
Kesabaranku membawa cinta
Didalam ruangan operasi Fazar turus mengajak istrinya untuk berjikir bersama, karena dokter menyuruh Fazar, agar istrinya itu jangan sampai tertidur, selama masa operasi Caesar dilakukan. Karena kalau sampai Wiyah kehilangan kesadarannya itu sangatlah berbahaya. Makanya dokter meminta agar Wiyah tetap terjaga, dan Fazar yang dari tadi mengajaknya berbicara sampai berjikir bersama.
Suara alat-alat rumah sakit memecahkan ketegangan dalam ruangan operasi itu, walaupun suara merdu Fazar saat mengajak istrinya berjikir bisa membuat para dokter dan perawat lebih tenang. Tidak dipungkiri kalau Fazar adalah suami yang begitu sangat lembut, sampai-sampai dari tadi dia tidak membiarkan istrinya kehilangan kesadaran sampai dia terus mengoceh.
Orang-orang banyak yang mengenal Fazar sebagai orang yang dingin dan tidak banyak bicara, tapi di ruangan operasi ini, parah perawat dan dokter bisa melihat Fazar yang lebih banyak bicara dari tadi.
Hampir satu jam dokter berkerja keras, akhirnya suara tangisan bayi memecahkan ruangan operasi itu.
Ooeek...Ooeek...Ooeek
Suara tangisan bayi berkelamin laki-laki, yang baru saja lahir ke dunia terdengar nyaring sampai ke telinga Fazar dan Wiyah. Yang membuat kedua orang tua baru itu terlihat terharu.
" “Allâhummaj'alhu bârran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islâmi nabâtan hasanan.” Doa anak baru lahir ini, artinya adalah: "Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik."
" Selamat tuan, dan nyonya bayi pertama anda berkelamin laki-laki dan Alhamdulillah kondisinya sehat, tidak kekurangan apapun." Jelas perawat wanita itu sambil memperlihatkan bayi merah yang masih berlumuran dengan darah. Tidak berselang lama, terdengar kembali suara tangisn bayi kedua, yang membuat orang-orang di ruangan operasi itu semakin tersenyum, karena bayi kedua yang berkelamin laki-laki itu menangis jauh lebih kencang dari bayi pertama tadi.
Ooeek....Ooeek....Ooeek
" Sepertinya bayi kedua anda, jauh lebih antusias untuk melihat dunia tuan, karena suaranya lebih kencang, selamat bayi kedua anda laki-laki tuan." Ucap dokter itu sambil tersenyum karena ikut terharu.
Sedangkan Fazar kembali mencium kening istrinya, untuk yang kesekian kalinya. Ini adalah hari paling membahagiakan untuknya karena hampir sembilan bulan menunggu, akhirnya anak-anaknya lahir dan kini dia telah menjadi orang tua.
" Terimakasih sayang, terimakasih." Yap, hanya kata terimakasih yang Fazar ucapakan. Walaupun kata terimakasih itu tidak sebanding dengan pengorbanan istrinya yang mengandung selama hampir sembilan bulan, dan harus berjuang hidup dan mati untuk melahirkan bayi mereka untuk hadir di dunia.
Setelah bayi pertama dan bayi kedua lahir, kini bayi terakhir yang berhasil dokter angkat dari perut Wiyah. Bayi yang sama-sama berkelamin laki-laki itu menangis kencang, tapi tidak senyaring seperti suara bayi pertama dan bayi kedua. Karena bayi terakhir itu seperti lebih kalem suaranya.
Ooeek..Ooeek..Ooeek
" Selamat tuan, karena bayi terakhir ini juga berkelamin laki-laki. Alhamdulillah kondisinya sehat dan semua organ tubuh lengkap, tapi sepertinya bayi tuan yang terakhir ini jauh lebih kalem, karena menangis tidak sekencang seperti kedua saudaranya. Tapi tuan tenang saja, kalau bayi anda baik-baik saja." Jelas dokter itu kembali.
Seperti bayi kedua, kini bayi terakhir itu di taruh di dada Wiyah, agar bayi kecil itu bisa merasakan kehangatan seorang ibu.
" Selamat datang kedunia anak-anak ummi, terimakasih sudah hadir ditengah-tengah keluarga kami." Ucap Wiyah dengan penuh haru. Dia tidak menyangka kalau sekarang dia sudah menjadi seorang ibu, dan ketiga anaknya telah lahir.
Setelah melakukan operasi, kini Fazar keluar untuk bertemu dengan keluarganya, Setelah dokter menjahit kembali luka operasi tadi, sedangkan ketiga bayi itu, mereka akan dibersihkan dan dibawah di inkubator, untuk mengecek apakah ketiga bayi itu lahir prematur atau tidak.
