
Kesabaranku membawa cinta.
Wiyah menatap pintu rumahnya, sesekali melihat kearah jam. Karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore tapi suaminya itu belum pulang. Padahal biasanya jam segini Fazar sudah pulang dari kantor."Kenapa jam segini Abi belum pulang? Apakah ada urusan sebentar? Tapi, kalau ada urusan kenapa Abi tidak mengabari ku?" Gumam Wiyah yang merasa khawatir, karena suaminya belum mengabari nya, padahal biasanya. Fazar akan mengabari nya setiap ada urusan, atupun telat pulang. Tapi ini, Fazar tidak mengabari nya sama sekali.
"Kak Wiyah." Wiyah membalikkan tubuhnya, saat mendengar namanya dipanggil.
"Iya Rum."
"Kenapa kak Wiyah berdiri disana? Apakah kak Wiyah sedang menunggu seseorang?" Tanya Harum mendekati Wiyah, sambil membawa buku ditangannya.
"Iya kakak sedang menunggu om tampan, yang belum pulang."
"Om tampan belum pulang?"
"Iya Rum. Kak Wiyah khawatir." Ucap Wiyah memberitahukan kegelisahannya dari tadi.
"Mungkin om tampan lagi dijalan kak. Kita tunggu sebentar lagi, mungkin om sudah sampai." Ucap Harum, membuat hati Wiyah sedikit lebih tenang."Kak Wiyah. Harum boleh ngga minta tolong ke kak Wiyah buat temani Harum buat lukisan. Kebetulan disekolah ada tugas buat lukisan kelurga." Ucap Harum sambil menatap Wiyah, takut kalau Wiyah akan menolak permintaannya."Tapi kalau nggak bisa juga ngga apa-apa."
"Hey, kak Wiyah belum jawab loh." Ucap Wiyah tersenyum menatap Harum, yang tampak takut-takut saat mengucapkan kemauannya barusan."Yang bilang nggak bisa siapa? Kak Wiyah belum ada jawab pertanyaan Harum." Ucap Wiyah lembut menatap anak angkatnya itu.
"Jadi bisa kak?" Tanya Harum, membuat Wiyah mengangguk."Tapi kak, Harum di suruh gambar kelurga. Sedangkan Harum sudah tidak punya mama. Apakah ngga apa-apa Harum gambar kelurga ini?" Tanya Harum ragu-ragu menatap Wiyah sedih.
"Kenapa ngomong gitu?" Tanya Wiyah lembut."Rum, sekarang Harum adalah bagian dari kelurga ini. Jadi untuk apa Harum meminta ijin terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Asal apa yang Harum kerjakan masih dalam hal yang bermanfaat, maka Harum harus kerjakan. Ingat Harum tidak sendiri, karena disini ada kak Wiyah dan om tampan, yang akan selalu berperan menjadi orang tua Harum dan mendukung Harum." Ucap Wiyah lembut. Wiyah tau, kalau Harum masih ragu dengan apa yang sekarang dia rasakan. Karena gadis kecil itu merasa kalau apa yang dia dapatkan seperti mimpi untuknya. " Harum langsung memeluk tubuh Wiyah dengan bahagia, saat mendengar ucapan ibu angkatnya itu.
__ADS_1
"Terimakasih kak Wiyah untuk semuanya." Lirih Harum dalam pelukannya. Sedangkan Wiyah membalas pelukan itu dengan sangat lembut.
Tapi tanpa Wiyah sadari. Kalau ucapan nya barusan, baru saja didengar oleh oleh gadis berusia sepuluh tahun, yang sedang menatap mereka dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Dasar drama." Gumam gadis itu menatap tidak suka dengan adegan didepannya."Assalamualaikum." Wiyah dan Harum melepaskan pelukan mereka saat mendengar suara orang. Mereka sama-sama melihat kearah pintu.
"Azra? Kamu kesini dek?" Ucap Wiyah tersenyum saat melihat adiknya.
"Ambil, dari ibu." Ucap Azra sambil memberikan rantang makanan.
"Apa ini Ra?" Wiyah mengambil rantang makanan itu dengan bahagia.
"Buka dan periksa!" Jawab Azra ketus yang ingin melangkah keluar dari rumah Wiyah.
