
" Astaghfirullah, sayang kamu pendarahan." Pekik bunda Sisi kaget, saat melihat baju menantunya itu terdapat noda darah.
Bunda Sisi kembali membantu Wiyah untuk duduk, sedangkan dia akan memanggil Fazar di ruangan kerjanya.
Tapi belum bunda Sisi keluar dari kamar, untuk pergi keruangan kerja Fazar, bunda Sisi melihat Abidzar yang sedang melangkah kearah kamar itu.
" Abidzar." Panggil bunda Sisi dengan berteriak, karena panik.
Abidzar yang melihat wajah bunda Sisi yang terlihat panik, apalagi memanggilnya dengan cara berteriak, membuat Abidzar bingung.
" Iya, ada apa bunda." Tanya Abidzar saat sudah berada di depan bunda Sisi.
" Cepat kamu angkat Wiyah sekarang, karena Wiyah pendarahan. Kita harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit, bunda takut terjadi sesuatu pada Wiyah dan juga janin dalam kandungannya." Jawab bunda Sisi, apalagi raut wajahnya terlihat begitu sangat khawatir.
Mendengar jawaban bunda Sisi, seketika membuat Abidzar ikut panik. Abidzar langsung melangkah masuk kedalam kamar Wiyah dengan terburu-buru, untuk melihat kondisi kakak iparnya itu. Sama halnya dengan bunda Sisi yang menyusul masuk.
Abidzar bisa melihat, kalau wajah Wiyah semakin terlihat pucat, seperti tidak memiliki darah sama sekali, Karena khawatir, Abidzar langsung menggendong Wiyah, ala bridal style, dan segera membawa Wiyah keluar dari kamar itu dengan cepat, untuk turun kelantai bawah
.
.
" Kalian mau kemana. Kenapa Wiyah di gendong oleh Abidzar, Apa Wiyah baik-baik saja."Tanya tuan Aslan, saat melihat bunda Sisi dan juga Abidzar yang melangkah melewati mereka dengan terburu-buru. Apalagi melihat Wiyah, yang berada di gendongan Abidzar.
" Kita mau kerumah sakit mas, soalnya Wiyah pendarahan."
" Astaghfirullah, kenapa bisa." Tuan Aslan ikut terkejut dan juga panik saat mendengar jawaban dari bunda Sisi." Cepat bawah Wiyah kedalam mobil."Suruh tuan Aslan.
Tuan Aslan menatap kearah Fadil." Fadil, Cepat siapkan mobil, karena kamu yang akan mengemudikan mobil untuk pergi kerumah sakit."
" Baik paman." Dengan keadaan yang terburu-buru, keluarga itu sampai melupakan Fazar yang masih berada di ruangan kerjanya. Mereka sampai melupakan, kalau Fazar perlu tau kondisi istrinya itu.
.
.
Abidzar menaruh Wiyah bersama dengan bunda Sisi dibelakang, dengan posisi Wiyah yang berbaring dan paha bunda Sisi menjadi bantalan.
Setelah melihat posisi Wiyah sudah nyaman, Fadil segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena kondisi yang darurat. Untung saja malam ini keadaan sedikit sepi, jadi kendaraan tidak terlalu ramai seperti sebelumnya.
__ADS_1
Sedangkan Fazri dan Abidzar mengunakan mobil lainnya, untuk menyusul kendaraan Fadil.
.
.
Fazar yang sudah selesai membaca dan meneliti kasus Amira, menutup laptopnya.
Fazar begitu sangat menyesal karena telah salah paham dengan mantan tunangannya itu, atau lebih tepatnya ia tidak percaya dengan apa yang ingin di jelaskan oleh sahabat kecilnya.
Fazar memijat keningnya yang terasa pusing, lalu memejamkan matanya sebentar. Dirasa enakan, Fazar berdiri dari duduknya, melangkah keluar dari ruangan kerjanya untuk pergi ke kamarnya.
Ia yakin, kalau istrinya pasti sudah tidur. Karena tadi, ia pergi meninggalkan istrinya begitu saja, tanpa mengatakan apapun. Karena ia terlalu fokus dengan kasus Amira. Bahkan ia juga terlalu berlarut-larut dalam penyesalan karena tidak mendengar penjelasan Amira hari itu.
.
Fazar mengerutkan keningnya, saat melihat kamar itu kosong, bahkan ia tidak melihat keberadaan istrinya.
" Sayang." Fazar melangkah mendekati kamar mandi, karena ia mengira kalau istrinya itu berada didalam kamar mandi.