Sedangkan diluar ruangan parah keluarga dari tadi tidak henti-henti berjikir bersama. Sampai mereka melihat Fazar keluar dari ruangan operasi dengan mata yang berkaca-kaca.
" Bagaimana Fazar, apakah istrimu baik-baik saja. Apakah anak-anak mu sudah lahir." Tanya parah keluarga yang memberikan banyak pertanyaan kepada Fazar, apalagi Fazar keluar dengan mata yang berkaca-kaca, membuat keluarga yang berada disana merasa khawatir.
Fazar bukannya menjawab, dia malah mendekati tubuh bunda Sisi lalu memeluknya." Terimakasih bunda, karena sudah melahirkan Fazar. Maaf kalau Fazar kadang berbuat salah ke bunda." Ucap Fazar dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya dia begitu sangat sedih saat melihat istrinya tadi melahirkan. Ternyata perjuangan seorang ibu yang melahirkan anaknya untuk lahir ke dunia Ini sangatlah besar. Kadang mereka bisa merenggang nyawa.
__ADS_1
Bunda Sisi melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut pipi anaknya itu. Bunda Sisi tidak menyangka, bayi pertama yang dulu dia gendong, kini sudah menjadi orang tua." Itulah kodrat sebagai seorang wanita nak, mereka harus mengandung selama sembilan bulan dan harus bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya, karena itu adalah bentuk perjuangan dan juga kasih sayang seorang ibu." Jawab bunda Sisi tersenyum." Selamat untuk mu, karena sekarang kamu menjadi orang tua. Jadilah ayah yang baik, untuk menuntun anak-anakmu kejalan yang baik dan benar nak. Bunda ngga nyangka, padahal baru kemarin bunda merasa di panggil bunda, tapi sekarang bunda akan dipanggil nenek oleh cucu bunda." Ucap bunda Sisi kembali, ada rasa terharu dan bahagia semuanya bercampur menjadi satu.
" Terimakasih bunda, insyaallah Fazar akan menjadi ayah yang baik sebagai penuntun anak-anakku nanti." Ucap Fazar.
" Selamat bang, akhirnya Abang menjadi seorang ayah." Ucap Fadil antusias.
Semua orang-orang disana memberikan selamat. Termasuk ibu Widya yang ikut bahagia dengan kelahiran putrinya." Alhamdulillah kondisi istriku dan ketiga anak-anak ku baik-baik saja. Mereka semuanya sehat" Ucap Fazar membuat mereka tersenyum." Setelah istriku dibersihkan, parah perawat akan mengantarkannya di ruangan perawatan."
" Alhamdulillah." Semuanya mengucap syukur setelah mendengar jawaban yang Wiyah berikan itu.
" Zar, kamu belum menjawab pertanyaan kakak tentang kelamin ketiga anakmu, karena selama ini kalian merahasiakan nya, untuk menjadi kejutan untuk kami." Tanya Haidar, sepertinya ayah dari ketiga anak itu begitu sangat tidak sabaran, mengetahui jenis kelamin anak keponakannya.
" Iya, kak Fazar. Apa kelamin anak-anak keponakan ku." Sambung Jidan tidak kalah antusiasnya.
Fazar tersenyum" Kita mendapatkan tiga pangeran, karena ketiganya perkelamin laki-laki." Jawab Fazar.
" Benarkah. Wah kalau gitu kita akan mendapatkan jagoan yang suka bertarung ternyata." Ucap Fadil sambil terkekeh." Semoga saja anakku perempuan, biar ketiga anak Abang bisa lindungi anakku dari parah pria jahat."
" Belum juga lahir, Dil. Tapi kamu sudah memiliki imajinasi sendiri." Ucap tuan Aslan geleng-geleng mendengar ucapan anak keponakannya itu.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Setelah dibersihkan dan di periksa. Ternyata ketiga bayi itu sehat, walaupun terlahir prematur tapi kondisinya Alhamdulillah sehat seperti bayi yang normal lainnya.
Sekarang ketiga bayi itu berada di ruangan VVIP, ruangan yang sama dengan umminya.
Ruangan Wiyah di penuhi oleh keluarga besar. Lihatlah sangking banyaknya membuat ruangan itu terlihat sesak. Ketiga bayi Wiyah berada di tangan orang-orang yang begitu sangat menantikan bayi itu.
Bayi pertama berada di gendongan bunda Sisi, bayi kedua berada di di gendongan ibu Widya, sedangkan bayi ketiga berada di gendongan Windi. Bagaimana dengan Wiyah, dia sedang duduk sambil menyantap makanan yang Fazar suapkan.
