
Kesabaranku membawa cinta
Tidak membutuhkan beberapa lama, Fazar Wiyah dan Fadil telah sampai di bandara.
Sama halnya dengan mobil yang dinaiki oleh bunda Sisi, Abizard dan tuan Aslan yang sama sama berhenti tepat di belakang mobil Fazar.
Keluarga itu melangkah masuk kedalam sambil mendorong kursi roda Fadil, karena pria itu masih lemas untuk menggerakkan kakinya. Sedangkan Abizard, dia lebih baik dari sebelumnya, sampai membuat dia bisa jalan sendiri tanpa bantuan siapapun untuk mengantarkan Fazar dan juga kakak iparnya di bandara.
Orang-orang yang berada di bandara banyak menatap kearah mereka, termasuk kearah Fadil yang berada di kursi roda, tidak lupa kepalanya yang tidak memiliki rambut sengaja Fadil tutup dengan topi, agar orang tidak terlalu memperhatikan nya. Apalagi keadaan Fadil yang sedikit mencolok membuat orang-orang penasaran akan Fadil sebenarnya.
" Kalau kalian sudah sampai langsung kabari kami." Ucap bunda Sisi memeluk menantunya." Jangan lupa, selalu jaga kesehatan." Ucap bunda Sisi kembali. Sebenarnya bunda Sisi sangat tidak ingin melepaskan menantunya itu untuk kembali ke kota S, karena bunda Sisi masih ingin bersama menantunya. Tapi bunda Sisi tidak mau egois, mengingat Wiyah itu istri dari anaknya.
Mungkin setelah Fadil sembuh ia akan kembali ke kota S, dan mereka akan berkumpul bersama-sama lagi.
Tapi kalau Fazar setuju, mengingat seperti apa putranya itu, yang lebih senang mandiri sendiri.
Sedangkan Fazar yang melihat, bagaimana bundanya itu. Hanya bisa menggeleng kecil. Padahal dirinya anaknya, tapi bundanya itu tidak terlalu peduli dengannya, malah dia lebih perduli dengan menantunya.
" Sebenarnya disini siapa sih anaknya, aku atau istriku." Batin Fazar. Fazar tidak merasa iri, melaikan Fazar begitu senang. Karena bundanya tetap menyayangi istrinya dan mengganggap nya seperti anaknya sendiri.
Wiyah yang mendengar ucapan mertuanya itu hanya tersenyum." Baik bun, Wiyah akan mengingat pesan bunda." Jawab Wiyah membalas pelukan dari bunda Sisi.
Bunda Sisi beralih menatap kearah putra pertamanya itu." Jangan membuat istrimu kelelahan, jika tidak ingin bunda hukum." Ancam bunda Sisi sambil menatap tajam kearah Fazar.
" Iya bun, Fazar akan ingat pesan bunda." Jawab Fazar memilih mengalah.
" Jangan cuman iya-iya saja." Omel bunda Sisi membuat Fazar menghebuskan nafasnya.
" Iya bun. Bagaimana aku mau nyakitin istriku sendiri. Kalau istriku itu begitu sangat berarti dalam hidupku, Bun." Jawab Fazar terus terang membuat bunda Sisi tersenyum karena merasa begitu sangat senang.
Sedangkan tuan Aslan hanya tersenyum kecil mungkin tidak akan terlihat, sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah bunda dan anak itu. Sedangkan Abizard dan Fadil, mereka semakin di buat merana karena perkataan Fazar barusan.
" Aku lupa kalau Fazar akan mementingkan kebahagiaan pasangan nya di bandingkan dengan dirinya sendiri." Batin Fadil, mengingat kalau Fazar akan begitu sangat mencintai wanitanya apapun yang terjadi, apalagi sekarang Wiyah sudah menjadi istrinya.
" Ternyata Fazar begitu sangat menyayangi Wiyah, pantas dia tidak ingin melihat istrinya di tatap oleh orang lain." Batin Abizard sambil menatap kearah Fazar dan Wiyah secara bergantian.
Fazar menundukkan kepalanya untuk menatap adiknya itu." Abang duluan pulang ke kota S, maaf abang tidak bisa menemani mu untuk kontrol." Ucap Fazar merasa bersalah karena ia tidak bisa menamai Fadil untuk kontrol karena dia harus kembali di kota S, untuk menyelesaikan proyeknya.
" Ngga apa-apa bang, disini juga masih ada bunda dan Rido yang akan menemani ku untuk kontrol. Abang fokus aja sama proyek Abang, setelah aku sebuh aku akan kembali lagi di kota S." Jawab Fadil. Mendengar jawaban dari Fadil, membuat Fazar menepuk lembut kepala Fadil yang tertutup oleh topi.
