Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 24


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Fauzan, Fazran dan Falisha sangat bersemangat saat mereka turun dari mobil, yang kini telah sampai di kampus ummi mereka. Sedangkan Faeyza, bocah laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja. Jika ketiga saudaranya berlari dengan gembiranya, maka berbeda dengan Faeyza yang tetap berjalan dengan santai disebelah Fazar.


"Hati-hati nak, jangan lari-lari nanti jatuh!" Tegur Fazar saat melihat ketiga anak sedang berlari di halaman kampus yang cukup luas, yang membuat ketiga anaknya begitu leluasa untuk berlari.


"Iya Abi." Jawab ketiganya, sambil menghentikan lari mereka, lalu kembali berlari lagi. Sepertinya teguran Fazar tidak terlalu mereka perdulikan karena terlalu asik.


"Benar-benar mereka." Ucap Fazar menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah ketiga anaknya itu."Kakak Fa, ngga ikut kesana nak?" Tanya Fazar menatap Faeyza yang berdiri disebelahnya.


"Tidak, Abi."


Seperti biasa, jawaban yang Faeyza berikan, pasti sangat singkat. Jika kalian ingin tau alasannya kenapa Faeyza tidak bergabung dengan ketiga saudaranya. Pasti bocah laki-laki itu, akan menjawab 'Kalau dia tidak suka berlarian di tempat orang banyak'


"Huu, kenapa aku memiliki putra yang sangat dingin, bahkan jauh lebih dingin dariku?" Gumam Fazar, yang masih menatap anaknya itu dengan heran. Fazar merasa, kalau putranya jauh lebih dingin darinya."Apakah sifat nya menurun, dari Fazri, yang sekarang jauh lebih dingin dari beberapa tahun yang lalu." Batin Fazar yang mengingat adiknya, yang sampai sekarang masih berada di Belanda. Bahkan Fazri hanya pulang satu tahun sekali atau tidak sama sekali.


Entah apa yang terjadi dengan Fazri, tapi Fazar merasa semakin dewasa adiknya. Maka semakin terlihat dingin dan kejam, bahkan Fazar sangat sulit mendapatkan informasi nya sekarang.


"Abang berdoa Zri, semoga kamu tidak melakukan hal yang membuat Abang kecewa nanti." Fazar memang memberikan adiknya sedikit kebebasan, karena Fazar tidak ingin membatasi adiknya untuk melakukan hal yang dia inginkan. Asal masih jalur aman, seperti almarhum Fadil.


Tapi entah kenapa, Fazar merasa kalau Fazri berbeda dari adiknya Fadil. Karena Fazar sangat sulit mendapatkan informasi adik bungsunya itu. Jika dibilang, Fazri seperti menyembunyikan sesuatu dari nya.


Karena terlalu asik dengan lamunannya, Fazar tidak sadar kalau dia telah sampai didepan gedung, tempat dimana sekarang istrinya melakukan acara kelulusan.


"Oma, opa. Aunty kecil." Teriak ketiga bocah itu, saat melihat keberadaan tuan Aslan dan bunda Sisi serta Airin yang berada disana.


"Jangan lari-lari, abang, kak Aran, Adek." Tegur bunda Sisi saat melihat ketiga cucunya sedang berlari kearah mereka.


"Iya Oma." Jawab ketiganya sambil memelankan langkah mereka.


"Wah, Oma telliihat canat cantit." Puji Falisha menatap bunda Sisi.


"Iya Oma, Oma terlihat sangat cantik." Sambung Fazran dan Fauzan secara bersamaan, tidak lupa senyuman manis di bibir mereka.


"Masya Allah, terimakasih cucu-cucu Oma. Kalian juga terlihat tampan dan cantik." Jawab bunda Sisi, mengusap lembut ketiga pipi cucu nya secara bergantian.


