
Kesabaranku membawa cinta
Satpam yang menjaga rumah Fazar, langsung membukakan gerbang, saat melihat mobil Fazar yang akan masuk kedalam.
Ya, Fazar sudah kembali kerumahnya, karena dia ingin menikmati waktu berdua bersama dengan istrinya.
Sebenarnya bunda Sisi sudah melarang mereka untuk pulang kerumahnya, tapi Fazar tetap bersih keras untuk pulang. Karena dia ingin menikmati rumah sederhananya itu bersama sang istri
Tapi Fazar sudah berjanji akan pulang ke rumah utama, untuk menemui bunda Sisi, karena di rumah utama bunda Sisi hanya sendiri, bersama dengan para pelayan disana. Sedangkan kedua adiknya masih berada di kota B.
Bunda Sisi, tidak marah dengan keputusan anaknya itu, karena bunda Sisi tau kalau Fazar ingin menikmati waktu berdua bersama dengan istrinya. Bunda Sisi tidak merasa marah, ataupun kecewa. Karena bunda Sisi sadar, kalau Fazar sudah menikah dan dia juga sudah memiliki tanggung jawabnya sendiri. Jadi bunda Sisi sebagai seorang ibu, tidak berhak melarang anaknya, apalagi Fazar sudah menikah.
Fazar memencet bel pintu, Tidak lama Bu Neneng membukakan pintu untuk Fazar.
" Assalamualaikum Bu."
" Waalaikumsalam tuan." Jawab Bu Neneng sambil membukakan pintu untuk Fazar. Fazar melangkah masuk kedalam, dengan tangan memegang belanjaannya." Sini tuan, biar saya bantu membawakannya."
" Tidak usah Bu, saya bisa membawanya sendiri. Soalnya ini berat kalau ibu yang bawah." Jawab Fazar sopan, sambil melangkah kakinya kearah dapur.
Sedangkan Bu Neneng, hanya tersenyum melihat perilaku tuannya itu, yang begitu sangat menghargainya walaupun dia hanyalah art.
" Bu, saya minta tolong susu sama camilan nya di simpan di tempat biasa ya Bu." Ucap Fazar saat dia sudah berada di dapur.
" Baik tuan."
" Kalau gitu Terimakasih Bu." Ucap Fazar." Oh iya Bu, apa saja yang di lakukan istri saya hari ini, apakah dia ada keluar dari rumah."
" Nona Wiyah berada di taman belakang."
" Apa istri saya sudah lama beranda di taman belakang Bu."
" Baru saja tuan, soalnya tadi sahabat nona Wiyah datang kerumah jadi nona Wiyah seharian berada di dalam rumah tuan, dan baru saja keluar di luar tadi, saat kedua sahabatnya pulang." Jelas Bu Neneng.
" Oh, terimakasih Bu. Kalau gitu saya pergi untuk menemui istri saya dulu Bu."
" Iya tuan sama-sama." Fazar melangkah kearah belakang rumahnya, yang kini di sulap seperti taman, Fazri dan Wiyah banyak menanam aneka bunga di halaman belakang, membuat belakang rumahnya, seperti taman saja.
Sungguh adik dan istrinya begitu sangat kompak, kalau sudah berada di taman belakang rumahnya. Karena mereka memiliki cara sendiri, untuk mengurangi kebosanan mereka.
Di taman belakang, Fazar bisa melihat kalau istrinya sedang duduk di sebuah bangku yang berdekatan dengan taman itu. Kebetulan Fazri sengaja menyimpan bangku itu.
Katanya sih, biar Wiyah tidak kelelahan berdiri terlalu lama.
Sedangkan Wiyah menatap hamparan bunga didepannya. Apalagi bunga mawar itu selalu mekar, tanpa ada habisnya, membuat taman itu semakin terlihat cantik.
__ADS_1
Saat sedang menikmati angin sore. Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di lehernya.
" Astaghfirullah." Wiyah terkejut saat merasakan tangan itu.
" Maaf sayang, kakak buat sayang terkejut." Fazar melepaskan tangannya, lalu duduk di sebelah istrinya itu.
" Kakak sudah pulang." Seperti biasa Wiyah meraih tangan suaminya itu, lalu menciumnya.
" Iya sayang baru saja." Jawab Fazar." Kalau sayang, sudah lama beranda di sini."
" Baru aja kak, soalnya tadi aku kelamaan duduk didalam rumah sambil nonton bareng Fina dan Yaya."
" Asyik ya nontonnya sayang."
" Asyik banget kak, apalagi pemeran utamanya ganteng banget."
" Ganteng yang mana, dia atau kakak." Fazar merasa cemburu, saat istrinya itu memuji aktor dalam film yang dia tonton.
Sedangkan Wiyah yang menyadari kalau suaminya itu sedang cemburu, hanya tersenyum jahil.
" Gantengan aktor nya lah kak, apalagi dia masih muda." Jawab Wiyah jahil sambil terkekeh.
" Jadi kakak tua gitu."
" Oh, berani ngejekin suami ya. Tunggu kakak akan kasih balasan, biar sayang nggak ingat tuh pemeran utama pria." Fazar menarik istrinya kedalam pelukannya, lalu mencium seluruh wajah Wiyah dengan bertubi-tubi.