" Kamu memang adik terbaik, yang selalu mengerti akan keadaan abang." Ucap Fazar." Cepat sembuh, karena Z menunggumu di kota S. Selalu semangat." Ucap Fazar kembali sambil mengangkat tangan yang terkepal, tanda kalau Fazar menyemangati adiknya itu.
" Aku akan selalu semangat bang untuk sembuh seperti dulu lagi." Jawab Fadil." Abang juga jangan lupa semangat kerjanya, dan tetap nomor satukan kebahagiaan istri Abang, karena pekerjaan di nomor duakan." Ucap Fadil mengingatkan abangnya itu.
" Abang akan selalu mengingat pesan mu." Jawab Fazar tersenyum. Membuat Fadil ikut tersenyum.
" Aku senang Abang berubah seperti dulu lagi, tersenyum tanpa paksaan. Terimakasih Wiyah, karena kehadiran mu, telah mengembalikan abangku seperti dulu lagi." Batin Fadil, beralih menatap kearah Wiyah yang berada di belakang Fazar.
__ADS_1
Sebenarnya Fazar tahu, kalau adiknya itu masih memiliki perasaan untuk istrinya, Walaupun Fadil tahu kalau wanita yang dia cintai telah menjadi istrinya, apalagi istrinya adalah cinta pertama untuk Fadil.
" Maafkan aku Dil, bukan maksudku untuk egois meninggalkan kamu, yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi melihat bagaimana tatapan mu kepada istriku, membuat aku berjaga-jaga. Takut kalau kamu akan meminta istriku untuk kembali di sisimu. Mengingat seperti apa perasaan mu. Maafkan aku Dil, karena memilih egois, karena rasa cinta ku. Dan terimakasih, karena kamu sudah memilihkan gadis yang sebaik Wiyah." Batin Fazar menatap adiknya itu.
Ya, sebenarnya Fazar kembali ke kota S itu bukan karena perkejaannya, melaikan Fazar takut kalau Fadil akan kembali merebut istrinya mengingat sampai sekarang Fadil masih memiliki hati untuk istrinya itu. Apalagi selama Fadil sembuh, Fazar bisa merasakan kalau tatapan adiknya kepada istrinya berbeda.
Bukan sebagai kakak iparnya, melainkan sebagai orang yang mencintai wanita.
" Kenapa abang diam." Tanya Fadil membuat Fazar tersadar dari keterdiamnya.
" Tidak ada Dil." Jawab Fazar.
Fazar menegakkan tubuhnya, lalu mendekati pamannya itu, Setelah berada di depan pamannya Fazar langsung memeluk tubuh paman itu.
" Terimakasih paman, karena sudah mau menerima kami." Ucap Fazar memeluk tubuh kekar itu, walaupun usianya sudah kepala enam tapi tubuh atletis masih terjaga.
" Seharusnya paman yang berterima kasih karena kalian sudah mau memaafkan semua kesalahan paman." Ucap tuan Aslan." Maaf paman belum bisa menjadi paman terbaik untuk kalian selama ini." Ucap tuan Aslan kembali.
" Tidak apa paman. Walaupun paman tidak bersama kami, tapi paman tetap paman terbaik untuk kami." Jawab Fazar kembali, Fazar melepaskan pelukannya.
" Paman kalau ada waktu berkunjunglah di kota S, kami akan menunggu paman disana." Ucap Fazar.
" Dengan senang hati, paman akan sering ke sana." Jawab tuan Aslan." Apalagi dengan kehadiran cucu-cucu paman nanti, mungkin paman akan datang setiap sepuluh kali dalam sebulan untuk menemui kalian dan cucu-cucu paman." Ucap tuan Aslan kembali membuat Fazar tersenyum.
" Paman tenang saja, karena permintaan paman akan segera terkabul." Jawab Fazar, membuat kedua langsung tertawa kecil.
" Kapan kalian akan pergi, jika kalian berdua masih berbisik-bisik seperti itu." Tanya Abizard membuat kedua pria itu langsung melihat kearah Abizard.
" Anak ini, selalu saja menggangu." Desis tuan Aslan kesal" Sebaiknya kalian secepatnya pergi, sebelum kalian melewatkan jam penerbangan kalian." Ucap tuan Aslan mengingatkan keponakan dan menantunya itu.
" Iya paman, kami sampai melupakan itu." Jawab Fazar.
Sebelum Fazar pergi, Fazar mendekati Abizard terlebih dahulu, lalu menepuk punggung sepupunya itu." Abang pergi dulu, jaga kesehatan, dan terimakasih sudah menjadi pendonor untuk Fadil." Ucap Fazar, belum Fazar mendengar jawaban dari Abizard, Fazar sudah menjauh dari tubuh sepupunya itu.