"Oma aja nih, opa ngga." Sambung tuan Aslan yang memasang wajah pura-pura cemberut saat melihat ketiga cucunya hanya memuji iparnya, tapi tidak dengan dirinya.


"Opa jua tellihat sanat tampan, cepelti Abi." Jawab Falisha yang memuji opanya itu, saat mendengar kalau tuan Aslan sepertinya ngambek, karena para cucunya hanya memuji bunda Sisi saja.

__ADS_1


Tuan Aslan yang mendengar pujian, Falisha, membuat tuan Aslan tersenyum. Karena cucunya yang satu ini, sangat pintar menyenangkan hati seseorang.


"Anakmu sangat pintar, Dil. Lihatlah dia begitu sangat pintar menyenangkan hati seseorang sama seperti mu dulu." Batin tuan Aslan menatap Falisha, yang semakin hari semakin terlihat cantik dan wajahnya hampir duplikat Fadil, hanya saja mata dan alis gadis kecil itu mengikuti bundanya.


"Terimakasih cucu opa. Cucu opa juga terlihat sangat cantik." Jawab tuan Aslan memuji Falisha, yang membuat Falisha tersenyum malu-malu.


"Telimatacih opa."


"Sebenalnya opa tellihat tampan, hanya saja lambutnya semakin hari semakin putih saja." Ucap Fazran membuat orang-orang disana langsung menatap kearah bocah laki-laki itu.


"Yaampun Aran!" Fauzan langsung menyenggol lengan Fazran saat mendengar kalau saudaranya itu salah bicara.


"Hihihi, maaf opa. Maksud Alan opa semakin tampan hali ini." Mereka hanya menggelengkan kepalanya, saat Fazran memperbaiki ucapannya, yang terkesan sangat lucu.


"Sepertinya opa, harus merawat rambut opa agar tidak putih ya Ran?"


"Boleh juga opa."


Mereka semua hanya tertawa saat mendengar jawaban Fazran, benar-benar bocah laki-laki itu membuat mereka tersenyum terus, karena celoteh lucunya.


Keluarga itu terus berbincang sambil menunggu Wiyah untuk keluar dari gedung kelulusan nya, hampir semua keluarga tidak sabar menanti Wiyah. Sampai parah mahasiswa dan orang tua keluar dari gedung itu dengan mengunakan Baju toga wisuda tidak lupa benda panjang berbentuk bulat di tangan mereka.


"Iya Abi, kami sangat tidak sabar bertemu dengan ummi." Sambung Fazran.


"Pacti ummi cantit cetali ya, Abi." Sambung Falisha yang sama seperti kedua saudaranya, tidak sabaran. Sedangkan Faeyza tetap tenang dengan posisi nya sekarang, walaupun sebenarnya dia juga tidak sabar menanti ummi. Hanya saja, Faeyza bisa mengendalikan rasa tidak sabarnya dengan bersikap tenang dan tidak banyak bicara seperti ketiga saudaranya.


"Sabar anak-anak, bentar lagi ummi keluar." Ucap Fazar menenangkan ketiga anaknya itu, yang sudah tidak sabaran sekali bertemu dengan ummi mereka.


"Sabar cucu Oma, ummi kalian ada di barisan paling belakang, karena ingin memberikan kejutan untuk anak-anaknya ini."


"Kejutan? Apakah bunda akan memberikan kami kejutan nek?" Tanya Fauzan antusias.


"Wah, acit. Ade jadi nda cabal." Jawab Falisha yang sama antusiasnya.


Para keluarga, hanya tersenyum menyaksikan ketiga bocah itu yang begitu sangat antusias, tapi berbeda dengan Faeyza yang biasa-biasa saja.


Setelah mahasiswa lain pada keluar dari dalam gedung wisuda, kini mahasiswa barisan paling belakang, ikut keluar.