"Ara, bukannya kamu ada tugas melukis kelurga juga? Kenapa kita tidak menggambarnya bersama-sama saja?"
"Aku merasa kalau ada yang berbeda darinya." Lirih Wiyah sedih dalam hatinya.
.
.
"Jadi yang membunuh Amira itu kamu, bukan Aron dan Nadila?"
__ADS_1
"Lebih tepatnya seperti itu, saya sudah merencanakan itu semua. Walaupun saya tidak membunuhnya dengan tangan saya, tapi saya yang merencanakan semuanya. Membuat kejadian dua tahun yang lalu, sekaan-akan adalah kesalahan Aron dan Nadila. Padahal saya sudah merencanakan itu semua, agar Nadila membunuh Amiram. Dan rencana saya berhasil. Karena saya berhasil mengadu domba mereka dan Amira mati ditangan saudaranya sendiri." Jelas Kevin dengan sangat santai sambil tersenyum mengejek.
"Brengsek..." Terikak Fazar saat mendengar kebenaran sebenarnya. Kalau kejahatan orang-orang tersebut karena ulah sekertaris nya yang selama ini dia lindungi.
"Bukan saja itu. Sebenarnya saya ingin membunuh anda juga lewat Aron dan juga Nadila. Tapi sayangnya gadis yang saya cintai duluan mengabari Fadil waktu itu dan rencana saya harus di gagalkan, karena takut tercium oleh Nadila dan juga pihak kepolisian." Semakin terkejut Fazar mendengar semua kebenaran yang Kevin ceritakan semuanya dengan sangat teliti.
"Dan yang perlu anda tau, kalau yang membunuh Fadil dan juga istrinya waktu itu adalah saya. Sebenarnya mobil itu untuk mu, tapi malah Fadil yang mengendarainya, maka. Dia mati buka anda!" Cerita Kevin bagaikan bioskop yang berputar-putar dikepalanya. Karena setiap cerita kejahatan Kevin sangat terekam dengan jelas di ingatannya. Apalagi mengingat adik dan adik iparnya, yang harus terbunuh.
"Apa yang anda inginkan Kevin sampai ingin menghancurkan keluarga saya. Sedangkan Amira jelas-jelas sudah mati karena rencana mu sendiri!!" Teriak Fazar, yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Padahal tubuh Fazar sudah sangat lemas sekarang karena darah ditangannya terus menetes."Jika harta, maka saya akan berikanmu Kevin!Asal jangan anda sakiti kelurga saya! Dan kalau kamu ingin nyawaku silahkan."
"Saya menginginkan keduanya! Saya ingin harta mu dan juga kematianmu. Saya mau mengambil harta mu, karena anda bisa seperti sekarang karena bantuan Amira! Sedangkan kematian mu, bisa membawaku pada istrimu. Karena saya ingin merasakan sisa anda tuan Fazar, walaupun tidak organik lagi!" Ucap Kevin sambil tertawa dengan sangat keras, karena berhasil membuat wajah pucat itu semakin marah.
"Saya akan membunuhmu Zain!! Jika anda berani-berani menyentuh istri saya!!" Teriak Fazar yang kembali memberontak, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dilehernya serta kursi di kakinya, membuat Fazar susah untuk bergerak.
"Silahkan saya tidak akan perduli." Jawab Kevin cuek."Aldrich, bukannya kamu ingin membalaskan dendam mu kepadanya, karena berani menghancurkan keluarga mu." Ucap Kevin memberikan pisaunya kepada Aldrich."Tusuk dia sampai mati."
Aldrich menurut, lalu mengambil pisau dari tangan Kevin, tanpa mengatakan apapun. Melangkah mendekati Fazar dengan tatapan penuh dengan Amara."Ini, karena anda berani mengusik keluarga saya." Ucap Aldrich, sambil menusuk perut Fazar dengan sangat dalam dan juga penuh amarah.
Aggg
Teriak Fazar kesakitan, tapi diabaikan oleh Aldrich dan juga Kevin. Saat pisau akan kembali menusuk Fazar. Ada suara tembakan, yang berhasil mengenai tangan Aldrich."
Aggg.
__ADS_1
Kini giliran Aldrich yang berteriak kesakitan, karena luka tembakan tersebut.
...----------------...