Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 238


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Di bandara Kota S.


Terlihat kalau bandara itu dipenuhi oleh orang-orang yang akan berpergian. Bukan hanya berpergian, tapi ada orang-orang juga yang baru saja tiba di bandara itu. Banyaknya orang-orang yang berlalu lalang membuat bandara Kota S, terlihat sangat ramai.


" Ibu, kenapa kita harus kembali ke kota ini." Tanya anak perempuan. Mungkin usianya baru sepuluh tahun.


" Karena kita mau ketemu sama kakak disini kak Ara. Apa kak Ara ngga rindu sama kakak disini." Jawab gadis kecil itu, mungkin usianya baru enam tahun.


" Tapi kenapa harus kita. Bukannya dia bisa datang sendiri ke kampung untuk menemui kita, Arin." Ucap anak perempuan itu. Terlihat dari matanya, kalau ada kebencian disana.


" Sudah Azra, jangan berdebat disini. Kita datang kesini untuk menemui kakakmu, bukan untuk mendengar perdebatan kalian. Bukannya kalian juga merindukan kakak kalian." Sambung wanita paruh baya itu menatap keempat anaknya.


Sedangkan dua remaja laki-laki yang memiliki wajah sama, Mungkin usianya baru enam belas tahun. Hanya bisa diam mendengar perdebatan adik mereka. Sebenarnya kedua remaja itu tidak ingin datang lagi kota ini sama seperti adik mereka. Tapi ibu mereka lah yang memaksa kedua, sehingga dengan hati yang terpaksa mereka mau kembali ke kota ini.


" Tapi aku tidak merindukannya Bu." Jawab anak perempuan itu, sambil melangkah meninggalkan keluarganya." Karena aku membencinya bu, aku sangat membencinya." Jerit anak perempuan itu didalam hatinya, karena dia tidak bisa mengatakannya langsung didepan sang ibu.


" Azra. Jangan duluan pergi nak." Panggil wanita paruh baya itu, tapi tidak digubris olehnya.


" Biar Abang yang kejar Azra Bu." Ucap remaja laki-laki itu sambil mengikuti langkah adiknya.


" Maafkan ibu nak, karena ibu lah kamu membenci kakak mu. Seharusnya empat tahun yang lalu, ibu tidak egois dengan cara memisahkan kalian." Gumam wanita paruh baya itu, yang merasa sedih saat melihat punggung kedua anaknya yang sudah pergi menjauh.


" Sini, koperonya biar kakak yang bawah Bu." Ucap remaja itu menyadarkan keterdiam wanita paruh baya itu, Remaja laki-laki itu mengambil barang bawaan ibunya.


" Maafkan ibu nak." Lirih wanita paruh baya itu menatap putra dan putrinya.


" Untuk apa ibu minta maaf. Bukannya ibu tidak melakukan kesalahan."


" Ibu minta maaf karena membawa kalian disini. Pasti kalian tidak setuju, tapi ibu malah memaksa kalian."


" Untuk apa ibu minta maaf. Kami senang bisa kembali ke kota ini Bu, apalagi kita akan bertemu dengan kakak dan Abang. Pasti sangat menyenangkan." Jawab remaja laki-laki itu sambil tersenyum." Selama empat tahun tidak bertemu, pasti sekarang Kakak dan Abang banyak berubah. Apa mungkin mereka sudah menikah."

__ADS_1


" Kalau Abang mu mungkin belum menikah, tapi kalau kakakmu sudah menikah, dan sekarang dia sedang mengandung."


" Benarkah. Aku jadi tidak sabar untuk bertemu. Arin kamu dengar kata ibu. Kalau sekarang kakak kita sudah menikah, dan sebentar lagi kita akan memiliki anak keponakan."


" Emangnya anak keponakan itu apa Bu." Tanya gadis kecil itu dengan polosnya. Karena dia benar-benar belum mengerti.


" Nanti sampai ditempatnya kakak, Arin bakalan tau." Ucap remaja laki-laki itu sambil mengusap pucuk kepala adik perempuannya itu.


" Benarkah. Arin jadi ngga sabar." Wanita paruh baya itu hanya tersenyum, mendengar ucapan lucu dari anak bungsunya itu.


" Jika saja kalian tau kalau ibu banyak melakukan kesalahan. Pasti kalian tidak akan mau menerima kata maaf ibu." Batin wanita paruh baya itu. Yang kembali mengingat kesalahannya."


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Kita kembali kerumah utama, tepatnya di kamar pengantin baru.


Fina yang sedang duduk di sisi kasur, dengan rasa gugup menghantuinya terus, karena baru kali ini dia berada di kamar suaminya itu. Fina menelusuri setiap sudut kamar itu, yang terlihat sangat rapi. Kamar itu terlihat berbeda dengan kamarnya. Karena memiliki ruangan yang lebih luas, mungkin dua kali lipat besarnya dari pada kamar di rumahnya.


Bagaimana Fina tidak berpikir seperti tadi. Kalau dia pernah melihat kamar kakaknya yang memiliki nuansa gelap seperti kamar suaminya ini. Makanya Fina berpikir seperti tadi.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka, menyadarkan Fina dari lamunannya. Membuat Fina menoleh kearah kamar mandi untuk melihat apakah suaminya itu sudah keluar atau belum, karena Fina juga mau bersih-bersih.


