
Kesabaranku membawa cinta
Fazar menatap istrinya yang masih tertidur karena mereka baru saja menyelesaikan kegiatan mereka jam empat sore, istrinya itu melayani nya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sama sekali.
" Terimakasih istriku." Ucap Fazar mencium kening istrinya itu. Fazar bangun dari tidurnya, karena dia akan membersihkan tubuhnya, setelah itu Fazar akan membangunkan Wiyah untuk mandi, karena mereka baru saja melewatkan sholat ashar mereka.
Setelah membersihkan tubuhnya, Fazar menyiapkan air hangat dalam bathtub untuk istrinya, agar istrinya lebih rileks.
" Sayang, bangun ini sudah sore." Ucap Fazar membangunkan istrinya itu dengan cara mengusap lembut kepala Wiyah sambil merapikan rambut istrinya itu yang berantakan sampai menutupi wajahnya. Fazar mencoba untuk membangunkan istrinya yang masih tertidur dengan tenang nya didalam selimut." Sayang bangun, nanti lagi tidurnya, sekarang sayang bersih-bersih dulu setelah itu tidur lagi." Ucap Fazar mencoba membangunkan istrinya itu dengan begitu sangat sabar.
Wiyah menggeliat kecil, saat merasakan kalau ada tangan yang mengusap lembut wajah. Perlahan-lahan Wiyah membuka matanya dan hal pertama yang Wiyah lihat adalah wajah suaminya yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
" Sayang sudah Bangun." Tanya Fazar menatap istrinya itu.
Sedangkan Wiyah hanya diam sambil menatap suaminya itu, yang sedang mengusap lembut kepalanya sambil memberikan senyumnya yang paling manis menurut Wiyah. Senyuman yang dulu tidak pernah Wiyah lihat, kini Wiyah selalu mendapatkannya, bahkan suaminya itu terus tersenyum jika bersama dengannya.
Wiyah menatap wajah suaminya itu begitu sangat dalam, Sampai ingatannya tertuju pada beberapa jam yang lalu dimana mereka baru saja melakukan kegiatan mereka.
Mengingat itu membuat pipi Wiyah terasa panas karena begitu sangat malu jika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Wiyah segera memalingkan wajahnya kearah lain, karena begitu sangat malu saat di tatap oleh suaminya itu.
" Kenapa wajahnya dipalingkan sayang." Tanya Fazar membuat dirinya seolah-olah tidak tahu, padahal Fazar tahu kalau istrinya itu pasti sedang malu karena mengingat kegiatan panas mereka tadi yang baru selesai beberapa menit yang lalu." Sayang lihat kakak." Suruh Fazar dengan lembut, sambil meraih kepala Wiyah dan dengan lembut membalikan nya untuk melihat kearahnya. Fazar menatap mata istrinya tidak begitu sangat dalam." Kenapa tadi wajahnya dipalingkan kearah lain, sayang." Tanya Fazar kembali mencoba mendapatkan jawaban dari istrinya.
Sedangkan Wiyah yang mendengar pertanyaan dari Fazar, membuat pipinya semakin memerah.
Tapi dengan berani Wiyah mencoba untuk membalas pertanyaan suaminya itu." Aku malu kak." Cicit Wiyah membuat Fazar tersenyum.
" Kenapa harus malu sayang, kakak adalah suamimu. Bahkan kakak sudah melihat semuanya dan juga sudah merasakannya, jadi untuk apa malu." Sahut Fazar mencoba untuk menjelaskan istrinya itu agar tidak malu jika berhadapan dengannya, saat seperti ini." Sayang berhak melihat kakak, termasuk kakak juga berhak melihat sayang seperti ini. Jadi untuk apa malu." Jelas Fazar kembali membuat Wiyah mengangguk mengerti.
Fazar yang melihat wajah polos istrinya itu saat mengangguk seperti tadi, merasa begitu sangat gemas. Rasanya Fazar ingin kembali menerkamnya seperti tadi. Tapi Fazar masih mengingat kalau ia belum melakukan hal yang jauh lebih penting. Apalagi tadi Fazar sudah menerkam istrinya itu habis-habisnya seperti dia baru saja mendapatkan makanannya.
__ADS_1
" Kalau gitu sayang mandi dulu, baru itu kita shalat ashar, berjamaah bersama." Ucap Fazar membuat Wiyah mengangguk mengerti.
Wiyah mencoba untuk turun dari ranjang, tapi ia merasakan kalau kaki nya seperti tidak ada tulang nya sama sekali. Karena Wiyah begitu sangat sulit untuk menggerakkan nya.
" Biar kakak bantu." Fazar mengendong Wiyah ala bridal style, dengan keadaan tubuh istrinya yang masih polos dan hanya ditutupi oleh selimut, lalu membawanya kedalam kamar mandi.