" Lepas kak, nanti di lihat sama Bu Neneng, atau pak satpam." Wiyah merasa geli saat mendapatkan ciuman dari suaminya itu.
" Biar aja mereka lihat, biar sayang tau siapa yang paling tampan disini." Jawab Fazar." Kakak akan lepaskan sayang, tapi sayang harus bilang, kalau kakak yang tampan disini."
" Iya, iya kak. Kakak paling tampan disini, lebih tampan dari aktor yang aku tonton."
Fazar langsung melepaskan istrinya itu, saat mendengar ucapan Wiyah." Benar, kalau kakak yang paling tampan disini."
" Iya kak, kakak adalah pria yang paling tampan daripada pria yang ada didalam tv dan kakak akan selalu menjadi pria tampan didalam hatiku."
Fazar tersenyum, lalu mengusap kepala istrinya, saat mendengar jawaban istrinya itu.
" Masyaallah, ternyata istriku sudah pintar menenangkan hati suaminya kalau lagi cemburu. Kalau gitu, kakak setiap hari deh, cemburu, biar saya yang nenangin kaya gini. Benar ngga dek." Tanya Fazar yang kini beralih mengusap perut istrinya itu.
Wiyah yang melihat tingkah Fazar yang terlihat lucu, hanya bisa menggelengkan kepalanya." Astaghfirullah, ada-ada aja Kakak, jangan cemburu setiap hari nanti, aku bingung nenanginnya gimana."
" Hihihi, bercanda sayang, kakak mana tega cemburu setiap hari sayang, yang ada sayang kerepotan kalau kakak cemburu nya setiap hari." Ucap Fazar terkekeh.
Ternyata menghabiskan waktu seperti ini, membuat kedua pasangan itu, begitu sangat menikmatinya. Padahal mereka hanya di rumah. Banyak orang yang begitu sangat menantikan kerukunan di setiap keluarganya. Tapi tidak jarang, impian mereka tidak tercapai. Karena keluarga mereka berbeda. Apalagi di setiap anggota keluarga memiliki keegoisan masing-masing.
__ADS_1
" Sebaiknya kita masuk sayang, soalnya sudah sore benget, ngga baik buat ibu hamil." Ucap Fazar, sambil membantu istrinya itu berdiri.
Sedangkan Wiyah hanya menurut ucapan suaminya itu. Mereka melangkah masuk kedalam rumah, karena sebentar lagi akan azan magrib.
.
.
Setelah menyiapkan baju kokoh untuk suaminya. Wiyah melangkah mendekati ponsel nya untuk melihat isi pesan yang sudah penuh, karena ia belum membuka pesan nya itu.
" Astaghfirullah, aku sampai lupa kalau laptop ku lagi eror." Gumam Wiyah, yang baru ingat kalau laptop yang biasanya di pakai untuk kuliah sedang eror." Aku pakai apa jadinya ya." Wiyah bingung ingin menggunakan laptop siapa, sedangkan laptopnya sedang rusak.
" Astaghfirullah, Pasti lupa lagi kamu Wiyah, kalau kakak ada laptop kan, jadi pinjam sebentar untuk ngerjain tugas." Ucap Wiyah, yang baru ingat kalau suaminya itu memiliki laptop, jadi dia bisa saja meminta membelikannya atau meminjam laptop suaminya itu.
Wiyah melangkah mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuknya" kak."
" Iya sayang, sabar sebentar lagi kakak keluar, atau jangan-jangan sayang mau mandi bareng."
" Bukan itu kak, tapi aku mau ngomong, kalau aku mau pinjam laptop, soalnya laptop aku lagi eror."
" Oh itu sayang, tunggu sebentar kakak telfon Zain biar carikan laptop untuk sayang."
" Tapi kak, tugasnya mau di kerjain sekarang. Apa boleh aku pinjam laptopnya kakak."
" Tentu boleh sayang, sayang pilih aja laptop yang mana yang sayang mau pakai. Kakak tidak akan melarangnya."
" Benar kak."
" Iya sayang pakai aja, nanti laptop barunya, setelah kakak keluar dari kamar mandi ya."
" Baiklah, Terimakasih Kakak."
" Iya sama-sama sayang." Setelah mendengar jawaban dari suaminya, kalau Fazar mengijinkan nya untuk membuka laptop suaminya itu.
Padahal biar pun, Wiyah tidak me meminta ijin, tapi Fazar tidak akan pernah melarang istrinya itu untuk memegang barangnya.
Saat Wiyah ingin keluar dari kamarnya, untuk pergi mengambil laptop suaminya yang kebetulan berada di ruangan kerja suaminya.
Tidak sengaja pandangan Wiyah tertuju pada laptop di atas meja kecil." Pakai ini aja sudah, daripada aku keluar lagi kelamaan." Wiyah memutuskan untuk mengunakan laptop yang berada diatas meja itu, karena kebetulan juga laptop sudah berada di kamarnya.
Wiyah mendudukkan tubuhnya lalu membuka laptop itu. Tapi yang anehnya, laptop itu langsung membuat ia terdiam sambil menatap laptop di pangkuannya.
" Benarkah ini."
...----------------...
__ADS_1