Tapi saat membuka pintu kamar mandi, dan melihat kalau kedalam, ia tidak melihat keberadaan istrinya.
Setelah pintu lift terbuka, Fazar melangkah dengan terburu-buru, melangkah kearah ruangan keluarga. Sesampainya Fazar di ruangan keluarga, Fazar tidak melihat keberadaan istrinya itu.
" Apakah istriku berada didalam kamar bunda." Pikir Fazar. Karena ini sudah malam, walaupun belum larut. Tapi mana mungkin istrinya itu berada di dapur kalau bukan di kamar sang bunda. Tapi bisa juga istrinya itu berada di perpustakaan, yang memang didesain di rumah utama.
Saat Fazar akan melangkah kearah kamar sang bunda, Fazar bertemu dengan kepala pelayan, yang sedang melangkah kearahnya.
" Tuan bagaimana dengan keadaan nona Wiyah." Tanya wanita paruh baya itu, yang berkerja sebagai kepala pelayan disana.
Fazar mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan yang kepala pelayan itu tanyakan kepadanya.
" Apa maksudnya bi." Fazar balik bertanya, karena bingung.
" Maaf tuan, Saya hanya ingin menanyakan bagaimana dengan kondisi nona Wiyah, karena tadi saya mendengar kalau nona Wiyah pendarahan."
Deg
Seketika jantung Fazar langsung berdetak kencang, saat mendengar jawaban kepala pelayan itu.
__ADS_1
" Maaf tuan, saya lanc_"
" Benarkah istriku pendarahan. Lalu dimana istriku sekarang." Ucap Fazar memotong perkataan kepala pelayan itu. Wajah Fazar juga terlihat begitu sangat khawatir saat mendengar ucapan pelayan didepannya.
Sedangkan pelayan itu terlihat mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Fazar." Iya tuan, nona Wiyah tadi pendarahan. Tapi nona Wiyah sudah di antar oleh, nyonya Sisi dan keluarga yang lain pergi kerumah sakit, tuan." Jawab pelayan itu sambil menundukkan kepalanya takut.
Fazar semakin dibuat terkejut oleh jawaban dari pelayanan itu. Kalau ternyata keluarganya mengetahui, kondisi istrinya sekarang yang sedang tidak baik-baik saja, tapi kenapa para keluarganya tidak ada yang memberitahukannya langsung kepadanya. Pikir Fazar.
Fazar sedikit kecewa dengan keluarga itu yang tidak memberitahukan apapun saat kondisi seperti ini.
" Keluargaku membawa istriku di rumah sakit mana bi."
" Maaf, saya tidak tau tuan."
Fazar mengusap wajahnya karena frustasi, saat tidak mengetahui dimana sekarang istrinya itu di rawat.
Saat Fazar ingin menelfon keluarganya, ternyata tuan Aslan duluan menelponnya.
Fazar yang melihat kalau nomor pamannya yang menelpon, dengan gerakan cepat, ia langsung mengangkat panggilan itu.
" Bagaimana dengan istriku paman." Tanya Fazar khawatir.
" Kami belum tau kondisinya nak, karena sekarang Wiyah sedang berada di ruangan UGD. Wiyah sedang ditangani oleh dokter."
Mendengar jawaban dari pamannya, semakin membuat Fazar khawatir dengan kondisi istri dan juga kandungan istrinya sekarang.
" Rumah sakit dimana istriku dirawat paman."
" Rumah sakit xxxx." Setelah mendengar jawaban dari tuan Aslan, Fazar langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dengan gerakan cepat, Fazar kembali naik ke lantai atas, untuk mengambil kunci motornya. Karena dia akan mengunakan motor untuk pergi kerumah sakit.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Fazar melangkah ke garasi untuk mengambil motornya. Fazar mengunakan motor, agar Fazar cepat sampai di rumah sakit.
Dengan motor, Fazar bisa mengunakan jalan pintas, yang hanya bisa di lewati oleh motor saja, tapi tidak dengan mobil.
Didalam garasi, kita di suguhkan oleh motor yang Fazar koleksi, yang sekarang tersusun dengan rapi dengan merek yang berbeda-beda dan juga berharga fantastis.
Fazar menaiki motor bermerek H2 Ca**on, lalu dengan cepat Fazar, keluar dari garasi tempat penyimpanan motornya.
__ADS_1
Dan dengan kecepatan tinggi, Fazar membela malam yang belum sepenuhnya larut.