" Paman, bunda. Kak Fadil dan kak Abizard, kami berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Wiyah dengan suara lembut berpamitan kepada keluarga suaminya yang sekarang sudah menjadi keluarga nya juga.
" Iya nak hati-hati." Jawab tuan Aslan tersenyum.
" Iya sayang hati-hati, jangan lupa jaga kesehatan, jika sudah tiba di kota S langsung kabari bunda." Sambung bunda Sisi, membuat Wiyah mengangguk mengerti.
Sedangkan Fadil dan Abizard hanya tersenyum lalu melambaikan tangan mereka melepaskan kepergian, gadis yang mereka sukai.
" Semoga kamu selalu bahagia Wiyah." Batin keduanya. Melihat kedua pergi dengan tangan yang saling berpegangan tangan.
🌼🌼🌼🌼🌼
Didalam mobil terasa hening, karena Abizard dan Fadil hanya diam pada pikiran mereka sendiri.
__ADS_1
" Dil." Panggil Abizard membuat Fadil melihat kearah Abizard.
" Kenapa." Tanya Fadil dengan wajah datarnya.
" Apa lo belum sepenuhnya ikhlas melepaskan nya bersama dengan Fazar." Tanya Abizard membuat Fadil mengerutkan keningnya bingung.
" Maksud lo apa." Tanya Fadil tidak mengerti.
" Jangan pura-pura tidak tahu apa-apa Dil. Karena gue sudah mengetahui kalau Lo masih memiliki perasaan dengan Wiyah, lo belum sepenuhnya ikhlas melihat dia bersama dengan Fazar." Jawab Abizard.
" Kenapa lo bisa tahu akan hal itu, sedangkan kami belum menceritakan nya. Apa lo mencari tahu tentang hubungan kami." Bukannya menjawab Fadil malah balik bertanya, karena bingung. Kenapa Abizard bisa mengetahui kalau dulu dia pernah menyukai Wiyah, yaitu kakak iparnya.
" Jangan tanyakan hal itu, karena gue bukan ingin menjawab pertanyaan lo, melaikan mendengar jawaban lo." Ucap Abizard." Sekarang lo, jujur karena gue mau mendengar jawaban lo." Ucap Abizard kembali.
Fadil terdiam. Karena Fadil bingung ingin menjawab apa.
Fadil menyadarkan punggungnya di sandaran kursi, sedangkan pandangan beralih keluar.
" Kenapa lo diam." Tanya Abizard menatap Fadil yang diam tidak menjawab pertanyaannya.
" Gue harus menjawab apa." Tanya Fadil balik sambil menoleh kearah Abizard.
" Apa yang ada dalam hati lo." Jawab Abizard.
" Apa lo ingin tahu." Tanya Fadil.
" Iya."
Mendengar jawaban dari Abizard membuat Fadil menghembuskan nafas nya dengan kasar.
" Jujur gue sebenarnya masih belum ikhlas saat melihat Wiyah bersama dengan abang, karena gue masih mencintainya. Tapi gue tidak bisa melakukan apapun sekarang, karena Wiyah sudah menikah dengan abang.
Jika di bilang gue menyesal. Jawaban nya ia. Karena gue tidak berpikir kalau gue akan sembuh seperti sekarang. Karena dulu gue berpikir kalau gue akan mati dengan penyakit yang gue derita. Maka dari itu gue menginginkan kalau gadis yang gue sukai harus menikah.
Tapi tidak dengan orang lain melainkan abangku sendiri. Sebenarnya Abang tidak setuju saat mendengar permintaan gue untuk menikahi wanita yang abang belum kenal, karena Abang tidak mau menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.
Tapi gue terus memaksanya untuk menikah dengan gadis yang gue pilih, karena gue berpikir dengan pernikahan itu abang akan berubah.
Dan lo lihat sekarang abang benar-benar berubah menjadi abang seperti yang dulu. Tapi gue merasakan yang namanya penyesalan karena membuat gadis yang gue cintai menjadi milik orang lain, tanpa berusaha untuk berjuang untuk sembuh. Tapi gue dengan begitu saja melepaskan nya dengan orang lain." Jawab Fadil, menjelaskan apa yang sekarang dia rasakan.
Andai Fadil tahu kalau dia akan sembuh seperti sekarang, mungkin Fadil tidak akan melepaskan gadis yang dia sukai.
Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Karena sekarang Fadil hanya bisa meratapi penyesalan nya.
Menyesal melepaskan gadis yang begitu sangat baik seperti Wiyah.
...----------------...
__ADS_1