Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 184


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


" Saya tidak mau nyonya, saya tidak mau dibawa oleh mereka." Lirih Harum menatap Nadila dengan ketakutan.


" Tapi kamu satu-satunya barang disini yang bisa membantuku babu kecil. Karena semua tahanan sudah terbebas semuanya, dan hanya kamu satu-satunya tahanan ku disini yang bisa aku jual. Jadi jangan menolak jika kamu masih bisa ingin hidup." Ancam Nadila membuat air mata gadis kecil itu semakin keluar dengan derasnya.


" Tapi nyonya saya"


" Tidak ada bantahan." Bentak Nadila semakin membuat Harum ketakutan." Apa kamu mau saya cambuk seperti kemarin."


Harum menggeleng ketakutan, saat mendengar Nadila ingin mencambuknya kembali." Saya, saya tidak mau di cambuk nyonya." Lirih Harum ketakutan.


" Bagus, kalau gitu kamu menurut." Harum hanya mengangguk mengiyakan.


Harum menatap Nadila yang sedang berjalan sambil mengisap rokok di tangannya. Karena Harum sedang mengikuti pria yang berbadan besar di depan mereka itu.


" Nyonya, apakah saya boleh meminta sesuatu, sebelum nanti saya dbersama mereka." Tanya Harum di sela-sela langkahnya, sambil menatap kearah Nadila. Entah kenapa Harum memiliki pikiran seperti itu, sampai berani memintanya langsung kepada Nadila. Tapi ini permintaannya, mungkin untuk terakhir kalinya.


Nadila menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam Harum." Apa kamu ingin bermain-main denganku babu kecil."


" Tidak nyonya. Saya hanya ingin meminta satu permintaan saja, sebelum saya dibawa oleh mereka. Setelah itu saya tidak akan memintanya lagi."


"Benarkah kamu hanya meminta satu permintaan saja." Lagi-lagi Harum mengagunkan kepalanya." Baiklah, aku akan mengabulkannya, tapi cukup hari ini saja, setelah itu tidak lagi. Katakan apa yang kamu inginkan, sebelum kamu bersama dengan mereka."


" Aku hanya ingin bertemu dengan papa saya nyonya, kalau boleh." Ya, itu adalah permintaan Harum. Karena Harum berpikir kalau satu-satunya cara untuk terbebas dari Nadila, yaitu ia harus bertemu dengan ayahnya. Harum yakin kalau ayahnya bisa menyelamatkannya dari wanita kejam itu.


Tapi kendalanya Harum tidak tau seperti apa rupa ayahnya, jadi bagaimana dia bisa bertemu. Sedangkan dari lahir, sampai berusia sembilan tahun Harum tidak pernah bertemu dengan ayahnya.


Nadila terkekeh mendengar permintaan gadis kecil di hadapannya itu." Apakah kamu ingin bertemu dengan papa mu babu kecil, sedangkan kamu tidak pernah melihat seperti apa rupa papamu itu babu kecil, bagaimana caranya kamu bisa bertemu dengan dia." Ucap Nadila sambil terkekeh merasa lucu dengan permintaan gadis kecil itu." Apakah kamu ingin mempermainkan ku babu kecil." Nadila menatap Harum dengan tajam.


" Maaf nyonya saya tidak bermaksud seperti itu." Ucap Harum menuduhkan kepalanya.


" Tapi kamu tenang saja babu kecil, aku akan mengabulkannya, karena aku mengenal siapa papamu."


" Benarkah itu nyonya." Tanya Harum tidak percaya, kalau ternyata selama ini Nadila mengetahui siapa papa nya.


" Iya. Tapi setelah kamu bertemu dengan papamu, kamu harus berjanji kepada ku, kalau kamu akan menuruti semua permintaanku. Apakah kamu mau babu kecil."


Dengan polosnya Harum mengiyakan permintaan Nadila, tanpa tau apa yang akan terjadi kedepannya." Iya nyonya, saya berjanji akan menuruti semua permintaan nyonya, asal saya bisa bertemu dengan papa." Ucap Harum dengan raut bahagia di wajahnya.


