagia melihat senyum gadis kecil itu.


Wiyah yang berada di ruangan itu, ikut tersenyum mendengar ucapan dokter Melisenda, yang berhasil membuat Harum melupakan kesedihannya dan kembali tersenyum.


Sedangkan dokter Melisenda yang melihat senyuman Harum, mengingatkan ia pada almarhum saudaranya. Mengingat almarhum saudaranya membuat dokter Melisenda begitu sangat merindukannya, apalagi saudaranya itu sudah pergi jauh darinya selama sembilan belas tahun." Aku merindukanmu adik kecilku Eliana." Batin dokter Melisenda.


.


.


Sedangkan di luar ruangan Harum, terdapat dua orang pria berbada usia yang sedang duduk sambil menunggu seseorang, karena pagi ini terlihat berbeda. Jika biasanya orang itu sudah datang jam segini maka berbeda dengan hari ini, karena sudah jam tujuh tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran orang yang tidak lain adalah Fadil.


" Ngga kak Fadil, kak Fina, sama-sama menghilang di waktu dan hari yang sama, apakah mereka berdua janjian kalau hari ini mereka mau ngilang dulu." Gumam Fazri kesal mengingat kalau Fadil tidak datang di rumah sakit semalam untuk menemaninya menjaga Harum.


Sedangkan Fazar yang duduk di sebelah Fazri masih bisa mendengar gumaman adiknya barusan." Apakah semalam Fadil dan Fina, tidak pulang kerumah sakit."

__ADS_1


" Kalau itu aku ngga tau bang, soalnya tadi malam aku ketiduran, jadi ngga tau apakah kak Fadil dan kak Fina pulang kerumah sakit atau tidak."


" Bukannya kalian perginya pertiga semalam, lalu kenapa kamu sampai nggak tau kalau Fina dan Fadil tidak pulang kesini semalam."


" Soalnya semalam kak Fadil menyuruhku untuk pulang duluan bang, sedangkan mereka akan pulang berdua, Tapi aku ngga tau apakah kak Fadil dan kak Fina benar-benar sudah pulang semalam atau tidak, karena aku tidak melihat tanda-tanda kehadiran mereka berdua." Fazar terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, mendengar jawaban dari adiknya itu.


" Artinya mereka nggak pulang semalam gitu."


" Perkiraanku sih gitu bang, tapi lebih jelasnya lagi Abang tanya sama kak Fadil."


" Apakah mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Sepertinya aku harus menyelidikinya, agar aku tau apakah mereka memiliki hubungan spesial atau tidak." Batin Fazar.


.


.


Di hotel tempat Fina dan Fadil menginap.


Kini dua orang, atau lebih tepatnya sepasang pengantin baru, yang berada didalam kamar berbeda.


Walaupun mereka pengantin baru, tapi pasangan itu berbeda, karena mereka tidak melakukan yang namanya malam pertama atau tidur bersama, karena pernikahan keduanya itu terbilang tiba-tiba, tanpa direncanakan sama sekali.


Mungkin terdengar lucu, tapi itulah Fadil. Dia tidak akan mau kalau miliknya sampai disentuh atau ada orang lain yang membayangkannya selain dirinya. Maka setelah menikah seperti ini, mungkin Fadil akan posesif terhadap istrinya itu sama seperti Fazar.


Pria itu terlihat sangat tampan dengan senyuman dari bibirnya, rasanya senyuman kali ini sangat berbeda dengan senyuman biasanya.


" Apa aku sudah terlihat tanpa atau tidak ya." Gumam Fadil sambil meneliti penampilannya dari cermin yang lumayan besar dari dalam kamarnya." Rambut sudah, kemeja juga sudah aku rapikan." Gumam Fadil kembali. Fadil sengaja merapikan penampilannya, karena sebelum ia bertemu dengan istrinya, ia harus terlihat tampan dimata istrinya nanti.


Padahal Fadil tau, kalaupun dia hanya mengunakan baju kaos, tapi dia masih terlihat sangat tampan, apalagi mengunakan kemeja dengan tangan yang dia gulung sampai dibawah siku, membuat kadar ketampanannya semakin sempurna di mata kaum hawa.


Setelah dirasa puas dengan penampilannya, Fadil keluar dari kamarnya sambil membawa paper bag ditangannya, yang berisi pekaian untuk istrinya.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Fadil mengetuk pintu kamar istrinya, tapi pintu itu tidak kunjung dibuka.