"Ummi!" Teriak ketiga bocah itu dengan sangat semangat bercampur bahagia, saat melihat seorang wanita yang berpenampilan tertutup tapi tetap terlihat anggun dengan busana nya sedang keluar dan melangkah kearah mereka, disampingnya terdapat wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik di usianya yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Fazar menatap wanita cantik yang mungkin sedang tersenyum dibalik cadarnya, karena melihat dari matanya yang menyipit.


"Walaupun sudah tertutup seperti itu sayang, tapi entah kenapa orang-orang selalu saja menatap kagum kearah mu." Decak kesal Fazar saat melihat wanita itu sedang di perhatikan oleh para mahasiswa, bahkan dosen yang mengajar disana."Ck, Bahkan pria tidak tau malu itu selalu saja menatap mu dengan kagum."


"Ummi!" Ketiga bocah lucu itu langsung berhambur dalam pelukan ummi mereka, saat Wiyah berjongkok untuk menyambut anak-anaknya.


"Rindu banget ya, padahal baru dua jam tidak bertemu." Ucap Widya menatap lucu kearah cucunya itu yang menurutnya sangat lah lebay padahal kalau di bilang Wiyah jarang meninggalkan anak-anaknya dengan waktu lama. Karena kalau Wiyah kuliah ataupun sedang mengecek usahanya pasti dari rumah, kalaupun Wiyah keluar pasti saat ada urusan penting saja.


"Lindu banat, ne. Coalna ummi lama banet di dalam." Jawab Falisha.


"Iya nek, kami aja sampai bosan nungguin nya."


"Emang dasarnya kamu ngga sabaran Aran." Sambung Faeyza, membuat Fazran memanyunkan bibirnya kesal.


"Dasar kaku!"


"Stupid kid." Fazran yang tidak mengerti dengan ucapan saudara kembarnya itu hanya menatap Faeyza bingung. Sedangkan Fauzan menepuk keningnya, karena Fauzan mengerti dengan perkataan Faeyza.


Walaupun masih terlalu dini, tapi sih kembar sudah bisa menghafal bahasa bahasa Inggris. Apalagi Faeyza dan Fauzan yang paling senang dengan bahasa asing itu, berbeda dengan Fazran yang tidak terlalu senang dengan bahasa asing.


"Astaghfirullah Kak Fa. Kenapa ngomong nya gitu." Ucap Wiyah lembut sambil menatap putra ketiganya itu. Wiyah terkejut saat mendengar ucapan Faeyza yang tiba-tiba saja berkata tidak baik, padahal Wiyah tidak pernah mendengar anaknya berkata seperti itu.


"Maaf ummi, Kak Fa, hanya kesal saja." Ucap Faeyza dengan wajah bersalahnya.


"Tidak apa-apa sayang. Lain kali jangan di lakukan lagi." Faeyza hanya mengangguk mengerti.


"Sayang, kenapa hanya mereka sih yang di peluk dan disapa." Ucap Fazar yang kini sedang berdiri didepan anak-anaknya. Entah kenapa Fazar merasa kesal, karena istrinya itu hanya menyapa anak-anaknya saat keluar, tapi tidak dengan dirinya."Sebenarnya, Sayang masih cinta nggak sih sama aku. Sampai-sampai di abaikan kayak gini."


"Nggak usah drama kamu Zar, ingat sudah tua punya anak Lima loh." Sambung bunda Sisi yang ikut kesal dengan sifat kekanak-kanakan putranya itu.


"Seharusnya kamu mengalah sedikit dengan anak-anakmu."


"Tapi paman. Aku terlalu banyak mengalah dari mereka." Jawab Fazar dengan wajah lemahnya."Sampai-sampai istriku sendiri tidak ada waktu untukku. Rasanya aku mau pingsan paman."


"Ck, dasar drama kamu Zar, muntah bunda."


"Abi, sepelti ana tecil ya Oma." Semuanya langsung tertawa saat mendengar ucapan Falisha yang terdengar lucu untuk mereka.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2