" Bagus, sekarang kamu terikat janji dengan ku babu kecil." Batin Nadila sambil tersenyum jahat." Persiapkan dirimu babu kecil karena kita akan bertemu dengan papamu

__ADS_1


Feedback off


Tapi harapan Harum, harus hancur saat mengetahui dan mendengar kebenaran itu, langsung dari papa nya, kalau papa nya tidak menginginkan kehadirannya bahkan tidak menganggapnya ada.


Rasanya Harum tidak memiliki harapan lagi untuk terbebas setelah ini, karena dia sudah terikat dalam perjanjian, yang sudah di rencanakan oleh Nadila.


" Papa, bagaimana pun papa, Harum tetap menyayangi papa. Terimakasih atas pertemuan kita waktu itu. Harum akan tetap mengingat seperti apa wajah papa, semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi." Walaupun merasa sakit hati dengan ucapan sang papa, tapi hati gadis polos itu tetap menyayangi papa nya, bagaimana papa nya itu.


Karena mamanya selalu berpesan, kalau Harum tidak boleh menyimpan dendam kepada orang yang pernah menyakitinya. Bagaimanapun orang itu, Harum harus mendoakan orang itu, agar menjadi orang yang lebih baik lagi.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Alhamdulillah istri anda dan juga kandungannya baik-baik saja tuan. Walaupun tadi sempat pendarahan hebat, karena benturan ringan yang terjadi pada kandungannya, tapi Alhamdulillah berkat kuasa Allah dan doa dari keluarganya, kami berhasil menghentikan pendarahan dan menyelamatkan janin dalam kandungannya." Jelas dokter wanita itu sambil tersenyum.


Fazar bersama dengan keluarga yang lain, mengucap puji syukur, karena kabar bahagia ini. Rasanya mereka tidak percaya, kalau Allah masih menjaga tiga janin itu didalam rahim Wiyah padahal tadi mereka sudah berpikir kalau tidak akan ada harapan lagi, mengingat Wiyah pendarahan.


" Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, karena engkau masih memberikanku kesempatan untuk menjaga mereka." Batin Fazar begitu sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini. Padahal mereka tadi sudah di buat dek dekan oleh dokter.


" Alhamdulillah, terimakasih bu dokter telah menyelamatkan menantu saya dan juga kandungannya."


" Tidak usah berterimakasih nyonya, ini sudah tugas kami sebagai dokter." Jawab wanita itu sambil tersenyum.


" Apakah kami bisa menemui nya."


" Untuk anda suaminya, tolong jaga istri anda dengan baik, Jangan sampai dia kelelahan apalagi stres. Jika istri anda stres, itu akan berakibat pada janin dalam kandungannya. Dan anda juga harus menjaga perasaannya, karena perasaan ibu hamil begitu sangat sensitif."


" Baik Bu dokter, saya akan mengingat pesan anda. Sekali lagi terimakasih."


" Iya sama-sama tuan, kalau begitu saya ijin permisi." Ijin dokter wanita itu, yang pergi meninggalkan keluarga Fazar. Untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain.


Setelah kepergian dokter wanita itu, dengan langkah cepatnya, Fazar langsung melangkah masuk kedalam ruangan UGD untuk menemui istrinya, sampai-sampai Fazar melupakan kalau keluarganya masih berada disana.


" Tadi aja di istrinya di cuekin, sekarang malah dia yang duluan masuk. Dasar Abang." Decak Fazri geleng-geleng kepala melihat tingkah abangnya itu.


Bunda Sisi langsung menatap putra bungsunya itu, saat mendengar ucapan Fazri." Zri, jangan aneh-aneh lagi nak, kamu belum mengerti permasalahan orang dewasa." Tegur bunda Sisi, menatap putra bungsunya itu. Bunda Sisi heran dengan tingkah Fazri yang selalu saja membuat ia bingung.


" Iya bunda, tadi Fazri ngga sengaja ngomong."


" Ada-ada aja kamu dek, ngga sengaja ngomong, tapi ngomongnya kayak langsung dari hati, sakit benget kalau didengar." Cibir Fadil.


" Biar aja." Jawab Fazri sewot.