Sedangkan didalam kamar, Fina terlihat gelisah karena dia belum ganti baju dari semalam. Untung saja dia sedang datang bulan, jadi tadi subuh Fina tidak sholat subuh. Tapi kegelisahan ini pengaruh dari pekaian yang dia pakai sekarang, karena dari semalam ia mengunakan pekaian ini, dan belum menggantinya.


" Apakah aku minta tolong saja sama kak Fadil buat belikan aku baju. Tapi itu tidak mungkin, aku kan bukan siapa-siapanya." Gumam Fina yang sudah melupakan kalau Fadil adalah suaminya." Tapi, bukannya kak Fadil suamiku jadi aku boleh meminta sesuatu darinya. Tapi apa yang akan kak Fadil pikirkan tentangku, baru saja menjadi istri sehari tapi aku sudah berani meminta sesuatu darinya."


Fina terus bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, apakah dia harus memintanya kepada Fadil untuk membelikannya sebuah pekaian, tapi dalam hatinya ia merasa ragu. Sampai ketukan pintu, membuat Fina menatap kearah pintu itu.


" Siapa yang datang, apakah kak Fadil." Karena tidak mau penasaran, Fina melangkahkan kakinya mendekati pintu lalu membukanya.


Disana terdapat pria yang sudah sah menjadi suaminya, yang kini sedang tersenyum sambil menatap kearahnya.


" Selamat pagi istriku, kamu terlihat cantik pagi ini." Pipi Fina langsung merona merah, karena mendengar ucapan Fadil." Aku membawakan pakaian untukmu, karena aku tau kalau kamu pasti belum mandi pagi ini. Maaf aku tidak peka dari tadi malam, seharusnya dari tadi malam aku mencarikan mu baju ganti, tapi aku malah tidak melakukan itu." Ucap Fadil merasa bersalah terhadap Fina, padahal ia baru satu hari menjadi suami dari Fina, tapi ia malah tidak peka sama sekali.


Fina tidak menyangka kalau Fadil ternyata pria yang begitu sangat menis saat memperlakukan wanita seperti sekarang.


" Terimakasih kak Fadil, kak Fadil seperti tau apa yang aku butuhkan." Tanpa rasa malu Fina mengambil paper bag itu, karena dia sendiri memang membutuhkannya.


" Sama-sama istriku, jika kamu butuh apapa kamu bisa memintanya kepada suamimu ini, jangan sungkan." Jawab Fadil tersenyum sangat manis.


" Kak Fadil kenapa masuk." Tanya Fina panik saat melihat Fadil akan masuk kedalam kamarnya.


" Aku mau masuk kedalam kamar Istriku. Emangnya ngga boleh."


" Tapi kak aku takut kalau orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita."


" Tenanglah istriku, kita sudah menikah, kalau sampai ada orang-orang ada yang berpikir yang tidak-tidak tentang kita, aku bisa menunjukkan video dan foto nikah kita pada mereka." Jawab Fadil tegas. Ya Fadil tidak akan membiarkan orang lain menghina istrinya, karena Fadil tidak suka itu." Jadi abaikan ucapan orang lain. Sebaiknya sekarang kamu menyingkir dulu, karena suamimu ini ingin masuk kedalam kamar istrinya." Walaupun dengan terpaksa, Fina menurut, membiarkan Fadil masuk kedalam kamarnya, karena bagaimanapun Fadil adalah suaminya, jadi tidak apapa kalau dia masuk kedalam kamarnya, dia juga harus terbiasa dengan kehadiran Fadil di ruangan yang sama seperti dirinya, seperti sekarang.


Setelah Fadil masuk, Fina langsung mengunci pintu kamarnya, ia bisa merasakan kecanggungan saat berada didalam ruangan yang sama dengan Fadil, tapi dia menghilangkan kecanggungannya itu dengan melangkah kearah kamar mandi.


" Fin kita harus cepat-cepat kerumah sakit, karena Abang Fazar pasti sedang menunggu kita disana." Langkah Fina harus terhenti saat mendengar ucapan Fadil.


." Iya kak tunggu lima belas menit, setelah itu kita langsung kerumah sakit, setelah aku selesai mandi." Jawab Fina, sambil meneruskan langkah nya kembali masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


" Apa yang harus aku jawab nanti, kalau sampai Abang bertanya. Aku tau kalau Abang pasti curiga karena semalam kami tidak pulang." Batin Fadil, yang terus berpikir bagaimana caranya ia menjelaskan kepada keluarganya nanti kalau dia dan Fina sudah menikah.


...----------------...


__ADS_2