" Bunda, kenapa dedek bayi terlihat sangat kecil dan kulitnya juga merah." Tanya Harum yang ikut duduk di sofa dan berada ditengah-tengah bunda Sisi dan juga ibu Widya.
" Karena mereka baru saja lahir Harum." Jawab bunda Sisi tersyum menatap cucu angkatnya itu dengan sayang.
" Benarkah bunda, apakah mereka sudah bisa makan."
" Belum bisa b*dok, bayi yang baru lahir tidak akan bisa makan apapun." Sambung Azra ketus, sepertinya gadis seumurannya itu tidak suka dengan pertanyaan Harum barusan.
" Ara, jangan seperti itu." Tegur Widya yang tidak suka dengan kelakuan putrinya itu.
" Tidak apa-apa ibu, mungkin yang dikatakan kak Ara benar." Jawab Harum sambil tersenyum. Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan adiknya itu hanya bisa diam. Karena selama Azra kembali di kota S, Azra belum pernah mengajaknya mengobrol bahkan gadis berusia sepuluh tahun itu seperti menghindari nya.
" Apa yang terjadi denganmu Ara." Batin Wiyah sambil menatap kearah adiknya yang duduk disebelah Windi.
__ADS_1
" Bunda, Fadil mau mengendong nya." Ucap Fadil ingin mengendong bayi kecil itu.
" Apakah kamu bisa nak. Bunda takut kalau kamu akan menjatuhkannya."
" Insyaallah bisa bunda, orang Fadil juga mau menjadi seorang ayah." Ucap Fadil." Ayolah bunda, ijinkan Fadil menggendong anak-anak keponakan Fadil." Karena paksaan putranya itu, terpaksa bunda Sisi menyerahkan cucunya itu kepada Fadil.
" Pelan-pelan Dil, ingat kepala sama pinggang nya."
" Iya bunda, Fadil ngerti." Fadil menimang-nimang anak keponakannya itu, sedangkan Fina hanya menonton saja karena dia tidak berani untuk mengendongnya.
" Bang, Abang belum memberitahukan kami siapakah nama mereka." Tanya Fadil." Apakah Abang belum menyiapkan nama untuk mereka."
" Abang sudah menyiapkan nama untuk mereka Dil."
" Lalu siapakah nama mereka bang. Fadil jadi ngga sabar." Fazar hanya tersenyum mendengar ucapan tidak sabaran dari adiknya itu.
" Anak pertama namanya Fauzan Zabran Aldevoro Roshan, kita akan memanggilnya Fauzan."
" Anak kedua namanya Fazran Zhafir Aldevaro Roshan, kita akan memanggilnya Fzran."
" Sedangkan anak ketiga namanya Faeyza Zafran Aldevaro Roshan kita akan memanggilnya Faeyza." Ucap Fazar sambil tersenyum. Fazar sengaja mengambil nama kedua keluarganya, agar orang-orang tau siapakah ketiga putranya itu.
" Masya Allah, nama-nama yang bagus semuanya Zar." Ucap bunda Sisi.
" Selamat datang dunia ini cucu ku. Jadilah anak-anak yang Soleh dan berbakti kepada kedua orang tuamu setelah dewasa nanti." Ucap bunda Sisi lalu mencium ketiga cucunya secara bergantian.
Sedangkan Wiyah, hanya menatap pemandangan ini dengan terharu. Karena dia tidak menyangka akan berada di posisi ini. Karena dari awal dia menikah, hanya ada kesedihan. Tapi sekarang kesedihan itu seakan tergantikan dengan kebahagiaan, apalagi kelahiran anak-anaknya.
" Apakah kamu bahagia sayang." Tanya Fazar menggenggam tangan istrinya itu.
" Aku bahagia kak. Terimakasih."
" Tidak sayang, seharusnya kakak yang berterimakasih untuk semuanya. Terimakasih istriku."
.
.
POV Wiyah
Aku tidak menyangka, kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan akan hadir di kehidupanku. Bukan saja keluarga yang baik dan selalu menyayangi ku, tapi ada suami yang mencitku dan menerima semua kekurangan ku. Dulu aku kira aku tidak akan mendapatkan cinta itu. Tapi sekarang cinta itu seakan mengalir dengan derasnya untukku. Aku telah mengerti akan arti kesabaran, yang mendapatkan cinta. Yaitu kesabaranku membawa cinta.
Tamat
__ADS_1
...----------------...
Alhamdulillah tamat ya, tapi tenang saja, kak Zahra akan memberi ekstra part lainnya. Mungkin tidak terlalu banyak.