Fazar membantu memandikan istrinya itu yang sedikit kesulitan saat mandi. Walaupun harus menahan sesuatu, tapi dengan teliti Fazar membersihkan tubuh istrinya itu. Bukan itu saja Fazar juga membantu Wiyah untuk menganti seprai dengan yang baru.
Setelah istrinya mandi. Fazar membantu mengeringkan rambut panjang Wiyah dengan handuk kecil. Sedangkan Wiyah hanya duduk di kursi depan meja rias sambil menikmati setiap sentuhan yang Fazar berikan di kepalanya.
" Sayang, apa sayang nggak berpikir untuk memotong rambut panjang sayang yang begitu sangat panjang." Tanya Fazar. Fazar merasa begitu sangat gerah saat melihat rambut panjang istrinya itu terurai, tapi istrinya itu malah biasa-biasa saja tanpa merasa kegerahan.
" Ngga kak, aku ngga mau memotongnya. Soalnya rambutku sudah begitu sangat lama aku rawat dan sampai sekarang aku belum pernah memotong nya lagi." Sahut Wiyah menjelaskan. Karena dia belum pernah memotong rambutnya kembali setelah orang tuanya pergi tiga tahun lalu.
Sedangkan Fazar hanya mengangguk mengerti. Biarlah istrinya itu merawat rambut panjangnya, karena rambutnya juga tidak menganggu nya.
Selesai mengeringkan rambut sang istri, Fazar dan Wiyah melaksanakan shalat ashar karena tadi mereka belum melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim.
Di sisi lain.
Seorang pria sedang duduk di ranjang rumah sakit dengan punggung yang disadarkan. Pria itu begitu sangat bosan berada di ruangan bernuansa putih itu.
Pria itu menatap sekertarisnya yang sedang menemaninya sambil mengerjakan tugasnya sebagai seorang sekertaris, yaitu mengerjakan tugas bos nya yang berada di kantor.
" Ardi." Pria itu mengangkat kepalanya untuk melihat kearah tuan nya yang tadi baru saja memanggilnya. Pria yang bernama Ardi itu menyimpan laptop nya lalu melangkah kearah pria yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit dengan punggung yang disadarkan.
" Ada yang bisa saya bantu tuan Abizard." Tanya sekertaris Ardi menatap kearah tuan nya itu. Ya, pria yang tadi memangilnya tidak lain adalah Abizard.
" Iya saya membutuhkan sesuatu." Jawab Abizard.
__ADS_1
" Apa yang anda butuhkan tuan, biar saya ambilkan." Tanya sekertaris Ardi kembali
" Saya ingin keluar dari ruangan ini." Jawab Abizard memberitahukan keinginannya.
" Tapi tuan, anda belum sembuh..."
" Saya sudah tidak apa-apa Rdi, saya hanya ingin keluar dari ruangan ini bukan dari rumah sakit. Jadi biarkan saya untuk keluar, karena saya begitu sangat bosan berada disini terus." Potong Abizard." Jika kamu melarang saya, saya akan menggantikan kamu dengan yang lain." Ancam Abizard menatap tajam kearah sekertarisnya itu.
Sekertaris Ardi yang mendengar ancaman dari Abizard, tentu tidak mau jika dirinya di keluarkan dari perkejaannya. Mau tidak mau dia harus menuruti kemauan tuanya itu untuk keluar dari ruangan itu, walaupun sebentar. Padahal Fazar sudah memberikan nya tangung jawab untuk menemani Abizard sampai kondisi pulih dan jangan memberikan Abizard keluar dari ruangannya sampai Abizard benar-benar pulih dari luka operasinya.
Tapi mau bagaimana lagi, tuannya Abizard lebih keras kepala lagi jika dia menolak permintaannya.
" Baiklah tuan saya akan membawa anda keluar. Tapi tunggu sebentar biar saya ambilkan kursi roda untuk anda, karena mana mungkin anda berjalan sendiri sedangkan luka berkas operasi belum sepenuhnya sembuh." Ucap sekertaris Ardi yang menyetujui permintaan dari Abizard untuk keluar dari ruangan itu walaupun hanya sebentar.
Sekertaris Ardi mengambil kursi roda untuk tuan nya.
" Biar saya bantu tuan." Ucap sekertaris Ardi saat melihat tuanya itu ingin turun dari ranjang rumah sakit.
" Tidak perlu, aku bisa sendiri." Tolak Abizard yang tidak mau di bantu karena dia berpikir kalau dirinya masih bisa sendiri tanpa bantuan orang.
Sedangkan sekertaris Ardi hanya mengikuti kemauan tuanya yang begitu sangat keras kepala dan tidak mau di bantah.
Dengan perlahan, Abizard turun dari kasur tanpa bantuan siapapun dan dengan pelan Abizard bisa duduk di kursi roda, Walaupun tadi Abizard sempat merasakan sakit di luka bekas operasinya.
...----------------...
Dasar Abizard yang tidak mau di bantah.
Lanjut lagi nih.
__ADS_1
Komen ya.