__ADS_1


Abidzar dan tuan Aslan yang mendengar perdebatan keduanya hanya bisa geleng-geleng, kedua saudara itu sering sekali berdebat kalau sudah masalah kecil seperti ini.


" Bun, apakah kita boleh masuk, untuk melihat kondisi Wiyah." Tanya Abidzar, yang segajah membuka suara, agar kedua pria berbeda usia itu tidak saling berdebat.


" Iya Bun, aku ingin bertemu dengan kak Wiyah." Sambung Fazri.


" Nanti saja kita masuk, Abidzar, Fazri. Kita harus memberikan waktu untuk Fazar menyelesaikan masalah mereka. Setelah itu kita bisa menyusul masuk melihat kondisi Wiyah."


" Yang dikatakan bunda Sisi ada benarnya, sebaiknya kita berikan mereka waktu untuk berdua, sampai Wiyah di pindahkan di ruangan perawatan. Setelah itu, kita semua bisa masuk untuk melihat kondisi Wiyah. Bukannya tadi dokter juga mengatakan kalau ruangan itu hanya boleh dua orang saja yang boleh masuk, jadinya kita tidak bisa masuk secara bersamaan. Tapi kalau sudah berada di ruangan VIP, kita bisa masuk secara bersamaan." Sambung tuan Aslan.


" Baiklah Paman, kita tunggu sampai kak Wiyah dipindahkan di ruangan VIP."


Karena mereka belum ada yang melaksanakan sholat isya, keluarga itu memutuskan untuk sholat isya terlebih dahulu, sambil menunggu Wiyah di pindahkan di ruangan rawat. Barulah mereka kembali masuk kedalam rumah sakit.


Kebetulan juga rumah sakit itu terdapat Mushola, jadi mereka tidak perlu lagi mencari tempat untuk beribadah.


.


.


Fazar menatap Brankar yang terdapat seseorang disana yang sedang terbaring dengan tangan di infus.


Fazar melangkah mendekati Brankar, tempat sekarang istrinya sedang terbaring dengan sangat lemah.


Fazar menatap wajah cantik istrinya itu, yang tampak pucat. Melihat wajah pucat istrinya itu, membuat rasa bersalahnya kembali hadir di hati Fazar.


Fazar mencium kening istrinya dengan sangat lembut dan juga sangat lama. Andai saja sikap nya tidak seperti tadi, mungkin saja istrinya tidak akan berada disini." Maafkan aku sayang, aku begitu sangat bodoh karena kembali menyakiti mu, bahkan hampir menyakiti anak-anak kita." Lirih Fazar menatap istrinya itu dengan rasa bersalah yang jauh lebih besar, karena ia kembali menyakiti gadis yang sudah mengobati rasa sakit hatinya selama ini.


Pandangan Fazar kembali tertuju pada perut istrinya, yang sedikit berisi. Tangan Fazar turun ke perut istrinya itu, lalu mengusapnya dengan lembut." Maafkan Abi sayang, yang hampir saja membuat kalian celaka. Maafkan Abi juga, karena menyakiti ummi kalian kembali. Dan Terimakasih, karena kalian bertiga masih bertahan di dalam perut ummi." Ucap Fazar lalu mencium perut istrinya itu dengan lembut.


.


.


Fazar terus mengusap lembut tangan Wiyah sesekali memberikan ciuman di tangan itu, tapi istrinya itu belum ada tanda-tanda bangun dari tidurnya.


Karena saat pemeriksaan tadi, Wiyah diberikan beberapa suntikan, yang membuat Wiyah langsung tertidur, mungkin karena efek obatnya.


" Sayang, cepatlah sadar, kakak tidak bisa melihat kamu seperti ini." Lirih Fazar turus menatap wajah istrinya itu." Apa saya, begitu marah sama kakak, karena mengabaikan sayang tadi. Kakak mohon bangunlah, jangan menghukum kakak dengan tidur seperti ini, kakak rindu dengan senyum sayang." Lirih Fazar kembali. Padahal istrinya itu hanya pingsan, bukan kritis atau koma. Tapi Fazar sudah tersiksa seperti sekarang. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya, mungkin Fazar akan gila.


Tidak berselang lama mata Wiyah mulai terbuka, karena ia merasa terusik dengan suara yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2