" Astaghfirullah..." Fina langsung membuang muka cepat-cepat, saat melihat pemandangan didepannya." Kenapa kak Fadil ngga pakai baju sih saat keluar dari kamar mandi, kan kak Fadil tau kalau ada aku disini." Gumam Fina. Karena dia merasa malu saat melihat suaminya seperti itu.


Bagaimana Fina tidak malu saat melihat suaminya itu. Kalau Fadil hanya mengunakan handuk yang menutupi perut sampai di bawah lututnya. Apalagi Fadil bertelanjang dada, yang memperlihatkan beberapa roti sobek dan juga dada bidang yang baru berbentuk, serta otot-otot lengan yang sudah terlihat. Karena pemandangan didepannya itu membuat Fina cepat-cepat membuang muka. Apalagi ini kali pertama Fina melihat Fadil seperti itu.


Sedangkan Fadil bisa melihat kalau istrinya itu sedang malu dengan penampilan sekarang. Melihat tingkah malu-malu istrinya, membuat ide jahil tiba-tiba saja keluar dari otaknya. Sungguh Fadil ingin melihat seperti apa wajah Fina yang memerah saat melihatnya seperti ini.


" Beb. Kamu belum mengganti bajumu. Bukannya tadi, kamu bilang kalau kamu ingin cepat-cepat menganti bajumu itu, karena merasa tidak nyaman mengunakan baju pengantin itu." Tanya Fadil sambil tersenyum jahil, melangkah mendekat kearah istrinya itu." Beb, coba lihat kakak. Kakak lagi ngomong loh kenapa mukanya lihat kesana kan kakak ada disini." Ucap Fadil kembali saat sudah berada disamping istrinya itu.


" Beby, kamu mendengarkan ku atau tidak." Fina terperanjat kaget mendengar bisikan suaminya itu pas di kupingnya. Walaupun dia masih mengunakan hijabnya, tapi bisikan suaminya itu terasa geli di pendengarannya. Apalagi suara serak itu, membuat bulu kuduk Fina


Fina menoleh kearah suaminya. Tapi Fina harus terkejut kembali, saat wajahnya dan wajah suaminya itu saling berdekatan. Bahkan kedua hidung itu saling bersentuhan.

__ADS_1


Fina menatap setiap inci dari ukiran wajah itu, yang terlihat sangat sempurna. Hidung mancung, bibir tipis alis tebal dan juga mata yang tajam. Bahkan kulit putih itu, tidak terlihat noda hitam. Sungguh Allah telah menciptakan setiap ukiran di wajah itu sangat sempurna bahkan tanpa cacat sama sekali.


" Masya Allah, cintamu sangat indah ya Allah." Batin Fina menatap suaminya itu dengan dalam.


Sama halnya seperti Fina, Fadil juga menatap istrinya itu dengan penuh kekaguman. Ternyata wajah istrinya jauh lebih cantik saat jarak yang begitu sangat dekat seperti ini.


Fadil terus menulusuri setiap inci dari wajah itu, Sampai dia tertuju pada permen jelly yang terlihat manis dimatanya. Entah kenapa Fadil jadi ingin mencicipi nya, padahal biasanya tidak.


Fadil semakin mendekatkan wajahnya di wajah istrinya. Sampai dia berhasil mengambil permen jelly itu. Sungguh ini pertama kalinya Fadil mencicipi permen itu, mungkin jauh lebih manis dari permen jelly yang asli.


Tubuh Fina menegang dengan apa yang Fadil lakukan sekarang. Rasa yang belum pernah dia rasakan.


" Apakah ini yang dinamakan ciuman pertama." Batin Fina.


" Rasanya sangat manis, lebih manis daripada permanen jelly yang asli." Batin Fadil yang masih menikmati permen jelly itu.


Kita tinggalkan pengantin baru itu yah. Kita pergi ke lantai bawah.


Rumah utama tidak seramai tadi, karena orang-orang sudah pada pulang ke rumah mereka. Termasuk keluarga Fina yang sudah pulang kerumah mereka untuk beristirahat, karena nanti malam mereka akan mengadakan resepsi.


Termasuk ayah Jambri, Jidan, dan juga keluarga Haidar mereka sudah pulang kerumah mereka, dan akan datang nanti malam.


Di ruangan keluarga, Harum sedang duduk sambil memikirkan pertanyaan kedua sahabatnya, apa itu adopsi." Apa itu adopsi." Gumam Harum. Harum terlihat lucu saat jari tlunjuk itu bergerak-gerak di dagunya. Terlihat kalau dia benar-benar sedang memikirkan pertanyaan Rafa dan Rafi. Sampai


" Doorr."


Aaaa


Harum langsung berteriak, karena keget, saat ada orang yang mengagetkannya dari belakang. Karena penasaran, Harum berbalik melihat kebelakang, untuk melihat siapakah orang yang sudah mengagetkannya.


" Omm Abiddzaaar." Pekik Harum kesal saat melihat, ternyata orang yang mengagetkan nya adalah Abidzar.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2