Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 130


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Sudah dua hari Fazar dan Wiyah berada di kota B dan hari mereka telah kembali ke kota S. Karena selama dua hari Fazar di sibukkan oleh perkejaan kantornya.


Wiyah yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Windi, Haidar dan ketiga anak keponakannya, tidak lupa adik iparnya yang paling terbaik, karena selalu ada untuk menghibur nya.


" Ngga ada yang ketinggalan lagi didalam mobil sayang." Tanya Fazar saat melihat istrinya baru saja turun dari mobil sambil membawa beberapa barang, oleh-oleh khas dari Jakarta untuk keluarga nya.


Fazar mengambil beberapa paper bag dari tangan istrinya itu agar ia yang membawanya.


" Iya kak, ngga ada yang ketinggalan lagi." Jawab Wiyah.


Keduanya berjalan saling berdampingan sedangkan tangan Fazar menggenggam tangan Wiyah dengan begitu sangat posesif, menunjukkan ke orang-orang yang melewati keduanya kalau Wiyah adalah istrinya.


.


.


Sesampainya didepan rumah yang selama sebulan Wiyah tinggalkan.


Wiyah segera mengetuk pintu itu dengan begitu sangat semangat. Apalagi Wiyah begitu sangat merindukan keluarganya.


Tidak lama pintu terbuka, yang menampilkan sosok wanita yang begitu sangat Wiyah rindukan.


" Kak Windi." Lirih Wiyah dengan begitu sangat bahagia karena melihat kakak iparnya yang telah membukakan nya pintu, tidak lupa senyumannya yang sudah mengembang seperti bunga.


Wiyah melangkah mendekati Windi yang sama-sama tersenyum melihat keberadaan adik iparnya itu.

__ADS_1


Windi tidak terkejut akan kedatangan Wiyah dan Fazar, karena tadi Fazar sudah mengabari mereka kalau Fazar bersama dengan istrinya akan kembali ke kota S, sekaligus singgah di rumah Haidar untuk bertemu dengan keluarga istrinya itu sekaligus menjemput Fazri yang selama ini tinggal bersama keluarga Haidar selama mereka pergi.


Wiyah memeluk tubuh Windi, untuk mencari kenyamanan yang selama satu bulan Wiyah tidak rasakan.


" Kak Windi, Wiyah kangen." Rengek nya membuat kedua orang yang melihat tingkah Wiyah hanya tersenyum.


" Kakak juga rindu sama kamu Wiyah." Jawab Windi sambil membalas pelukan dari adiknya itu.


Saat Wiyah sedang memeluk tubuh Windi, Tanpa Wiyah sadari kalau ada beberapa orang yang baru saja keluar untuk menyambut kedatangan mereka tapi harus melihat adegan berpelukan antara Windi dan juga Wiyah.


" KHmmm." Dehem seseorang yang membuat Wiyah melepaskan pelukannya, dan Wiyah bisa melihat kalau keluarganya berada di situ, termasuk adik iparnya Fazri yang sedang tersenyum sambil menatap kearah nya.


" Cie...yang lagi manja sama kakaknya." Goda Fazri sambil tersenyum, membuat Wiyah menundukkan kepalanya karena malu goda oleh Fazri.


Ya, yang menggangu adegan tadi adalah Fazri. Karena pemuda itu ingin menggoda kakak iparnya yang selama satu bulan tidak bertemu.


Sedangkan Fazar. Pria itu hanya tersenyum kecil hampir tidak terlihat saat melihat adiknya itu sedang menggoda istrinya dengan keusilan nya.


Saat Fazri ingin kembali menggoda kakak iparnya itu, harus terhenti saat melihat kalau ketiga kurcaci sedang mendekati Wiyah, Lalu memeluk Wiyah secara bersamaan, membuat mereka Wiyah berada di tengah-tengah kurcaci itu.


" Acil Wiyah, kami rindu." Rengek ketiganya sambil memeluk tubuh Wiyah. Sedangkan Wiyah tersenyum saat melihat kelakuan tiga keponakannya itu. Bagaimanapun ia juga merindukan mereka.


Wiyah mendudukkan tubuhnya, untuk sejajar dengan ketiga anak keponakannya itu.


" Acil Wiyah juga begitu sangat rindu sama kalian." Jawab Wiyah sambil membalas pelukan ketiganya.


Fazar, Haidar Fazri dan Windi hanya tersenyum melihat tingkah ketiga kurcaci itu yang begitu sangat merindukan Wiyah.

__ADS_1


" Acil Wiyah membawakan kami oleh-oleh untuk kami." Tanya Rafa setelah melepaskan pelukannya.


" Tentu, Acil tidak akan pernah lupa untuk membawakan kalian oleh-oleh dari Jakarta. Oleh-oleh untuk sedang di pegang sama om tampan." Jawab Wiyah sambil menatap kearah Fazar yang sedang memegang beberapa paper bag, oleh-oleh untuk keluarga nya.


Mendengar jawaban dari Wiyah, ketiga kurcaci itu menatap kearah Fazar, setelah itu berlarih menatap kearah Wiyah.


" Tapi cil, mana oleh-oleh yang kemarin kami pesan." Tanya Rafi membuat Wiyah mengerutkan keningnya bingung, karena dia lupa apa yang anak keponakannya itu titip darinya.


" Maaf sayang, Acil lupa kalian pesan apa waktu itu. Emangnya kalian bertiga mau oleh-oleh, coba kasih tau Acil." Tanya Wiyah menatap ketiga anak keponakannya itu.


" Kami bertiga pesan adik bayi acil Wiyah." Jawab ketiga kurcaci itu, membuat Wiyah Langsung membulatkan matanya tidak percaya dengan permintaan anak keponakannya itu. Sedangkan Windi, Haidar dan Fazar saling menatap satu sama lainnya setelah mendengar pertanyaan dari ketiganya.


Mereka mengira, kalau Rafa, Rafi dan Fanesya sudah melupakan permintan mereka saat itu. Tapi sepertinya dugaan para orang-orang dewasa salah, karena ketiganya masih mengingat dengan jelas permintaan mereka itu. Berbeda dengan mereka yang sudah melupakannya.


" Emangnya siapa yang kasih tau kalian, kalau acil akan membawa bayi untuk kalian bertiga." Tanya Wiyah ingin tahu, kenapa ketiga anak keponakannya itu tidak melupakan permintan aneh itu.


" Kata kak Fazri. Kalau Acil Wiyah dan om tampan akan membawakan kami adik bayi dari Jakarta, makanya kami memintanya langsung sama Acil Wiyah." Jawab Rafa dengan polosnya membuat orang yang di sebut namanya langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar namanya di sebut.


" Dasar para kurcaci yang terlalu jujur " Batin Fazri kesal menatap kearah ketiganya.


Sedangkan Haidar Windi dan Fazar begitu sangat terkejut mendengar jawaban diri ketiganya. Mereka yang mendengar jawaban itu langsung menatap kearah Fazri yang hanya tersenyum memperlihatkan gigi rapi nya.


" Astaghfirullah dek, apa yang kamu ajarkan kepada anak-anak ini." Geram Fazar menatap Fazri.


" Ya maaf bang, khilaf. Soalnya aku juga mau anak keponakan." Jawab Fazri, membuat Fazar menggelengkan kepalanya. Karena heran dengan tingkah adiknya itu.


" Hihihi maaf bang, nanti nggak di ulangi lagi."

__ADS_1


" Acil mana adek bayinya untuk kami." Tanya Fanesya dengan polosnya.


__ADS_2